Tak ada yang menyangka jika orang yang dianggap musuh ternyata orang yang dikirim Tuhan untuk menjadi orang yang berarti dalam hidupnya.
Walau banyak sekali rintangan untuk mengucap janji suci. Tapi jika Tuhan sudah berkehendak rintangan seberat apapun tidak akan mengalahkan tekadnya.
Gama Alexander berubah menjadi posesif ketika sudah menjadi suami Elata. Tegas dan mempunyai karismatik yang menawan. Sehingga tak banyak yang kagum pada sesosok pengusaha muda tersebut.
Elata wanita yang dari dulu sangat dicintai dan diinginkan Gama. Siapa yang tidak kenal dengan wanita jutek itu. Tapi, setelah menikah dengan Gama, Elata berubah menjadi sosok yang ramah. Berbeda jika pada saat dengan Gama, wanita cantik itu akan berubah 180 derajat. Tingkah absurdnya akan kembali.
Apakah Gama dan Elata akan tetap bertahan dengan pernikahannya seperti waktu mereka pacaran dulu dengan cobaan yang akan datang menimpa pernikahan mereka. Ataukah akan sebaliknya?
Simak di MEIML
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon seizy kurniawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Hukum, Lagi
Gama sudah siap dengan seragam sekolahnya. Almamater ia genggam di tangan kanannya. Bahu kirinya membawa ransel yang selalu setia menampung buku-buku yang menjadi catatan mata pelajaran di sekolahnya. Ribet gak tuh ?
Sebelum pemuda itu keluar kamar, sekali lagi ia merapikan rambutnya yang sudah di kasih jel minyak rambu, yang biasa ia pakai.
Bukan minyak goreng apa lagi minyak jelantah. Bisa bau tujuh rupa tuh rambut si Gama kalau sampai ia melakukan hal seperti itu.
Setelah rasa ia ok dengan penampilannya. Gama mulai melangkahkan kakinya ke luar kamar. Menuruni anak tangga menuju ruang makan, orang tuanya sudah lebih dulu ada di sana.
"Pagi, Gam?" Ucapan selamat pagi itu selalu keluar dari Mamah Sonya. Mama Gama.
"Pagi, Ma" Gama duduk di kursi sebelah kanan dekat sang Papa.
"Papa sama Mama mau ke Bandung" Ucapnya Papa Doni.
"Untuk apa?"
"Papa lagi ada proyek disana"
Gama tak menjawab lagi. Pemuda itu hanya ber oh ria saja. Toh sudah biasa bukan ia di tinggal sendiri di rumah yang bagaikan istana itu. Hanya ada seorang Bibi dan security rumahnya saja.
****
Ditempat lain seorang Gadis masih dengan selimut tebal yang menutupi tubuhnya.
"El, bangun! Kamu gak sekolah?" Mama Dara mengguncang guncangkan bahu Elata. Ini anak gadis bukan sih? Kok tidurnya ngebo gini?
"El....." Mama Dara trus mengguncangkan bahu Elata
" Jam berapa sih, Ma?"
"Jam tujuh lewat lima menit sepuluh detik " jawabnya sang Mama
Mata Elata sontak langsung membelalak. Ini udah siang. Pikirnya!
Elata menghiraukan sang Mama yang masih duduk di tempat tidur miliknnya. Gadis itu langsung pergi ke kamar mandi. Hanya butuh waktu tujuh menit saja Elata berada di kamar mandi. Setelah itu ia sudah memakai seragamnya.
Elata ngapain di kamar mandi tujuh menit coba? Gak mandi kah dia? Sudah lupakan saja, mungkin Elata lagi buru-buru karna ia sudah sangat telat pergi ke sekolah.
Sang Mama membereskan tempat tidur Elata, kebiasaan buruk Elata gak pernah membereskan kamar. Mama Dara hanya terbengong saat mendapati Elata sudah siap pergi ke sekolah.
Elata menyisir rambutnya asal. Mengoleskan sedikit lipstik di bibir merahnya. Hanya sedik saja, karna menurut Elata gak perlu mengoleskan lipstick tebal-tebal. Gak kaya Flora kalau pake lipstick belum merah tuh berasa belum pake katanya. Bukannya cantik ini malah kaya derakula yang habis menghisap darah. Merah kemana-mana.
"El, kamu gak mandi ?" Tanya Mama Dara sambil hidungnya mencium-cium seauatu dari tubuh Elata.
Elata nyengir
"Udah telat banget ini, Mama"
"Jorok banget sih anak gadis"
"Enar El kodoin deh mandinya. Ini udah gak keburu"
Gimana ceritanya mandi dikodo? Emang ada ya mandi kodo? Ada juga mandi junub kali. Kalau kodo mah ya puasa.
Elata keluar dari kamarnya. Ia sudah siap berangkat.
