"Status kita sudah menikah." Ucap Jade tiba - tiba pada Dustin.
"Apa - apaan kau!!" Dustin tidak terima.
Tapi Jade benar - benar masa bodo dengan suara keberatan Dustin dan justru langsung memberikan buku nikah yang entah bagaimana caranya sudah ada di sana.
"Dua bulan, hanya dua bulan. Setelah dua bulan, kita akan berpisah." Jade berucap dengan tegas.
Demi menjaga kedamaian keluarga, Jade si gadis dingin dan Dustin si pria anti wanita terpaksa terikat dengan kerjasama konyol dan membawa nama pernikahan di dalamnya. Jade terpaksa menyetujui bujukan bosnya yang mengatakan bahwa pernikahan itu hanya akan bertahan dua bulan saja, dan Jade menyetujui itu.
Nyatanya lebih dari dua bulan mereka masih terikat dalam kerja sama itu, dan justru tumbuh perasaan pada salah satu dari mereka. Bisakah dua orang keras kepala itu saling jatuh cinta nantinya??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jumillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPS. 11. Mengenal sisi lain masing masing.
Dustin sedang memikirkan perasaannya terhadap Qilin, dia yakin dia sudah tidak memiliki debaran yang sama seperti dulu, dia benar - benar biasa saja ketika berada di dekat Qilin.
'Aku sudah tidak merasakan apapaun seperti dulu, jadi apakah aku sudah melupakan Qilin?' Batin Dustin.
"Dustin, apakah setelah ini kamu masih membutuhkan aku?" Tanya Jade.
"Kamu mau pergi?" Tanya Dustin, dan Jade mengangguk.
"Kamu boleh pergi, aku sudah tidak kemanapun." Ujar Dustin, Jade pun tersenyum senang.
"Kalau begitu tolong turunkan aku di pinggir saja, Ben." Ujar Jade pada Ben.
"Tidak, aku akan mengantarmu." Cegah Dustin.
'Wow, gentle man.' Batin Ben.
"Sungguh?? Apa kamu sudah tidak memiliki kegiatan apapun?" Tanya Jade dan Dustin menggeleng.
"Kalau begitu maaf merepotkan kalian. Ben, tolong antar aku ke rumah sakit." Ujar Jade dan Ben mengacungkan jempolnya.
"Rumah sakit?" Tanya Dustin dan Jade hanya mengangguk tanpa menjelaskan siapa yang sakit atau apa tujuannya datang kerumah sakit. Tak lama mobil pun sampai di depan rumah sakit.
"Bisakah kamu menunggu sebentar? Aku tidak lama." Ujar Jade.
"Hm, aku menunggu di sini." Ujar Dustin dan Jade tersenyum mendengarnya.
Jade pun pergi. Setelah Jade pergi, Ben memulai kembali pancingannya kepada Dustin.
"Apa kekasihnya sakit?" Ucap Ben tiba - tiba.
"Jaga bicaramu, dia tidak memiliki kekasih." Sergah Dustin dan tentu saja Ben terkejut mendengarnya.
"Bagaimana tuan bisa tahu? Dia kan sering keluar malam - malam akhir akhir ini. " Tanya Ben.
"Aku sudah memastikannya dan dia mengatakan sendiri kepadaku bahwa selama dia masih bekerja sama denganku, dia tidak akan memiliki kekasih dan tidak akan melakukan hal yang merugikan." Ujar Dustin.
'Wahhh... tuan sangat terang - terangan mengendalikan Jade, apakah benih cinta di hatinya mulai tumbuh untuk Jade?' Batin Ben sambil senyum - senyum sendiri.
Tak lama Jade sudah keluar dari rumah sakit, seperti ucapannya dia hanya sebentar di dalam.
"Apakah aku lama?" Tanya Jade pada Dustin.
"Tidak sama sekali." Sahut Dustin, dan Mobil pun melesat pergi dari sana.
Malam harinya, Jade duduk di sofa dengan rambut yang di cepol berantakan keatas. Dia baru saja selesai membantu Niklaus menangani misi dari sana sampai dia melupakan jam makan malamnya. kini ia sedang membaca hasil tes dari kandungan teh dan vitamin yang ayahnya konsumsi.
"Wah, ternyata mereka memang bermain cantik selama ini. Racun ini tidak langsung membunuh, tapi dia merusak syaraf di tubuh dengan perlahan dan membuat yang mengonsumsinya seolah meninggal karena sakit." Gumam Jade.
Jade kemudian mengeluarkan vitamin serupa yang ayahnya konsumsi, vitamin itu memang bisa di beli di apotek dengan resep dokter. Dia mengamati kandungan apa saja yang tertera di kemasan botol dengan yang dia ambil dari ibu tirinya, hasilnya memang berbeda.
