Mencintai jauh lebih mudah dari pada dicintai. Di saat Tita mencintai seseorang tapi sayangnta cinta hanya Cinta Sepihak. Mencintai tanpa di cintai sangat menyakitkan, sampai hati tak berhenti tersakiti.
Dari banyaknya perjuangan akankah Tita mendapatkan cinta dari sanga pujaan hati, atau justru Tita akan menemukan laki laki yang mencintainya apa adanya?
Simak terus kisah cinta Tita selanjutnya. Jangan lupa beri like, dan tanda love.
Terima kasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Nur Hastaman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
eps 11
Tita masih menyendar pada bahu Alan
"kak ...kakak laper gak"
Alan hanya mengangguk
tita bergegas dan berlahan menuju kebun mentimun.
"Lo ngapain ta ...?"
Alan pun mendekati tita yang tengah membolak balikkan timun.
"mau pilih timun yang masih seger kak!!"
dan tita memetik dua mentimun
" gua ambilin deh ta yang gede...biar Lo kenyang hehehe" ejek Alan
"Gak enak kak enk yang kecil masih ranum"
Alan menyodorkan mentimun seolah mengejek tita
muka tita seketika memerah.
tita mencubit Alan dia pun berlari kecil
" wekkkkk.." dia menjulurkan lidah😝
Alan pun berlari mengejarnya
brukkkk...
tita terjatuh dan lututnya sedikit berdarah
" ya ampun ta...Lo berdarah"
Alan memapah tubuh tita
" gua gapapa kok kak"
" gua dari kecil udah kebiasa jatuh disini "
" haaa.... biasa jatuh disini, emang Lo dari kapan kenal tempat ini" Alan mengernyitkan kening
" dari kecil, kebun ini milik paman gua kak"
mereka ngobrol panjang lebar
hari pun mulai sore
mereka bergegas untuk pulang.
Alan mengantar tita pulang
satu setengah jam berlalu ..
mobil Alan sampai di depan rumah
" mampir yuk kak.."
" gak deh ta gua langsung pulang ya, mau mandi ni badan bau mentimun"
" maklum tadi gua jadi buruh soalnya"
Hahahaha....!!
mereka tertawa terbahak bahak
Bagas dan Levin mendengar tawa tita di depan rumah
" bang tita dah pulang gua keluar dulu ya"
Bagas mengangguk
(Aduhh bakal ada hati yang terluka nih) gumam Bagas sembari mengikuti Levin dari belakang.
Levin terbelalak saat dia mendapati Alan yang bersama Tita tengah mengusap ujung kepala gadis cantik tersebut. Tentu saja hati Levin saat ini terbakar api cemburu. Ia sangat murka melihat Alan tersenyum mesra kepada Tita.
brakkkk...
Levin memukul pintu dengan kerasnya
membuat mereka berbalik dan melihat levin.
"Kenapa di rumah Lo ada dia?" Alan menatap tajam Levin yang saat ini berjalan mendekat ke arah mereka.
"Aku tidak tau kak, paling dua lagi maem sama bang Bagas. Mereka sering main game bareng kalau lagi free"
Dengan perasaan marah, Levin menghampiri Alan sembari membawa gepalan tangan. Mengingat berapa kali hati Tita terluka olehnya, dan bagaimana perlakuan Alan selama ini.
Bugkkk...
Satu pukulan keras menghampiri pipi Alan sampai membuatnya hampir terjatuh "Apa apaan lo Vin? datang datang main pukul orang kaya gitu" Prates Alan.
"Ngapain Lo kesini? apa belum puas Lo selama ini nyakitin Tita,haaa? didah cukup lo nyatikin dia, jadi gua mau lo jauhi dia atau gua nggak nggak bakal tinggak diam" Levin ingin memukulnya lagi, Namun Tita dengan cepat menghentikan tangan Levin "Stop. Kamu apaan sih Vin" menangis tangan Levin seraya memelototinya.
bugkkkk..
Alan balas memukul Levin
namun Levin hanya terdiam karna dia tak mau membuat menyakiti hati Tita sedikit pun "Pukul gua sampai lo puas. Lagian kalau gua kenapa napa nggak bakal ada yang sedih juga kok" Sambil mengulas senyum ia mendekatkan diri seolah menantang Alan.
"Levin cukup. Gua tadi yang ngajak dia pergi. Dia nggak salah kok. Kenapa Lo mukul dia emang Lo siapa gua?"Ujar Tita tanpa menghiraukan perasaan Levin pada saat itu.
Kata kata Tita menyakiti hatinya sampai terasa sesak (Tita benar gua bukan siapa siapa dia) Akhirnya Levin memundurkan langkah"Oh iya gua lupa Ta, gua bukan siapa siapa buat Lo. Sorry, kalau gua udah mukul dia(Menunjuk Alan). Sekarang gua sadar, siapa gua di mata Lo. Maaf udah ikut campur dalam urusan lo"
Levin pun pergi menjauh dan pergi begitu saja.
