Follow instagram @Ukiii__21 untuk info karya ini
ANGKASA SERIES
Seri 1: MENIKAHI TEMAN KELAS (END)
Seri 2: MUHASABAH CINTA (END)
Seri 3: (BUKAN) PERNIKAHAN SEMPURNA
***
Kegagalan pernikahan di masa lalu menghentikan niat Angkasa menikah lagi. Kehidupannya yang dulu kosong dan tanpa arah seolah terulang kembali, bahkan lebih buruk.
Angkasa tenggelam dalam kesedihan, hingga Sakti yang merupakan sahabat sejak SMA rela melepas kesenangan demi kesembuhan dirinya.
Kehidupan berjalan sesuai takdir. Bersama Sakti, Angkasa mulai membangun mimpinya yang pernah hilang. Namun, saat semua fokus Angkasa terarah pada pekerjaan dan pencapaian, mantan istrinya kembali.
"Kasa, kamu ingat aku?" Wanita bermata bulat dengan cadar hitam di wajahnya itu bertanya pelan.
Bibir Angkasa tertutup rapat, tetapi hati berbisik, "Bagaimana aku bisa lupa saat tajamnya namamu mampu memutus semua syaraf di kepala sampai aku nggak ingat lagi kehidupan yang sebenarnya, Myria?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uki Hara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
“Widih, pagi-pagi ada susu gini. Enak, nih!” Sakti yang baru datang langsung mengacau. Dia mendekati meja Angkasa. “Berangkat sama nyokap lo?” tanyanya memastikan. Pasalnya, meninggalkan segelas susu di meja kerja Angkasa adalah kebiasaan Nyonya Nasita. Maka dari itu, Sakti sudah bisa menebak.
Angkasa membisu. Baru saja dia keluar dari kamar mandi dan masih membenarkan lengan kemeja, tetapi Sakti muncul dengan segala tingkah. Pria itu tidak heran sama sekali, kalau tidak aneh-aneh, bukan Sakti namanya.
“Eh, tapi ini Kamis. Lo biasanya puasa. Buat gue aja, ya.”
Tangan hampir menyentuh gelas, Angkasa menepis dan memberi ancaman. “Berani nyentuh gelas itu, gue bawa lo ke ruang produksi bagian cutting!”
“Anjay! Soib gue jadi psikopat sekarang cuma gara-gara susu.” Masih belum menyerah, Sakti terus menanggapi. Salah satu cara menghibur Angkasa di masa lalu saat terpuruk adalah sikap konyolnya seperti hari ini.
“Berisik lo. Ngapain kemari?” Angkasa menarik gelas susu yang ternyata masih hangat. Dia duduk dan langsung meneguk isinya hingga habis separuh. Pria itu tersenyum tipis saat menikmati citarasa minuman hasil tangan sang mantan.
Nggak berubah. Dia masih tahu selera gue.
Sakti menahan tawa melihat sikap Angkasa. Jiwa keingintahuannya mendadak naik drastis. Dia harus mencari tahu siapa pembuat susu tersebut karena dugaan tadi sepertinya salah. Sakti rasa, tidak mungkin buatan Nyonya Nasita sampai dipandangi terus menerus.
“Kumat kayaknya temen gue ini,” gumam Sakti sambil geleng-geleng. Kemudian, dia sengaja berdehem agar sahabatnya sadar. “Gue di sini buat ngobrol bentar. Kemarin malam nyokap nanyain perkembangan produksi periode ini. Berapa persen produk yang selesai dan siap edar.”
Gelas kembali ke meja. Angkasa menegakkan punggung agar duduknya tegap. “Tim pemasaran masih menuhin permintaan pasar buat katalog kemarin. Periode ini harus mundur karena lo tahu sendiri kalau desain kita masih belum mateng apalagi siap produksi.”
“Kayaknya kita terpaksa nglemburin karyawan, Ka. Produk fashion terus berubah trend, jangan sampai kita kehilangan customer karena kurang update trend itu.”
