Arkan Xavier adalah definisi dari kekejaman. Sebagai pemimpin sindikat mafia paling ditakuti, dunianya hanya dipenuhi dengan pengkhianatan dan genangan darah. Namun, satu malam yang fatal mengubah segalanya. Dalam kondisi sekarat akibat penyergapan, Arkan diselamatkan oleh Aisyah, seorang wanita bercadar yang hatinya sedalam samudera dan imannya sekokoh karang.
Bagi Arkan, Aisyah adalah anomali—cahaya yang seharusnya tidak pernah bersentuhan dengan kegelapannya. Terobsesi dengan ketenangan yang dimiliki Aisyah, Arkan mulai masuk ke kehidupan wanita itu, menyeretnya ke dalam pusaran bahaya yang belum pernah Aisyah bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Cawan yang Beracun
Napas dingin malam menusuk pori-pori saat Arkan Xavier duduk bersimpuh di sudut selnya yang kini lebih bersih. Di depannya, sebuah mushaf kecil terbuka pada surah Al-An'am. Suara parau yang dulu hanya digunakan untuk memerintah eksekusi, kini bergetar lembut mengeja ayat-ayat suci. Namun, di balik kekhusyukan itu, insting "serigala" yang telah menemaninya selama puluhan tahun tetap terjaga. Ia merasakan desiran aneh di udara koridor malam ini—sunyi yang terlalu tajam.
Pagi harinya, rutinitas di Blok Hunian Minimum dimulai seperti biasa. Namun, ada yang berbeda di meja jatah sarapan. Petugas katering yang biasanya ramah, kali ini digantikan oleh seorang narapidana baru dengan topi yang ditarik rendah hingga menutupi mata. Pria itu menyodorkan nampan berisi bubur kacang hijau dan segelas susu putih ke arah Arkan.
"Ini khusus untuk 'Warga Binaan Teladan'," bisik pria itu dengan suara yang serak dan tidak dikenal.
Arkan menerima nampan itu, namun matanya tidak lepas dari jemari pria tersebut. Di pangkal ibu jarinya, terdapat tato kecil berbentuk jangkar melilit pedang—simbol unit tentara bayaran yang dulu sering disewa oleh mendiang ayahnya untuk operasi di luar negeri. Sisa-sisa Xavier Senior, batin Arkan.
Ia membawa nampan itu ke meja pojok perpustakaan, tempat yang biasanya sepi. Arkan memperhatikan gelas susu itu. Di permukaan cairan putih yang tampak murni tersebut, ada lapisan minyak tipis yang hampir tak terlihat, berkilauan seperti pelangi di bawah lampu neon.
Ia tidak meminumnya. Sebaliknya, ia mengambil setangkai bunga sepatu yang tumbuh di sela pagar luar dan mencelupkannya ke dalam susu tersebut.
Dalam hitungan detik, kelopak bunga yang merah cerah itu mulai layu dan menghitam, seolah-olah terbakar oleh asam yang tak kasat mata.
Arkan menarik napas panjang. Sianida.
Seseorang di luar sana tidak ingin ia keluar dari penjara ini dalam keadaan bernapas. Mereka tidak ingin "harta karun" informasi yang disimpan Arkan di kepalanya jatuh ke tangan hukum saat ia bebas nanti.
Di luar tembok penjara, Aisyah sedang berdiri di depan sebuah gedung pencakar langit yang megah. Ia baru saja selesai melakukan pertemuan dengan dewan direksi Medika Utama, jaringan rumah sakit swasta terbesar di Jakarta. Mereka menawarinya posisi sebagai Kepala Unit Bedah Trauma di rumah sakit baru yang akan dibuka bulan depan.
Gaji yang ditawarkan sangat besar, fasilitasnya lengkap, dan prestise-nya luar biasa bagi dokter semuda Aisyah. Namun, ada satu syarat tersirat: ia harus mulai mengurangi keterlibatannya dengan Yayasan Malik yang sering dianggap "bermasalah" secara opini publik karena kaitannya dengan Arkan.
"Dokter Aisyah," ujar Direktur Medika Utama, "Kami menghargai dedikasi Anda pada panti asuhan. Tapi Anda adalah aset nasional. Bakat Anda akan terbuang jika hanya mengurusi anak-anak yatim dan narapidana. Pikirkan masa depan Anda."
Aisyah berjalan keluar dengan perasaan bimbang. Di satu sisi, ia ingin membuktikan bahwa ia bisa sukses tanpa bantuan nama besar mana pun. Di sisi lain, hatinya tertinggal di panti asuhan, dan jiwanya tertambat pada pria yang sedang berjuang di balik jeruji besi.
Ia memutuskan untuk mengunjungi Arkan sore itu, mencari ketenangan dari satu-satunya orang yang benar-benar memahaminya.
Saat Aisyah duduk di depan Arkan, ia segera menyadari ada yang salah. Arkan tampak lebih waspada dari biasanya. Matanya terus melirik ke arah petugas yang berjaga di pintu.
"Arkan... wajah Anda pucat. Apa Anda sakit?" tanya Aisyah cemas.
Arkan menempelkan tangannya di kaca. "Aisyah, dengarkan aku. Jangan makan atau minum apa pun yang diberikan orang asing di luar sana. Bahkan jika mereka mengaku sebagai kurir yayasan."
