Nara mengira kehidupan barunya setelah transmigrasi akan berjalan indah. Nyatanya, dia malah terlempar ke masa kuno dan menjadi anak sulung dari keluarga miskin yang dibenci semua orang karena cacat fisik.
Pemilik tubuh yang asli mati tragis karena memotong jari keenamnya demi mencari keadilan. Kini, dengan jiwa modern yang mengisi tubuh tersebut, Nara bersumpah tidak akan membiarkan ibu dan adiknya diinjak-injak lagi.
bertahun-tahun kemudian "haaaaa mencapai puncak kekuasaan dengan enam jari emang berat"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adawiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 sandiwara
Yan Shong ditarik paksa kembali ke Kamar Timur. Melihat Han Ruo dan Yan Ran buru-buru mengunci pintu dengan wajah tegang, dia menjadi bingung.
"Kalian berdua ini sedang main sandiwara apa sih?" tanya Yan Shong sambil duduk di ranjang, menatap istri mudanya.
"Kamu itu tidak tahu apa-apa, malah bisa sesantai ini padahal rumah kita mau kedatangan masalah besar," sahut Han Ruo dengan pandangan tajam, tapi nadanya sengaja dibuat bermanja-manja.
Yan Shong mengernyitkan alis. "Masalah besar apa?"
Han Ruo sengaja bungkam dan cuma mendesah pelan. Melihat ibunya sudah memancing umpan, Yan Ran langsung menyahut cepat, "Ayah, ini soal Nara si Jari Enam. Dia pasti sudah dirasuki hantu!"
Yan Ran kemudian mulai menambahkan bumbu-bumbu cerita, menggambarkan bagaimana tingkah Nara di dapur tadi dan perubahan anehnya selama beberapa hari terakhir secara berlebihan.
"Coba Ayah pikir, kalau tidak kemasukan roh jahat, mana mungkin tabiatnya bisa berubah drastis begitu?" Yan Ran bergedik ngeri saat teringat sorot mata kakaknya tadi.
"Ayah tidak melihatnya sendiri sih. Cara Nara menatapku tadi seram sekali, mirip hantu pencabut nyawa yang mau mengambil nyawa orang!" lanjut Yan Ran.
Kalau saja Nara ada di kamar itu, dia pasti bakal tertawa terbahak-bahak mendengar imajinasi berlebihan adik tirinya.
Mendengar cerita itu, wajah Yan Shong langsung menggelap dan dia spontan berdiri dari ranjang.
"Pantas saja beberapa hari ini semua pekerjaanku di kota tidak ada yang beres! Pertama aku salah kirim pesanan pelanggan, lalu salah kasih harga jadi murah sekali, sampai-sampai aku diamuk habis-habisan oleh majikan toko dan rugi ratusan koin perak tanpa alasan!" bentak Yan Shong.
"Ternyata semua kesialanku ini gara-gara anak pembawa sial itu! Sialan, harusnya sejak lahir sudah aku kubur saja hidup-hidup!" umpatnya berapi-api.
"Suamiku, kalau dibiarkan, dia pasti bakal membuat rumah ini tidak pernah tenang," sahut Han Ruo dengan mata membulat, berpura-pura cemas.
"Kamu harus cari jalan keluar secepatnya. Anak sulung kita, Yan Quan, besok harus berangkat ke akademi untuk persiapan ujian pejabat terpandang. Jangan sampai masa depannya hancur gara-gara kesialan anak itu," tambah Han Ruo.
"Dia tidak akan berani!" Yan Shong melotot murka lalu melangkah lebar hendak keluar kamar.
Han Ruo dengan cepat menahan lengannya. "Kamu mau ke mana?"
"Aku mau datangi Kamar Barat sekarang! Kalau tidak diberi pelajaran sampai kapok, anak sialan itu pasti bakal terus-terusan bikin perkara!" jawab Yan Shong emosi.
"Jangan gegabah, kamu malah bisa cari penyakit nanti!" Han Ruo menarik kuat lengan baju suaminya sambil berdecak, berpura-pura menasihati.
"Kalau kamu datangi sekarang, namanya memancing singa tidur. Kalau Nara memang benar-benar kerasukan hantu sakti dan berniat balas dendam, bagaimana nasibku dan anak-anak nanti? Bisa-bisa kami celaka di tengah malam tanpa ada yang tahu!"
"Ibu! Jadi kita mau diam saja membiarkan mereka menginjak-injak kita?" protes Yan Ran dengan wajah bersungut-sungut.
Hal yang paling dia benci di dunia ini adalah melihat posisi Nara berada di atasnya. Cuma anak cacat berjari enam, berani-beraninya mengatur hidupnya sekarang? Cih!
"Enak saja, jangan harap!" Han Ruo hampir meludah ke lantai, tapi begitu melirik Yan Shong, dia buru-buru menahannya dan mengubah ekspresi wajahnya jadi merana.
"Tapi mau bagaimana lagi? Nyonya Mu kan menikah denganmu lebih dulu dibanding aku. Walaupun aku sudah melahirkan dua anak laki-laki untuk Keluarga Yan, posisiku di rumah ini tetap aja cuma dianggap selir," ucapnya sambil pura-pura menangis sesenggukan.
Melihat air mata istri mudanya yang tampak rapuh, hati Yan Shong seketika melunak. Dia buru-buru merengkuh bahu wanita itu.
"Jangan bicara begitu, kamu itu berjasa besar buat keluarga ini. Siapa si Mu itu? Cuma ayam betina yang tidak bisa melahirkan anak laki-laki! Berani-beraninya dia bertingkah sombong di depanmu? Aku pasti bakal memberinya pelajaran nanti," hibur Yan Shong.
"Tapi Ayah, Nenek sekarang malah membela mereka," timpal Yan Ran sambil cemberut.
Han Ruo tersenyum puas dalam hati mendengar pembelaan suaminya, tapi dia sengaja memasang wajah sedih lagi.
"Benar kata Yan Ran. Lagipula ini bukan salah ibumu yang pilih kasih, pernikahan Yan Ming dan Yan Ling kan memang urusan penting. Tapi kalau Nara benar-benar kerasukan hantu dan terus bikin rumah ini sial, bagaimana adik-adikmu bisa dapat jodoh yang bagus?" tanya Han Ruo memanasi.
Melihat Yan Shong mulai bimbang dan berpikir keras, Han Ruo langsung melancarkan siasat berikutnya.
"Aku dengar Mbah Kusno dari desa sebelah itu pintar sekali mengurus hal gaib. Bagaimana kalau kita bujuk Ibu buat mengundang dia ke rumah untuk mengusir roh jahat?" usul Han Ruo pelan.
"Ide bagus itu, Bu! Ibu harus bicara sama Nenek sekarang," sahut Yan Ran bersemangat.
"Kalau bisa, sekalian saja usir Nara dari sini. Tidak, usir saja mereka bertiga dari rumah ini! Biar kesialan mereka tidak menular dan merusak masa depanku nanti!" seru Yan Ran.
Yan Shong mengangguk setuju dengan wajah kaku.
"Benar juga, sepertinya kita memang harus mengundang orang pintar untuk memeriksa rumah ini. Akhir-akhir ini hidupku juga terasa sial terus," gumamnya dengan suara berat, sementara matanya memancarkan sorot penuh kebencian ke arah Kamar Barat.