Asyifa yang lugu dan polos, menjadi korban permainan kotor dari sepasang suami istri.
Pernikahan Asyifa dengan Randa, ternyata hanyalah bagian dari rencana busuk Randa dan Nikita untuk segera mendapatkan keturunan.
Setelah Asyifa melahirkan anaknya, Asyifa shock ketika Nikita datang tiba-tiba membuka jati dirinya sebagai istri pertama Randa dan berniat untuk merebut Safina anaknya.
Asyifa berjuang keras mempertahankan anaknya Safina. Segala cara yang dilakukan Nikita, selalu bisa ia gagalkan.
Namun suatu hari, Randa yang sudah dilanda cemburu buta karena melihat Asyifa bersama pria lain, berhasil kabur membawa Safina anaknya dari tangan Asyifa.
Bagaimanakah kisah selanjutnya? Apakah Asyifa dan Safina bisa bertemu kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Afriyeni Official, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11
Randa membanting tubuhnya dengan kesal diatas sofa empuk yang ada dirumah Nikita. Kehilangan jejak Ken, membuat Randa sangat emosi. Dia sangat ambisius untuk bertemu dengan pemuda itu. Entah dimana Ken berada, Randa sangat penasaran.
"Gimana mas? Apa kamu sudah mendapatkan identitas pria itu?" tanya Nikita penasaran melihat Randa yang kembali dengan wajah yang teramat kusut.
"Aku bertemu dengannya tadi. Dia licin seperti belut. Rupanya dia selalu mengintai Asyifa tanpa sepengetahuan ku. Aku sudah berusaha mengejarnya, tapi dia bisa lolos dengan mudah." Dengus Randa dengan nada jengkel setengah mati
Hatinya tak tenang karena merasa geram mengingat kejadian kejar-kejarannya dengan Ken yang membuat mobilnya menabrak pagar tembok rumah orang.
Nikita mengerutkan dahinya tajam.
"Nasibmu baik sekali Wahyu, kita bisa memanfaatkan pemuda itu sebagai dalang penculikan Asyifa dan Safina. Semua ini sangat kebetulan. He he he...!" sebuah senyuman tipis terukir disudut Nikita tanpa diketahui oleh Randa.
"Aku rasa, mas jangan terlalu memikirkan Asyifa. Apa mas lupa dengan Safina?" Nikita mencoba mengingatkan Randa tentang Safina.
"Lupakan tentang Safina. Aku tak percaya dia adalah anakku." Tepis Randa terbakar emosi.
Nikita terperangah mendengar ucapan yang dilontarkan Randa.
"Mas..., apa kamu yakin? Safina bukan darah dagingmu?" Nikita meragukan ucapan Randa yang ia duga hanya kata sembrono yang terlontarkan oleh Randa disebabkan emosi yang tak terbendung.
Randa terdiam sesaat dengan raut wajah mengeras tegang dan mata yang merah menyala. Dia pun menjambak rambutnya kuat dan melampiaskan amarahnya pada Nikita.
"Jangan banyak tanya Niki...,! Kepalaku pusing! Kalau kau mau anak itu? Kau telpon saja Wahyu! Urus saja olehmu! Aku muak!" hardik Randa berang.
Dengan amarah yang tak terbendung, Randa bangkit dari sofa dan bergegas masuk ke dalam kamar.
Brakk!!!
Bunyi pintu kamar yang dibanting keras membuat Nikita tersentak kaget. Sejenak ia mengelus dadanya kemudian tersenyum sinis memandang kearah pintu kamar yang tertutup.
"Ada baiknya kau minum obat kolesterol mu mas Randa." sungut Nikita tersenyum penuh arti.
Nikita berjalan menuju teras rumah yang terlihat sunyi. Dia pun mengeluarkan ponsel yang selalu ia bawa dalam kantong bajunya mencoba menghubungi Wahyu.
Drrt...drrt...drrt...
Suara getar ponsel di atas nakas, mengagetkan Wahyu yang baru saja habis mandi. Dia menaruh handuk yang ia gunakan untuk mengusap rambut basahnya asal-asalan. Tangan kekarnya menyambar ponsel dengan cepat dan tersenyum sinis saat melihat panggilan dari Nikita.
"Hmm..., ada apa?" tanyanya sambil mengenakan bajunya berbicara dengan Nikita lewat ponsel.
"Aku butuh bantuanmu." Ujar Nikita dengan suara pelan agar tak terdengar oleh siapapun.
"Cih! Bantuan apalagi? Apa kau senang menyusahkanku terus heh?!" sindir Wahyu mulai merasa enggan.
"Jangan macam-macam Wahyu! Tugasmu belum selesai. Aku akan mengirimkan beberapa helai rambut Randa padamu. Kau harus periksa DNA Randa dan Safina. Randa barusan bilang, kalau Safina bukan anaknya." Ucap Nikita setengah berbisik lewat ponsel memerintahkan Wahyu menguji tes DNA milik Randa dan Safina.
"What's...,? Kurasa suami mu itu sudah gila Niki..., Asyifa..., dia tidak mungkin...," wajah Asyifa yang lugu dan polos terbayang dipelupuk mata Wahyu seketika.
Wahyu tak percaya jika Asyifa adalah perempuan yang bisa menipu orang dengan mudah. Apalagi orang yang akan ia tipu adalah Randa yang jelas nyata adalah bajing*an.
"Nggak usah protes! Kamu tes saja DNA nya. Aku juga butuh bukti yang konkret, Wahyu! Aku juga nggak mau membesarkan anak yang ternyata tidak ada hubungan darah sama sekali dengan Randa." Nikita merasa sebal dengan tanggapan Wahyu yang terdengar membela Asyifa.