"Aku akan berikan ini padanya." Gumam Jade, terpikirkan ayahnya.
"Krruuukk.." Suara perutnya sudah berdemo. "Astaga, aku lapar." Gumamnya, lalu dia bangun dan berjalan keluar dari kamarnya.
Sementara itu di kamar Dustin, dia sedang duduk di sofa dengan buku di tangannya, tapi pikirannya menerawang jauh. Dia sedang meyakinkan dirinya bahwa dirinya memang sudah melupakan Qilin.
"Aku tidak lagi mencintai Qilin, dia istri kakakku dan aku adalah adik iparnya." Gumam Dustin lalu menghembuskan nafasnya.
Dustin tidak bisa tidur, jadi dia memutuskan keluar dari kamarnya dan turun ke bawah. Dia mengendus sesuatu berbau sangat menggugah selera dari arah bawah, dia pun menghampiri arah dapur.
Ternyata di dapur ada Jade yang sedang berdiri memegang sumpit di tangannya sambil bersenandung kecil, tanpa sadar Dustin tersenyum kecil melihat apa yang sedang jade lakukan. Dustin berjalan mendekat kearah dapur karena penasaran dengan apa yang sedang Jade masak.
"Kamu masak apa? Wanginya sampai keatas." Ujar Dustin, dan Jade terkesiap saat itu juga.
"E.. Hehehe.. Apakah aku mengganggu tidurmu? Maaf, aku kelaparan jadi aku memasak mie." Jelas Jade dengan nada tidak enak hati.
"Tidak, aku tidak terganggu, aku juga sedang tidak bisa tidur, jadi aku turun kebawah." Sahut Dustin.
"Kamu mau makan mie denganku?" Tawar Jade, tapi Dustin malah terbengong.
Dustin memperhatikan wajah Jade dan tiba - tiba dia malah mengingat adegan ciumannya di vila Sierra. Ia sampai tidak sadar Jade sedang melambaikan tangannya di depan wajah Dustin.
"Dustin." Panggil Jade, dan Dustin masih tidak bereaksi.
"Dustin, hallo.." Panggil Jade lagi sambil melambaikan tangannya, baru Dustin tersadar.
"Eh, apa? Sorry aku sedikit melamun." Ujar Dustin.
"Kamu mau makan mie denganku?" Ucap Jade, mengulang pertanyaan nya.
"Mm, boleh." Sahut Dustin.
"Oke aku buat satu lagi." Ujar Jade.
Dan disinilah mereka berdua, di meja makan dengan dua mangkuk mie di depan mereka. Aroma mie yang Jade buat benar - benar menggugah selera sampai mereka memakannya dengan sangat lahap.
"Kamu suka makan mie juga rupanya?" Tanya Jade, setelah mie di mangkuknya sudah habis.
"Sejujurnya ini pertama kalinya aku memakan mie instan." Sahut Dustin.
"Wah, benarkah??" Tanya Jade tidak percaya.
"Ya, aku terlahir di keluarga Edward, makanan seperti ini jauh dari jangkauan kami." Sahut Dustin.
"Benar juga, anak orang kaya memang tidak bisa makan makanan seperti ini." Ujar Jade manggut - manggut.
"Tapi rasanya enak juga, tidak mengecewakan." Ujar Dustin.
"Tentu saja, mie instan adalah makanan paling enak.. kamu tahu, malam ini juga malam perdana aku makan mie di temani seseorang setelah lima tahun berlalu." Ujar Jade.
"Benarkah?? Memangnya dulu kamu selalu makan mie di temani seseorang?" Tanya Dustin.
"Ya, ibuku.." Sahut Jade, tapi dengan wajah sedikit menyendu.
"Apakah terjadi sesuatu dengan ibumu?" Tanya Dustin, dan Jade mengangguk.
" Eum, ibuku meninggal lima tahun yang lalu." Ujar Jade.
Hati Jade menjadi sesak karena dia jadi mengingat semua kenangannya bersama ibunya ketika sedang memakan mie instan bersama. Dustin mengulurkan tangannya dan mengusap kepala Jade, Jade menatap Dustin kemudian dia tersenyum.
"Padahal aku tidak bermaksud berbagi kesedihan denganmu, kenangan itu muncul sendiri dengan tiba - tiba." Ujar Dustin.
"Semua orang memiliki titik rapuhnya, tidak perlu merasa tidak enak denganku." Sahut Dustin.
"Hehe, kamu bisa menjadi bijak juga, tidak melulu dingin." Ujar Jade dan Dustin terkekeh mendengarnya.
"Kamu juga ternyata memiliki sisi kalem, tidak melulu bar - bar." Balas Dustin.
