Valerie bertemu Mario, pria tampan yang dikiranya gigolo di klub malam. Ia jatuh hati pada sosok sederhana itu, hingga kebenaran terungkap: Mario adalah orang terkaya dan paling berkuasa di Meksiko yang menyamar mencari cinta tulus. Dikhianati oleh kebohongan, Valerie ragu memberi maaf. Di tengah bahaya dan intrik kekuasaan, Mario berjuang membuktikan ketulusannya. Kini, keduanya harus memilih: melepaskan, atau mempertahankan cinta yang lahir dari kesalahpahaman di tengah kemewahan dan risiko nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms Celina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertarungan di Balik Layar
Seminggu terakhir terasa seperti berjalan di atas kawat berkarat yang tajam. Setiap hari, ketegangan semakin meningkat, seolah udara di Kota Meksiko dipenuhi listrik statis yang siap meledak kapan saja. Kabar burung mengenai masa lalu Mario yang misterius mulai berhembus di kalangan bisnis, dibisikkan dari mulut ke mulut, dihiasi bumbu-bumbu yang membuatnya semakin kotor dan menjatuhkan nama baik. Alejandro Vargas bekerja sangat rajin, menyebarkan keraguan, menanam kecurigaan, dan mencoba meyakinkan dunia bahwa Mario Whashington bukanlah pemimpin yang layak, melainkan penipu yang menyembunyikan aib besar.
Namun di tengah badai itu, Mario tetap tenang. Ia tidak panik, tidak marah, dan tidak terlihat tertekan sedikit pun. Justru sebaliknya, ia tampak lebih tajam, lebih dingin, dan lebih berbahaya dari sebelumnya. Bagi siapa pun yang melihatnya, Mario adalah sosok yang tak tergoyahkan, sebuah gunung batu yang kokoh meski diterjang badai. Namun hanya Valerie yang tahu betapa beratnya beban yang dipikul pria itu. Hanya Valerie yang melihat bagaimana di malam hari, saat semua orang sudah pergi, Mario duduk sendirian di ruang kerjanya yang luas, menatap ke luar jendela dengan tatapan lelah namun penuh tekad.
Siang itu, mereka berkumpul kembali di ruang kerja utama. Selain Mario dan Valerie, ada Ricardo, Camila, serta Mateo Guerrero—kepala pasukan pengawal pribadi Mario, pria kekar dengan tatapan tajam yang jarang tersenyum. Di atas meja, terbentur berkas-berkas bukti yang dikumpulkan tim penyelidik pribadi Mario. Semua hal yang dilakukan Alejandro Vargas selama bertahun-tahun, setiap transaksi mencurigakan, setiap koneksi gelap, setiap kesalahan yang pernah ia buat, kini tersusun rapi di atas kertas.
“Vargas berpikir dia satu-satunya yang pandai menggali kotoran orang lain,” kata Ricardo dengan nada dingin sambil mengetuk salah satu berkas tebal itu. Wajahnya yang biasanya ceria kini tertutup bayangan serius. “Dia sibuk mencari jejak masa lalumu di Vela Nera, dia sibuk memutarbalikkan fakta agar terlihat kau melakukan hal-hal tercela, sementara dia sendiri berenang di lumpur lebih dalam dari siapa pun. Lihat ini… penyuapan, penggelapan pajak, kerja sama dengan sindikat gelap, bahkan dugaan pelanggaran hak asasi manusia di proyek pertambangan lamanya. Dia berpikir semua itu sudah dikubur dalam-dalam dan hilang ditelan waktu. Bodoh. Tidak ada jejak yang benar-benar hilang selamanya.”
Mario duduk di kursinya, bersandar santai namun matanya memancarkan cahaya tajam. Ia menatap dokumen-dokumen itu, lalu mengalihkan pandangannya ke arah Valerie yang duduk di sisi lain meja, diam dan menyimak sambil mencatat hal-hal penting.
