NovelToon NovelToon
BELENGGU CINTA

BELENGGU CINTA

Status: tamat
Genre:Dijodohkan Orang Tua / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:63.1k
Nilai: 4.9
Nama Author: Ayumi

Mahalini Lembong menatap tajam Rae Sitha Dewi. ia berjalan memutar menuju ke meja Rae dan menulis cek seratus juta rupiah. Rae mengambil cek itu acuh dan memasukkan ke kantong celana jeannya. Ia berharap dengan uang ini ia bisa mengobati ibunya yang lagi butuh pertolongan.

Dengan senyum licik Mahalini menyodorkan selembar kertas putih untuk ditandatangani oleh Rae. Walaupun agak ragu, Rae dengan cepat menggores kan pulpen hitam itu diatas kertas.

Mahalini Lembong adalah gadis kaya berusia dua puluh lima tahun. Dia putri pemilik Cafe Gaul tempat Rae mengais rejeki setiap hari. Kebetulan postur tubuh mereka juga hampir mirip yang membuat Mahalini lebih leluasa menguasai Rae. Ia punya rencana jitu untuk bertukar posisi dan mengelabui ibunya, serta calon suaminya.

Apakah rencana Mahalini Lembong dibalik pemberian uang seratus juta?

***
Hallo guys, ini buku baruku. Jangan lupa like, comment dan gift. Trimakasih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SEDIH

Mereka menuju kamar pak Agung yang berada di Wantilan, kamar ini mewah dan penuh dengan peralatan kedokteran yang canggih. Semenjak pak Agung sakit, dia pisah kamar dengan istrinya. Dua orang perawat disewa untuk menjaga pak Agung mereka bergantian menjaga.

Hari ini giliran suster Ani, saat melihat nyonya Agung ia buru-buru berdiri. Dari tadi main hape sampai ia tidak menyadari kalau nyonya datang.

"Selamat siang nyonya, apakah nyonya mau melihat bapak? beliau sudah makan dan minum obat." sapa Ani gugup.

"Suster Ani, apa ada perubahan?" tanya nyonya Agung mendekati suaminya.

"Masih seperti biasa, selera makannya juga agak menurun. Tuan sering gelisah dan kerap menanyakan keberadaan Tuan dan nyonya."

"Sayank, ini Mahalini istri putra kita. Aku ingin kamu cepat sembuh dan bisa berjalan seperti biasa." nyonya Agung memegang tangan suaminya.

"Selamat siang bapak mertua, semoga kedatangan saya tidak mengganggu anda, saya akan menemani bapak disini, kita akan bercerita banyak hal..." ucap Rae seraya memegang telapak kaki pak Agung dan memijatnya pelan.

Sikap Rae yang familiar membuat nyonya Agung terkesima. Belum pernah ia melihat Mahalini sedekat itu dengan suaminya, malah dulu terkesan menghindar dan masa bodo.

Tiba-tiba nyonya Agung ingat pesan Dewa yang mengatakan Mahalini mengidap AIDS. Mungkin Mahalini sengaja berbuat baik supaya semua orang tertular dan sama-sama meninggal. bathin nyonya Dewa bergerak cepat.

"Stop Mahalini, kamu tidak boleh memijat bapak, karena bapak tidak boleh dipijat!" seru nyonya Agung membuat suster Ani heran. Setahunya tidak ada larangan, karena pak Agung tidak mengidap asam urat.

"Ahh..biarin saja, aku ingin lebih mengenal menantu kita." ucap pak Agung dengan suara sengau dan kurang jelas.

Rae mengerti apa yang di ucapkan pak Agung. Di rumahnya sering ada tetangga minta bantuan untuk menjaga orang sakit. Ibunya juga sakit, ia yang merawat, karena tidak punya biaya menyewa perawat.

"Tante jangan lebay, pak Agung terlihat senang dipijat oleh Mahalini." ucap Bened membuat nyonya Agung serba salah.

"Maaf saya ma...." Rae melepaskan tangannya dari telapak kaki pak Agung.

"Tidak apa-apa sayank, mari kita keluar. Kamu tidak boleh kesini kecuali dengan mama."

"Ta..pi.. tapi..saya ingin ...."

"KELUAR!!" teriak nyonya Agung.

