NovelToon NovelToon
Run Lady Run

Run Lady Run

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:640
Nilai: 5
Nama Author: BiMO33

Ia melangkah satu langkah maju, membuat Sybilla instingtif mundur hingga punggungnya menempel pada dinding.

"Tapi," lanjut Cyprian, matanya menyipit sedikit saat menatap gaun tidur Sybilla yang masih berantakan, "bagaimana kau akan menjelaskan perilakumu ini? Berlarian di koridor istana dengan pakaian seperti ini, seolah-olah kau lupa tata krama yang telah diajarkan padamu selama sepuluh tahun terakhir?"

Nada suaranya tenang, namun setiap katanya menghujam seperti pisau, mengingatkan Sybilla (dan Christina) akan betapa besarnya kesalahan yang baru saja ia lakukan di mata dunia bangsawan yang kaku ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Dunia Manusia dan Magical world

Langit di atas Skyrosia tidak lagi sekadar gelap; ia sedang robek.

Tabrakan antara tombak perak Aetherion dan gelombang kegelapan Elysianne bukan sekadar ledakan energi, melainkan benturan dua hukum alam yang saling menolak.

Suara gemuruh yang tercipta bukanlah guntur, melainkan erangan realitas itu sendiri yang tersiksa.

Di angkasa, retakan-retakan cahaya mulai muncul, mirip kaca raksasa yang dihantam palu godam.

Melalui celah-celah retakan itu, bukan langit biru atau bintang yang terlihat, melainkan kekacauan murni: pusaran warna-warni yang tidak masuk akal, bayangan dimensi lain yang bergelantungan, dan kilatan petir dari dunia yang berbeda sama sekali.

Pembatas antara dunia manusia dan dunia magis, tirai tipis yang selama ribuan tahun memisahkan keduanya, kini menipis hingga nyaris putus. Angin yang bertiup bukan lagi angin biasa, melainkan hawa purba yang membawa bau tanah basah dari dimensi manusia dan aroma ozon tajam dari inti sihir. Tanah di bawah kaki mereka retak, mengeluarkan cahaya emas dari dalam bumi, seolah inti dunia pun turut bereaksi terhadap kesakitan sang Dewi.

Di tengah badai dimensi yang menggetarkan jiwa itu, Aetherion berdiri tegak, meski jubah putihnya kini compang-camping terkena cipratan energi liar. Wajahnya pucat, namun matanya menyala dengan tekad baja. Ia menatap Elysianne yang terlempar mundur, tubuhnya masih berasap akibat hantaman tidak langsung dari gelombang kejut tadi.

"Benar-benar berbahaya..." gumam Aetherion, suaranya hampir tenggelam oleh deru angin dimensi. Ia tersenyum getir, sebuah ekspresi penuh penyesalan namun tak tergoyahkan. "Maafkan aku, Astraea. Tapi kau telah menjadi ancaman bagi eksistensi itu sendiri."

Tangan kanannya bergerak lambat, memanggil senjata utamanya. Dari ketiadaan, materialisasi terjadi. Sebuah tombak panjang terbentuk, terbuat dari logam perak murni yang seolah menyerap cahaya di sekitarnya. Ujung tombak itu tidak tajam secara fisik, melainkan tajam secara konseptual; ia berpendar biru elektrik, sebuah janji kematian yang spesifik bagi segala bentuk kegelapan terkutuk. Itu adalah Sunbreaker, senjata legendaris yang hanya digunakan saat keseimbangan dunia terancam punah.

Aetherion menggenggam erat tombak itu, tangannya memutih. Ia menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan sisa kekuatan sucinya yang belum terkontaminasi. Bibirnya bergerak, mengucapkan mantra kuno dalam bahasa yang terlupakan, suara yang bergetar selaras dengan frekuensi alam semesta:

"Mun ate wah sede, sak harus tekerisak pertame si no ye aran hidup."

Note:

(Orang Lombok pasti ngerti kalimat itu artinya apa~)

Udara di sekitar ujung tombak mendesis, menciptakan vakum kecil. Dengan gerakan yang begitu cepat hingga mata biasa tidak bisa mengikutinya, Aetherion melempar tombak itu.

