Menikah atas keinginan orang tua merupakan sesuatu yang tidak di inginkan oleh siapapun termasuk Taka Sanjaya. Terlebih ia tidak tahu seperti apa bentuk perempuan yang di jodohkan dengannya. Ia merasa seperti membeli kucing di dalam karung.
Namun, apa jadinya jika kucing tersebut merupakan kucing anggora? Bagaimanakah kisah di antara keduanya?
Follow ig @wind.rahma
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wind Rahma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perempuan Paling Baik
Mereka saling melempar tatapan yang di sertai dengan senyum yang menyejukkan. Dan membiarkan keheningan menyelinap masuk di antara mereka.
"Mas, aku boleh tanya sesuatu?" pertanyaan Diba membelah keheningan setelah beberapa saat mereka saling diam.
"Iya, Diba mau tanya apa?" jawab Taka antusias.
"Mas ngomong apa aja sama ayah di teras?"
Taka diam sejenak. Mengingat apa saja yang tadi ia obrolkan dengan mertuanya.
"Banyak. Mas ngobrol selama satu jam sama ayah. Banyak yang mas obrolin. Kenapa memangnya?" Taka bertanya balik.
"Ibu bilang kalau ayah tiba-tiba aja bilang mau berhenti merokok. Padahal selama ini ibu sudah meminta ayah untuk berhenti merokok karena ayah punya riwayat asma. Tapi ayah tidak pernah mau dengar apa yang di katakan ibu dan Dokter. Apa mas bilang sesuatu ke ayah? Sampai ayah tiba-tiba mau berhenti merokok, padahal kata ibu, ayah masih memegang rokok di tangan yang masih menyala."
Taka tersenyum dan itu membuat Diba jadi merasa heran.
"Kok mas malah senyum? Mas bilang apa emangnya sama ayah?" Diba jadi merasa penasaran.
"Awalnya mas tanya ayah merokok. Karena sebelumnya mas tidak melihat ayah merokok. Ayah jawab iya, katanya. Terus ayah nanya balik, apa mas juga merokok atau tidak. Mas bilang tidak. Karena mas bilang merokok itu buruk bagi kesehatan. Terus kami juga sempat membahas rokok itu halal atau haram. Ayah bilang kalau merokok itu tidak haram, tidak juga halal. Katanya merokok itu makruh."
Diba menatap suaminya dengan serius saat pria itu mencoba untuk menceritakan padanya mengenai berhentinya sang 'ayah merokok.
"Terus mas tanya, apa ayah suka baca Al-quran atau tidak. Maaf, dengan sombongnya ayah menjawab jika ayah bahkan hafal sepuluh juz."
Diba tersenyum mendengar suaminya mengatai jika ayahnya sombong. Karena memang itu kenyataannya.
"Ayah juga sempat bilang apa mas mau dengar ayah membacakan ayat Al-quran yang ayah hafal. Mas bilang tidak. Mas bukan ingin mengetes apa ayah suka baca Al-quran atau hafal berapa juz. Mas hanya ingin bilang jika mulut yang di pakai untuk membaca Al-quran alangkah baiknya jangan di gunakan untuk merokok."
"Terus?"
"Ayah langsung diam. Terus ibu datang bawa kopi untuk ayah. Terus ayah minta ibu untuk buang rokoknya."
Diba menatap suaminya di sertai dengan senyuman kagum.
"Kenapa Diba natap mas seperti itu?" Taka sampai gugup di tatap sebegitu dalamnya oleh Diba.
"Mas hebat," puji Diba kemudian.
"Hebat?"
Diba mengangguk. "Iya, mas menantu paling hebat yang mampu menaklukan sang mertua. Omongan istrinya aja tidak ayah dengar, tapi omongan menantunya langsung ayah terima tanpa bantahan sedikitpun."
"Mas hanya mengingatkan. Itu saja, karena merokok itu tidak baik untuk kesehatan. Selebihnya mas belajar dari Diba untuk menjadi orang baik."
"Diba tidak sebaik yang mas kira."
"Tapi Diba perempuan paling baik yang pernah mas temui."
Jawaban Taka mampu menggetarkan hati Diba. Dan baginya, Taka merupakan satu-satunya laki-laki yang bisa membuatnya jatuh hati dalam hitungan detik saja. Mungkin karena mereka sudah halal, jadi Diba tidak takut untuk jatuh cinta pada laki-laki yang merupakan suaminya sendiri.
"Aku merasa jika aku perempuan paling beruntung yang di nikahi, mas. Aku bahkan tidak perduli siapa saja wanita yang ada di masa lalu, mas."
Mendengar kalimat Diba barusan, membuat Taka seketika mengingat Vina. Entah kenapa, ia khawatir jika masa lalu nya justru akan melukai Diba.
_Bersambung_