Semua kaget dan Bened heran melihat nyonya Agung semarah itu.

"Kamu memang ingin aku mati, kala ada yang tulus ingin merawatku kamu usir dengan semena-mena." ketus pak Agung dengan bibir gemetar. Ujung matanya terlihat berair.

Nyonya Agung tidak peduli, ia menyeret Rae keluar kamar. Air mata Rae bergulir ketika merasa bersalah. Ia mengira nyonya Agung cemburu.

"Tante lepaskan Rae, dia tidak bersalah. Yang dia lakukan spontan." Benedictine menarik Rae dan membawanya ke dalam pelukannya. Ia ikut sedih melihat Rae menangis.

"Tenang Rae, di Puri banyak ujian." sindir Bened melirik nyonya Agung.

"Bened kamu gila, itu istri orang lho, beraninya kamu memeluknya." nyonya kembali nyolot. Rae melepaskan dirinya dari pelukan Bened dan berusaha tenang.

"Mahalini teman saya dan Dewa juga, saya tidak punya pikiran aneh-aneh terhadap Mahalini. Kasihan saja, tujuan saya hanya ingin menghiburnya, supaya dia cepat pulih kembali. Saat ini Mahalini dalam keadaan sakit pasca tabrak lari. Kejadian itu sangat menyakitkan tante Fransiska, dan saya sebagai teman dekatnya juga ikut bersedih. Jika banyak perubahan semua itu karena Mahalini amnesia." jelas Bened panjang lebar.

"Kenapa Fransiska tidak mengatakan hal sebenarnya. Pantas ia memaksa tanggal pernikahan di majukan. Bisa jadi dia takut kalau Mahalini sadar dan menolak nikah dengan Dewa."

"Kemungkinan itu ada, tapi orang yang terlanjur menikah tidak punya keinginan untuk cerai. Sudah berubah status."

"Maaf Mahalini, tante tidak mengerti kalau kamu sakit. Pasti kejadian itu membuat kamu trauma. Yang membuat tante heran wajahmu Mahalini, tapi tingkah lakumu bertolak belakang. Untung lebih baik, kalau lebih jelek, mampuslah awak." ucap nyonya Agung bercanda.

Perbincangan mereka putus, karena bibi Nur menyampaikan sesuatu ke nyonya Agung, ternyata beberapa tamu undangan yang semalam nginap di Bungalow mau pamit. Mereka saudara yang menetap di Jakarta, Bandung dan Surabaya.

Nyonya Agung pergi begitu saja, ia kesal suaminya membela menantunya dan menuduh tidak-tidak. Padahal ia sudah berusaha melayani suaminya sebaik mungkin.

"Lin, aku balik ya, jaga diri baik-baik. Jika kamu gabut, pergi ke studio. Disana ada peralatan musik yang bisa membuatmu lebih rileks."

"Dimana ada studio?" tanya Rae dengan mata berbinar.

"Sini aku antar, disana kamu bebas bernyanyi, menari sesukamu. Tapi pilih waktu yang tepat."

"Aku mengerti, trimakasih kamu telah menemaniku."

"Jika ada apa-apa miss call aku, supaya aku bisa membantu kamu." ucap Bened, lalu mohon pamit.

Sepeninggal Bened, Rae duduk di sofa, ia ingat waktu menjadi penyanyi Cafe. Waktu itu hidupnya sengsara, sering kelaparan. Kalau ada uang habis terpakai untuk ibunya berobat.

Apakah sekarang ibunya sudah sembuh, bagaimana keadaannya. Pertanyaan itú selalu ada di otaknya. Ingin sekali ia naik Taxi mencari ibu.

"Dreettt...dreettt..."

"Hallo mama..." Rae menerima telepon dari nyonya Fransiska.

"Bagaimana keadaanmu nak, mama mau menengok kamu sekalian membawa surat penting."

"Alhamdulillah, aku baik-baik saja. Yang penting mama izin dulu kalau mau datang ke Puri, setelah ada izin baru datang, supaya tidak sia-sia. Aku sendiri juga ingin pulang menengok mama.."

"Kalau kamu keluar belum boleh, setelah enam bulan baru boleh."

"Itu peraturan zaman dulu ma, bagaimana kalau ada yang bekerja di luar?"

