Wanita bernama Kaluna dengan usia 26 tahun terus saja di desak dan di tanya kapan nikah? Umur sudah cukup untuk membina rumah tangga.
Namun Kaluna tidak ada pacar dan sudah lama putus bagaimana caranya akan menikah? Dirinya saja malas untuk keluar saat teman- temannya mengajaknya nongkrong, dirinya masih percaya dengan kata-kata "Jodoh gak akan kemana."
"Nasib ku, bagaimana aku akan mati dalam keadaan jomblo begini." Ucapnya saat mobilnya mulai masuk ke dalam jurang, pintu mobil juga susah untuk ia buka.
Namun bagaimana jadinya, jika dirinya tidak jadi mati atau pending dulu untuk bertemu dewa kematian, ia malah masuk ke dalam raga seorang wanita yang sudah memiliki suami, bahkan anak?
Baca selengkapnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hanya gara-gara Bambang
Brakkk....
Aryan dan Tifara menoleh kearah pintu dan ternyata adalah Elzan.
"Anak ini mengganggu kesenangan papa nya saja." Gumamnya yang masih di dengar oleh Tifara.
"Elzan mau jaga mama, jadi nanti malam Elzan juga tidur sama mama." Elzan sudah naik ke atas ranjang orang tua nya.
"Mana bisa gitu, jatah papa sekarang tidur sama mama. Elzan kan udah berapa hari sama mama karena papa selalu menang." Aryan tidak Terima karena menurutnya malam ini dirinya yang bersama Tifara. Tifara seperti memiliki 2 suami yang setiap malam harus bergantian tempat.
"Tetap tidak bisa, Elzan harus jaga mama." Elzan tetap tidak akan mundur demi tidur dengan mamanya.
"Memangnya kamu tidak mau punya adik? Jika tidak ya sudah tidur sama mama."
"Adik? Jadi mama sama papa mau buat adik?" Tifara kembali melotot kan matanya, ia melirik suaminya yang bisa saja akan berkata tidak di filter.
"Kalau kamu selalu bersama mama dan papa, kita tidak akan bisa dapat adiknya."
"Memangnya kalau ada Elzan, adiknya tidak akan jadi?" Tanya nya lagi membuat Tifara kesal dengan suaminya yang masih saja berdebat masalah tidur hingga ke adik dan akhirnya akan hubungan suami istri mungkin suaminya itu katakan. Tifara memilih keluar dari kamar tidak mau semakin pusing dengan anak dan suaminya.
Papa dan mama Aryan yang melihat itu langsung menghampiri nya, harusnya Aryan masih membantu istrinya keluar.
"Ada apa, Ara?" Tanya Mama mertuanya membuat Tifara bingung, bagaimana tiba-tiba jadi baik dan memperhatikan nya.
"Ara pusing ma, di dalam papa dan anak itu ribut masalah adik dan juga cara membuat nya."
Mama Aryan beralih menatap suaminya, ia menjewer telinga suaminya itu.
"Ini semua gara-gara papa, anak dan cucu kita itu melupakan Ara."
Papa Aryan meringis sambil memegang tangan istrinya agar melepaskan jeweran nya.
"Sakit ma, jangan jewer lagi ma. Apa salah papa, ma?"
"Masih nanya salah papa apa? Cucu papa itu minta adik yang dia bilang tau dari papa." Ia melepaskan tangannya dari telinga suaminya yang merah.
"Lah bagus dong, jadi nanti keluarga kita kembali mendengar dengan tangisan bayi." Ucapnya masih dengan tangan yang mengusap telinga.
"Papa gak lihat Ara, dia yang kewalahan dengan anak dan cucu papa yang selalu saja berdebat." Aryan berlari bersama Elzan mencari Tifara yang ternyata tidak ada di kamarnya.
"Sayang, kenapa kamu tinggalin aku?" Tanya nya.
"Mama janji akan tidur bareng Elzan, walaupun harus menunda dulu dapat adik." Papa Aryan melirik istri dan juga menantunya, ternyata ini yang dimaksud mereka, dirinya hanya menggaruk kepala yang tidak gatal karena dirinya yang telah memberitahu cucu nya tentang adik.
Mereka duduk di ruang keluarga sambil berbincang hingga akhirnya Tifara mengingat sesuatu yang harus ia tanyakan pada papa mertuanya.
"Pa, Ara boleh tanya sesuatu gak? Tapi jangan marah ya?" Ia sambil melirik mama mertua dan juga suaminya.
"Tanya aja, papa akan jawab pertanyaan kamu." Sambil mengambil teh di atas meja untuk ia minum.
