Di puncak gunung dengan ketinggian 2874 MDPL, seorang gadis mendongak menatap lelaki yang berdiri di depannya.
"Mari kita akhiri semuanya." ucap gadis tersebut.
Lelaki yang menjadi lawan bicaranya tersenyum, "apa yang harus diakhiri? Kita tidak pernah memulai apapun."
Mata gadis tadi berkedip dua kali, ia mencoba mencerna setiap kata yang keluar dari mulut lelaki di depannya. Tak lama kemudian kepalanya mengangguk, "terima kasih."
Jadi kedekatan yang telah mereka lewati selama setahun belakangan tidak berarti apa-apa bagi si lelaki. Sementara lain hal dirasakan oleh si gadis, ia menganggap dirinya spesial.
Namun rupanya takdir punya caranya sendiri untuk menyatukan dua manusia, tidak peduli sejauh apa usaha keduanya untuk saling menjauh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon firefly99, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Dugaan
"Aura cegilnya kuat sekali." ujar Radit.
Ryan mendengus, "Cegil sih, tapi unik gitu. Liat, ia memang duduk dengan laki-laki, tapi hanya kak Erwin dan kak Kevin yang menyentuhnya. Itupun hanya tepukan pada pundak, puncak kepala dan juga lengannya."
Mereka berdua hanya bisa melihat dari luar lapangan, sebab di dalam lapangan sudah nyaris penuh karena keberadaan kakak kelas. Sebagai adik kelas yang baru diresmikan tadi pagi, mereka tentu masih canggung dan tahu diri. Nampak Naya sedang asyik bercengkerama dengan teman-teman angkatannya yang beda kelas.
Radit mengangguk setuju. "Itu yang bikin kau tertarik?"
"Bukan, tapi dia pintar membawa diri. Galaknya, lembutnya, berada di tempat dan kondisi yang pas." jawab Ryan.
"Mundur aja kalau cuma dijadikan tantangan, dia terlalu baik bro." barulah suara Nando terdengar.
"CK." decak Ryan.
Yang menjadi bahan pembicaraan sedang asyik mengunyah, sesekali ia menimpali obrolan para lelaki yang duduk disekitarnya.
"HOI, RAPAT OSIS!" teriak Wiwi dari pintu lapangan. "ASIK BENER HAHA HIHI"
"Ada info kah?" Naya bertanya pada Erwin.
Erwin mengangkat kedua bahunya, tanda tidak tahu.
"Ehh, ada ada." ucap Kevin. Ia baru saja memeriksa grupnya.
"Pamit dulu yaa, anggota empeer mau rapat." Naya berdiri lalu melambaikan tangannya para orang-orang di sana, yang didominasi oleh teman kelas Erwin.
"Cemilannya buat saya kan Nay?"
"Makasih Nay cemilannya, besok nonton lagi yaa."
"HUUU!"
Tiba di ruang OSIS, ternyata sudah ada Miss Eva juga yang merupakan pembina OSIS.
"Maaf, miss. Kami terlambat." ucap Erwin mewakili dua temannya.
"Silahkan duduk." Miss Eva mempersilahkan.
Saat pembukaan, semuanya adem ayem. Namun ketika miss Eva mulai membahas tentang keberatan Dian, ruangan tiba-tiba riuh.
"Kalian semua yang jadi dewan kehormatan gak pilih kasih, kan? Kita semua tahu bagaimana dekatnya kalian dengan para mentor gugus Sejahtera." tuding Dian.
"Dian, pelankan suaramu." Haris yang duduk di sebelah Dian, segera berbisik.
"Maksudnya apa nih?" tanya Erwin. "Kok pada bawa gugus Sejahtera? Bukannya MOS sudah resmi berakhir?"
"Dian merasa keberatan dengan keputusan tadi. Tadi sempat bersitegang di ruang guru dengan Haris. Makanya miss adakan rapat dadakan ini, ingin mengkonfirmasi semuanya." miss Eva menjelaskan dengan singkat.
"Dugaan saya tentu bukan tanpa alasan, Miss. Yang pertama, tidak ada satupun anggota gugus Sejahtera yang masuk ke gugus istimewa. Yang kedua, semua anggota gugus Sejahtera berhasil mendapatkan tanda tangan kami. Padahal yang lain paling banyak mengumpulkan 40 tanda tangan. Kalian pasti sengaja memberatkan yang lain perihal tanda tangan kan?"
Yang lain hanya mampu menggelengkan kepalanya dengan dugaan Dian.
"Bahkan sekelas Nadia, Wira, Naya dan Erwin saja berhasil mereka dapatkan tanda tangannya." sambung Dian.
Nadia dan Wira adalah most wanted sekolah, mereka kebetulan sepasang kekasih.
"Izin berbicara." Wira mengangkat tangannya. "Gugus Sejahtera itu yang datangnya berkelompok kan yaa?" tanyanya.
Yang lain mengangguk.
"Saya tidak segarang itu menjadi senior. Siapapun yang datang dan berhasil melewati challenge, pasti saya berikan tanda tangan. Entah mereka datang sendiri atau berkelompok. Nah, anggota gugus Sejahtera ini pada pintar, mereka datangnya berkelompok, semacam satu paket. Jadi satu orang yang bisa melewati challenge nya, maka semuanya dinyatakan berhasil."
