Di latar belakangi suasana awal terbentuknya penduduk Nusantara. Di mana terjadi konflik kepentingan antara kaum pendatang dari utara dengan penduduk yang telah terlebih dahulu tinggal di wilayah kepulauan Hindia.
Tidak sampai di situ, persaingan dan intrik meraih kekuasaan mewarnai kehidupan masyarakat Nusantara ketika itu, terutama sejak Raja mereka Hyang Parikesit mengangkat Petruk menjadi Perdana Menteri.
Banyak pejabat dan cendikiawan yang mempertanyakan kebijakan Sang Raja. Mereka menganggap penunjukkan Petruk menjadi Perdana Menteri melanggar aturan, karena tidak melalui kompromi terlebih dahulu.
Terlebih lagi, selama menjadi Perdana Menteri, Petruk terkadang membuat peraturan yang dianggap aneh. Akibatnya penentangan terhadap penunjukkan dirinya, semakin menjadi-jadi.
Konflik antar pendukung semakin meruncing disertai adu siasat untuk menghancurkan lawan membuat suasana bertambah ruyam.
Apakah Petruk dapat mempertahankan jabatannya? Mari kita ikuti kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rimau Melayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Manusia Goa Harimau
Tanpa banyak publikasi, semenjak dipercaya sebagai pejabat sementara Wali Negeri bagian Sumatera, Pangeran Hyang Jayanaga menyempatkan diri mengunjungi beragam tempat yang dihuni komunitas Bangsa Punt.
Selain hidup di pesisir pantai, Bangsa Punt juga banyak yang tinggal di hutan rimba, goa di pinggir sungai dan daerah dataran tinggi. Salah satu yang terkenal adalah komunitas manusia goa harimau yang berada di pinggiran sungai ogan.
Masyarakat di goa harimau ini terbilang cukup unik. Mereka memiliki pemimpin adat sendiri yang mengatur pembagian lahan di sepanjang sungai.
Pada awalnya komunitas ini dalam kesehariannya mencari makanan dengan berburu dan memanfaatkan hasil hutan. Sebagian kecil membuka lahan perkebunan dengan cara yang sangat sederhana.
Namun sejak satu kelompok Suku Formosa tiba di wilayah mereka, komunitas masyarakat Goa Harimau ini mulai mengenal teknologi pertanian dan budi daya perkebunan dengan cara yang lebih maju.
Bangsa Punt yang berdiam di Goa Harimau bersikap ramah dan menerima dengan senang hati kedatangan Suku Formosa. Hal ini agak berbeda dengan Bangsa Punt lainnya yang menjaga jarak dengan kelompok pendatang.
Pangeran Hyang Jayanaga pernah mendapat undangan dari komunitas ini, untuk menghadiri panen raya. Panen raya kali ini sangat berarti bagi mereka, karena merupakan hasil transfer teknologi pertanian dari Suku Formosa.
Pangeran Hyang Jayanaga berangkat dengan membawa sekitar 20 pengawal didampingi seorang penunjuk jalan. Mereka menerobos hutan belantara dengan mengikuti arah arus sungai.
Saat Pangeran Hyang Jayanaga tiba di lokasi Goa Harimau, ia menyaksikan pemandangan yang luar biasa. Bangsa Punt dengan ciri kulit gelap kecoklatan, nampak terlihat sangat akrab dengan Suku Formosa dengan ciri kulit terang kekuningan.
Pangeran Hyang Jayanaga juga diperlihatkan, bayi-bayi yang kedua orang tuanya berasal dari etnis yang berbeda. Bayi-bayi ini berambut lurus seperti kebanyakan Suku Formosa, namun memiliki mata yang lebar seperti Bangsa Punt.
Sementara warna kulit dari bayi-bayi ini merupakan perpaduan dari kedua orang tua mereka, yakni tidak terlalu gelap namun juga tidak terlalu terang. Pangeran Hyang Jayanaga berfirasat kelak ciri-ciri yang terdapat dari bayi-bayi ini, akan menjadi ciri khas masyarakat Nusantara di masa depan.
Panen raya berlangsung dengan meriah, dan selepasnya diadakan jamuan makan malam. Tersaji berbagai jenis makanan, ada yang merupakan makanan khas Bangsa Punt, namun juga terdapat makanan yang berasal dari budaya Suku Formosa.
Dalam jamuan tersebut, Pangeran Hyang Jayanaga ditemani Pimpinan Komunitas Goa Harimau yang bernama Tetua Kasa.
"Tetua Kasa, kalau boleh tahu, bagaimana asal muasal masyarakat di Goa Harimau ini?" tanya Pangeran Hyang Jayanaga memulai pembicaraan.
"Menurut tutur leluhur, ketika Maha Guru Punta tiba di Sumatera, pengikutnya terpecah ada yang memilih tinggal di pesisir pantai, ada yang tinggal pedalaman" kata Tetua Kasa menjelaskan.
"Mereka yang tinggal di Pedalaman, pada awalnya berkumpul di Goa Harimau ini, namun lambat laun sebagian memisahkan diri" ujar Tetua Kasa menambahkan.
"Ada yang berdiam tidak jauh dari sini, tetapi ada juga yang berlayar jauh sampai ke daratan ujung bumi" ucap Tetua Kasa lagi.
"Daratan ujung Bumi?" kata Pangeran Hyang Jayanaga sedikit kaget.