"Itu peraturan orang berkasta seperti Dewa, kalau kasta lain tidak apa-apa. Dia masih keturunan raja."

"Aku ingin jadi orang biasa saja, ngeri jadi keturunan raja."

"Bersyukurlah nak, orang lain tidak bisa seperti kamu. Hidup yang dimimpikan banyak wanita."

"Terus terang ma, aku tidak ingin menjadi istri Dewa. Aku ingin hidup sederhana, apa adanya. Aku tidak butuh pengakuan."

"Sayank, omonganmu bar-bar dan tidak masuk akal. Kamu tahu kekayaan Dewa? orang tuanya pemilik pulau bidadari yang berpasir biru."

"Mama, buat apa semua itu. Kita juga akan mati, kecuali bisa abadi..." Rae ingat dengan mertuanya yang sakit di tempat tidur dan tidak bisa bangun.

"Mama mau ke sana bersama pak Darius."

"Kenapa bersama pak Darius, dengan orang lain saja."

"Mama berangkat satu rombongan, ada pelayan juga. Tunggu saja mama. Udah ya mama tutup teleponnya." kata nyonya Fransiska menutup teleponnya sepihak.

Rae menarik nafas dalam, kemudian ia hembuskan perlahan. Buat apa nyonya kesini, sulit sekali ia menerima nyonya Fransiska sebagai ibunya. Latar belakang mereka berbeda.

Rae berdiri, ia memeriksa peralatan musik Dewa dengan seksama. Lengkap dan canggih. Sebuah piano dan gitar listrik menarik perhatiannya, Ia mengambil dan mencobanya. Suaranya bening, gitarnya berkualitas sangat bagus. Rae menutup pintu, ia tahu disini pasti kedap suara.

Kemudian ia mengambil gitar biasa dan mulai menyanyikan lagu Lovely, lagu dari Benny Blanco dan Justin Bieber. Suaranya yang serak-serak basah terdengar sexy saat membawakan setiap lagu melow. Rae memang hobby bernyanyi.

Tidak terasa matahari sudah condong ke barat. Walaupun belum makan siang Rae tidak begitu lapar. Ia terus bernyanyi lagu rindu untuk ibunya.

Pelayan kebingungan mencarinya, hape tidak diangkat. Rae memakai mode getar sehingga suara hape tidak kedengaran karena dibarengi suara gitar. Saat bibirnya mengalun kan lagu dari Falling dari Harry styles, ia di kagetkan oleh hempasan daun pintu. Bibirnya seketika terkunci.

"Kenapa berhenti, nyanyi terus, nanti jual diri dan jadi pengamen jalanan!" bentak Dewa yang menatapnya tajam.

Kemarahan Rae memuncak saat hinaan itu meluncur dari bibir Dewa.

"Apakah kau berpikir pengamen itu hina, jangan dibandingkan dengan warisanmu. Coba kau sendiri mencari uang tanpa bantuan orang tua, apa bisa, apa kau bisa sekolah dan makan. Jangan sombong, aku tidak kagum apa yang kau punya."

"Setidaknya aku punya etika memakai barang orang. Kawin dengan manusia liar begini hasilnya. Selalu bikin repot."

"Barang jelek gini aja kau banggakan." Rae lalu meletakkan gitarnya. Ia melangkah mau keluar, tapi kakinya disempak Dewa. Hampir ia jatuh. Cepat Rae jumpalitan dan koprol. Cepat-cepat Ia berdiri.

"Pengecut!! lawan aku di hutan belakang kalau berani, supaya kau sekalian dimakan macan."

"Ohh...aku punya ide, aku suruh pelayan memberi kamu makan yang sudah dicampur obat bius, setelah kamu tidur aku akan membuangmu di hutan, supaya tubuhmu dicabik-cabik oleh macan."

Wajah Rae langsung berubah, tentu saja ia takut luar biasa. Lebih baik mati ditembak tanpa merasakan sakit, daripada dimakan binatang buas.

"Hahaha..kau kira aku takut, aku sudah biasa membunuh macan. Jika kau ingin meracuniku, silahkan." Rae pura-pura berani, padahal tubuhnya merinding takut.

"Baguslah, tinggal tunggu waktu, aku akan menangkapmu nanti malam."

