Aletha merupahan remaja yang sangat senang akan dunia malam. Ia juga merupakan anak konglomerat yang terkenal di kota Metropolitan. Tapi kini dirinya harus di hadapkan dengan perjanjian kontrak dengan Danny yang sepertinya menguntungkan? atau malah merugikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooniecaa_moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan—30
Di dalam kamar Royal Suite The Savoy yang hangat, Danny melangkah menjauh sejenak dari ranjang tempat Aletha sedang menenangkan diri. Ia meraba saku celananya, mengambil ponsel miliknya, lalu mencari sebuah nomor yang sangat penting baginya. Panggilan internasional itu langsung tersambung pada nada dering kedua.
"Halo, Danny? Ada apa? Bagaimana keadaan di Eropa?" Suara bariton Pak Adinata terdengar di seberang telepon, sarat akan kecemasan seorang ayah yang tahu putrinya pergi membawa luka yang belum sembuh.
Danny menarik napas dalam-dalam, menatap Aletha yang sedang memperhatikannya dari kejauhan dengan mata sembap. "Selamat pagi, Om. Saya punya informasi yang sangat penting. Ini mengenai Tante Jessica."
Sejenak, hening mencekam melanda sambungan telepon tersebut. "Apa maksudmu, Danny? Jangan bercanda soal mendiang istriku."
"Saya tidak pernah bercanda mengenai hal sepenting ini, Om," sahut Danny, suaranya terdengar sangat tenang namun penuh penekanan. "Dua tahun lalu, tidak pernah ada ledakan kapal selam di Laut Pasifik. Itu semua adalah manipulasi dari kompetitor bisnis Om. Tante Jessica diculik dan dipaksa bekerja di sebuah laboratorium bawah tanah di perbatasan internasional. Dan beberapa jam yang lalu, tim elit saya di sini baru saja berhasil mengevakuasi Tante Jessica dalam keadaan hidup dan tanpa luka sedikit pun."
Prang!
Suara benda pecah terdengar dari seberang telepon, disusul oleh suara napas Pak Adinata yang mendadak memburu hebat. Pria paruh baya yang biasanya selalu tegap dan berkuasa di dunia korporasi itu mendadak kehilangan seluruh artikulasinya.
"D-Danny... kamu... kamu serius? Istriku... Jessica... dia masih hidup?!" Suara Pak Adinata bergetar hebat, hancur oleh rasa tidak percaya yang bercampur dengan harapan yang tiba-tiba membubung tinggi ke langit.
"Dia masih hidup, Om. Saat ini ada di tempat aman bersama tim saya," tegas Danny. "Saya harap Om Adinata bisa segera menyusul ke sini hari ini juga menggunakan jet pribadi yang sudah saya siapkan di Jakarta. Aletha membutuhkan Om di sini untuk menyambut Tante Jessica."
Mendengar bahwa informasi ini keluar langsung dari mulut calon menantunya—seorang Danny Atonio yang terkenal tidak pernah membuang kata untuk omong kosong—Pak Adinata tidak memiliki alasan untuk ragu lagi. Air mata seorang suami yang mengira telah kehilangan belahan jiwanya akhirnya runtuh di ruang kerjanya yang sepi.
"Aku berangkat sekarang, Danny. Jaga istri dan anakku sampai aku tiba di sana!" ujar Pak Adinata penuh emosi sebelum memutus sambungan telepon secara sepihak untuk bergegas menuju bandara.
Siang harinya, matahari bersinar cerah di atas kediaman pribadi Samuel dan Ody di pinggiran kota. Sebuah Range Rover hitam milik Danny memasuki pekarangan mansion yang sunyi dan dikelilingi oleh pepohonan rindang.
Di dalam mobil, Aletha meremas jemari tangannya sendiri yang terasa sangat dingin. Gaun maroon semalam telah diganti dengan pakaian kasual yang rapi, namun detak jantungnya berdentum berkali-kali lipat lebih kencang daripada saat ia berdiri di atas panggung pertunangannya kemarin. Ia merasa sangat gugup, begitu gelisah hingga bibirnya bergetar tanpa suara.
Danny yang duduk di sebelahnya memperhatikan hal itu. Dengan gerakan lembut, tangan kekar Danny menggenggam tangan Aletha, mengusap punggung tangannya dengan ibu jari untuk menyalurkan kehangatan. "Tenang, Tha. Ada gue di sini. Lo gak perlu takut lagi."
Aletha menoleh, menatap mata elang Danny yang selalu menjadi jangkarnya. Ia mengangguk pelan, mencoba menarik napas dalam-dalam untuk menata emosinya yang porak-poranda.
Begitu pintu mobil dibuka, Samuel dan Ody sudah berdiri tegak di depan pintu masuk mansion, menyambut kedatangan sang CEO dan tunangannya dengan anggukan hormat. Atmosfer dingin dan taktis yang biasa melekat pada kedua orang kepercayaan Danny itu siang ini tampak sedikit mencair oleh rasa kemanusiaan.
"Bagaimana kondisinya, Sam?" tanya Danny langsung begitu mereka melangkah masuk ke dalam lobi mansion.
