Hanya kenyataan yang sangat cepat membuat ku merasakan hidup bersama orang baru yang sama sekali tidak aku kenal terlebih di usiaku yang baru menginjak 18 tahun.
Dan kejadian kejadian yang terjadi seperti proses kehidupan terkhusus untukku.
Angelina Clarzie.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Grace Putry, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10
Xavier POV
Sehabis pemakaman Mr Rian, aku beserta Angelina langsung kembali ke mansion kami. Angelina lebih memilih ke mansion daripada rumahnya sendiri. Aku bisa melihat ada sedikit trauma dan ketakutan di dirinya terutama rumah itu adalah tempat papa nya kehilangan nyawa.
Dan soal ibu tiri Angelina, aku menyuruh Adreas beserta anak buahku untuk mencarinya. Aku akan memburunya sampai ke manapun. Aku tahu Angelina pun memiliki janji kuat dalam dirinya untuk mencari ibu tiri nya dan menanyakan apa penyebab pembunuhan yang di lakukannya.
Hasil pemeriksaan dari tubuh tak berdaya Mr Rian adalah di temukannya racun yang sudah di campur dengan makanan yang beliau makan saat pagi hari. Racun yang bekerja dengan cepat hanya dalam beberapa jam.
Sepanjang perjalanan kearah mansion, aku mengemudi sambil melirik kearah Angelina yang hanya melamum memandang keluar jendela mobil.
"Hey baby. Jangan melamum."Tegurku
Dan hanya di jawab anggukan olehnya. Aku sendiri hanya bisa menarik nafas, sepertinya kedepan akan susah menghadapi Angelina yang seperti kehilangan separuh hidupnya seperti saat ini.
Sesampainya di mansion, Angelina langsung ku suruh untuk beristirahat sedangkan aku harus beetemu dengan Adreas guna membahas tentang kaburnya ibu tiri Angelina.
Ruang kerja Xavie
Aku masuk kedalam ruang kerjaku. Disana sudah ada Adreas
"Bagaimana hasil pencarianmu?."Ujarku langsung.
"Sudah kudapatkan Xavie. Chaterina sekarang berada di markas lama mu. Sudah ku suruh anak buahku untuk mengurusnya."Jawab Adreas sambil memandang kearah ku."Apa yang akan kamu lakukan terhadapnya?."Tanyanya lagi.
"Aku akan menemuinya nanti malam."Jawabku datar.
"Wow baru kali ini kamu turun langsung ke sana X. Selama ini kamu hanya memantau dari jauh."
"Kalau urusan yang satu ini berbeda dari biasanya Adreas. Ini berkaitan dengan Angelina."
"Baiklah. Aku harus kembali. Ku tunggu malam ini di markas."Ujar Adreas sambil berlalu dari hadapanku.
Aku memandang kosong ke arah depan. Semuanya akan berbeda terutama sikap dan perilaku Angelina. Aku harus benar benar bersikap tepat dengannya dan untuk Chaterina, sepertinya akan seru apabila aku bermain main dengannya sebentar. Seperti dia yang sudah mempermainkan hidup gadisku.
*****
Author POV
Malam hari ....
Disebuah mansion tua yang sudah berdiri sejak lama terdengar suara teriakan seorang wanita. Wanita itu berteriak hampir beberapa jam semenjak di bawa ke tempat itu.
Tetapi teriakan minta tolong dan ingin di lepaskan oleh wanita itu tidak di dengarkan oleh orang orang yang ada di tempat itu.
Sesosok lelaki tampan dengan setelan hitam yang di gunakannya melangkah dengan santai tetapi terlihat memyeramkan. Wajahnya yang bak dewa dan guratan emosi terlihat jelas di raut wajahnya.
"Selamat datang Boss."Ucap salah satu bawahannya dan hanya di balas anggukan sekali oleh sosok itu. Siapa yang tidak takut dengan sosok itu? Sosok Xavie Anderlion yang sejak dulu sudah sangat kejam tetapi bisa di tutupi oleh nya dengan aman. Hanya orang orang tertentu yang tahu sikap aslinya dan kejahatan yang di perbuatnya dalam ketenangan.