"Tuan, nona, ternyata kalian disini. Sudah mau gelap. Mandi dulu, setelah itu makan bersama."

"Maaf bibi Nur, aku lupa waktu."

"Besok-besok kalau nona mau pergi atau mau kemana saja telepon kami, semua jadinya bingung, sampai kami menelpon Tuan, supaya cepat pulang. Kami kira nona keluar bersama Tuan Bened."

"Maaf bi, aku keasyikan bernyanyi."

"Jadi Bened kesini, aku faham sekarang. Bened mengajak kamu ketempat ini dan kalian mesum disini."

"Tapi aku tidak ada ngapain dengan dia." pungkas Rae ketakutan. Dewa terdiam rahangnya mengeras, menandakan Dewa marah.

"Tidak baik kalau nona berduaan dengan pemuda itu, apalagi saya melihat nona berada dipelukannya. Apa kata orang nanti. Tuan bukan orang sembarangan, hati-hati bawa diri." ketus suara bibi Nur.

"Plookk..." tiba-tiba tangan Dewa sudah melayang ke pipinya.

Rae berteriak dan spontan menutup pipinya. Ia mundur dan bersandar di tembok. Hatinya sakit, bibi terlalu berlebihan.

"Dasar murahan, menyesal aku menikah denganmu!!" bentak Dewa kasar.

"Maafkan aku, tadi aku dipeluk Bened karena ia tidak tahan mendengar perkataan mama yang memarahiku."

"Apapun alasannya kau tidak boleh pelukan sama peria lain, mengerti!! kau sudah punya suami. Aku jijik punya istri seperti mu."

"Mengerti Tuan." kata Rae sesenggukan.

"Pergi ke kamarmu, sebelum marahku memuncak. Tidak usah keluar lagi." perintah Dewa menggebrak meja.

Rae keluar dengan air mata merembes di pipinya. Ia berjalan sempoyongan menuju kamarnya.

****

1
Katherina Ajawaila
bagus thour cerita nya keren. sukses selalu😘😘😘😘
ayumi: tq kak udah mampir
total 1 replies
Katherina Ajawaila
semoga aja benar semuanya jgn spt ibu Agung tapi hatinya ngk agung. malah judes tingkat tinggi
Katherina Ajawaila
Benedite stadium 4 ya thour 😭
Katherina Ajawaila
Benid, kasihan amat cukup sopan, dr awal.
Katherina Ajawaila
mantap, makanya jgn cemen dewa
Katherina Ajawaila
mati aja yg pada jahat sm Rae,
Katherina Ajawaila
semoga lancar beniddan Rae
Katherina Ajawaila
istri hanya mau harta biar aja mati biar ketiban itu harta2
Katherina Ajawaila
org kaya, saking kaya apa juga bisa di beli dan busuk kalau bisa di tutupin, tapi nama nya busuk pasti bau aja kecium, trus mahalini anak siapa lagi
Katherina Ajawaila
tau diri Dewa, Li aja ngk jelas ningrat tapi senang celup sana sini
Katherina Ajawaila
nmnya mantu hanya di atas kertas, ya jalang tetap jalang semoga terbuka tabir binalmu mahalini
Katherina Ajawaila
dewa biar jadi bego aja sm Rae , begi sih org sarjana ko bego.
Katherina Ajawaila
thour biar ketakaep lah mahalini jalang dan liat😎
Katherina Ajawaila
msti aja lo Dewa, ngk jelas. kabualan terud
Katherina Ajawaila
banci Dewa udh tau istrinya ori tapi masih. meragukan banci ngk tu, cau nya cuci botol doank
Katherina Ajawaila
Luar biasa
Katherina Ajawaila
biar ketangkap mahalini msk sana prodeo ya thour
Katherina Ajawaila
cari caraRae utk tlp Bened, Dewa, ngk mutu hanya ke dagingnya yg tinggi. cepat usaha, plases thour
Katherina Ajawaila
semoga cepat terkuak asli nya mahalini thour, biar tau semua kalau dia msh jadi istri Gunawan. jalang teriak jalang
Katherina Ajawaila
karma berlaku pasti jatuh k dewa, buat ajabantaj2 dewa, mahalini itu jalng. yg sering cuci botol sana sn.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!