Bagai mana jika seorang pembunuh bayaran yang keji dan semena mena tiba tiba saja menjadi sangat baik dan sopan santun. bahkan dia memiliki kemampuan medis yang sangat genius.
Ya itulah yang di alami Xue Shen, setelah di bunuh oleh ke lima suaminya. Ternyata jasad Xue Shen Shen telah di rasuki Oleh roh Lin Zhu, Lin Zhu sendiri adalah dokter genius di abad 20 yang tewas akibat plustrasi di selingkuhi sang tunangan.
Tubuh sang dokter tersebut nyatanya menyinggahi seorang wanita tak cantik, kotor, pemabuk, suka judi dan main laki laki. bahkan kelima suaminya merencanakan pembunuhan berulang kali hanya untuk melenyapkan wanita tersebut.
Akankah Lin Zhu selamat dari rencana pembunuhan itu? atau kah para suami mulai menyukai pribadi lembut dan penolog tersebut? Yuk simak...
Novel ke dua autot
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bilqishe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MULAI LULUH
***
Setelah menangis sejadi jadinya, Lin Zhu pun mulai kembali menenang "Sayang. Kamu sudah baikan?" tanya Zhua mengelus pucuk kepala istrinya.
Lin Zhu menatap Zhua lalu mengangguk, Zhua tersenyum lalu lekas mengusap kepala Lin Zhu seraya menyemangatinya "Semangatlah istriku, aku yakin kamu pasti bisa... Jangan menyerah untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Karna aku sangat mendukungmu..." Zhua pun memeluk Lin Zhu tanpa ragu. Padahal bau keringat Lin Zhu begitu menyengat, namun Zhua tetap merangkul istrinya di hadapan kakak kakaknya.
"Zhua. Biarkan wanita itu membersihkan diri terlebih dahulu. Dia sangat kotor" Komen Huan seraya menghelan napasnya.
"...Sayang. Bersihkan dirimu..." Pinta Zhua, "Baik..." Zhua melepas Lin Zhu dan Lin Zhu pun bergegas ke kamar mandi.
"Wah. Lihat buruan ini... Kita harus apa kan dia?" Huan terkesan pada hasil tangkapan Lin Zhu.
"Kakak. Bantu aku ke dalam, aku ingin merebahkan tubuhku... Kakiku sangat sakit" Ucap Lian pada Huan.
"Baiklah... Zhua. Tarik buruan kota ke dalam. Xian Xiao bantu Zhua" Tegas Huan...
Katiga adiknya mengangguk dan berkata "Baik kak Huan"
Sementara Huan menggendong tubuh Lian yang rigan, Zhua dan Kakak kembarnya bergotong royong menarik bangkai itu ke dalam gubuk reyot tersebut.
Saat sampai, Lin Zhu yang selesai memebersihkan diri segera membawa pisau kecil dan besar untuk menguliti tubuh buruannya "Ah kalian sudah membawanya ke dalam?" Tanya Lin Zhu senang.
Zhua menoleh "Sayang. Apakah kami perlu membawanya ke dapur?" Tanya Zhua. Lin Zhu pun mengangguk "Ya. Bawa itu kemari. Malam ini kita akan makan enak" Tegas Lin Zhu. Mendengarkan makan enak, tentu saja si kembar merespon "Wah. Kau mau masak sup daging?" Tanya Xiao bersaudara. Lin Zhu pun lekas mengangguk...
"Horeee... Kita akan makan enak malam ini. Beri tahu kak Huan dan adik Lian!" Pekik keduanya memasuki kamar kak Huan dan Lian. Lin Zhu pun mengembangkan pipinya. Entah kenapa melihat kebahagiaan muncul di depan mata kala melihat dua pria itu kegirangan.
CUP! Zhua mengecup pipi Lin Zhu tiba tiba "Sayang. Apakah aku perlu membantu?" Tanya Zhua menggoda Lin Zhu. Lin Zhu membelalak dan memundurkan langkahnya ke belakang.
"Zhua. Jangan terlalu dekat... Aku adalah wanita tua dan kau adalah pria muda. Aku tak mau membuat kesalah pahaman antara kakak kakak mu dan aku..." Lin Zhu menghindar dengan pipi merah merekah da jantung berdetak kencang.
"Benarkah? Anggap saja usia kita sama. Karna cinta tak memandang perbadaan apapun... Benarkan istriku?" Zhua mengedipkan matanya lalu pergi.
Hati Lin Zhu benar benar di buat meleleh oleh pria imut itu "Oh dewa... Kenapa aku harus di cintai bocah yang lebih muda dariku. Menyedihkan" seraya mengedumel. Lin Zhu pun memberisihkan kulit si harimau dan dagingnya. Setelah kulit harimau di pisah, Lin Zhu memotong motong sebagian daging harimau dengan sangat kencang hingga terdengar ke luar dapur.
Tak Tak Tak Tak Tak Suara mengganggu itu berlangsung tak lama... Beberapa saat kemudian "Makanan sudah siap, Kemarilah..." Seru Lin Zhu membawakan makanan hasil masakannya tadi...
