Nada Aruna Lya seorang perempuan dewasa terpaksa menikah dengan Fardanu Satya Aji seorang bocah SMA hanya karena kesalahan satu malam yang tak sengaja mereka perbuat, mereka terpaksa terjebak dalam suatu hubungan pernikahan yang menurut Nada sangatlah absurd karena dalam kamusnya tak ada pernikahan dengan seorang laki-laki yang umurnya berada dibawahnya.
Akankah pernikahan mereka akan terjalin selamanya? Ataukah hanya sementara waktu?
"Gue enggak nyangka gue bisa nikahin bocah ingusan kayak lo!!" sentak Nada kesal, namun Danu hanya menatap Nada tenang seakan tak terpengaruh akan perkataan Nada yang mengejeknya.
"Bocah ingusan yang kamu bilang ini bisa memberikanmu kepuasan loh, apa kamu lupa?" Danu tersenyum menatap Nada yang kini melotot.
Penasaran dengan kisah mereka? Ayo dibaca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Simiftahul Jannah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Ngehalu Dikit Boleh?
"Nada!!! Tega ya lo?!!!" Nada menutup telinganya ketika suara Andini menggema memenuhi indra pendengarannya.
"Duh apaan sih Din? Suara lo toa banget tau!!" Andini memberengut kesal sambil mengambil tempat disebelah Nada.
"Gitu lo ya Nad, sahabatan sama gue kok gak ngundang-ngundang gue kalau lo nikah."
"Gimana gue mau ngundang lo kalau lo aja ada di luar kota." Balas Nada sambil memutar bola matanya.
"Eh iya ya? Cerita dong siapa laki lo? Jangan bilang kalau Pak Wira ya? Ceritain dong Nad."
"Ngehalu dikit boleh gak sih?" Tanya Nada yang tak dimengerti oleh Andini.
"Ngehalu gimana sih Nad?"
"Ya itu gue pengen ngehalu kalau yang jadi suami gue saat ini adalah Pak Wira." Suara tawa dibelakang mereka membuat Nada dan Andini membalikan tubuh mereka, terlihat Fany yang baru saja datang terbahak mendengar ucapan Nada.
"Gak usah ngehalu terlalu tinggi deh Nad, yang ada lo jatuh terus sakit." Tawa Fany yang kini telah berada dihadapan Nada dan Andini.
"Eh tunggu dulu deh, kalau bukan sama Pak Wira terus lo nikah sama siapa Nad?"
"Dia nikah sama berondong imut tuh Din, mana ganteng lagi orangnya. Gue lihat pas akad nikah Nada dan dia, nama cowok itu Danu." Nada memutar bola matanya jengah ketika mendengar Fany yang menjawab, terus saja... Ejek saja dirinya sesuka hati sepupunya itu.
"Hah serius Nad? Kok bisa?!"
"Ya bisalah, diajak ehem...eheman sama tuh bocah ya mau gak mau mereka nikah lah." Nada melotot ketika Fany berbicara seperti itu, memang dasar mulut ember gak bisa jaga rahasia!! Nyesel deh dirinya pernah bercerita pada Fany.
"Cieee si Nada udah gak jomblo lagi, udah jadi istri orang... Berondong lagi." Tuhkan Andini ikut mengejek dirinya, mengesalkan sekali mereka berdua ini.
"Berapa umur suami Nada Fan?" Nada kembali memelototi Fany seakan memberi kode pada sepupunya itu agar tak membuka mulutnya, namun Fany seakan tak mempedulikan kode dari Nada.
"18 tahun Din, masih SMA lagi." Andini menutup mulutnya sambil menatap Nada tak percaya.
"Lo pedofil Nad? Gak nyangka gue!!" Ucap Andini sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Nada menghela nafas sambil menatap kedua sahabat gesreknya ini, memang ya kadang punya sahabat seperti ini ada tidak enaknya juga. Ya seperti yang sedang Nada rasakan saat ini, bukannya menyemangati Nada karena kesialannya menikahi Danu mereka malah menggoda Nada habis-habisan. Menjadikan Nada objek lelucon mereka, tega sekali!! Tertawa diatas penderitaan Nada. Sekali lagi Nada harapkan, bisa tidak dia ngehalu sekali saja? Berharap Pak Wira lah yang menjadi suaminya. Nada pasti tanpa ragu mengumbar statusnya didepan khalayak umum, lah kalau saat ini? Bisa disangka ia habis arisan berondong dan menang terus membawa Danu sebagai hadiah arisannya.
"Kalian bisa gak cari bahan lelucon yang lain? Gak tau apa kalau orang lagi kesal." Kompak Andini dan Fany terbahak seakan menertawakan penderitaan Nada.
"Gak bisa!!" Nada memberengut mendengar mereka begitu kompak menggodanya.
Nada lebih memilih menutup telinganya sambil menelungkupkan wajahnya diatas meja, mencoba menutup pendengarannya dari bisik-bisik setan yang menyesatkan manusia. Berkali-kali Fany menyenggol lengannya namun tak Nada gubris, sepupu menyebalkannya ini memang harus diberi pelajaran olehnya. Awas saja nanti!!