"Bar - bar? Yang benar saja.." Ujar Jade dan Dustin semakin tertawa karenanya.
Esok harinya, Dustin sarapan di meja makan bersama Jade, dan Ben semakin melihat keajaiban diantara keduanya. Setengah tahun bersama, baru kaki itu Ben melihat dua orang itu tampak akur seperti teman.
"Aku pergi dulu, dan sepertinya hari ini aku tidak membutuhkan kamu." Ujar Dustin.
"Apakah aku boleh mengurusi urusanku?" Tanya Jade, Dustin tampak diam, tapi akhirnya mengangguk.
"Terimakasih." Ujar Jade dan Dustin mengangguk, lalu pergi.
Dan setelah Dustin pergi, Jade langsung bersiap dan hendak menemui sang ayah. Jade pun pergi dari penthouse Dustin dan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Tak lama ia sampai di rumah ayahnya dan langsung berjalan masuk mencari keberadaan sang ayah. Liam sudah tidak ada, mungkin dia sekolah. Logan juga sudah tidak ada, mungkin dia sudah berangkat ke perusahaannya. Disana hanya ada Malina dan Derec yang masih duduk di meja makan.
"Kalian tidak menungguku, jahat sekali." Ujar Jade lalu bergabung dengan Derec dan Malina.
"Kamu datang dan pergi sesuka hatimu, tidakkah kamu memikirkan apa yang akan orang lain pikirkan tentang putri seorang Derec Fernandez di luar sana? Pergi ke club malam dan menginap di sembarang tempat, seperti pel4cur saja." Ujar Malina.
"Malina!" Bentak Derec.
"Ekhem! Aku lupa mengabari orang rumah bahwa aku tidak jade menginap kemarin malam, aku pulang ke rumahku sendiri karena terlalu pusing." Sahut Jade.
Malina sungguh gemas dengan Jade, dia terlihat sangat ingin menerkam dan mencaci maki Jade sepuas hati, kalau saja tidak ada Derec disana.
"Sayang, aku ada janji dengan temanku, aku harus pergi sekarang." Ujar Malina pada Derec.
"Hm, aku juga akan pergi nanti." Sahut Derec.
"Ya sudah, aku pergi dulu.." Ujar Malina dan mencium pipi Derec lalu pergi dari sana. Sepeninggal Malina, Derec langsung menatap Jade dengan tatapan malas dan berkata.
"Katakan padaku, sebenarnya apa tujuanmu datang kembali ke rumah ini? Aku bisa saja mengumumkan kepada dunia bahwa kamu telah kembali, tapi setidaknya rubahlah kebiasaanmu." Ujar Derec.
"Jangan bawa budaya luar ke rumah ini, bahkan ibumu bukan wanita seperti itu." Ujar Derec lagi.
"Papa pikir aku adalah wanita seperti apa?? Apa papa mengenalku, siapa aku?" Tanya Jade.
"Plak" Jade melemparkan bukti hasil tes dari rumah sakit kemarin di depan Derec, hatinya sudah kesal duluan oleh ucapan ayahnya.
"Jika bukti - bukti yang aku berikan masih tidak membuatmu percaya, aku harap papa bisa percaya dengan bukti kali ini. Dan jika papa masih tidak percaya juga, aku sungguh akan menyerah mencoba melindungimu dan aku akan membiarkan papa mati dengan penyesalan." Ucap Jade dengan serius.
Derec mendengus mendengarnya, dia tidak mempercayai Jade, tapi dia penasaran dengan map kali ini yang memiliki logo rumah sakit tempatnya sering mengecek kesehatan. Derec terkejut melihat hasil tes itu, dia lalu menatap Jade dan kembali melihat hasil itu.
"Itu adalah kandungan dari vitamin yang papa konsumsi, didalamnya mengandung racun. Dan ini.. adalah kandungan vitamin yang asli." Ujar Jade lalu memberikan botol vitamin asli yang Jade beli.
"Teh yang setiap hari papa minum pun, mengandung racun. Selama dua tahun ini papa meminum racun yang sama dengan yang mamaku minum, Papa masih tidak mempercayaiku?" Ujar Jade lagi.
Derec tidak bisa berkata - kata, bukti kali ini tertera nama dokter yang sangat di kenalnya jadi tidak mungkin bukti itu bohong. Tapi apakah sungguh istrinya yang sangat di cintainya itu menusuknya dari belakang?
Derec sampai tidak bisa berkata apa - apa karena syok, bukti yang pernah Jade berikan saat di ruang kerjanya hari itu bahkan tidak ia sentuh sama sekali dan masih berada di atas meja.
'Malina..' Batin Derec.
TO BE CONTINUED..