Kecelakaan membuat nyawanya masuk dalam tubuh seorang anak SMA yang menjadi korban saat menolong seorang gadis saat terjebak tawuran siswa.
Mengetahui dirinya telah meninggal, Dom tidak bisa menerima hal itu. Terutama saat dia mulai sering bermimpi buruk yang membuatnya tidak nyaman.
Dom yang seorang dokter bedah ternama, sekaligus dokter peneliti obat obatan, yang memiliki laboratorium, serta pewaris tunggal dinasti dari keluarga yang bergerak di bidang farmasi, harus bisa menerima kenyataan bahwa raganya telah tiada.
Dom menjalani kehidupan sebagai anak SMA, sambil menyelidiki kematiannya sendiri.
Dalam perjalanannya menyelidiki, banyak hal yang tak terduga dialaminya.
Penghianatan, rahasia keluarga, dan teman membuat hidup Dom yang sebagai Arthur semakin berwarna.
Ikuti terus kisahnya hanya di sini.
Jangan lupa like dan komentarnya, baca secara urut juga ya.
Terima kasih 😘💕
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dee Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Rumah Arthur
"Ayo ke rumahku saja." Ajak Dom pada Lucy yang sedang merapikan pakaiannya.
"Terima kasih. Aku selalu merepotkan kamu dan keluargamu."
Lucy berjalan sambil meraih tas ranselnya.
"Kamu akan datang?"
Tanya Lucy saat berjalan bersama Dom.
"Audisi team basket?"
Lucy mengangguk sambil menatap Dom tidak percaya.
"Kamu tidak percaya padaku?" Tanya Dom sedikit kecewa.
"Bukan tidak percaya. Tapi, aku sama sekali belum pernah melihatmu bermain basket selama ini."
"Aku memang tidak pernah berlatih secara terang terangan, namun, bukan berarti aku tidak punya kemampuan bermain basket!" Sahut Dom ketus, sambil mempercepat jalannya.
Lucy tersenyum geli melihat Dom terlihat kesal.
Dom dan Lucy berjalan menyusuri trotoar menuju tempat tinggal Arthur.
"Astaga Arthur, Lucy!? Apa yang terjadi pada kalian?" Rea menyambut kedatangan Dom dan Lucy dengan teriakan terkejutnya.
Segera Rea menarik tangan dua remaja itu masuk ke dalam rumah dan memperhatikan satu per satu dengan tatapan penuh selidik.
"Bibi, Lucy akan digarap oleh kekasihnya.."
"Mantan!"
Belum selesai Dom memberi penjelasan, Lucy menyela dengan ketus sambil menatap Dom dengan tajam.
"Ya, mantannya sekarang. Kebetulan aku sedang lewat, dan membantunya, namun ternyata dia memiliki geng. Geng yang sama saat menyerangku tempo hari saat menolong Lucy."
"Menyerang? Arthur, apa yang terjadi padamu? Katakan pada ibu, apa yang sebenarnya terjadi padamu selama tidak ada ibu?" Tiba tiba Lea nongol dari arah dapur dan menghampiri Dom, menatapnya tajam, lalu menoleh pada Rea, adiknya, seolah meminta penjelasan.
Hening.
Semua diam. Tak ada yang berani membuka mulut untuk bersuara menjawab pertanyaan Lea.
Dom melirik Lucy yang hanya tertunduk, begitu juga Rea.
Perlahan, Dom membalas tatapan ibunya Arthur itu.
"Bu, maaf." Ucapnya lirih.
Lea menatap Dom, menunggu jawaban.
"Kak, Arthur sempat diserang oleh sekelompok orang saat menolong Lucy yang terjebak tawuran saat badai beberapa pekan lalu. Arthur juga sempat dirawat di rumah sakit karena kondisinya kritis, tapi beruntung dia selamat. Maaf, kami tidak ingin membuat kakak khawatir, jadi tak menceritakan padamu, Kak." Rea akhirnya membuka suara.
Rea memegang bahu Lea dengan raut wajah penuh sesal. Kakaknya tak berkata apa apa saat itu, tapi dia tahu, kakaknya sangat marah padanya karena menutupi kejadian buruk yang telah menimpa Arthur.
Sejenak Lea diam sambil menatap adiknya. Lalu mengalihkan perhatian pada Arthur dan Lucy.
"Apakah ini Lucy?" Tanya Lea sambil menghampiri Lucy dan meraba wajah remaja itu.
"Iya, Tante." Sahut Lucy dengan sopan.
"Astaga! Pasti sakit. Ayo duduk! Tante bersihkan lukamu. Arthur, duduklah juga, ibu bersihkan lukamu."
Lea meminta dua remaja itu duduk, lalu dia pergi ke lemari untuk mengambil kotak obat.
