"Malam ini Lo hancur! Biar kakak Lo paham, ada harga mahal buat tangan yang berani menyentuh adik gue." --Xavier--
"Aku bersumpah, aku akan jadi neraka terpanjang di hidupmu, Xavier!" --Sukma--
Dunia Sukma runtuh dalam satu malam. Perbuatan nista Hamdan, kakaknya, menyulut api dendam di nadi Xavier--pemimpin Geng Bima Sakti Yang Tak mengenal ampun. Dalam buta amarah, Xavier merenggut paksa kesucian Sukma sebagai balasan atas Marwah adiknya yang hampir ternoda.
Hamdan mengakhiri hidup dengan cara tak diberkati, meninggalkan Sukma sebatang kara.
Kesucian tercabik. Masa depan hancur. Satu-satunya penguat jiwa telah pergi.
Di ambang napas terakhirnya, Gea--kekasih Xavier, menitipkan wasiat yang menjadi belenggu sekaligus penebusan dosa: Xavier harus menikahi Sukma.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayuwidia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 33 Janji Sang Narendra
"Kinan..."
Satu nama yang disebut oleh Xavier begitu tersadar dari pingsannya.
Nama itu terlanjur terpatri dalam ingatan, meski semua orang kini memanggil "Sukma".
"Kinan... Gue minta maaf," pintanya lirih, diiringi setetes kristal bening yang jatuh dari sudut mata.
Lelaki pemilik mata elang itu terlihat sangat rapuh, jauh dari kesan The Unbeatable yang selama ini melekat pada dirinya sebagai ketua Geng Bima Sakti.
Sukma diam.
Ia enggan bersuara dan memilih duduk di sudut ruang, menjauh dari sosok yang telah menjadi penyumbang utama pesakitan.
"Assalamu'alaikum." Terdengar suara salam dari arah pintu, disusul kemunculan dua wanita beda generasi. Mereka Zahra dan Oma Kirana.
"Wa'alaikumsalam..." balas Sukma, Bi Jayanti, Ryuga, Nara, dan Haidar hampir bersamaan. Xavier pun turut membalas dengan suaranya yang terdengar serak, lirih, dan terbata.
"Siapa yang sakit?" tanya Oma Kirana sembari berjalan mendekat ke arah dipan. Wajahnya tenang, memancarkan kewibawaan seorang wanita tua yang dihormati.
"Mas Xavier, Oma," jawab Bi Jayanti cepat, namun sopan.
Oma Kirana mengerutkan dahi, lantas mengalihkan atensinya pada Sukma yang duduk sambil sedikit menundukkan wajah.
Setelah itu, pandangannya berganti pada sosok pemuda yang terbaring di atas dipan. Sudut bibirnya terangkat tipis saat mengetahui satu hal. Dan tentunya, ia simpan hanya untuk dirinya. Cukup tahu, tanpa harus berkomentar panjang lebar, apalagi menghakimi.
"Maaf, Oma periksa sebentar ya," ucapnya sambil tersenyum ramah pada Xavier.
Oma Kirana membuka tas medis yang dibawanya, lalu mengeluarkan stetoskop dan tensimeter.
Dengan gerakan cekatan khas seorang dokter berpengalaman, wanita tua itu mulai menjalankan perannya. Mengukur tekanan darah, mendengar detak jantung melalui stetoskop, hingga memeriksa kelopak mata pasiennya dan bertanya mengenai keluhan yang dirasakan.
"Gimana kondisi Xavier, Oma?" tanya Ryuga cemas.
Oma Kirana tersenyum tipis, kemudian mengalihkan perhatiannya pada Ryuga.
"Tubuh Nak Xavier lelah. Sangat lelah. Bukan hanya fisik, tapi juga jiwanya," ujar Oma Kirana, menuturkan penjelasan. "Tekanan darahnya agak drop karena kurang istirahat dan asupan gizi yang tidak teratur. Jantungnya berdetak kencang bukan karena sakit organ, tapi karena kecemasan dan beban pikiran yang terlalu berat."