"Dimana jalang itu?."Ucap Xavie dingin dan datar.
"Di dalam ruangan tanpa fentilasi Boss. Sedari tadi wanita itu berteriak tanpa henti."Jawab anak buahnya.
Xavie langsung melajukan langkahnya ke arah ruangan yang di beritahu. Dari kejauhan Xavie bisa melihat Adreas yang sedang duduk dekat pintu masuk ruangan itu.
"Bagaimana dengannya?."Tanya Xavie.
"Selalu berteriak tanpa henti. Rupanya dia belum kehabisan nafas karena di biarkan lama di ruangan tanpa fentilasi ini. Lubang mulutnya sungguh tahan lama untuk berteriak
"Ujar Adreas tanpa ada rasa kasihan.
"Open."Hanya satu kata inilah yang di keluarkan oleh Xavie
Setelah pintu ruangan itu terbuka, muncullah wajah wanita itu yang sedang duduk terikat di sebuah kursi yang di taruh di atas meja. Sungguh menyedihkan wajah wanita itu.
Xavie melangkah masuk dengan santai. Wanita itu membuka matanya dan melihat siapa yang datang. Dan betapa terkejutnya wanita itu melihat sosok didepannya.
"Kaget heh?."Ujar Xavie mengejek. Xavie berdiri dengan santai sambil memasukkan tangannya ke dalam kantung celananya.
"Apa maumu brengsek?Lepaskan aku."Teriak wanita itu lagi.
"Mulutmu sungguh kotor Mrs Chaterina. Sepertinya harus segera di lenyapkan agar mulutmu sedikit lebih baik."Kata Xavie sakrastis."Akan kulepaskan dirimu Mrs. Tapi sebelum itu maukah kau bercerita denganku?."Tawar Xavie dengan nada yang di buat buat.
"Apaa maksudmu?."Tanya Chaterina sebab masih tidak paham permainan apa yang sedang terjadi disitu.
"Ahh,, di mana otak licikmu Mrs. Seperti itu saja kenapa tidak paham dengan ucapanku?."Tanya Xavie balik."Aku mengajakmu untuk BERCERITA MRS."Ujar Xavie sambil menekankan kata bercerita.
Seperti sudah paham situasi yang terjadi saat ini, Chaterina terlihat pucat tetapi wajahnya masih saja di perlihatkan angkuh dan sombong.
"Ceritakan Mrs. Apa penyebabnya skenario yang kemarin kau buat Mrs."
"Untuk apa aku memberitahu kepadamu heh? Kamu bukan siapa siapa dan tidak ada urusannya dengan kematian lelaki tua itu."Ujar Chaterina.
"Aku sangat terlibat dalam urusan itu Mrs. Kalau kau lupa aku adalah calon menantu lelaki tua yang kau bunuh mati itu Mrs. Atau perlu ku ingatkan kembali?."Kata Xavie.
Setelah menunggu beberapa menit dalam diam, Chaterina tetal kekeuh tidak ingin bercerita. Dan hal itu malah kembali menyulut emosi Xavie yang sudah di tahannya sejak tadi.
"Bawakan mainanku Adreas. Sepertinya wanita ini butuh hiburan agar dia bisa membuka mulutnya untuk bercerita
"Perintah Xavie kepada Adreas. Adreas yang sudah paham langsung saja mengangguk dan mengambil mainan yang di maksud Xavie.
Adreas kembali dengan membawa karung putih. Dengan cepat memberikannya kepada Xavie. Xavie yang melihat mainannya telah datang dengan cepat mengambil alih.
Chaterina yang melihat itu hanya bingung dan mulai berkeringat dingin. Apa yang ada didalam karung itu?.Pikir Chaterina dalam hati.
"Masih tidak ingin bercerita Mrs? Baiklah. Aku akan memberikan hiburan terutama untuk mainanku. Sepertinya sudah lama dia tidak bermain main."Ujar Xavie sambil langsung membuka karung tersebut dan betapa terkejutnya Chaterina melihat isi karung tersebut.
Xavie lalu mengeluarkan semua isi karung tersebut. Isi karung tersebut adalah ular ular peliharaannya yang di gunakan untuk menyiksa musuhnya. Dan betapa senangnya Xavie melihat peliharaannya yang sudah lama tidak dia gunakan.
