Gadis belia yang biasa di sapa Vio, jatuh hati pada seorang pengusaha sukses pemilik restoran didepan sekolah internasional tempat ia menimba ilmu.
Siapa sangka, pria sukses berstatus duda itu, pemilik tambak ikan gurami di kota mereka.
"Om gurami, nikah yuk!" tuturnya suatu sore.
Pria dingin itu hanya tertawa kecil, mendengar celotehan gadis belia berusia 17 tahun tersebut seraya berkata, "Kamu sekolah yang benar, nanti om biayain kuliah kamu."
Berhasilkah hubungan mereka berdua karena sang gadis tidak mengerti apa arti dari sebuah kata 'nikah' ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tya Calysta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membuktikan
Ketiganya memasuki ruangan ketua yayasan dan duduk saling bertatapan. Sangat berbeda dengan Inggit yang langsung mencubit kecil paha Viona begitu duduk disampingnya.
"Augh, ibu ... sakit!" rengeknya meringkuk di lengan sang bunda.
Akan tetapi, ketika Inggit mau menjawab rengekan sang putri, ketua yayasan lebih dulu berkata tegas kepada Viona, "Kamu dari mana, Vio? Bukankah hari ini ada kelas praktek untuk pelajaran kesenian? Kamu sangat di butuhkan dalam kegiatan di laboratorium bahasa. Malah pergi bersama pria dewasa, sekarang tunggu di luar! Nanti saya panggil kamu!"
Wajahnya langsung berubah panas, bagaimana mungkin Viona harus di tegur dihadapan semua orang. Di sana ada sang bunda, Mama Mutia, om gurami, juga Ibu Alma dan kepala sekolah yang sudah menunduk hormat dihadapan ketua yayasan. Mau tidak mau, ia berdiri, kemudian menundukkan kepalanya dan berlalu meninggalkan ruangan ketua yayasan.
Kedua bola matanya terasa sangat panas, ingin sekali Viona menangis. Ia tidak menyangka hari ini merupakan hari sial kedua baginya. "Mimpi apa gue semalam ... udah dapat fitnah dari orang yang tidak menyukai gue, dapat teguran pula dari Bu Benet. Nasib, nasib ... sial bener dah nasib lo. Mending gue ngumpet di kantin, biar tidak di marahin lagi sama ibu ..." tangannya masih mengusap lembut pahanya yang di cubit oleh sang bunda.
Setibanya Viona di kantin, ternyata ia bertemu dengan Alvin di sana. Ia melirik jam tangan yang melingkar di tangan kirinya seraya berkata, "Hei Alvin, ngapain lo pakai baju bebas? Jangan bilang lo bolos, ya? Hari ini ada terobosan, lho!"
Seringai Alvin menyeringai lebar begitu melihat gadis yang ia kagumi berdiri dihadapannya, "Gue nunggu Bunga. Katanya dia hari ini enggak mau ikut terobosan. Jadi mau jalan-jalan dulu kita ke taman kota. Secara karena lo nolak gue, dan memilih tidur sama om-om, cinta gue di terima Bunga."
Kening Viona mengerenyit masam, kedua alisnya turun naik mendengar kata 'tidur' dari mulut Alvin. Dirinya terpancing amarah, karena ia pikir belum pernah tidur dengan si om gurami. "Mulut lo bisa di jaga enggak, ya? Sejak kapan gue tidur sama om gurami? Baru juga pelukan, itupun di restoran, depan teman-temannya lagi. Nanti malam lo datang, ya? Gue nikah, jadi lo tidak boleh ganggu gue lagi! Sama ibu, gue tidak boleh pacaran sama ayah, tapi kalau langsung nikah dikasih izin," ejeknya, kemudian melanjutkan ucapan, "Makanya ... kalau lo naksir gue, langsung nikahin gue dong! Karena kata ibu, kita ini dilarang pacaran dalam agama!" Ia duduk di depan gorengan kemudian langsung melahapnya.
Di kepala Alvin seketika bertumpuk sejuta pertanyaan untuk Viona, akan tetapi ia tida mampu untuk berkata-kata karena dibelakang sang pujaan hati, sudah berdiri pria gagah yang pernah ia temui di rumah gadis belia tersebut. "Sial ... ternyata kedeluan om ini, yang renggut keperawanan Vio. Tenang Alvin, masih ada Bunga ... jadi urusan dengan Vio, kamu bisa mendapatkannya setelah om-om yang sok kecakepan ini pergi dari hidup lo ...!"
Viona masih melahap gorengan yang ada dihadapannya, tanpa mengetahui bahwa Juan sudah duduk di belakangnya, karena khawatir akan gadis itu, ditambah ia malas berhadapan dengan Alma, sang mantan istri.