Tak lama, Lea datang, lalu membersihkan luka Lucy terlebih dahulu. Dom memperhatikan Lea dengan seksama. Caranya, membersihkan dan mengobati luka, seperti profesional. Lea juga memiliki persediaan obat yang lengkap.
Dengan telaten Lea mengoles salep dan menutup perban pada luka Lucy yang terlihat menganga.
"Yang ini, jangan terkena air dulu. Kamu juga harus rajin membersihkan dan merawat lukamu. Jika tidak bisa, kamu bisa datang kemari, nanti Tante bantu. Kamu bersihkan dirimu dulu dan gantipah pakaian. Pakaianmu yang robek taruh di sini saja. Nanti, tante bantu perbaiki."
Lea menatap Lucy dengan lembut. Lucy mengangguk, menurut, lalu melakukan perintah Lea perlahan.
Dom memperhatikan pemandangan di depannya. Putri Erick sebenarnya memiliki rupa yang cantik. Namun, Lucy terkadang keras kepala dan sok jagoan.
Tiba-tiba, kenangan akan Jane kekasih di masa sekolah dulu muncul dalam benak Dom. Cinta pertamanya semasa masih remaja. Hidup Dom semakin berwarna sejak dekat dengan Jane.
Mereka memiliki impian menjadi dokter, lalu membuat pusat penelitian untuk penyakit kanker dan autoimun yang menjadi pembunuh nomor satu di dunia. Jane memiliki cita cita membuat obat untuk penyakit kanker dan autoimun.
Namun, hidupnya tak lama, karena serangan wabah flu yang mendunia saat menjadi mahasiswa kedokteran tingkat awal. Jane meninggal di ruang isolasi bersama pasien yang terkena lainnya.
Sejak saat itu, Dom bercita cita mempunyai lab sendiri, dan tidak mau bergabung dengan ibunya yang memiliki lab farmasi.
"Arthur, Arthur! Arthur!" Panggil Lea sambil mengusap lengan Dom.
"Eh, iya, ya. Ada apa, Bu? "
Dom tergagap terkejut.
"Kamu melamun?!" Tegur Lea.
Rea terkikik, lalu menepuk keras pundak keponakannya itu.
"Dia terpesona pada Lucy!" Rea menunjuk tangannya pada Lucy.
"Kami hanya berteman Tante." Tegas Lucy sambil tersipu.
"Ya. Kami hanya teman."
Dom menggelengkan kepala, lalu meraih salep luka dari tangan Lea dan mengoles pada lukanya sendiri.
"Apa kalian sudah melapor pada pihak sekolah soal ini?" Tanya Lea.
"Tadi ada Pak Jake, guru olahraga sekolah. Aku rasa, Matt sudah mendapat peringatan dari guru saat ini. Apalagi, tadi ada polisi yang menjadi saksi peristiwa."
Terang Lucy.
"Polisi?" Raut wajah Lea menjadi khawatir.
"Tante tenang saja. Karena kasus kemarin, polisi masih menyelidiki beberapa siswa yang terlibat tawuran. Untuk pengembangan kasus penyebaran narkoba di sekolah yang marah akhir akhir ini." Lucy masih menerangkan dengan santai.
"Bagaimana kamu tahu ada kasus narkoba di sekolah?" Dom menatap Lucy penasaran.
"Saat memberikan laporan, aku sempat bertanya pada detektif polisi yang menangani kasus penyerangan kita tempo hari."
Dom menghela napas mendengar penjelasan Lucy.
"Sudah! Kalian tunggu dulu. Bibi Rea sedang menyiapkan makanan. Lucy harus makan dulu sebelum pergi."
Lucy mengangguk tersenyum lebar.
Usai menikmati makan malam. Dom mengantar Lucy kembali ke rumah.
"Terima kasih, Arthur. Pulanglah!"
Lucy meletakkan tangannya di dada Arthur dan setengah mendorong.
Dom tersenyum.
"Ibu dan bibiku harus memastikan kamu pulang sampai di rumah dengan selamat. Kau tahu, bagaimana cerewetnya mereka padaku."
Dom tersenyum sinis pada dirinya sendiri.
"Aku senang dengan kehangatan keluargamu. Sampaikan terima kasihku pada mereka. Ibumu sangat baik, memberikan aku penutup kepala wol untuk musim dingin."
Lucy memegang kepalanya yang memakai kupluk buatan ibu Arthur.
"Itu tampak bagus." Puji Dom sambil mengarahkan dagunya pada kupluk yang dikenakan Lucy.
"Apa aku terlihat lebih cantik?" Tanya Lucy sambil tertawa lebar.
"Arthur, aku mau naik ayunan di taman itu sebentar!" Seru Lucy sambil berlari ke arah taman yang ada di area tempat itu.
Lucy menaiki ayunan sambil tertawa gembira. Dom membantu mendorongnya supaya lebih tinggi. Lucy seakan melupakan apa yang telah terjadi padanya tadi siang.