Kening Angkasa berkerut. Kata-kata lembur adalah hal berat baginya ketika menyampaikan perintah. Segenting apa pun, Angkasa berusaha tidak menambah jam kerja karyawan karena iba. Biar dirinya saja yang berada di kantor lebih lama, sementara pekerja sudah seharusnya mendapat hak istirahat yang cukup.
“Orang kantor lembur bakal berimbas ke karyawan produksi. Lo juga tahu gimana rasanya lembur. Kurang istirahat, kurang kumpul keluarga juga. Cari solusi lain buat ngehindari hal itu.”
Pemikiran Angkasa membuat Sakti menghela napas berat. Dia yakin sahabatnya akan menolak. “Kelarin desain dulu kalau gitu. Soal produksi, nanti bicarain lagi.”
Angkasa mengangguk, lalu membiarkan Sakti pergi dari ruangan. Pria itu berpikir keras, bagaimana menemukan solusi untuk masalah seperti ini.
Di ruang desainer, semua bekerja serius. David berulang kali memberi arahan sejak pagi. Jam di layar komputer tiap anggota menunjuk angka sepuluh. Itu artinya, tersisa dua jam lagi sebelum istirahat.
“Matangkan paling tidak separuh dari rencana desain kemarin sebelum istirahat. Besok Jumat, jangan sampai kita weekend ada lembur karena belum siap untuk rapat Senin.”
Semua bergerak cepat. Diskusi antar satu orang ke orang lain. Tidak ada waktu bercanda karena pekerjaan dituntut selesai.
Kemarin, David menyampaikan lamanya proses perbaikan desain, tetapi Angkasa menolak dan meminta pekan depan harus selesai. Sebagai bawahan, tidak banyak yang bisa dilakukan oleh David kecuali persetujuan. Sejak awal tanda tangan kontrak telah tertulis siap bekerja di bawah tekanan dan target. Andai tak mampu lagi, perusahaan bisa mengganti para desainernya kapan pun itu.
“Myria.”
“Iya, Pak?” Dari balik layar komputer, wanita yang hari ini memakai gamis cokelat itu mengangkat kepala.
“Aku minta tolong ambilkan kertas HVS di ruang stationery. Tidak perlu banyak-banyak, cukup untuk satu printer.”
“Baik, Pak.” Myria bergegas. Sebelum benar-benar pergi, dia tinggalkan pekerjaannya pada Faiza sementara. Teman barunya itu begitu baik dan mengiyakan tanpa protes.
Keluar ruang, Myria berjalan menyusuri lorong beberapa divisi. Sebenarnya, dia tidak terlalu tahu di mana ruang persediaan berbagai alat kantor itu. Namun, karena perintah, Myria pikir bisa mencarinya.
Berputar-putar dari lorong ke lorong, ternyata Myria tak kunjung menemukan ruangan yang dimaksud. Wanita itu hendak menelepon Faiza dan bertanya, tetapi lupa membawa ponsel. Bertanya pada orang lain, kebetulan tidak ada satu orang pun yang lewat.
“Masa aku kesasar, sih?” gumam Myria sambil terus mengedarkan pandangan dan membaca tulisan di atas pintu. “Sumpah! Ini nggak lucu. Jangan sampai Kasa liat, bisa-bisa dia nertawain aku nanti.”
Keterusan bergumam, Myria kaget saat mendengar deheman dari belakang. Dia enggan berbalik dan justru mempercepat langkah.
“Myria!”
“Biarin, pura-pura nggak denger aja.” Keyakinan Myria makin menjadi.
Melihat wanita di depannya melangkah cepat, orang yang berdehem tadi ikut menyusul. Dia melangkah lebar. “Hei, aku tahu kalau kamu Myria, kan?”
Suara itu terdengar lagi, tetapi Myria tak menanggapi. Dia tetap melangkah tanpa mau menoleh.
Pria yang terus memanggil itu berdecak, lalu menyusul Myria dengan langkah lebar. Ketika tubuhnya berhasil menyalip, dia berhenti dan mengadang jalan. “Mau ke mana lo?”
“Sakti!” Myria mendelik. Dia refleks memanggil nama secara langsung tanpa embel-embel kehormatan.