Alvin berbisik sedikit menggeram, karena kedua bola mata Juan menatapnya penuh selidik, "Vi ... ada laki lo, tuh!"
Kedua alis Viona menaut, mulutnya masih berisi satu gorengan tahu isi berikut dua cabe rawit, kemudian berkata lagi, "Laki? Gue nikahnya nanti malam, Alvin begok. Kalau sekarang gue masih free. Lo mau ngelamar gue didepan ayah? Kalau mau, ayo cepetan, kita nikah!" tawanya terbahak-bahak.
Lagi-lagi Juan menelan ludahnya, ia sedikit penasaran dengan cerita gadis belia itu sambil menyela celotehan Vio, "Emang kalau kalian berdua menikah, mau makan apa, hmm? Kan dua-duanya masih sekolah, belum ada yang kerja!"
"Ya makan nasi lah! Di rumah tidak pernah kehabisan beras, insyaallah yah. Nah ... kalau jajan, kan ada ayah. Ayah masih kasih jajan, kok, sehari kadang-kadang dua puluh ribu, kadang juga bisa lebih," jawabnya asal, kembali melahap goreng pisang.
Dapat dibayangkan wajah Alvin betapa bingungnya, karena ia tidak menyangka, bahwa gadis yang selama ini ia kagumi, ternyata masih polos dan bicara selalu suka-suka, "Eh, yang ngomong itu calon laki lo, Viona! Bukan gue. Gue mah, enggak mau nikah, nikmati masa muda dulu! Tidak mau ngurusin drama rumah tangga yang ribet, apalagi nikahin lo, anak manja Bu Inggit yang jutek!" tuturnya sembari berpangku tangan dengan wajah angkuh.
Mendengar kalimat 'calon laki' kembali Viona membulatkan kedua bola matanya, "Lo kan, kandidat calon laki gue yang kedua? Kok wajah lo sengak gitu, sih? Lo marah, cemburu, karena gue lebih memilih om gurami daripada anak ingusan kayak, lo?"
Alvin hanya mengusap-usap lembut dagunya. Ia melirik kearah Juan yang juga menatapnya. Dengan wajah menunduk hormat ia hanya bisa menjawab pertanyaan Viona, "Gue sudah punya Bunga, jadi hari ini waktunya gue kencan sama sahabat, lo." Ia berdiri, kemudian berlalu meninggalkan kantin yang masih tampak sepi.
Viona langsung menolehkan kepalanya, melihat kepergian Alvin dari kantin, kemudian bersitatap dengan Juan yang sudah duduk sejak tadi di belakangnya. "Om ... ngapain om di sini? Jangan bilang om masih marahan sama Bu Alma? Nanti Bu Benet marah lho. Masuk sana?" Ia mengusir Juan agar meninggalkan kantin.
Juan kembali tersenyum tipis seraya berkata, "Mau berapa banyak pria yang kamu ajakin nikah, Viona? Saya pikir 'only me', ternyata masih ada saingan nih," tuturnya memperbaiki duduk mereka agar Viona yang menghadap kearahnya.
Tampak senyuman Viona mengembang malu, ia hanya menjawab singkat, "Kan aku cantik om. Om gurami harus bangga kalau nikah sama aku, aku cantik, pintar dalam tiga bahasa, juga bisa bernyanyi. Om mau dengerin aku nyanyi? Pokoknya, kalau kita nikah, setiap malam om pasti akan mendengar lantunan lagu cinta dari aku sebelum bobo lewat telepon," ia tertawa lepas, menggoda puncak hidung Juan yang tampak mancung juga tampan.
Juan semakin mengangguk, kemudian menjawab, "Kok lewat telepon? Bukannya kalau sudah menikah, kita tinggal bareng dan tidur bersama?"
Pertanyaan Juan membuat dada Viona berdebar-debar tidak karuan. Wajah yang awalnya tampak tertawa kecil menggoda pria muda nan tampan itu, tiba-tiba tampak salah tingkah. Gegas Viona meraih air botol mineral yang ada dibelakangnya, karena mendengar perkataan akan tidur bersama.
Tangan Viona bergetar, ketika Juan masih lekat menatap gadis belia yang masih menenggak air mineral tanpa bersisa.
Kembali Juan bertanya, "Kenapa, hmm? Takut kalau kita nikah terus tidur sama-sama? Kita bisa tinggal di rumah saya. Asal kamu mau mengurus semua urusan saya luar dan dalamnya," titahnya menyandarkan tubuh ke meja kantin yang berada dibelakang sambil menyilangkan kakinya, kemudian menggoyangkan nya.
Dapat dibayangkan bagaimana perasaan Viona saat itu, ketika mendengar dari Juan bahwa setelah menikah akan tinggal bersama dan mengurus semua kebutuhan di rumah mereka.