"Okey, jika itu mau mu, aku akan melakukannya." Jawab Wahyu enggan.
Dia malas berdebat dengan Nikita. Wahyu bukan tipe orang yang suka berdebat panjang dengan wanita. Baginya itu sangat membosankan dan melelahkan.
"Hari ini aku akan menyuruh orang untuk mengantar paket itu padamu. Kau tunggu saja dia menelpon mu, oke?!" ucap Nikita mengakhiri panggilan telponnya setelah Wahyu menjawab dengan satu kata 'oke' saja.
Saat panggilan telpon Nikita terputus, Wahyu sejenak tercenung dan tersenyum sinis seraya memandang ponselnya.
"Dasar manusia edan! Kalian semua sudah sakit jiwa!" gerutu Wahyu mengingat kelakuan Randa dan Nikita.
Senyuman Wahyu menghilang berganti jadi rasa jengkel dalam hati. Dia melemparkan ponsel miliknya ke atas ranjang dan membaringkan tubuhnya dengan pandangan menerawang ke langit-langit kamar.
Raut wajah cantik Asyifa yang polos dan lugu, berbalut mukena tadi subuh, mulai menari-nari di pelupuk matanya. Gambaran mereka berbelanja ke pasar tradisional bersama Safina membuat Wahyu merasakan hal yang aneh di dadanya. Mereka seperti keluarga kecil.
Deg..., deg..., deg...,
Jantung Wahyu mendadak berdegup kencang membayangkan gambaran yang tak sengaja melintas dibenaknya.
"Tidak! Ini tidak boleh terjadi! Aku sudah kapok punya istri lagi! Perempuan cuma menyusahkan saja!" dengus Wahyu membayangkan mantan-mantan istrinya yang terdahulu.
Dua orang anak yang ia anggap sebagai anaknya ternyata bukanlah anaknya. Semuanya hasil perselingkuhan istrinya dengan pria lain.
"Si Randa sialan itu memang beruntung. Andai istriku seperti Asyifa, mungkin aku sudah bahagia." keluh Wahyu dalam hati menyesali hidupnya yang tak pernah tepat dalam memilih istri.
Wahyu menghembuskan nafas panjang saat menyadari pikirannya telah berkelana kemana-mana.
Tok tok tok!
"Mas..., mas Wahyu! Mas Wahyu nggak mau makan? Aku sudah selesai masak loh!" suara merdu Asyifa terdengar memanggil namanya dari luar pintu kamar.
Wahyu seketika melonjak bangun. Debaran di jantungnya kembali berdegup kencang tak beraturan.
"I-iya! sebentar lagi!" teriaknya gugup tiba-tiba sembari mengusap dadanya berulang kali.
"Astagfirullah Al aziim! Sadar Wahyu...,! Sadar...,!" Wahyu menghembuskan nafasnya seraya mengucapkan istighfar tiada henti.
Setelah merasa tenang, dia pun berjalan keluar kamar dan menemukan Asyifa sedang menata makanan yang ia masak di atas meja makan yang ada di ruang makan.
Sorot matanya tak berkedip memperhatikan gerak gerik Asyifa yang lembut dan anggun. Lagi-lagi Wahyu terkesiap merasakan jantungnya kembali berdebar saat Asyifa berbalik dan tak sengaja menatap ke arahnya.
"Mas Wahyu kenapa? Kok mukanya pucat gitu?" tanya Asyifa heran.
"Oh..., eh..., tidak. Aku tidak kenapa-napa." Sahut Wahyu kelimpungan.
Dia berusaha menyembunyikan perasaannya dari Asyifa dengan bergegas duduk di kursi meja makan langsung mengambil piring dan menyendok nasi bersikap seperti orang yang sedang kelaparan.
Asyifa tampak bingung melihat sikap Wahyu yang jadi aneh. Kemarin pria itu sangat kasar padanya. Namun hari ini, Wahyu bersikap lunak dan terkesan grogi saat melihatnya.
"Maaf mas, kalau masakannya kurang enak." Ujar Asyifa canggung dan takut kalau Wahyu tak menyukai menu yang ia masak tanpa bertanya pada Wahyu terlebih dahulu.
Bagaimanapun juga, Asyifa sadar diri. Jika saat ini, dia menumpang dirumah Wahyu. Asyifa lupa untuk menanyakan apa masakan kesukaan Wahyu.
"Enggak kok. Ini enak, kamu pintar masak." Puji Wahyu jujur.
Wahyu mengakui, kalau masakan Asyifa memang enak. Penilaiannya atas diri Asyifa makin bertambah. Asyifa itu cantik, baik, lembut, pintar masak, dan...,
"Asyifa!" tiba-tiba Wahyu menghentikan makannya dan memanggil Asyifa yang baru saja berbalik hendak mengambilkan Wahyu minum dengan suara yang lumayan keras.
"Ya mas, kenapa?" Asyifa agak shock dipanggil Wahyu mendadak.
"Kamu hapal ayat kursi nggak?" tanya Wahyu dengan mimik wajah serius.
"Iya mas, aku hapal. Emang kenapa mas?" jawab Asyifa heran.
Pertanyaan Wahyu sungguh diluar dugaan.
"Aku mau usir setan, nanti kamu catat ayatnya di buku ya, Aku mau hapal ayat itu!" ujar Wahyu serius seraya menepuk-nepuk dadanya yang sedari tadi berdebar terus hingga ia jadi terbatuk.
Asyifa pikir Wahyu tersedak, diapun buru-buru mengambilkan minum untuk Wahyu tanpa mengetahui maksud perkataan Wahyu yang sebenarnya.
.
.
.
BERSAMBUNG