cerita yang mengisahkan tentang suami yang harus bersandiwara dan berakting demi menjalankan sebuah misi. sehingga menimbulkan kesalahpahaman, antara dirinya dan sang istri.
lalu apa yang terjadi dengan mereka?mampukah mereka mempertahankan rumah tangganya ditengah belenggu masalalunya yang datang tanpa diundang, dan tanpa bisa dihindarinya?
Bagaimana kisah mereka selanjutnya?
penasaran???
mari kita ikuti kisahnya yuk...cekidot
Tolong baca per bab ya guys,
jangan lompat bab
karena dukungan kalian sangat berarti buat author
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝙼𝚎𝚗𝚝𝚊𝚛𝚒𝚂𝚎𝚗𝚓𝚊, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11
Hati yang Terluka
*
Selamat membaca⬇️
***
Duaarrr.....
Barra merasa tubuhnya seakan tidak berpijak di bumi. Melayang seperti tak ada gravitasi. Sesaat kemudian kesadarannya kembali terkumpul. Dipandanginya sang sahabat yang telah membawa kabar duka baginya itu dengan sayu. Lalu tertunduk lesu. Ditariknya nafas dalam yang terasa berat.
"Katakan sama gue, Jena. Bahwa ini semua ini tidak benar. Katakan Jena, katakan." Barra berkata lirih dengan suara bergetar. Tangannya meremat dada yang berdenyut nyeri.
"Sayangnya semua itu benar. Dan loe tunggu aja surat panggilan dari pengadilan," ucap Jena datar.
Lagi lagi Barra terhenyak mendengar ucapan sahabatnya. Dia menggelengkan kepalanya ribut. Dan menolak untuk percaya.
"Tidak...tidak mungkin. Rissa tidak mungkin berbuat seperti itu. Kami saling mencintai. Loe pasti bohong kan, loe bohong Jena, loe bohong!" ujarnya dengan meninggikan suaranya. Sehingga menggundang perhatian orang orang yang berada disekeliling mereka. Sebagian dari mereka ada yang berbisik bisik. Dan memandang keduanya dengan tatapan aneh.
"Pelankan suaramu dodol!" hardik Jena dengan penekanan. "Gue gak peduli!" jawab Barra ketus
"Loe ga peduli, tapi gue peduli tahu gak?" omel Jena tak kalah ketus
"Coba loe ulangi. kalau apa yang loe katakan tadi tidak benar kan?" Barra berusaha meredam rasa yang seolah ingin meledak.
"Apa yang mesti gue ulangi, semua jelas kok. Kalau bini loe emang sudah melayangkan gugatannya ke pengadilan. Bahkan dia juga meminta sama gue, buat balik nama apartemen loe dengan nama Vino. Paham!" tegas Jena.
Barra merasa sia sia tak mendapatkan jawaban yang diinginkan. Lantas dia pun bangkit berdiri dan meremas amplop coklat yang berisi foto foto dirinya itu, lalu membawanya. Dan dengan langkah gontai, dia pergi begitu saja meninggalkan sahabatnya.
Hanya ada satu tempat yang menjadi tujuannya, disaat hatinya sedang kalut seperti ini.
Sementara itu Jenayra sang sahabat, masih duduk manis di kursinya dengan berpangku tangan.
"Hhhh" Jena menghela nafasnya. menatap kepergian sang sahabat. Dan tersenyum tipis penuh arti.
"Maafin gue Bar. Gue terpaksa ngelakuin ini. Agar loe tahu gimana rasanya tersakiti, dan diabaikan. Semoga setelah ini keluarga kalian baik baik saja dan bahagia selamanya." Jena bergumam lirih.
Tak lama kemudian dia bangkit dari duduknya. Lalu meraih tasnya meninggalkan restoran tersebut.
***
Time zone
Kedua orang berbeda gender itu masih sibuk dengan pikiran masing masing. Entahlah tak ada yang bisa menebaknya. Hingga suara cempreng tangisan gadis kecil membangunkan keduanya. Kemudian bergegas menghampiri arah suara tangis tersebut.
Farel menghampiri putrinya lalu menggendongnya. Sedangkan Rissa mendekat pada Vino dan bertanya. "Sayang, apa yang terjadi, Nak?" tanya Rissa sambil mengelus kepala Vino dengan lembut.
"Adek Sephia jatuh Mamah. Dia mau naik ke tangga itu tapi kakinya terserimpet," adu Vino pada mamanya.
"Benar sayang?" tanya Farel pada putrinya. Dan dijawab dengan anggukan kepala oleh gadis kecil tersebut sambil terus sesenggukan.
"Mamah, ayo kita pulang. Vino udah capek." Vino berkata seraya meraih sepatu dan memakainya.
Farel yang melihat hal itupun, berdecak kagum. "Vino kelihatannya mandiri sekali Ris," ucapnya seraya terus memperhatikan Vino. Bocah tampan itu sedang menggendong tas ransel kecil ke atas punggung kecilnya. Dan itu sangat keren di mata Farel.
"Yah, dia memang anak yang sangat pengertian. Tahu kalau orang tuanya sibuk cari cuan, jadi dia sangat mandiri," sahut Rissa
"Mamah ayo!" ajak Vino seraya menarik tangan mamahnya.
"Maaf Om. Vino dan Mamah pulang dulu ya, papay adek Sephia," pamit Vino seraya ber-dadah ria pada teman kecilnya.
"Maaf Kak, aku harus pulang. Papay Sephia," ucap Rissa .