"Ta-ta-tapi om, aku tidak mau tidur sama om? Kata ibu dan ayah, laki-laki dan perempuan itu tidak boleh tidur sama-sama, nanti hamil bagaimana? Kan aku masih sekolah. Serem agh, si om gurami. Aku enggak mau tidur sama om. Nanti om gurami bisa saja melakukan pelecehan sama aku, entah itu pegang-pegang bagian tubuh aku, aku enggak mau!"
"Kalau sudah menikah mana ada pelecehan, Vio, kan sudah halal," Juan menjelaskan bahwa pernikahan itu tidak seperti yang ada dalam benak Viona.
Viona mengangguk membenarkan ucapan Juan, "Benar om, tapi kalau masih 17 tahun, belum boleh deket-deket sama cowok, nikah boleh. Pokoknya kalau kita sudah nikah, om jangan berencana untuk melakukan hal yang tidak benar sama aku. Karena ayah akan langsung memecahkan kepala pria yang menyakiti putrinya," seringainya dengan perasaan bangga.
Juan kembali tersenyum geli mendengar celotehan gadis belia yang sangat lucu itu. Ia hanya bisa tertawa kecil seraya berkata, "Vio, Viona, kamu itu masih kecil banget. Jangan pernah om denger kamu ajakin teman sekolah kamu menikah, ya? Kalau masih om dengar, om kasih kamu hukuman!"
"Ia om gurami. Kita ke ruangan ketua yayasan lagi, yuk? Sebentar lagi bel berbunyi, om. Jangan sampai orang-orang melihat aku ada di sini. Sekalian bayarin gorengan lima, ya. Aku enggak bawa uang, om ..." Ia kembali menyeringai, memperlihatkan giginya yang rapi juga putih.
Juan merogoh uang pecahan lima puluh ribuan, kemudian memberikan kepada Viona sambil tersenyum lebar, "Hmm, dia yang makan gorengan banyak-banyak, gue di suruh bayar. Kayaknya pelan-pelan harus di ajarin bagaimana caranya untuk hidup mandiri ..." titahnya dalam hati.
Setelah melakukan pembayaran, kemudian Vio mengembalikan uangnya pada Juan, "Nih om!"
"Buat kamu saja!"
"Serius?"
"Hmm ..."
Gegas Viona langsung tertawa, kemudian merangkul lengan Juan, sambil menyandarkan kepalanya dipundak pria muda dan tampan tersebut tanpa perasaan canggung.
Kedua-nya berjalan beriringan menuju ruangan ketua yayasan, sambil bercerita ringan seputaran pekerjaan.
"Om ..."
"Hmm ..."
"Kalau aku kerja di restoran om, boleh tidak?"
Langkah Juan seketika terhenti, disusul oleh Viona, kemudian memperhatikan gerak-gerik pria itu yang langsung mengembangkan tangan kiri dan kanan gadis belia itu. "Coba lihat otot tangan kamu?"
Tanpa sungkan Vio menaikkan kedua lengan bajunya, sengaja menunjukkan bahwa lengan kecilnya itu masih padat dan terlihat kuat bak binaragawati. Ia memukul-mukul lengannya sambil berkata, "Biasa angkat piring makan nih, om. Biar tidak di omelin ibu sama ayah!"
Perlahan Juan menggeleng, "Tidak akan kuat, karena tumpukan di restoran sangat berbeda dengan di rumah. Mendingan kamu seriusin dunia model kamu, biar om yang jadi managernya."
Tampak jelas bahwa Viona sangat berbeda menanggapinya, "Serius om mau? Mau temenin aku, dengerin omelan aku, cari job buat aku? Aku pen banget dapat iklan om. Jarinya doang masuk tipi enggak masalah deh, yang penting masuk tipi, om."
"Iya-iya, tapi kamu harus janji dulu!"
Keningnya kembali mengkerut delapan, "Janji apa? Janji suci diatas kertas?"
"Bukan!"
"Terus?"
"Kamu harus bisa membuktikan pada Bu Alma, bahwa kamu bisa mengerjakan semua tugasnya tanpa bantuan saya. Nanti saya akan menghubungi Om Petra, karena dia banyak mengenal produser iklan."
Entah mengapa, Viona langsung tertawa, melompat-lompat kegirangan, tanpa ia sadari kedua wanita paruh baya serta ketua yayasan sudah berdiri di depan pintu ruangan yang ada dilantai dasar tersebut.
Bergegas Inggit menghampiri sang putri, kemudian berbisik ketelinga Viona, "Mulai besok, kamu ibu kirim ke tambak ikan milik keluarganya Juan. Biar kamu jadi petugas pemberi makan pelet di sana. Jangan membantah, apa lagi menjawab! Ibu lagi marah Viona!"