Lysaa seorang gadis yatim piatu yang berusaha keras mencari tahu siapa yang telah membunuh kedua orang tuanya. Namun siapa sangka, ia tanpa sengaja malah membongkar kasus besar yang selama ini berusaha di tutupi oleh sejumlah pihak.
Berbekal ilmu bela diri yang di ajari oleh Ayahnya serta kepiawaiannya dalam meretas data serta informasi yang di ajari Ibunya membuat Lysaa memantapkan tujuannya untuk menghukum orang-orang yang telah menjadikannya seorang gadis sebatang kara.
Bagaimana cerita selanjutannya?
Yuk baca kisahnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 Masa Lalu Lysaa
Bab 11
Masa Lalu Lysaa
Ibu Lysaa meninggal di usianya yang masih kecil tentu itu membuat Lysaa merasa sangat kehilangan. Apalagi di usia itu kasih sayang dari sang Ibu masih ia butuhkan.
Penuturan dari wanita itu membuat hati Lysaa terenyuh. Lysaa akhirnya memutuskan untuk melepaskan saja wanita itu.
"Siapa namamu?"
"Hiks... Ha.. Hana..."
"Ck, jangan menangis! Itu tidak cocok dengan dirimu yang meludahi wajahku."
"Maaf, maafkan aku... aku mohon...aku berjanji tidak akan mencoba bermain-main lagi dengan akses datamu."
Lysaa menatap wanita itu dengan ekspresi datarnya.
"Aku akan terus memantaumu! Kau tahu, tidak sulit melacak keberadaan mu."
"Iya, aku tahu...aku tahu. Aku bersumpah atas nama ibuku, aku janji tidak akan mengganggumu lagi."
Wanita itu tampak memohon dengan sangat melalui tatapan matanya kepada Lysaa.
Lysaa membuang napas dengan kasar. Kemudian mengambil dua kunci borgol dan melepaskan borgol-borgol itu dari tangan wanita yang bernama Hana.
"Dimana kau tinggal?"
"A.. Aku tidak mempunyai tempat tinggal." Jawab Hana sambil menunduk.
"Kau tidur dimana?"
" Di... Sauna." Jawab Hana tanpa ragu.
"Punya pekerjaan?" Tanya Lysaa menyelidiki lebih lanjut.
Hana menggeleng pelan.
"Bagaimana kau bertahan hidup?"
"Aku membantu remaja-remaja itu menaikkan level gamenya."
"Hanya itu?"
"Aku juga bekerja direstoran ayam sebagai pengantar pesanan."
Lysaa mengamati Hana dari ujung rambut sampai kaki. Jaket yang di kenakan Hana tampak sudah lusuh dan sobek di beberapa tempat. Warna celananya pun mulai tampak memudar.
"Apa kau tidak punya baju lain selain yang sobek itu?"
"Ini kan karena ulah mu yang menarikku dengan paksa." Gerutu Hana.
Lysaa menatap Hana dengan tajam.
"Ma... Maaf."
Seketika nyali Hana langsung menciut yang tadinya sempat kesal.
"Bereskan barang-barangmu di Cyber tadi."
Wajah Hana seketika mendongak menatap Lysaa penuh harap.
"Apa aku di bebaskan?"
"Kau mau di sini selamanya?" Tanya Lysaa dengan wajah datarnya.
"Tidak." Dengan cepat Hana menjawab.
Lysaa lalu melangkahkan kakinya berjalan menuju Cyber tadi. Kendaraannya masih terparkir disana dan ia pun berencana untuk pulang.
"Boleh aku ikut dengan mu?"
Pertanyaan Hana menghentikan langkah kaki Lysaa.
"Aku tidak punya pekerjaan untuk menampung tunawisma."
"Ck!"
Hana hanya berdecak kesal menanggapi jawaban Lysaa.
Hana memasuki Cyber hendak mengambil barang-barang. Namun dengan cepat ia berbalik menuju ke arah Lysaa yang sudah memakai helm dan hampir menaiki motor besarnya.
"Kau pasti punya pekerjaan untukku. Aku akan melakukan apa saja ku mohon beri aku tempat tinggal."
Hana menahan motor Lysaa dengan kedua tangannya. Ia berharap Lysaa mau berikannya tempat tinggal untuk dia. Karena melihat dari kendaraan yang Lysaa gunakan, Hana berpikir Lysaa tidak mungkin seorang wanita biasa.
"Minggir!" Perintah Lysaa.
"Ijinkan aku ikut dengan mu."
"Tidak."
"Pokoknya aku mau ikut!" Ujar Hana bersikeras.
Lysaa heran, kenapa wanita itu bersikeras ingin ikut dengannya.