"Nama papa, pak Bambang ya?" Tanya nya membuat papa mertuanya itu menyemburkan teh tepat pada Aryan yang di hadapan nya. Lalu mama dan juga papa nya tertawa bersamaan, Aryan tidak ingin tertawa karena kesal dirinya basah.
"Kata siapa? Kamu juga tidak ingat nama papa?"
Tifara menggelengkan kepalanya,karena memang ia hanya tau dari ingatan tersebut selalu memanggil papa dan mama, jadi tidak ingat nama mereka. "Kata mas Aryan. Nama mama juga Ara gak ingat."
"Nama papa, Bambang? Anak papa sudah ganti nama orang tuanya." Mama Aryan juga tertawa mendengar ucapan Tifara yang mengatakan jika suami nya bernama Bambang.
"Sayang, mas belum mandi." Aryan hendak kembali ke kamar, namun suara papa nya menghentikan nya.
"Berani kamu membohongi menantu papa, sejak kapan nama papa berubah jadi Bambang?"
Aryan hanya tersenyum kikuk mendapatkan tatapan tajam dari papa nya.
"Aryan cuma bercanda pa, hanya ingin mengerjai Ara saja." Tifara menatap suaminya tak kalah tajam, jadi selama ini dirinya dikerjai suaminya.
"Baiklah, karena papa kamu sudah ngerjain mama, selama satu minggu kedepan mama akan tidur di kamar Elzan."
Elzan sangat bahagia dengan ucapan mama nya, namun tidak bagi Aryan yang beberapa hari sebelumnya saja dirinya tidur sendiri dan ketika pagi istrinya baru pindah ke kamar.
"Tidak, mas tidak mengizinkan sayang. Hukum dengan yang lain jangan dengan tidur terpisah."
"Syukurin, siapa suruh ubah nama papa. Nama papa Ahsan Mikael, dan mama Hannah. Pemberian orang tua jangan di ubah sembarangan."
"Baguslah, karena Aryan sudah mendapatkan hukuman, maka mama juga akan menghukum papa agar tidur di kamar tamu."
"Mana bisa gitu ma, kita ini sudah tua tidak boleh pisah ranjang segala. Kalau gitu kita akan gagal untuk membuat adik nya Aryan." Mama Hannah memukul lengan suaminya.
"APA??? " Aryan terkejut dengan ucapan papa nya, sudah setua itu dan dirinya bahkan memiliki anak dan baru akan punya adik lagi.
"Papa saja tau kalau sudah tua, sudah ada cucu juga, mau apa lagi punya bayi."
"Kalau anak tertua kita kurang ajar, mungkin anak kedua kita baik hati." Tifara dan Elzan hanya diam tidak merespon apapun, dirinya masih bingung dan baru tau nama mertuanya.
"Biar Elzan saja yang punya adik, Aryan dan Ara yang akan berikan cucu untuk kalian tidak perlu membuatkan adik untuk ku."
"Bagaimana caranya, Elzan juga ingin tau?" Tifara kembali menatap tajam suaminya.
'Mati aku, ditambah lagi hukuman makin lama bikin adiknya buat Elzan.' Aryan hanya tersenyum dengan tatapan polos pada istrinya, dirinya memang tidak mau melihat istrinya marah namun sepertinya kali ini sudah berhasil membuat semakin marah.
Mama dan papa nya sudah pulang dan sekarang hanya tinggal Tifara dan Aryan di dalam kamar, Elzan juga sudah kembali ke kamarnya.
"Peluk aku mas." Ucapnya sambil memejamkan matanya.
Aryan terkejut dengan permintaan istrinya, biasanya dirinya yang inisiatif memeluknya dan istrinya tidak pernah memintanya.
"Sayang,"
"Peluk, atau aku minta peluk Elzan?"
"Istirahat lah, aku akan memelukmu." Istrinya tidak pernah manja dengan nya karena sebelum mereka menikah juga Tifara seorang yang mandiri pekerja keras, apalagi ditambah saat Tifara berubah. Namun sekarang malah memintanya langsung pada Aryan dan ini seharusnya di rayakan. Apa Aryan harus undang tabib? Dukun? Paranormal? Ustad? Kyai? Aryan terlalu berpikir yang tidak jelas karena mendapatkan perlakuan manis lagi dari istrinya, hingga tidak sadar Tifara sudah tertidur dengan nyenyak di dada bidangnya.
Tifara sudah merasa lelah dengan kejadian tadi siang, hingga lupa juga tidak menemani Elzan tidur, entah mengapa anak itu juga tidak mengganggu orang tuanya dan itu sebuah keberuntungan yang didapat oleh Aryan malam ini.
Selalu dukung othor bebu sayang, annyeong love...
Baca juga cerita bebu yang lain.
IG : @istimariellaahmad98
See you...