“Dia bermain api, Ricardo,” ujar Mario pelan, suaranya rendah namun bergema kuat. “Dia berpikir dengan menyerang titik terlemahku—masa penyamaranku—dia bisa menjatuhkanku tanpa harus khawatir tentang dirinya sendiri. Dia mengira aku tidak akan berani melawan habis-habisan karena takut aibku terbongkar sepenuhnya. Dia salah besar.”
Mario bangkit berdiri, berjalan mengelilingi meja kerja dengan langkah tenang namun penuh ancaman yang tak terucapkan.
“Aku tidak pernah malu dengan apa yang aku lakukan di Vela Nera. Aku tidak pernah malu menjadi manusia biasa, bekerja keras, melayani orang lain, dan melihat dunia dari bawah. Justru itu yang membuatku mengerti banyak hal, yang membuatku menjadi pemimpin yang lebih baik. Vargas mengira itu aib? Dia mengira menjadi pendamping adalah hal rendah? Baginya, nilai seseorang hanya diukur dari jumlah uang di rekening bank dan kekuasaan yang dipegang. Itu yang membuatnya rendah, bukan aku.”
Ia berhenti tepat di samping kursi Valerie, menatap wanita itu dengan tatapan yang melembut seketika.
“Dan satu hal lagi yang tidak dia perhitungkan… ada Valerie. Dia menyerangku, dia menyerang reputasiku, dia menyerang masa laluku. Tapi saat dia melibatkan Valerie, saat dia mencoba menjatuhkannya atau mencoreng namanya… dia sudah melintasi batas. Itu kesalahan terbesarnya.”
Valerie mengangkat wajahnya, menatap mata cokelat itu. Ia merasakan getaran kekuatan yang luar biasa dari pria di sampingnya. Mario tidak lagi berbicara sebagai pebisnis yang bernegosiasi. Ia berbicara sebagai pria yang siap berperang demi orang yang dicintainya.
“Jadi apa rencanamu?” tanya Valerie lembut namun tegas. “Kita tidak bisa hanya diam menunggu dia menghancurkan segalanya. Semakin lama kita diam, semakin banyak kebohongannya yang dipercaya orang.”
Mario tersenyum samar, senyum yang mengingatkan Valerie pada senyum misterius pria itu saat pertama kali bertemu. Namun kali ini, di balik senyum itu tersimpan strategi yang matang dan berbahaya.
“Kita tidak akan diam, Valerie. Tapi kita juga tidak akan bertindak gegabah seperti yang dia harapkan. Vargas ingin aku marah, ingin aku bertindak emosional, ingin aku membuat kesalahan. Dia ingin aku sibuk membela diri sehingga aku lupa melihat kelemahan besar yang ada pada dirinya sendiri.”
Mario menunjuk tumpukan berkas bukti milik Vargas.
“Kita akan biarkan dia bicara sepuasnya dulu. Biarkan dia menyebarkan gosip, biarkan dia memutarbalikkan fakta, biarkan dia merasa dia sedang menang. Semakin dia tinggi melompat, semakin sakit jatuhnya nanti. Saat dia merasa paling aman, saat dia yakin dia sudah membuatku terpojok… saat itulah kita menyerang. Dan kita tidak hanya akan membela diri, tapi kita akan membalikkan keadaan sepenuhnya.”
Ia menatap Ricardo dan Mateo bergantian.
“Ricardo, siapkan semua bukti ini. Pastikan semuanya sah secara hukum, terverifikasi, dan siap digunakan kapan saja. Mateo, perketat keamanan di mana-mana, terutama di sekitar Nona Smith. Aku ingin tahu setiap langkah yang diambil anak buah Vargas, setiap orang yang dia hubungi. Aku tidak mau ada celah sekecil apa pun.”
Lalu pandangannya kembali jatuh pada Valerie, nadanya melembut namun penuh peringatan.