"Iya Pangeran, kami mendengar kabar mereka menamakan diri mereka Suku Maya, mungkin terinspirasi dengan nama Negeri Mayapada" jawab Tetua Kasa sambil tersenyum geli.
"Menurut Tetua, apa yang menyebabkan mereka memisahkan diri?" tanya Pangeran Hyang Jayanaga ingin tahu.
"Bermacam-macam alasannya, ada yang dikarenakan ingin mencari suasana baru tapi ada juga yang merasa tidak diperlakukan dengan adil" jawab Tetua Kasa.
"Diperlakukan tidak adil, maksudnya?" tanya Pangeran Hyang Jayanaga.
"Iya, biasanya masalah pembagian lahan yang berada di sepanjang sungai" jawab Tetua Kasa.
"Demi menghindari konflik atau perang antar saudara, mereka memilih untuk mengalah dan mencari daerah baru" ucap Tetua Kasa menambahkan.
Setelah terdiam sebentar, Tetua Kasa kembali menjelaskan.
"Salah satu kelompok yang memisahkan diri dan berada tidak jauh dari sini, adalah leluhur masyarakat Gunung Dempo" kata Tetua Kasa.
Pangeran Hyang Jayanaga ketika masih kecil, pernah diajak ayah Hyang Parikesit berkunjung ke masyarakat Gunung Dempo. Pangeran Hyang Jayanaga tidak pernah lupa, di daerah itu dilihatnya banyak terdapat karya seni berupa ukir-ukiran batu.
Di dataran tinggi Gunung Dempo, Pangeran Hyang Jayanaga melihat peradaban masyarakat yang sudah tinggi. Mereka sudah mengenal ilmu astronomi untuk menentukan masa bercocok tanam.
"Mengapa masyarakat sini, begitu menerima keberadaan Suku Utara?" tanya Pangeran Hyang Jayanaga sambil mengambil buah pisang yang ada di hadapannya.
"Menurut legenda dahulu ketika rombongan Maha Guru Punta baru tiba, mereka hampir berperang dengan Orang Gayo" jawab Tetua Kasa menjelaskan.
"Namun pertumpahan darah bisa dihindari, bahkan kemudian terjalin persahabatan" ucap Tetua Kasa.
"Ciri-ciri orang Gayo ini, mirip dengan ciri-ciri orang dari Suku Utara, dan ketika saya tanyakan kepada mereka ternyata leluhur masyarakat Suku Utara ini berasal dari pulau ini juga" ujar Tetua Kasa menjelaskan.
"Menurut legenda Suku Utara, leluhur mereka pergi dari sini karena terjadi musibah kemarau yang sangat panjang ketika itu. Sebagian ada yang berdiam di semenanjung yang dikenal sebagai Suku Yunnan, sebagian lagi terus merantau sehingga sampai di kepulauan formosa" ucap Tetua Kasa menjelaskan panjang lebar.
Percakapan dengan Tetua Kasa ini sangat menarik. Ternyata leluhur Suku Formosa dahulunya berasal dari Pulau Sumatera juga.
Kisah dari Tetua Kasa ini, kemudian diceritakan kembali oleh Pangeran Hyang Jayanaga kepada Ki Bagong, saat Ki Bagong datang berkunjung ke rumahnya.
Pangeran Hyang Jayanaga berharap kisahnya tersebut dapat meredam gejolak perselisihan antara Bangsa Punt dengan Suku Formosa, karena pada hakekatnya keduanya telah menjalin peraahabatan sejak dulu kala.
Setelah bermalam di Goa Harimau, Pangeran Hyang Jayanaga pamit untuk kembali pulang. Sebagai tanda terima kasih, Tetua Kasa menghadiahkan 3 batu warna warni kepada Pangeran Hyang Jayanaga. Tetua Kasa mengatakan, batu-batu ini merupakan peninggalan leluhur mereka.
Batu berwarna putih berkhasiat sebagai penawar racun ular. Jika seseorang terkena racun, batu warna putih ini cukup dicelupkan ke air, kemudian airnya di minum maka racun yang ada di dalam tubuh akan sirna.
Sedangkan Batu berwarna hijau berkhasiat memberi energi bagi tubuh. Apabila batu warna hijau ini dipegang seseorang, orang tersebut seperti mendapatkan energi baru dan tidak akan merasa lelah saat bekerja.
Sementara Batu berwarna merah, jika dipegang seseorang akan berkhasiat membuat tubuh menjadi kebal terhadap pukulan dan senjata tajam.
Tetua Kasa mengharapkan ketiga batu pusaka milik maayarakat Goa Harimau agar bisa dijaga dan dimanfaatkan untuk kebaikan. Pangeran Hyang Jayanaga sebetulnya ingin menolak pemberian ini, akan tetapi demi menghormati Tetua Kasa dia menerimanya.
Ketiga batu pusaka masyarakat Goa Harimau ini disimpan Pangeran Hyang Jayanaga di tempat khusus. Beberapa kali batu yang berwarna putih dia pergunakan, yakni ketika ada warga sakit karena dipatok ular.
d tunggu novel selanjutnya kak
Ini Cerita kisah nyata bukan sejarah..
BTW author suka nonton wayang y:)
taunya datuk maringgi..
mereka saudaraan y..atau nama Marga y
dilanjut lagi ya kak, tetap semangat nulisnya.
aku udah kasih jempolnya, ya🙏
mampir dicerita aku
hati yang terluka sama aku menikahi pacar sahabat ku
jngan lupa mampir