Tombak perak itu melesat, meninggalkan jejak cahaya biru yang membelah kabut ungu kegelapan. Elysianne, yang instingnya sudah terasah oleh kegelapan Cyprian, mencoba menghindar. Sayap energi hitamnya mengepak kuat, mendorong tubuhnya mundur ke udara, berusaha menjauh dari lintasan mematikan itu. Namun, tombak itu tidak mengikuti hukum fisika biasa. Ia berbelok, mengejar dengan kecerdasan buas, seolah memiliki nyawanya sendiri yang haus akan darah iblis.

"Mundur!" teriak Elysianne, panik untuk pertama kalinya sejak transformasinya. Ia meluncurkan bola-bola cahaya hitam bertubi-tubi, mencoba menghancurkan atau setidaknya mengalihkan jalur tombak itu. Setiap tabrakan menghasilkan ledakan kecil, tapi tombak perak itu terus menembus pertahanan, cahayanya semakin terang setiap kali menyentuh kegelapan, membakarnya menjadi abu.

Jarak semakin menipis. Mata Elysianne membelalak, melihat ujung tombak yang semakin besar di penglihatannya. Ia mencoba mengangkat perisai energi terakhir, tapi terlalu lambat.

Tras!

Suara itu tidak nyaring, justru terdengar seperti robekan kain sutra yang halus namun mematikan. Tombak perak itu menembus bahu kiri Elysianne, tepat di sendi tempat sayap energinya tumbuh. Bukan darah merah yang muncrat, melainkan cairan cahaya ungu pekat yang mendesis keras saat bersentuhan dengan logam perak.

"Aaaargh!" Jeritan Elysianne memecah kebisingan perang. Rasa sakit itu bukan sekadar fisik; itu adalah rasa sakit spiritual.

Tombak itu membakar koneksi antara jiwanya dan kegelapan Cyprian.

Cahaya biru dari tombak merambat masuk ke pembuluh darahnya, menyebar seperti virus pemurni, membuat kulit Elysianne yang pucat menjadi transparan, memperlihatkan jaringan cahaya di dalamnya yang sedang berperang melawan infeksi hitam.

Tubuh Elysianne terhuyung, tertancap di udara oleh momentum tombak itu sebelum akhirnya jatuh terhempas ke lantai marmer yang retak. Tombak itu menancap dalam, mengikatnya ke tanah, memaksanya berlutut dalam posisi yang menyakitkan. Cahaya biru dari tombak membentuk kurungan energi di sekelilingnya, menekan kegelapan di dalam tubuhnya hingga ia tidak bisa bergerak, tidak bisa bernapas, tidak bisa memanggil Cyprian.

Dari singgasana tinggi, Cyprian menyaksikan adegan itu. Waktu seolah berhenti baginya. Melihat Elysianne, mahakarya obsesinya, senjatanya yang paling indah, terluka dan terpasung oleh cahaya yang ia benci, memicu sesuatu yang meledak di dalam dada Lord Demon itu.

"SIALAN!"

Teriakan Cyprian bukan sekadar kata-kata; itu adalah gelombang kejut kemarahan murni yang menghancurkan pilar-pilar dekat takhtanya menjadi debu. Ia beranjak dari singgasananya, bukan dengan langkah anggun, melainkan dengan gerakan predator yang lapar. Sayap hitamnya berkembang maksimal, menutupi setengah aula, memancarkan aura tekanan yang membuat prajurit rendahan di sudut ruangan tewas seketika karena jantung mereka berhenti berdetak.

Cyprian mengepakkan sayapnya sekali, dan tubuhnya melesat ke udara seperti peluru hitam, meninggalkan jejak asap kehancuran di belakangnya. Kecepatannya luar biasa, bahkan melebihi tombak Aetherion tadi. Matanya yang merah menyala kini berubah menjadi putih panas, tanda bahwa kendali dirinya telah lepas sepenuhnya.

"AETHERION! AKAN KUCABIK JIWAMU HINGGA KAMU TAK BISA REINKARNASI!" geram Cyprian di tengah penerbangan, suaranya bergema di seluruh dimensi yang retak.

Namun, Aetherion tidak menunggu. Begitu tombaknya menancap dan mengunci Elysianne, sang Penjaga Gerbang sudah menyiapkan langkah berikutnya. Ia tahu Cyprian akan datang dengan kecepatan penuh. Melawan Lord Demon di puncak kemarahan di wilayah kekuatannya sendiri adalah bunuh diri, bahkan baginya.