Para suami Lin Zhu pun lekas berhambur ke meja makan "Kalian tak perlu khawatir, aku tak pernah memasukan racun pada masakanku" Lin Zhu memperingatkan para suaminya sebelum mereka curiga.
"Tenanglah kakak kakak... Aku percaya pada istriku. Dukunglah dia karna dia sungguh ingin merubah ke pribadiannya" tegas Zhua. Huan pun menatap Lin Zhu diam diam "Ahem... Aku makan"
"Lho kok sedikit dagingnya?" Tanya Xian Xiao bersaudara.
"Masih ada di wajan jangan khawatir" Balas Lin Zhu seraya melempar senyum ke arah mereka.
"...Apakah dagingnya di masak semua?" Huan curiga.
"Tidak. Besok aku akan menjual sisa daging dan kulitnya ke kota" Sigap Lin Zhu.
"Benarkah?" Tawa Xian dan Xiao. Mereka sangat menunggu exspresi apa yang akan di tunjukan para penduduk kota kala melihah Xue Shen berkeliaran dan menjual daging juga kulit hewan.
"Pasti akan terjadi ke gemparan' bisik mereka tertawa semberingah.
"Sayang. Besok aku ikut kr kota ya..." Pinta Zhua. Para kakak nya pun melotot ke arah Zhua.
"Jika kamu pergi mengantar Xue Shen. Siapa yang akan menjaga ibu" tegas Huan menggebrak meja. Seketika Atensi Zhua menunduk.
"Maaf" Suram dan parau suara Zhua yang kala itu kecewa berat.
"Ada aku... Aku akan menjaga ibu" Sela Lian. Lian mulai merasa bersalah pada dirinya sendiri. Gara gara ingin melenyapkan Xue Shen, dewa malah membalasnya dengan pergelangan kakinya yang patah itu. Kini Lian tak bisa mencari uang lagi.
"Tapi kakak sedang cedera' Zhua menolak.
"Tak apa kok... Aku baik baik saja. Kalian pergilah, tak mungkin juga Xue Shen menjual daging yang cukup berat sendirian di kota... Jika hanya dia, warga pasti akan ketakutan. Tapi jika ada kamu Zhua, warga pasti akan berbondong bondong membeli hasil tangkapan Xue Shen" Ujar Lian menatap Xue Shen lembut seraya menyeruput Sup di hadapannya.
"Baguslah jika begitu" Zhua senang. Ia pun berdiri "Mau kemana Zhua?" tanya Lin Zhu.
"Aku belum memberi makan ibu. Ibu pasti senang sudah lama kami tak makan daging" Zhua mulai melangkah menuju kamar ibunya.
"Dia sangat baik..." Zhu sungguh terpukau pada ketelatenan Zhua yang begitu baik pada ibunya.
"Kau tak tahu saja betapa ibuku sangat membencimu. Jika sampai dia sadar bahwa itu hasil masakanmu. Bukan hanya Zhua yang akan terluka tapi nyawa ibu ku juga terancam" Tegas Xiao.
"Kenapa?" Lin Zhu tersentak.
"Karna kau memang pantas di benci. Dasar pembuat onar" Amuk Xian dan Xiao. Lian sedikit menunduk, begitupun Huan. Kedua pria itu sudah merasa tenang ketika dekat dengan Xue Shen yang ada di depannya saat ini...
Tanpa banyak bicara, Xue Shen lekas membersihkan mangkuk mangkuk itu "Biar aku saja" Huan membawa beberapa mangkuk bekas Xian dan Xiao juga Lian. Sementara Xue Shen hanya membawa miliknya dan Zhua.
Xiao dan Xian agak curiga pada kelakuan Huan. Hingga mereka pun membuang wajahnya dari tatapan Huan.
"Terimakasih" balas Xue Shen.
"Tak perlu di pikirkan" Mereka pun masuk ke dapur bersama sama...
"Kak Xian. Kenapa dengan Kak Huan. Apakah kak Huan mulai menyukai Xue Shen" Tanya Xiao.
"Mana mungkin..." Balas Xian.
Sedangkan Lian masih termenung memikirkan hal tadi sore yang menimpanya... "Jika Xue Shen menyelamatkan mereka berdua. Mereka pasti akan berubah pikiran tentang perasaaanya kala membenci Xue Shen. Aku pun begitu... Aku mulai ingin dekat dengannya. Jika ku pikir pikir, kenapa Xue Shen malah membawaku ke mari... Padahal aku sudah jahat padanya. Aku sungguh malu..." Umpat hati nurani Lian.
Kini mulai ada sinyal baik dari kedua pria itu. Huan dan Lian, mereka mulai luluh oleh Xue Shen yang di rasuki Lin Zhu. Apakah hal tersebut akan menular pada Xian dan Xiao?
Simaak kelanjutannya...
teruslah berkarya
MC kan dokter, tubuh yg dia rasukk kata nnya cmn beban?