“Dan kau… kau harus tetap di bawah pengawasan ketat. Aku tahu kau benci dikawal, aku tahu kau merasa ini membatasi kebebasanmu. Tapi demi keselamatanmu, aku tidak akan berkompromi sedikit pun. Vargas tahu kau penting bagiku. Dia tahu kau adalah alasan mengapa aku menghentikan penyamaran itu. Baginya, kaulah kunci untuk menguasai atau menghancurkanku. Dia tidak akan ragu menggunakan cara apa pun untuk mendekatimu, menekanmu, atau bahkan menyakitimu. Jadi tolong… biarkan Mateo dan anak buahnya menjagamu. Demi aku.”
Valerie mengangguk pelan. Ia mengerti bahayanya. Ia bukan lagi sekadar pengacara yang menangani kasus besar. Ia adalah bagian dari permainan kekuasaan yang berbahaya ini, dan posisinya tepat di jantung medan pertempuran.
“Aku mengerti, Mario. Aku akan berhati-hati. Tapi ingat… aku juga bagian dari tim ini. Jika ada yang harus dilakukan, jika ada keputusan yang harus diambil, aku ingin dilibatkan sepenuhnya. Aku tidak mau hanya duduk diam menunggu hasilnya.”
Mario tersenyum lega, mengusap bahu wanita itu sekilas sebagai tanda persetujuan.
“Tentu saja. Kau otak dari semua ini sekarang, Valerie. Tanpa kecerdasan dan ketajaman hukummu, semua bukti ini hanya akan menjadi tumpukan kertas tak berguna. Kau yang akan mengatur langkah hukum kita. Kau yang akan memastikan bahwa saat pukulan itu dilayangkan, itu sah, benar, dan mematikan bagi Vargas.”
Beberapa hari berlalu dalam ketegangan yang makin memuncak. Berita-berita negatif mulai bermunculan di media, terutama di media sosial dan kolom-kolom gosip bisnis. Tulisan-tulisan yang meragukan integritas Mario, yang mengungkit masa lalunya yang "gelap", yang bertanya-tanya bagaimana mungkin orang yang pernah hidup di pinggiran sosial bisa memimpin perusahaan sebesar Grup Whashington. Vargas bermain sangat kotor, menggunakan orang-orang bayaran untuk memanipulasi opini publik.
Namun Mario tetap tenang, seolah berita-berita itu tidak ada artinya baginya. Ia tetap bekerja seperti biasa, memimpin rapat, mengambil keputusan besar, dan menjalankan bisnisnya dengan efisiensi yang luar biasa. Justru ketenangannya itu yang membuat banyak orang mulai ragu. Jika Mario benar-benar bersalah atau terancam, mengapa dia tidak panik? Mengapa dia tampak lebih kuat dari sebelumnya?
Sore itu, Valerie sedang berada di kantor pribadinya di gedung firma hukumnya, menyelesaikan draf laporan hukum yang akan menjadi senjata utama mereka nanti. Ruangannya hening, hanya diisi oleh suara ketikan jari di atas papan ketik komputer. Di luar jendela, langit Kota Meksiko mulai berubah warna menjadi jingga kemerahan, tanda matahari akan terbenam.
Tiba-tiba, telepon di mejanya berdering. Nomor yang tidak dikenal. Valerie ragu sejenak, lalu mengangkatnya.
“Halo?”
Suara berat dan kasar terdengar dari seberang, suara yang tidak asing namun tidak pernah ingin ia dengar.
“Nona Valerie Smith… wanita yang sangat berani. Dan wanita yang sangat berharga bagi Mario Whashington.”
Jantung Valerie berdegup kencang. Itu dia. Alejandro Vargas.
“Apa yang kau inginkan, Tuan Vargas?” tanya Valerie dengan suara setenang mungkin, berusaha menyembunyikan rasa takutnya. Ia memberi isyarat diam-diam pada salah satu pengawal yang berdiri di luar pintunya agar bersiap.