Xavier menelan ludah, menyimak setiap kata yang mengalir pelan dari bibir wanita tua itu.
Atensi Oma Kirana beralih kembali pada Xavier sebelum melanjutkan kalimat yang belum benar-benar jatuh utuh.
"Obat terbaik untukmu saat ini bukan hanya vitamin dari apotek," tuturnya lembut, namun tegas. Matanya beralih sekilas ke arah Sukma yang masih membeku di sudut ruangan, lantas berpindah ke Xavier. "Tapi ketenangan hati. Bersujud, memohon ampunan, dan mendekatlah pada-Nya, sebelum berjuang memperoleh maaf dari seseorang yang kamu hancurkan marwahnya. Istirahatlah yang cukup, makan-makanan bergizi, dan jangan paksa tubuhmu beraktivitas berat sampai benar-benar pulih. Benahi dulu 'rumah' di dalam dadamu, setelah itu tunjukkan jika hatimu pantas untuk tinggal dan menetap."
Pesan itu sederhana, namun bagi Xavier, seperti tamparan sekaligus pelukan hangat.
Beberapa detik kemudian, suasana sedikit mencair. Nara yang sedari tadi memperhatikan dengan penasaran akhirnya bertanya. "Oma, kalau boleh saya tahu, sebenarnya Xavier sakit apa?"
"Dia defisit Vitamin C parah," cetus Ryuga menyahut ucapan Nara dengan wajah serius yang dibuat-buat.
Semua orang menoleh padanya, mengernyit tipis.
"Maksud gue, Vitamin Cinta," lanjut Ryuga menjelaskan sambil menggerakkan dagunya ke arah Sukma. "Xavier butuh cinta, kehadiran, dan penerimaan dari... wanita yang udah dititipi benih."
Hening sejenak.
Oma Kirana mengulum senyum, begitu juga Bi Jayanti, Nara, dan Haidar--mendengar perkataan Ryuga yang terlampau terang-terangan.
Berbeda dengan mereka, Sukma memilih diam. Ia sama sekali tidak terpancing untuk menimpali. Sebisa mungkin menjaga benteng pertahanan hatinya agar tak runtuh.
Baginya, Xavier yang dulu ia puja telah mati, berganti menjadi iblis yang tak pantas menerima ketulusan cintanya.
"Oma, apa mungkin... Xavier mengalami Sindrom Couvade?" Nara kembali bertanya, membuat Sukma seketika melirik sekilas ke arahnya. Jantungnya berdegup kencang, merasa tak nyaman dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh sahabatnya.
Oma Kirana menarik kedua sudut bibirnya. Ia menatap Sukma lekat-lekat, lantas beralih menatap Xavier yang masih terbaring lemah.
"Ya, bisa dikatakan... Nak Xavier memang mengalami Sindrom Couvade," tuturnya tenang namun tegas. "Ada ikatan batin yang tidak bisa dinafikan, dan ada tanggung jawab yang mesti ditunaikan. Bukan hanya kata maaf, tapi bukti nyata."
Sukma dan Xavier sama-sama terdiam. Mereka menelaah kalimat yang terucap pelan, namun sarat akan makna itu.
Lalu, keduanya perlahan mengangkat wajah. Tanpa sengaja, tatapan mereka bertemu.
Hanya dua detik.
Karena Sukma buru-buru memutusnya, mengalihkan pandangan matanya ke sembarang arah. Ia takut jika terlalu lama menatap, benteng yang sudah ia bangun dengan susah payah akan retak oleh setitik rasa yang mungkin masih tersisa di sudut hati.
"Karena kondisi Nak Xavier tidak memungkinkan untuk menempuh perjalanan jauh, ada baiknya jika bermalam di rumah kami dulu. Jangan memaksakan diri untuk pulang malam ini," ucap Oma Kirana. Matanya menyapu wajah-wajah pemuda di hadapannya.