"Eh, ek. Kok main pergi gitu aja si El?"
Elata membalikan tubuhnya lagi saat sudah keluar dari pintu kamar.
"Apa lagi, Ma? Ini Elata udah telat banget. Entar El gak si kasih masuk sama pak Mamat"
Pak Mamat adalah security yang setia menjaga gerbang SMA Garuda. Saking setianya, Pak Mamat gak pernah ninggalin tuh gerbang sampe malam. Sampe kakinya berkarat, karna takut ada yang main nyelonong tanpa permisi. Sampe-sampe istrinya aja cemburu pada tuh pagar.
"Ini salim dulu!" Mama Dara menyodorkan tangannya ke Elata. Minta di salamin
"Ya ampun si Mama. Kirain apa" Elata menyalami Mamanya kemudian berlalu pergi dari kamarnya.
****
"Gak bisa. Gue udah deket sekolahan "
"Loe puter balik, jemput gue! Kalau enggak,"
"*K*alau enggak apa?"
"Balikin bibir gue jadi virgin lagi!"
Gimana caranya coba balikin bibir jadi virgin? Perawan aja kalau udah nganu-nganu gak bisa dibalikin lagi jadi virgin. Lah ini cuma bibir, gimana bisa coba.. Ingin rasanya Gama menjawab Elata. Tapi ia hanya bisa mengumpat dalam hati saja.
"Gimana caranya?" Gama bertanya seakan menggoda Elata.
Ya, gadis itu kini sedang menghubungi Gama lewat telpon genggamnya. Elata berjalan dikomplek perumahan tempatnya ia tinggal.
Sesekali matanya mengamati jalan. Kali aja gitu ada taxi atau ojeg yang lewat. Tapi matanya tak mendapati yang Elata tunggu.
Sampai Elata meminta Gama menjemputnya kembali, karna pas Elata mau berangkat, tau-tau ban mobilnya bocor. Untung saja Elata masih dirumah dan belum mengeluarkan mobilnya.
Papanya sudah berangkat ke kantor lebih dulu, katanya ada meeteng dengan klien. Jadi Elata gak bisa nebeng mobil Papanya.
Dan, mobil Mamanya sedang di service di bengkel.
"Pokonya loe balik lagi ke komplek! Gue tunggu lima menit sepuluh detik" kekeh Elata. Gadis itu menutup sambungan telponnya begitu saja.
****
Gama yang hampir sampai ke sekolahnya, dengan terpaksa memutar motornya kembali ke kompeks perumahan setelah pemuda itu memasukan ponsel ke dalam saku celananya. Kemudian memakai helmnya kembali. Gama melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Karna butuh waktu tiga puluh menit untuk datang ke tempat dimana Elata menunggunya.
Bagaimana mungkin Gama bisa sampai dengan waktu secepat lima menit sepuluh detik? Kalau Elata ada di dekatnya saat ini, ingin sekali Gama menjitak kepala Elata.
****
"Buruan naik! Udah telat banget ini" Ajaknya Gama setelah ia sampai di tempat Elata menunggunya.
Elata bukan nya cepat-cepat naik, gadis itu justru melihat arloji di tangan kirinya dulu. Kemudian..
"Loe telat delapan menit tiga puluh detik" Ucapnya, dengan wajah kesal karna menunggu Gama selama delapan menit tiga puluh detik itu.
What!
"Naik gak nih? Kalau enggak, gue jalan lagi nih" Gama setengah melajukan motornya dengan pelan.
"Iya, iya, gue naik. Mana helm, gue? "
"Udah, gak usah pake helm. Kalau gue ambil dulu kerumah, yang ada kita bukan berangkat ke sekolah. Tapi ngejemput anak TK yang udah pada balik"
Elata berdecak kesal. Ck! Kemudian ia naik ke atas motor sport Gama.
"Nanti kalau ada polisi gimana?" Tanya Elata. Motor Gama sudah melaju dengan kecepatan di atas rata-rata.
"Ya, kalau ada polisi loe turun!" Jawab pemuda itu cuek tanpa dosa.
"Gak!"
"Terus loe mau gue di tilang?"
"Bodo amat"
"Terserah!"
****
Sampainya di depan gerbang sekolah. Untung tadi tidak ada pakpol yang bertugas mengatur jalan. Kalau ada bisa kena pasal, karna melanggar aturan lalu lintas. Elata kan gak pake helm.
"El, loe bujuk dulu tuh pacar loe!" Titah Gama seenak udel pada Elata.
"Siapa pacar, gue?" Tanya Elata polos. Gadis itu masih di atas motor Gama. Motor Gama berhenti tepat di pintu gerbang sekolah. Dan benar saja Pak Mamat yang setia menjaga gerbangnya. Sudah mengunci gerbang itu, dan tidak mengijinkan siapa saja masuk.