“Ah, langsung pada intinya. Aku suka itu. Sama seperti kekasihmu yang sombong itu. Kau tahu, Nona Smith… Mario sedang membawamu ke dalam lubang neraka. Dia berpikir dia raja, dia berpikir dia bisa mengendalikan segalanya. Tapi dia sedang runtuh, pelan tapi pasti. Reputasinya hancur, orang-orang mulai meninggalkannya, dan sebentar lagi dia tidak akan punya apa-apa.”
Vargas tertawa rendah, suara yang terdengar licik dan mengerikan.
“Dan kau… sayang sekali. Wanita cerdas sepertimu terjebak dalam permainan konyolnya. Kau tahu kan? Awalnya dia hanya menganggapmu sebagai bagian dari ujian? Kau hanya eksperimen baginya. Dia menyamar hanya untuk mencari kesenangan dan kepastian egoisnya sendiri. Dan sekarang, saat dia dalam bahaya, dia menyeretmu masuk juga. Kau pikir dia benar-benar mencintaimu? Atau kau hanya satu-satunya hal yang tersisa yang bisa dia banggakan?”
Kata-kata itu menusuk tajam ke dalam hati Valerie. Meskipun ia tahu itu semua adalah provokasi, meskipun ia tahu Vargas hanya ingin mengacaukannya, tetap saja ada rasa sakit yang tergores. Keraguan lama kembali muncul. Apakah Mario benar-benar mencintainya? Atau apakah ia memang hanya bagian dari rencana gila itu?
“Kau salah, Vargas,” jawab Valerie tegas, menegakkan punggungnya. “Kau tidak tahu apa-apa tentang kami. Kau hanya tahu tentang kekuasaan, uang, dan kebencian. Kau tidak pernah tahu apa itu cinta atau kepercayaan. Dan kau salah satu hal lain… Mario tidak sedang runtuh. Dia sedang bersiap untuk menghancurkanmu. Dan percayalah, saat itu terjadi, tidak akan ada yang tersisa darimu.”
“Hahaha! Berbicaralah sepuasmu, Nona Smith. Lihat saja nanti. Dan ingatlah… ke mana pun kau pergi, apa pun yang kau lakukan… aku selalu bisa menjangkaumu. Mario mungkin punya banyak uang dan banyak pengawal, tapi aku punya cara yang tidak dimiliki uang. Hati-hati di jalan pulang, Nona Smith. Sore ini langit terlihat sangat indah, tapi bisa berubah menjadi gelap seketika.”
Sambungan telepon terputus.
Valerie menurunkan gagang telepon dengan tangan yang sedikit gemetar. Ancaman itu jelas. Vargas tidak hanya berbicara, dia bertindak. Valerie buru-buru menelepon Mario. Hanya butuh dua dering sebelum panggilan diangkat.
“Valerie? Ada apa? Kau baik-baik saja?” Suara Mario terdengar cemas, langsung menanggapi dengan cepat seolah dia sedang menunggu panggilan ini.
“Dia meneleponku, Mario. Vargas. Dia… dia mengancamku. Dia bilang dia bisa menjangkauku di mana saja.”
Di seberang telepon, keheningan sejenak terjadi, lalu terdengar suara benda berat terbentur—sebuah meja atau kursi—dan suara Mario yang berubah menjadi sangat dingin, sangat mengerikan, penuh amarah yang meledak tertahan.
“Dia berani… Dia berani menyentuhmu lewat telepon… Dia berani mengancammu…” Nada suaranya rendah dan bergetar karena kemarahan. “Dengar aku, Valerie. Tinggal di sana. Jangan bergerak ke mana pun. Mateo dan anak buahnya sudah ada di sana, tapi aku akan datang sendiri. Aku akan datang menjemputmu. Dan setelah ini berakhir… aku pastikan Vargas tidak akan pernah bisa mengancam siapa pun lagi selamanya.”