Saat Cyprian tinggal beberapa meter lagi, cakar hitamnya terulur siap merobek leher Aetherion, sang Penjaga Gerbang justru melakukan hal yang tak terduga. Ia tidak menyerang Cyprian. Sebaliknya, ia menerjang ke arah Elysianne yang sedang terluka dan terpasung.

"Maafkan aku, Goddess," bisik Aetherion cepat, tangannya meraih gagang tombak dan bahu Elysianne. "Kau harus sadar, sebelum semuanya terlambat."

Dengan sisa kekuatan terakhirnya, Aetherion mengaktifkan rune pada bajunya. Cahaya putih menyilaukan meledak dari tubuh mereka berdua, bukan ledakan destruktif, melainkan teleportasi paksa tingkat tinggi yang memanfaatkan retakan dimensi yang baru saja mereka ciptakan.

Sebelum cakar Cyprian sampai, sebelum Lord Demon itu bisa mencengkeram mangsanya, tubuh Aetherion dan Elysianne yang pucat lenyap dalam sekejap mata. Hanya ada sisa partikel cahaya emas yang beterbangan, lalu hilang ditelan angin badai.

Cyprian berhenti mendadak di udara, cakar hitamnya mencengkeram kekosongan.

Hening.

Badai di luar mungkin masih mengamuk, retakan dimensi mungkin masih menganga lebar memperlihatkan horor dari dunia lain, tapi di dalam aula itu, waktu terasa membeku. Cyprian melayang di sana, tangan masih terulur, mata merah lebarnya menatap kosong ke titik di mana Elysianne baru saja menghilang.

Perlahan, ia mendarat. Langkahnya berat, menghancurkan lantai marmer di bawah kakinya. Ia berjalan menuju takhta, lalu duduk, atau lebih tepatnya, ambruk ke atasnya. Napasnya memburu, dadanya naik turun dengan cepat.

Jantungnya berdegup kencang. Bukan karena kelelahan bertarung. Bukan karena takut.

Itu adalah denyut panik murni yang belum pernah dirasakan oleh makhluk abadi sepertinya. Rasa kehilangan yang tiba-tiba, lubang menganga di dada yang sebelumnya dipenuhi oleh kepuasan kepemilikan, kini berubah menjadi kekosongan yang menyiksa. Elysianne, separuh jiwanya, alat validasi eksistensinya, telah direbut. Di depan matanya sendiri.

Cyprian mengepalkan tangan begitu erat hingga telapak tangannya berdarah, darah putih menetes ke lantai.

"Sybilla..." desisnya, suaranya bergetar antara murka dan keputusasaan. "Kau... kau tidak bisa pergi. Kau adalah milikku!"

Ia mendongak, menatap retakan dimensi di langit-langit istana yang masih terbuka lebar, seolah menantang alam semesta.

"Aetherion," geramnya, suara itu rendah namun mengandung janji pembantaian kosmik. "Kau pikir dengan membawanya ke dunia manusia kau bisa menyelamatkannya? Kau baru saja membawa domba ke sarang serigala yang jauh lebih buas."

Cyprian berdiri lagi, kali ini dengan ketenangan yang menakutkan. Aura di sekitarnya berubah dari kemarahan meledak-ledak menjadi dingin yang absolut, lebih dingin dari ruang hampa antar bintang.

"Aku akan merobek setiap dimensi," sumpah Cyprian, matanya menyala merah darah. "Aku akan membakar dunia manusia hingga menjadi abu jika itu yang diperlukan. Tidak ada tempat di alam semesta ini, tidak ada celah di antara realitas, di mana kau bisa bersembunyi dariku, Istri-ku."

Lord Demon itu mengepakkan sayapnya, siap meninggalkan Skyrosia, meninggalkan perang dimensinya yang belum selesai, demi satu tujuan tunggal: Memburu.

"Persiapkan pasukan lintas dimensi," perintahnya pada kegelapan yang patuh. "Kita akan berburu Dewi."

----

Udah ah, 2 aja~

agak gila mikirin alur berat~

1
❄Snow white❄IG@titaputri98
Semangat Thor😍😍😍
Thinker Bell ><
Keep up the good work for myself.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!