"Aih, bisa gila aku! Ck!"
Lysaa menoleh ke arah lain tampak berpikir. Sedangkan Hana sudah mulai terlihat tersenyum karena Lysaa pasti sedang mempertimbangkan keinginannya itu.
"Cepat ambil barang mu dan naik!"
"Sungguh?" Tanya Hana memastikan lagi. Karena rasanya gadis itu tidak percaya Lysaa dengan mudahnya mau menerima permintaannya.
"Aku tidak mengulang dua kali!"
"Oh, oke!!"
Tampak bersemangat Hana segara memasuki Cyber dan mengambil barang-barangnya. Lalu tidak lama kemudian ia segera menghampiri Lysaa dan langsung naik di jok belakang motor itu.
Tanpa bicara Lysaa langsung melaju membelah jalan ibu kota. Dalam perjalanan ia terus berpikir mau di tempatkan dimana Hana untuk sementara. Karena Lysaa tidak mungkin membawanya kerumah yang saat ini ia tempati bersama Dojun.
Rumah itu baru dia huni selama 2 tahun terakhir. Sejak keluar dari panti asuhan karena usia yang mulai menginjak dewasa, Lysaa memutuskan untuk menghasilkan uang sembari mencari infomasi pembunuh ke dua orang tuanya.
Meski Paman Dave mengatakan orang tuanya meninggal karena kecelakaan, namun Lysaa tidak mempercayai ucapan Paman Dave mentah-mentah. Lysaa yang pintar menemukan banyak sekali kejanggalan-kejanggalan yang belum pasti dapat ia ungkapkan. Oleh karena itu sejak usia 10 tahun Lysaa secara diam-diam menyelidiki kematian kedua orang tuanya dari informasi berbagai link yang masih menyimpan berita itu melalui laptop peninggalan orang tuanya.
Suatu hari Paman Dave pulang kerumahnya dan mengabarkan berita duka kepada Lysaa kecil yang berusia 7 tahun. Lysaa kecil yang saat itu di amankan di rumahnya menangis sesugukan. Lalu beberapa hari kemudian Paman Dave membawa Lysaa ke sebuah panti yang sangat jauh dari kota. Lelaki itu mengatakan, ia terpaksa mengantarkan Lysaa ke tempat itu sesuai permintaan kedua orang tua Lysaa.
Lysaa yang saat itu masih berduka hanya bisa pasrah menerima keinginan mendiang orang tuanya. Sebagai gantinya, Lysaa ingin sebuah laptop yang berisikan banyak menyimpan kenangan dia dan orang tuanya.
Lysaa kecil yang pintar menggunakan laptop peninggalan orang tuanya selalu mencari tahu setiap hari ketika ada waktu senggang setelah pulang sekolah. Dan Dojun selalu mengamati gadis kecil itu dari jarak yang tidak terlalu jauh untuk melihat apa yang sedang di lakukan Lysaa.
Gadis kecil itu juga belajar dari website-website yang berbagi cara meretas data milik orang lain. Lambat laun kemampuan Lysaa meretas semakin meningkat. Bahkan Dojun yang dulu hanya sekedar mengintip kini bisa duduk berdampingan dengan Lysaa sembari melihat bagaimana Lysaa bisa melakukan semua itu.
Ya, kedekatan mereka cukup unik. Tidak banyak bicara namun banyak tindakan yang terjadi. Dojun selalu menjaga Lysaa dari jarak tertentu. Setiap ada anak yang berusaha jail terhadap Lysaa, ia lebih dulu menyingkirkan anak itu hingga Lysaa tidak perlu merasa terganggu. Terkadang ia melempar kantung plastik yang berisi roti yang ia dapatkan hasil rebutan dengan anak panti lain. Lysaa yang asik sendiri tentu melewatkan moment itu hingga ia memberi roti itu dengan cara melemparkan dekat Lysaa dari jarak tertentu. Begitulah setiap harinya hingga suatu hari Lysaa mengajaknya mendekat untuk duduk bersama.
Dan ketika mereka beranjak dewasa, mereka memutuskan keluar dari panti asuhan. Lysaa langsung berkerja sebagai informan gelap. Di bantu Dojun yang memperlancar misinya. Awalnya hanya informasi biasa saja yang bisa ia retas untuk kliennya. Namun lama-kelamaan permintaan klien semakin tinggi dengan resiko yang besar pula. Tak jarang Lysaa terluka karena harus baku hantam demi mendapatkan informasi tersebut. Namun itu semua sepadan dengan upah yang di bayarkan padanya.
Dari hasil kerja kerasnya itu, Lysaa membangun bunker dari peti kemas di bawah rumah yang ia beli hasil dari jerih payahnya selama ini.
Bersambung...