"Nyonya Jessica sudah sadar sepenuhnya sekitar dua jam yang lalu, Tuan," jawab Samuel dengan nada rendah yang sopan. "Ody sudah memberikan penjelasan awal secara perlahan mengenai siapa kami, dan bahwa Nona Aletha saat ini berada di sini untuk menjemputnya. Kondisi psikologisnya sempat syok, namun sekarang beliau sudah jauh lebih tenang dan sedang menunggu di kamar tamu utama."
Ody melangkah maju, membukakan sebuah pintu ganda di ujung koridor yang mengarah ke area kamar tamu bernuansa klasik Eropa. "Silakan masuk, Nona Aletha. Beliau sudah sangat merindukan Anda."
Langkah kaki Aletha terasa sangat berat dan kaku saat menyusuri lantai kayu kamar tersebut. Begitu pintu kamar terbuka lebar, wangi aroma mawar samar yang sangat ia kenal—aroma tubuh ibunya yang selalu ia rindukan di setiap mimpi buruknya—langsung menyapa indra penciumannya.
Di dekat jendela besar yang diterpa cahaya matahari siang, seorang wanita paruh baya bertubuh kurus dengan pakaian rajut putih sedang duduk termenung. Begitu mendengar suara langkah kaki, wanita itu menoleh perlahan.
Manik mata mereka bertemu. Sepasang mata yang memiliki bentuk dan binar yang sama persis.
Seluruh dinding pertahanan Aletha runtuh dalam satu kedipan mata. Air mata yang sejak tadi ia tahan langsung merebak deras, membasahi pipinya tanpa bisa dibendung lagi.
"Bunda..." bisik Aletha, suaranya parau, begitu kecil dan gemetar seolah takut bahwa sosok di depannya ini hanyalah halusinasi dari mimpi buruknya yang biasa.
Mendengar suara panggilan itu, Jessica Kusuma Adinata langsung melebarkan matanya. Tubuhnya yang semula lemas mendadak mendapatkan dorongan energi yang luar biasa masif. Ia bangkit berdiri dari kursinya, menatap gadis cantik berambut hitam di depannya dengan pandangan yang penuh dengan kerinduan sedalam lautan.
"Aletha... anakku..." jerit Jessica dengan suara yang pecah.
Wanita paruh baya itu langsung berlari sekuat tenaga, mengabaikan rasa lemas di kakinya, dan langsung merengkuh tubuh Aletha ke dalam pelukan hangatnya yang teramat erat. Mereka berdua jatuh berlutut di atas karpet tebal kamar tersebut, saling mendekap satu sama lain seolah enggan memberikan jarak satu milimeter pun yang bisa memisahkan mereka lagi.
"Nak... ini Bunda! Ini Bunda, Sayang! Bunda kangen banget sama kamu, Nak..." tangis Jessica meraung-raung, mengusap rambut Aletha berkali-kali dengan tangan yang gemetar hebat. "Setiap hari... setiap malam di dalam kegelapan tempat terkutuk itu, Bunda selalu berdoa kepada Tuhan supaya bisa dibebaskan... supaya Bunda bisa liat wajah cantik anak Bunda lagi sebelum Bunda mati..."
Aletha tidak mampu mengeluarkan satu patah kata pun untuk menjawab ucapan ibunya. Tenggorokannya terasa tersumbat total oleh rasa haru, bahagia, dan sesak yang meluap-luap dari dalam dadanya. Ia hanya bisa menangis histeris di dalam pelukan hangat bundanya, mencengkeram erat pakaian rajut Jessica seolah takut jika ia melepaskan cengkeramannya, sang ibu akan kembali lenyap ditelan kegelapan palung laut.
Jeritan pilu penuh kebahagiaan dari sepasang ibu dan anak yang telah dipisahkan oleh konspirasi kejam selama dua tahun itu menggema di seluruh penjuru kamar, meruntuhkan keangkuhan siapa saja yang mendengarnya.
Di ambang pintu, Samuel dan Ody berdiri mematung. Ody—sang eksekutor wanita berdarah dingin yang terbiasa melihat kematian di lapangan—malam ini mendadak merasakan matanya memanas. Setitik air mata lolos dari sudut matanya, sebuah empati yang jarang sekali terusik dari jiwanya. Di sebelahnya, Samuel juga tampak menyeka sudut matanya dengan saputangan, merasa terharu karena analisis data rumitnya kali ini berhasil menyelamatkan sebuah keluarga yang utuh.
Sementara itu, Danny Antonio berdiri kokoh di belakang Aletha. Sepasang mata elangnya yang biasa memancarkan aura mengintimidasi dan kejam, siang ini tampak meredup lembut. Air mata perlahan mengalir di pipi tegas sang CEO, ikut menangis dalam diam menyaksikan runtuhnya seluruh duka yang selama ini menyiksa hidup tunangannya.
Danny menatap jemari Aletha yang terpasang cincin berlian pertunangan mereka. Di dalam hatinya, rasa syukur yang luar biasa membumbung tinggi. Sandiwara kontrak yang awalnya ia susun dengan penuh kepalsuan di Jakarta, kini telah membawanya pada takdir paling indah di daratan Eropa—menjadi pria yang berhasil mengembalikan senyuman dan kehidupan utuh bagi sang tunangan yang sepertinya ia cintai.