"Vin....dengerin gua dulu, maksud gua bukan begitu" Ucap Tita berusaha mengejar Levin, namun dia sudah tak di menbhiraukan ucapan Tita lagi. Rasa sakitnya begitu dalam. Sekali pun tidak pernah terbayang kalau Tita akan berbuat sepeemrti itu padanya. Tanpa permisi Levin meninggalkan mereka.
Bagas yang hanya mampu melihat mereka dari kejauhan memilih diam dan melihat tanpa bereaksi sedikit pun "Berabe kan jadinya kalau kaya begini" Lirih Bagas sembari kembali ke dalam rumah.
"Apakah dia pacar lo?" seketika Alan membuyarkan pandangan Tita "Bukan, kak. Kami cuma temen saja kok"tegas Tita.
"Oh begitu ya kok agresif banget tu anak, sok jadi pacar yang cemburu saat ceweknya pukang sama cowok lain" Menyentuh wajah yang tertinju oleh Levin "Bonyok muka ganteng gua gegara tu munyuk" Alan mengusap pipi yang sakit karna pukulan Levin tadi.
Segera Tita menjulurkan tangan mengusap pipi sang pujaan hati. Sesekali ia meniup lembut pipi Alan "Maaf ya kaka jadi memar seperti ini. Bagaimana kalau aku bantu obati dulu"
"Nggak usah Ta, memar dikin gini nggak jadi masalah kok. I'm fine. Ya sudah kalau begitu gua pamit pulang dulu ya. Jangan lupa makan yang banyak biar cepet gede" Mengusap kepala Tita.
"Tapi kakak tidak apa apa kan? kaka tidak sakit kan??"
Alan menggeleng. Dia pun pamit pulang "Gua pulang dulu ya, makasih untuk hari ini" Senyum manis melebar dari bibir Alan.
"Hati hati di jalan kak...." Tita melambaikan tangan mengiringi kepergian Alan.
Entah kenapa hati Tita terasa sedikit sesak saat dia mengingat wajah Levin yang penuh dengan rasa kekecewaan dan kesedihan "Jadi nggak enak sama Levin. Tapi dia sendiri yang salah, ngapain nonjok kak Alan kaya tadi" Tak mau ambil pusing, ia pun berjalan masuk kedalam rumah.
"Dek....boleh abang bicara sebentar" Bagas mendekat pada adiknya "Kamu boleh bahagia tapi jangan menyakiti orang lain. Selama ini Levin sudah menemani kamu, dia yang menjadi sandaran kamu di saat kamu butuh bahu untuk bersandar. Bukan maksud Abang ikut campur masalah percintaan kalian, tapi coba pikirkan perasaan dan hati Levin, dia mencintai kamu dek"
Bagas mencoba menasehati tita dia juga memeluk adiknya, karena dia tau saat ini hati Tita tengah di lundung gundah gulana.
hik hik hik....
"Nggak mungkin bang, aky nggak suka sama dia. Bagiku dia itu cmhanya sekedar sehabat saja, tidak lebih dari itu. Aku juga sangat menyesel udah kasar sama Levin tadi. Tita bingung harus bagaimana bang, Tita nggak mau nyakitin hati siapa pun. Entah itu kak Alan atau pun Levinn. Mereka berdua punya tempat istimewa di hati Tita. Meski tempat mereka berbeda tapi aku sangat menyayangi mereka berdua" ucap Tita sembari memeluk erat tubuh sang kakak.
Bagas mencium kening tita. Ia tau bagaimana posisi Tita saat ini. Serba salah memang, tapi semua keputusan hati, siapa oun tidak berhak ikut campur.
"Sudahlah, adek Abang udah Segede gini kok nangis gak malu Lo di liatin kucing. Sudah kamu cepat masuk terus mandi lalu kita makan" Bagas mencoba mengalaihkan pembicaraan supaya tidak tenggelam dalam lautan luka.
"biarin....." tita melepas pelukan abangnya dia duduk di sofa panjang di ruang tamu dengan muka cemberut
Bagas menuju dapur mengambilkan minum dan potongan kue bolu kesukaan tita
" nihhh minum dulu tuan putri"
" makasih bang..."
tita meneguk air dan memakan kue tersebut dengan di suapi oleh sang kakak tercinta....
Salam dari
Bianca
Mencintaimu.
Thx
yang lain aja napa kak.
mau revisi aja belum sempet😔 tau gitu kemaren tak revisi dulu🙄🙄
nnti Mau Jdi PeLakor di Hubungan Orgg
baca novelku MY TIME FOR YOU🤗
ada bts,exo🤗 silahkan dibaca semua jika kalian minat😚
terimakasih🤗♥