Ular ular tersebut lalu menjalar ke seluruh ruangan dengan pelan seakan mencari sesuatu yang sedang di incar mereka.
"Mau bercerita sekarang atau kapan Mrs?."
Chaterina terlihat sangat ketakutan dan langsung saja menganggukan kepalanya disaat seekor ular berwarna hijau melangkah menaiki kaki meja tempat kursi nya di letakkan.
"Kau hampir terlamat Mrs. Katakan dengan cepat dan singkat sebelum kau mati di patuk mainanku."Kata Xavie menyengir senang.
"Ahhh.. "Teriakan Chaterina terdengar disaat seekor ular mematuk kakinya..Xavie yang melihat itu hanya tersenyum miring..
"Tolong aku tuan. Jauhkan ular ular ini. Aku akan bercerita aku berjanji."Ucap Chaterina memohon.
"No no Mrs. Ceritakan sekarang."Jawab Xavie."Lebih cepar kau bercerita lebih cepat lagi hidup mu ku selamatkan Mrs."
Chaterina yang mendengar ucapan Xavie langsung saja membuka mulutnya untuk bercerita..Chaterina memberi tahu semua alasan kenapa dia membunuh suaminya sendiri.
Xavie yang mendengar itu hanya tersenyum miring.
"Sungguh egois kau Mrs. Sudah merebut kebahagiaan keluarga Angelina sekarang alasan kau membunuh Mr Rian adalah karena harta gono gini yang tidak seberapa itu?Sungguh rendahan tingkahmu Mrs."
Chaterina tidak lagi bisa fokus dengan semua ucapan Xavie. Dia merasa pusing dan matanya berkunang akibat gigitan ular di kaki kakinya.
Xavie yang melihat itu tentu saja bahagia tetapi dia tidak ingin membunuh mati Chaterina sekarang. Dia ingin Chaterina mengaku sendiri di hadapan Angelina.
"Adreas. Urus wanita ini. Jangan sampai dia mati."Ujar Xavie yang di angguki Adreas. Xavie lalu berjalan meninggalkan ruangan itu dan bergegas pulang ke mansion.
Setibanya di mansion, Xavie dengan langkah cepat masuk kedalam kamar. Dia bisa mendengar suara isakan dari Angelina.
"Hey hey sayang. Ada apa hem? Apa yang membuatmu menangis?."Tanya Xavie lembut. Sungguh berbeda sikapnya sekarang bersama Angelina dengan sikapnya tadi di markas.
"Aku mimpi buruk Xavie. Aku memimpikan jasad papa yang membusuk penuh ulat Xavie. Aku sungguh takut."Jawab Angelina yang langsung saja memeluk erat tubuh Xavie.
"Sttt. Tenang sayang. Sekarang kembali tidur oke? Itu hanya mimpi."Kata Xavie menenangkan. Tetapi Angelina tetap saja tidak bergerak dan tetap memeluk tubuh Xavie erat.
"Sayang?."
"Aku takut Xavie. Jangan tinggalkan aku. Temani aku tidur."Ucap Angelina memelas sambil mengelap air matanya.
"Baiklah sayang. Tetapi lepaskan dulu pelukanmu baby. Aku harus mengganti pakaianku."Jawab Xavie sambil mengecup pelan kening Angelina. Angelina yang mendengar itu langsung saja melepaskan pelukannya.
"Tunggu sebentar."Kata Xavie sambil berlalu untuk mengganti pakaiannya.
Setelah itu Xavie muncul dengan celana training tanpa atasan. Ya, Xavie selalu tidur tanpa menggunakan atasan dan hanya celana yang di gunakan olehnya.
Angelina yang melihat itu langsung saja memerah malu.
Xavie lalu merangkak menaiki ranjang dan langsung memeluk tubuh ramping Angelina.
"Selamat tidur sayang."Ucap Xavie sambil mengecup pelan kening Angelina.
"Selamat tidur Xavie."Balas Angelina sambil langsung menutup matanya.
sungguh nyaman dan sepertinya aku mulai mencintai mu Xavie.Kata hati Angelina.