"Ya udah, kita bareng saja. Aku juga mau pulang. Lagian sepertinya Sephia sudah mengantuk," sahut Farel
Mereka berjalan beriringan, meninggalkan arena bermain tersebut. Farel membawa putri kecilnya yang berusia 3th itu dalam dekapannya. Sementara Rissa menggandeng lengan mungil Vino putranya. Dan jika dilihat sepintas mereka selayaknya sebuah keluarga yang harmonis.
Dalam perjalanan keluar mall, Farel terus saja mengajak Rissa mengobrol. "Trus kalau kalian kerja, Vino sama siapa Ris? Atau ada yang mengasuhnya di rumah?" tanya Farel kepo
"Aku menitipkan Vino di daycare. Tempatnya sekolah paud. Dulu sih pas waktu kecil ada baby sister yang mengasuh. Tapi dia pulang kampung karena menikah. Jadi sudah setahun lebih ini dia di daycare," jawab Rissa.
"Eemmm, Ris. Kira kira kamu setuju tidak ya?" ucap Farel hati hati.
"Setuju apaan emang?" tanya Rissa seraya menghentikan langkahnya
"Eeem, bagaimana kalau kita jodohkan anak anak kita. Dengan begitu kita bisa menjadi besan," ucap Farel disertai cengirannya.
"Oh, tidak bisa. Aku tidak mau mengikat anakku yang masih kecil ini, dengan hal hal yang akan membuatnya bingung di saat dia dewasa nanti. Kalau kakak mau menjodohkan anak kakak, lebih baik cari orang lain saja," tegas Rissa seraya melanjutkan langkahnya kembali.
Lagi-lagi Farel mengejarnya dan menawarkan untuk singgah di restoran. "Ris, bagaimana kalau kita makan dulu. Emang Vino gak lapar apa?" Dia berharap Rissa mengabulkan ajakannya.
"Sayang, apa Vino lapar? Mau makan?" tanya Rissa pada Vino. Namun bocah lelaki itu menolak dengan menggelengkan kepala. "See..." ucap Rissa memalingkan mukanya kearah Farel
Pupus sudah harapan Farel untuk berlama lama dengan wanita yang pernah dikaguminya dulu. Sayang di saat dia ingin mengungkapkan perasaannya pada Rissa, sudah keduluan Barra.
"Ya udah kak, aku duluan ya," pamit Rissa ketika mereka sudah berada di depan lobi mall. "Oke. Sampai ketemu lagi," sahut Farel yang sebenarnya tak menginginkan pertemuan ini cepat berakhir. Dia pandangi sosok Rissa yang mulai berjalan menjauh darinya.
"Aaah sial. Kenapa tadi aku lupa minta kontak ponselnya sih. Bodoh-bodoh kamu Farel," sesal pria jangkung itu, dan menyalahkan dirinya sendiri.
Tak berapa lama datanglah mobil mewah mendekat padanya. Lalu dirinya masuk bersama sang buah hati. Kemudian mobil pun melaju meninggalkan mall tersebut.
***
Di sinilah sekarang Barra berada. Bersimpuh di samping pusara kedua orang yang sangat dicintainya. Dia menangis tersedu sedu, menumpahkan airmata yang sedari tadi ditahannya.
Menumpahkan segala rasa yang ada dalam kalbunya. Tangisannya terdengar sangat menyayat hati. Sebagai lelaki dewasa, ini kedua kalinya dia menangis di tempat ini.
Pertama saat melihat ibunya dikebumikan, saat itu dia menangis histeris di pelukan Rissa. Gadis yang setia mendampinginya di saat dia terpuruk.
Kini dia kembali menangis pilu di tempat yang sama. Dan saat ini hatinya sedang terluka. Seorang wanita yang sangat dicintainya, akan menggugat cerai dirinya. (Setidaknya itu yang sekarang ada dalam pikirannya), Dia seperti lelaki pecundang yang tidak berguna. Penyesalan pun tak lagi bermakna, jika akhirnya harus berpisah.
"Tidak..." Dia menggeleng ribut sembari menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. "Tidaaak..." Barra berteriak memilukan. "Aku tidak mau berpisah denganmu Rissa..." Barra makin tenggelam dalam tangisannya.
"Bu.. ibu. Rissa tidak akan meninggalkan aku kan bu? Tidak kan bu? Jawab bu, jawaaaabbb... Barra merintih pilu. "Aku harus bagaimana bu. aku sangat mencintainya. Ibu juga pasti sangat mencintainya kan bu???
Barra terus merancu diiringi tangisannya. Hingga tak menyadari bahwa hari telah petang dan akan berganti malam. Angin semilir menerpa dirinya, namun tak dihiraukannya. Sunyi sepi seorang diri tak membuatnya beranjak dari tempatnya bersimpuh. Dia terlalu hanyut dalam nestapa, hati yang luka.
Adakah yang tersentuh hatinya dengan babang Barra?
Kira kira apa ya yang akan dilakukan Barra untuk mempertahankan rumah tangganya?
Ikuti terus kisah Barra dan Rissa.
...----------------...
Mohon dibaca per bab ya guys, jangan lompat bab, jangan pula boom like. kasihanilah author yang keriting jarinya buat mengetik.
Jika suka dengan ceritanya jangan lupa tinggalkan jejaknya
Like
Komentar
Vote
Terimakasih atas dukungannya dan salam sehat selalu
🙏🙏🙏😍😍😍