Aisyah tertegun. "Maksud Anda?"
"Tadi pagi, mereka mencoba meracuniku," Arkan berbisik, suaranya sangat rendah. "Orang-orang dari masa lalu Ayah di luar negeri... mereka mulai bergerak. Mereka takut aku akan membongkar jaringan lama Xavier saat aku bebas nanti. Mereka ingin aku mati di sini."
Aisyah menutup mulutnya dengan tangan, air matanya merebak. "Arkan... saya akan bicara dengan polisi. Saya akan minta perlindungan ekstra!"
"Tidak, Aisyah. Jika kita terlalu reaktif, mereka akan menyerang panti. Itulah sebabnya aku ingin kau mengambil tawaran dari Medika Utama," ujar Arkan mendadak.
Aisyah terbelalak. "Apa? Bagaimana Anda tahu?"
"Leo memberitahuku. Ambillah pekerjaan itu, Aisyah. Jadilah bagian dari institusi besar yang punya keamanan ketat. Dengan begitu, mereka akan berpikir dua kali untuk menyentuhmu karena kau berada di bawah perlindungan korporasi raksasa. Dan... kau pantas mendapatkan kesuksesan itu."
"Tapi bagaimana dengan panti? Bagaimana dengan Anda?" isak Aisyah.
"Panti akan dijaga oleh Leo dan Rifqi yang akan segera bebas. Dan aku... aku akan bertarung di sini dengan caraku sendiri," Arkan menatap Aisyah dengan intensitas yang membuat Aisyah merasa terlindungi meski ada kaca di antara mereka. "Melihatmu sukses adalah satu-satunya motivasiku untuk tetap hidup menghadapi racun-racun ini."
Malam itu, Arkan tidak tidur. Ia menunggu pria bertato jangkar itu kembali. Benar saja, saat jam menunjukkan pukul dua pagi, pintu selnya terbuka sedikit—sebuah kelalaian yang sengaja diciptakan oleh sipir yang mungkin telah disuap.
Pria itu masuk dengan seutas kawat baja di tangannya, siap untuk menjerat leher Arkan yang tampak sedang tidur membelakangi pintu.
Namun, saat kawat itu hendak dikalungkan, Arkan berputar dengan kecepatan yang tidak manusiawi. Ia menangkap pergelangan tangan pria itu, memutarnya hingga terdengar bunyi patahan yang mengerikan, dan menindih tubuh pria itu ke lantai sel.
"Siapa yang mengirimmu? 'The Colonel' atau 'The Ghost'?" desis Arkan, menyebutkan nama-nama sandi tentara bayaran Xavier dulu.
Pria itu meringis kesakitan, namun ia tetap diam.
Arkan tidak memukulnya lagi. Ia justru mengeluarkan sebuah foto dari sakunya—foto Aisyah yang sedang mengobati anak panti. "Lihat wanita ini? Jika seujung rambutnya saja tersentuh oleh orang-orangmu, aku akan membocorkan seluruh koordinat gudang senjata Xavier di Asia ke interpol malam ini juga. Katakan pada mereka, aku masih punya 'kunci' terakhir."
Pria itu gemetar. Ia tahu "kunci" yang dimaksud Arkan adalah basis data digital yang berisi seluruh daftar klien gelap Xavier selama tiga puluh tahun.
"Sekarang, keluar. Dan katakan pada sipir yang membukakan pintu ini, bahwa aku masih memegang bukti suapnya," Arkan melepaskan cengkeramannya.
Pria itu lari terbirit-birit, menyadari bahwa meski Arkan sudah mengenakan baju oranye, ia tetaplah putra Xavier yang memiliki jaring informasi yang mematikan.
Esok paginya, Aisyah berdiri di kantor Medika Utama. Ia memegang kontrak kerja di tangannya. Ia teringat kata-kata Arkan tentang perlindungan dan masa depan.
Ia menandatangani kontrak itu, namun ia menambahkan satu klausul tambahan yang ditulis tangan: "Dokter Aisyah berhak menggunakan 30% dari waktunya untuk pelayanan medis gratis di Yayasan Rahman Malik."
Direktur rumah sakit itu terdiam sejenak, lalu tersenyum dan menjabat tangan Aisyah. "Sifat keras kepala Anda adalah alasan mengapa Anda akan menjadi ahli bedah terbaik kami."
Di dalam penjara, Arkan menerima kabar itu lewat surat singkat dari Aisyah yang disisipkan di antara buku hukum. Ia tersenyum tipis. Ia tahu, catur yang ia mainkan melawan bayang-bayang masa lalunya baru saja dimulai.
Bramantyo dan Bongkeng mungkin sudah jatuh, tapi "hantu-hantu" Xavier kini mulai bangkit dari kuburnya. Arkan menatap jendela selnya, melihat burung-burung gereja yang terbang bebas.
Racun mungkin bisa mematikan tubuh, tapi ia tidak bisa membunuh cinta yang sudah menjadi penawar bagi jiwa. Aisyah, jadilah bintang yang terang di luar sana, sementara aku akan menjadi bayang-bayang yang memastikan tidak ada kegelapan yang mendekatimu.