“Iya gue.” Senyum Sakti mengembang. Tubuhnya bergeser ke samping. “Ngapain lo keluyuran gini?”
“Ee, itu, Pak, saya diminta Pak David ke ruang stationery ambil kertas.”
Jawaban Myria mengundang tawa kecil dari Sakti. Pria yang hari ini datang terlambat itu berujar, “Nggak ada orang, ngomong biasa aja sama gue.”
Myria mengangguk pelan.
“Lo nyasar ke sini, ruang stationery ada di sebelah sana. Belakang divisi pemasaran. Ikut gue, gue anter.”
“Eh, tapi ….”
“Udah, tenang aja. Gue juga mau ke bagian menchandising habis ini. Sekalian kita searah.”
Tidak ingin berdebat, Myria mengangguk patuh dan berjalan bersama Sakti. Dua orang itu mengobrol akrab sepanjang arah tujuan meski posisi mereka harus berjarak.
Sampai di ruang stationery, Myria bergegas mengambil barang sesuai kebutuhan. Dia segera keluar dan harus kembali karena pasti sudah ditunggu David.
Lorong penghubung antar divisi hendak dilewati, tetapi Myria menghentikan langkah dan mundur. Sakti yang ada di depannya terheran.
“Sakti, aku nggak enak kalau nanti diliatin karyawan lain. Ntar dikira kita aneh-aneh. Apalagi aku karyawan baru.”
Tawa Sakti tiba-tiba mengudara. “Santai aja, My. Udah biasa gitu kalau gue lewat. Ntar juga pada diem.” Pria itu memutar jam di tangan. “Nggak bakal ada yang berani ganggu lo. Di sini, insyaallah karyawannya baik-baik. Cuma satu yang nggak baik.”
“Siapa?”
“Angkasa kalau lagi kumat.”
Sakti tertawa puas setelah mengucap itu, sementara Myria hanya tersenyum dengan mata menyipit. Interaksi keduanya terkesan begitu dekat hingga membuat seseorang terpaksa menghentikan.
“Bahagia sekali kalian membicarakanku di sini.”
Tawa yang sempat memenuhi telinga, kini langsung berhenti. Myria serta Sakti menoleh dan begitu terkejut atas kemunculan Angkasa.
“Panjang umur bener sahabat gue satu ini.”
Bunyi sepatu terdengar nyaring saat Angkasa melangkah. Pria dengan kemeja burgundy itu menatap tajam pada Sakti dan Myria secara bergantian.
“Santai, Bro. Gue cuma bercanda,” kata Sakti setelah berhasil mengembalikan ekspresi.
“Ngapain kalian berduaan di sini?” Angkasa bertanya dengan nada dingin. Dia pandangi Myria yang sedang menunduk sembari memeluk kertas.
Bahu Sakti mengedik. “Kita cuma jalan searah sambil ngobrol. Lo kira apa?”
Tidak menjawab, Angkasa hanya terus memberi tatapan tajam pada sahabat dan mantan istri. Ingatan masa SMA tentu tidak lupa saat Sakti ingin memiliki Myria. Mungkinkah itu akan terulang lagi?
Sial! Memikirkan itu, Angkasa ingin mengacak rambut sekarang.
“Bekerjalah profesional dan jangan menganggu wanita, Sakti. Apalagi karyawan baru.”
Kalimat terakhir mengusik hati Myria. Wajah ayu nan teduh itu akhirnya terangkat sempurna. Dia ingin membalas ucapan Angkasa dengan pukulan, tetapi atasannya itu sudah balik badan dan menjauh.
“Bilang aja lo cemburu, Kasa!” Sakti mengompori dengan suara cukup keras hingga menghentikan langkah sang sahabat yang hendak kembali ke ruangan.
Dengan kepala sedikit menengok ke belakang, Angkasa berkata, “Malam ini Anda temani saya lembur, Pak Sakti. Jangan pulang sebelum urusan selesai!” Usai berucap, pintu ruangan tertutup sempurna.
“Damn! Tadi bilang jangan sampai lembur, sekarang tiba-tiba berubah."
kenapa bs menekan suaminya spt itu? kyk gk menghormati & menghargai suaminya