"Loe gak liat, gerbangnya udah di kunci rapat gitu?"
"Ya udah tinggal minta bukain Pak Mamat aja 'kan?"
Yah Elata lupa siapa pak Mamat.
"Loe pikir pak Mamat mau bukain pintu buat kita?" Tanya Gama
Tak lama Pak Mamat melangkahkan kakinya ke arah Gama dan Elata, saat ia melihat dua murid itu di luar gerbang masih di atas motor yang mereka tumpangi.
"Loe, bujuk gih pak Mamatnya!" Titah Gama pada Elata saat Pak Mamat sudah mendekat
"Loe aja!"
"Ini 'kan gara-gara loe juga, gue gak bakalan telat kaya gini kalau tadi gak muter balik lagi" Yah Gama malah nyalahin Elata. Yang di slahin gak terima, Elata memukul kepala Gama. Untung pemuda itu masih mengenakan helm. Kalau enggak bisa nong-nong kepalanya karna pukulan Elata. Si Elata 'kan kaya wonder women yang pake kostum kucing. Walau kecil tapi tenaganya ngalahin Hulk.
"Kagak ikhlas, loe?"
"Bukan gitu, tapi...."
Sebelum Gama menyelesaikan kalimatnya. Elata sudah lebih dulu turun dari motor sport Gama. Ia melangkahkan kakinya ke depan gerbang.
"Pak Mamat, bukain kuncinya dong!" Elata memasang wajah so imutnya, yang kaya marmut. Lucu sih iya, tapi bibirnya itu loh.
"Neng Elata telat?"
Yaelah ni security malah nanya. Bukannya bukain. Umpatnya Elata dalam hati.
"Iya Pak, tadi macet di jalannya"
"Boong banget tuh anak" Gama hanya mendengar Elata lagi membujuk Pak Mamat, agar membukakan kunci pagarnya.
"Tapi Neng El, telatnya udah lebih dari sepuluh menit"
Elata manyun. Gadis itu tak kehabisan akal untuk membujuk pak security yang amanah dalam menjalankan tugasnya.
Gama hanya berdecak kesal.
"Ayolah pak, kali ini aja. Nanti gak bakalan telat lagi deh. Janji" Elata mengangkat tangan kanannya. Melipat ibu jari dan kelingkingnya ke dalam telapak tangan.
Tapi pak Mamat seakan tak mengerti apa yang di maksud Elata. Elata melihat tangannya yang mengacungkan tiga jari. Kemudian setelahnya melipat jari manisnya. Membuat hurup V.
"Kalau masih gak bisa, Elata saja yang masuk. Cowok yang ada di motor biarin aja, gak usah di kasih masuk, ya Pak!" Bisik Elata pada Pak Mamat. Pak Mamat memicingkan matanya ke arah Gama yang sedang memperhatikan intraksi antara Elata dan pak Mamat.
****
"Ngapain kalian jam segini baru datang?" Tanya pak Zaki. Guru yang paling kiler super kiler di antara guru yang kiler.
"Kalian mau sekolah apa mau jemput anak SD?"
Tuh 'kan bener apa yang di bilang Gama tadi. Ini tuh bukan jamnya masuk sekolah tapi jamnya pulang anak TK.
Pak Zaki geleng-geleng kepala memijat pangkal hidungnya.
Gama dan Elata hanya bisa pasrah mendengar Pak Zaki marah-marah kaya banteng yang akan nyeluduk mangsa di depannya.
"Keluar!" Teriak pak Zaki.
"Berdiri di lapangan. Hormat, dan satu kaki kalian angkat!" Hukuman pak Zaki selalu seperti itu pada murid yang selalu telat atau yang selalu bikin onar di kelas, saat beliau sedang mengajar.
****
Di hukum, lagi....
Ini semua gara-gara loe. Kalau aja loe gak nyuruh gue buat jemput loe, gue gak bakal telat dan berakhir dengan hukuman sadis seperti ini.
Gama alexander
Di hukum, lagi.....
Ini semua Gara-gara loe Gama.
Kalau aja semalam loe gak datang kerumah gue. Gue gak bakal kena hukuman pak Zaki.
Gara-gara loe nodain bibir gue. Jadinya 'kan gue trus kebawa mimpi. Sampe gue bangun kesiangan.
Elata Rasya
****
Nyium Gama aja bisa sampe ke bawa mimpi segala. Dasar Elata. Cewek jutek yang sekarang aneh.
TBC
Makasih para reader's sayang sudah ikutin karya aku sampe episode ini.
Jangan lupa klik jempolnya. Itu sama sekali gak susaah kan???
Komen juga. Berikan sang author ini saran dan kritik. Karna ini karya author yang pertama pasti masih ada aja kata-katanya yang salah atau tak di mengerti.
lope lope lope lope lope you 😘😘😘😘