"Dengar sendiri kan?" tanya Kevin kepada Dian.
"Atau kelompok mu sengaja memberatkan peserta MOS lain?" tuduh Dian lagi.
"Dian, kau bisa bertanya ke peserta MOS yang lain, siapa diantara mereka yang tidak mendapatkan tanda tangan kami? Kenapa kami harus memberatkan mereka?" kini giliran Naya yang berbicara. "Kalau tidak setuju dengan keputusan dewan kehormatan, setidaknya kamu tidak bisa mengganggu gugat keputusan juri, kan?"
Dian tidak berkata apapun lagi. Wajahnya merah padam.
"Bagaimana, Dian?" tanya miss Eva. "Semuanya jelas?"
"I-iya miss." jawab Dian, suaranya nyaris tak terdengar.
Mendengar jawaban Dian, Miss Eva pamit undur diri. Sekarang hanya tersisa mereka sebagai pengurus MPK dan OSIS.
"Sebenarnya agak buang waktu dan tenaga rapat ditengah hari seperti ini." jujur Haris. "Tapi gak apa-apa, kita sekalian bahas tentang pekan semarak kemerdekaan saja."
"Masih lama wehh." celetuk Anggi.
"Haris, saya masih butuh tidur ini." yang lain keberatan.
"Kalau lanjut makan?" tanya Haris.
"YAAA AYOOO!" kompak yang lain.
Haris tertawa, "jadi semuanya aman yaa? Dian, sudah terima keputusan?"
Dian mengangguk.
"Naya, Kevin, Erwin, gimana?"
"Amaan." kompak ketiganya.
"Okee, ayo ke warung biru." ajak Haris. "Hari ini saya yang traktir, hitung-hitung ucapan terima kasih untuk segala kerjasamanya."
"Ketos terbaik nih."
"Wuhuiiii, gak rugi jadi timsesnya."
"Fajar Haris dua periode."
"Periode selanjutnya di BEM yaaa."
Erwin merangkul Naya keluar dari ruang OSIS. "Langsung pulang kah?"
"Sepertinya. Saya ke kelas dulu ambil tas." ucap Naya.
"Tunggu di parkiran." pesan Erwin. Ia juga memutuskan untuk pulang lebih cepat hari ini.
Warung biru terletak di area sport center, jaraknya kurang lebih 2 kilometer dari sekolah.
"Aura setannya langsung keluar tadi." bisik Wiwi ke Naya. Mereka duduk bersebelahan, ada Anggi juga.
"Pelankan suaramu. Narti bisa denger, tahu sendiri kalau mereka bestie." Anggi mengingatkan.
"Kalau mau gosipin tuh orang, ajak sayalah." Nadia memilih duduk bersama Naya.
"Tumben gak sama mas pacar." heran Wiwi.
Nadia mencebikkan bibirnya, "lagi ngambek soalnya."
Naya dan Anggi terkikik geli mendengar ucapan Nadia.
"Yang jomblo gak usah ketawain, nanti lebih parah dari saya ngambeknya." ujar Nadia. Ia melihat sekelilingnya, "biang kerok mana nih?"
"Nad!" Naya mengingatkan. Ia memberikan kode, takutnya Narti jadi kompor.
"Biang kerok Kevin maksud saya wehh." sambung Nadia.
Jika satu program telah dilaksanakan, mereka memang menjadikan makan-makan sebagai bentuk perayaan. Uangnya dari mana? Dari iuran mereka sesama anggota. Adu mulut tadi akhirnya bisa diselesaikan, raut wajah Dian juga kini lebih bersahabat.
"Nay, di rumahmu banyak makanan kah?" tanya Fajar.
Naya mengangguk, "yokk, ke rumah." ajaknya.
"Berkelana kemana lagi para punggawanya Naya?" seloroh Wira.
"Ayoo, ikut ke rumah. Gak sibuk kan?"
Wira dan Nadia kompak menggelengkan kepalanya.
Tidak sekali dua kali mereka mendatangi rumah Naya, selain karena jaraknya tidak terlalu jauh, juga karena banyak stok makanan. Jadilah 6 remaja itu berkumpul di gasebo yang berada di sudut halaman.
"Dugaan Dian benar-benar bikin emosi saya meledak." curhat Nadia.
"Kalau saya jadi dia, pasti malulah ke Naya. Gak tahu cara bersyukur memang dikasih jabatan secara cuma-cuma." decak Kevin.
"Jadi ke sini cuma mau gosip ini?" tanya Naya. Sebenarnya serupa kalimat sarkas.
"Asek, makan rujak." seru Fajar.
"Finally Nadia dapat mangga, sejak kemarin tantrum terus." syukur Wira.
"Kau ngidam kah?" duga Erwin.
Yang lain tertawa.
"Ngidam kepala Dian botak!" umpat Nadia. "Saya pernah nonton acara di TV, mereka makan mangga, makanya ikut ngiler. Ehh tahu-tahunya Naya punya. Syukur dah."
sedih dgn kisah Naya dan Ryan