"Eh Nad, lo kenapa? Sakit?" Erik yang telah hadir pun menghampiri Nada yang masih senantiasa dengan posisinya.
"Dia gak sakit kali, lagi mikirin suami berondongnya yang mungkin sibuk sama cewek-cewek seusianya." Malah Fany yang menjawab membuat Nada melepaskan tangannya yang menutupi kedua telinganya kemudian menatap Fany kesal, sekesal-kesalnya.
"Fan, bisa diem gak? Mau lo gue laporin sama Fahmi kalau lo kemarin habis lirik-lirik Pak Seto?!" Nada yang tak tahan menjadi bahan ejekan pun mengancam Fany hingga membuat wanita satu anak itu langsung kicep.
"Ah elah ancaman lo gak seru sih Nad? Jiwa gue kan perlu asupan nutrisi kegantengan yang hakiki kayak Pak Seto, meskipun gak bisa jadi istrinya boleh lah lirik-lirik dikit."
"Lo juga kan sering lirik-lirik Pak Wira padahal udah nikah sama Danu." Sambung Fany.
"Mau beneran gue laporin ke Fahmi lo?"
"Ih Nada sensian hari ini, lo PMS ya Nad?" Tanya Andini.
"Tau tuh, sesama cewek genit gak boleh main lapor-lapor."
"Kayaknya disini cuma gue deh yang normal diantara kalian bertiga." Sontak ketiga wanita itu menoleh kearah Erik yang tersenyum dengan bangganya.
"Emangnya kita gak tau kalau lo kadang suka lirik-lirik Bu Mala dengan mata jelalatan lo? Ingat istri lo lagi hamil dirumah Rik." Tegur Fany sok menasehati padahal sama saja.
"Kayak gue dong jomblo, jadi bisa lirik cowok mana aja. Sesuka hati gue." Tukas Andini bangga.
"Jomblo kok bangga." Cibir Nada yang tak ditanggapi oleh Andini yang sibuk memikirkan pria mana yang harus ia gaet.
"Eh iya, lo kan udah nikah ya Nad. Berarti gue boleh dong gaet Pak Wira untuk gue." Mata Nada melotot mendengar ucapan Andini.
"Enak saja lo, gak... Gak bisa... Cari cowok lain sana, Pak Wira udah gue hak patenkan." Andini mencibir mendengarnya.
"Jangan maruk gitu sih Nad, kan lo udah punya si berondong manis lo itu jadi ya gue sama Pak Wira yang sesama single bolehlah coba mencoba."
"Pernikahan gue kan belum tentu selamanya, jadi selagi menunggu status gue yang berubah jadi janda ya gue cari cowok yang siap nikahin gue lahir batin dong." Ucap Nada santai yang dibalas tak santai oleh Fany, Erik dan Andini.
"Jadi lo niat mau cerai sama Danu?! Astaga Nada, jangan gitu lah. Nyesel lo nanti kalau Danu dapet cewek yang lebih baik dari lo." Bermaksud menasehati namun sedikit mengejeknya, itulah Fany.
"Gue juga baik kali Fan, gak usah bikin gue jadi minder gitu deh apalagi cuma buat si berondong itu." Kesal Nada.
"Kalau lo gak mau lagi sama Danu, buat gue aja deh. Eh tapi orangnya gantengkan ya? Kenalin ke gue dong." Nada menatap Andini tajam.
"Gak boleh, dia milik gue!!"
"Pak Wira gak boleh, Danu juga gak boleh. Serakah lo Nad." Cibir Andini yang tak dipedulikan oleh Nada.
"Terserah, gue lebih peduli kalau Pak Wira sama cewek lain daripada sama lo."
"Ye si Nada, emaknya aja bahkan gak rempong Pak Wira mau dekat sama siapa. Lah lo siapa? Heran deh gue." Celetuk Fany yang terheran-heran dengan tingkah Nada.
"Sesama cewek centil gak baik ngatain balik." Nada mengikuti ucapan Fany tadi membuat Fany akhirnya diam karena kesal.
"Enak ya jadi orang ganteng, bisa diperebutkan sama cewek-cewek." Sontak Nada, Andini dan Fany yang tengah berbicara pun kompak menoyor kepala Erik.
"Oplas dulu sono biar muka lo kinclong tanpa jerawat, sukur-sukur ada yang mau sama lo Rik. Heran gue, mata bini lo katarak ya sampai mau nikah sama lo?" Kali ini Fany mengejek Erik, sepertinya emak satu anak itu suka sekali mengejek orang lain.
"Kalian aja yang gak bisa melihat kegantengan gue, bini gue mah matanya gak katarak. Tapi lo lo semua yang katarak." Ucap Erik sambil mengusap kepalanya yang terkena toyoran maut dari tiga wanita cantik dihadapannya.
"Eh Pak Wira udah datang tuh." Ucap salah seorang karyawan membuat semuanya kembali ke kubikelnya masing-masing.