Xavier tersenyum tipis, rasa lega perlahan merayap di dadanya meski tubuhnya masih terasa berat. Ia mencuri tatap sekian detik ke arah Sukma yang masih setia duduk di sudut ruang, seolah mencari validasi atas keputusan untuk tinggal. Namun, Sukma tetap menjadi patung es yang tak tergoyahkan.
"Terima kasih, Oma," balasnya kemudian, suaranya terdengar lebih stabil daripada sebelumnya.
Hening kembali turun sebelum Ryuga mengambil alih pembicaraan dengan nada yang lebih formal namun tetap sopan.
"Mumpung Oma masih di sini, kami ingin meminta izin untuk melakukan observasi. Insya Allah, bulan depan, jajaran pengurus BEM Cakrawala berencana untuk melaksanakan proyek terakhir, memberi edukasi hukum sekaligus bakti sosial. Dan sasaran kami... warga yang bertempat tinggal di Desa W."
Oma Kirana mengejapkan mata, tampak terkesima sekaligus bangga. Ia menyambut baik niat para mahasiswa yang bernaung di dalam tubuh BEM Cakrawala tersebut.
Baginya, pendidikan karakter dan kepedulian sosial adalah hal yang jarang ditemukan pada generasi muda masa kini. Dengan senang hati, ia mempersilakan Ryuga dan teman-temannya untuk melakukan observasi besok pagi, bahkan menawarkan bantuan untuk turut mendampingi dan mengenalkan mereka pada tokoh-tokoh yang disegani di Desa W.
"Oma siapkan dulu kamar di rumah utama. Supaya ananda-ananda bisa langsung beristirahat, begitu juga Sukma dan Bi Jayanti," tuturnya lantas mengunci perhatiannya pada Xavier dan menerbitkan senyum hangat. "Ingat pesan Oma tadi, Nak Xavier. Dekatkan diri pada Allah dan terus berikhtiar, serta jangan menyerah sampai perjuanganmu berbuah manis."
Seusai mengucap kalimat itu, Oma Kirana beranjak dari posisi duduk. Membawa ayunan kakinya melangkah keluar dari ruang tamu, diikuti oleh Zahra.
Selepas Oma Kirana dan Zahra berlalu pergi, Sukma segera bangkit berdiri. Menyeret langkahnya meninggalkan ruang tamu, menghindari setiap kemungkinan interaksi lebih lanjut dengan Xavier.
Ayunan kakinya terasa berat, seolah membawa beban masa lalu yang enggan dilepaskan.
Xavier membisu, namun benaknya berulang kali mengeja satu nama. Sepasang matanya tak lepas menatap punggung Sukma hingga sosok Hawa itu hilang dari pandangan.
Rasa sesak kembali menghimpit dadanya, namun kali ini disertai tekad baru.
"Kinan, gue bakal terus berjuang buat ngeluluhin hati lo, dan dapetin maaf dari lo..." bisiknya yang hanya tercetus di dalam hati.
Kata-kata itu bukan sekadar janji kosong, melainkan sumpah suci bagi seorang lelaki yang benar-benar ingin menebus dosa besar, dan bukan semata ingin memenuhi wasiat.
🍁🍁🍁
Bersambung
intinya..Sukma itu sebenarnya sdah tidak marah. sudah memaafkan. hanya belum disadari. belum dirasakan. atau justru sdah disadari, tapi ditolak..
pertanyaannya, dgn itu, dia lagi menghukum sapir, atau menghukum dirinya sendiri...
apa nyampek beringharjo..diam bentar. trus ngomong gitu..aja..ya udah terserahlah..
Aku suka ini Sapirr
sukma itu lagi menemukan salah satu tanda kebesaran Allah..harusnya bertasbih dia, bukan disuruh baca istighfar
sekarang kau dh nggk benci lho ma kamu🤭