Panggilan terputus. Valerie duduk diam, napasnya memburu. Ia tahu batas sudah dilintasi. Vargas memancing emosi Mario dengan cara paling kejam: menyerang wanita yang dicintainya. Dan sekarang, pertempuran terbuka tidak bisa lagi dihindari.
Kurang dari dua puluh menit kemudian, Valerie mendengar suara deru mesin mobil yang kencang berhenti tepat di depan gedung kantornya. Ia melihat ke bawah dan melihat mobil hitam mewah milik Mario berhenti mendadak, dan sosok Mario berlari masuk ke dalam gedung, diikuti oleh Mateo dan beberapa pengawal lain dengan langkah cepat dan tegas.
Pintu ruangannya terbuka lebar tak lama kemudian. Mario masuk dengan napas sedikit terengah, matanya menyala merah karena amarah dan rasa khawatir yang luar biasa. Wajahnya yang biasanya tenang dan terkontrol kini terlihat garang, menakutkan bagi siapa pun yang melihatnya, namun bagi Valerie hanya terlihat sebagai pria yang takut kehilangan segalanya.
Mario tidak bicara sepatah kata pun. Ia langsung menghampiri Valerie, menarik wanita itu ke dalam pelukannya yang erat, sangat erat, seolah ingin menyatukan tubuh mereka menjadi satu agar tidak ada bahaya yang bisa menyelinap di antara mereka. Ia membenamkan wajahnya di ceruk leher Valerie, menghirup napasnya dengan panik, memastikan wanita itu ada di sana, aman, nyata.
“Maafkan aku… maafkan aku, Valerie…” bisiknya berulang kali, suaranya serak dan penuh rasa bersalah. “Semua ini terjadi karenaku. Semua bahaya ini, semua ancaman ini… semuanya karena aku membawamu masuk ke dalam hidupku. Andai aku tidak pernah mendekatimu di klub malam itu… andai aku membiarkanmu pergi seperti rencanaku awal… kau tidak akan berada dalam bahaya ini.”
Valerie merasakan bahu lebar pria itu bergetar. Mario Whashington, orang terkaya dan paling berkuasa, pria yang tak pernah menunjukkan kelemahan pada siapa pun, kini gemetar ketakutan hanya karena ancaman terhadap nyawa wanita yang dicintainya.
Valerie memeluk pinggang Mario erat, membalas pelukan itu dengan kekuatan yang ia miliki. Ia mengusap rambut hitam itu lembut, berbisik menenangkan.
“Jangan bicara begitu, Mario. Jangan pernah menyesali pertemuan kita. Aku tidak menyesal. Bahkan jika aku tahu akan ada bahaya sebesar ini di depan, aku tetap akan memilih bertemu denganmu malam itu. Aku tetap akan memilih mengenalmu, apa pun bentukmu.”
Ia menarik sedikit wajah Mario agar bisa menatap mata cokelat itu. Air mata menggenang di sana, bercampur dengan amarah yang membara.
“Vargas ingin kita takut. Dia ingin kita saling menyalahkan, ingin kita terpecah, ingin kita lari ketakutan. Tapi dia salah. Dia tidak tahu apa yang kita miliki. Dia tidak tahu bahwa kita bukan hanya klien dan pengacara, bukan hanya kekasih… kita adalah tim. Dan selama kita berdiri bersama, tidak ada apa pun yang bisa mengalahkan kita. Bahkan dia sekalipun.”
Mario menatap wanita itu, menatap kekuatan yang memancar dari mata indah itu. Perlahan, amarahnya berubah menjadi tekad yang membaja. Ia mengusap wajah Valerie dengan tangannya yang kasar namun lembut.
“Kau benar. Kau selalu benar. Vargas ingin perang? Aku akan berikan dia perang yang paling dia sesali seumur hidupnya. Besok. Besok