“Sayang, tunggu aku!" teriak seorang gadis cantik berusia 17 tahun bernama Fayra Lavina Richardzon, gadis itu berlari menghampiri moge kesayangan Ace. Pria muda yang merupakan suami Fayra. Gadis itu tampak naik ke atas motor sembari berpegang pada pinggang Ace.
“Ckk... Udah berapa kali gua bilangin jangan pernah sentuh gua pakai tangan kotor lu itu! Cepat lepaskan! Atau lu turun sekarang juga. Ingat! Status kita suami istri hanya berlaku di dalam rumah. Bukan di luar rumah, paham!”
Bentak Ace Geraldo Rodriguez, pria muda yang masih berusia18 tahun mampu membuat hati Fayra hancur. Pasangan muda-mudi itu terpaksa menjalani pernikahan rahasia karena sebuah perjanjian yang memaksa mereka harus menikah.
Lantas, sanggupkah mereka menghadapi pernikahan yang tidak mereka inginkan?
Akankah tumbuh benih-benih cinta diantara mereka?
Yuk, saksikan terus kisah mereka jangan sampai tertinggal ya ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mphoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Yang Tak Disengaja
Fayra selalu meminta tolong pada Ace, tapi dia malah memilik untuk pergi meninggalkan Fayra seorang diri dengan keadaan yang sangat memprihatinkan.
“Hiks.. Ke-kenapa kamu tega sama aku Kak, kenapa! Apa salahku sampai kamu tidak pernah melihat ketulusan cinta yang aku miliki, bahkan aku selalu berusaha menjadi yang terbaik untukmu. Tetapi tetap saja kamu tidak pernah menghargainya”
“Ingat Kak sekeras apa pun batu, ia bisa hancur ketika setetes air terus membasahinya. Sama halnya dengan hati, sekuat apa pun aku mencoba bertahan kalau semua yang aku lakukan tetap akan salah dimatamu maka jangan pernah menyesal jika suatu saat nanti perjuanganku terhenti bersamaan dengan debaran hatiku!”
Fayra berteriak sekuat tenaga sambil menangis meratapi kisah cintanya yang bertepuk sebelah tangan, walaupun sakit Fayra harus tetap bertahan demi cinta dan juga keluarganya.
[Perjuangan terhenti bersamaan dengan debaran hati] Sama halnya seperti Fayra menganggap perjuangannya sia-sia. Jatuh-bangun dia rasakan, semua hal dia coba lakukan, jika tidak ada artinya percuma saja.
Selama hati masih berdebar, maka perjuangannya bisa berlanjut. Namun jika debaran itu berhenti, maka perjuangan yang sudah dilakukan juga akan berhenti. Hingga akhirnya dia kembali pada sikap awalnya. Dimana dia tidak lagi mengharapkan apa pun.
“Tapi aku harap semua itu tidak akan pernah terjadi hiks.. A-aku yakin suatu saat nanti kamu pasti bisa membalas cintaku ini, hanya saja aku tidak tahu kapan semua itu akan terjadi. Apakah di saat aku sudah tiada atau ketika cinta di dalam hatiku benar-benar telah mati” Gumam Fayra sambil menatap kakinya, dia berusaha mencoba untuk bangkit sendiri menahan semua rasa sakit.
Sedangkan Ace dia pergi begitu saja ke kamarnya dengan perasaan cuek, ya meskipun Ace mendengar teriakan Fayra namun dia tidak menggubrisnya sama sekali. Sampai seketika Bi Sum mendengar terikan Fayra langsung mengeceknya, Bi Sum terkejut dengan keadaan Fayra yang saat ini tengah duduk di kursi dekat kolam dalam keadaan darah sudah dimana-mana.
Bi Sum segera menolong Fayra untuk membersihkan dan juga mengobati kakinya, setelah selesai di perban Bi Sum memapah Fayra menuju kamarnya supaya bisa beristirahat.
Tak lama dari situ Ace mulai jenuh di rumah, lalu dia bersiap-siap untuk pergi entah kemana yang terpenting dia bisa menghilangkan penat di dalam pikirannya.
Dengan style yang sangat rapi Ace bergegas keluar dari kamarnya, lalu tak sengaja melihat pintu kamar Fayra tidak tertutup rapat. Ace sedikit mengintip memastikan bagaimana keadaan Fayra saat ini. Sedangkan Fayra dia tertidur dalam keadaan air mata yang masih menetes.
“Dasar cengeng, baru begitu aja udah kek orang diapain. Susah emang kalau dari kecil selalu di manja, pasti dikit-dikit nangis, dikit-dikit ngeluh. Kapan coba bisa dewasa? Semakin lu lemah malah semakin buat gua muak ngelihatnya, mendingan gua keluar cari angin!” Gumam Ace di dalam hatinya segera pergi dari depan kamar Fayra.
Ace berjalan keluar rumah menuju kuda besinya, lalu menaikinya dengan sangat gagah. Kemudian Ace membunyikan klakson agar security yang berjaga segera membukakan pintu untuknya.
Ace pergi dengan kecepatan di atas rata-rata hingga berhasil membuat beberapa security menggelengkan kepalanya sambil menutup pagarnya kembali.
...*...
...*...
Hampir 2 jam kurang Ace mengelilingi kota menggunakan kuda besinya, sampai seketika dia sedikit merasa haus lalu berhenti di depan Cafe dekat salah satu Mall terbesar di Jakarta.
Kemudian Ace memarkirkan kuda besinya dengan sangat hati-hati, dia berjalan memasuki Cafe dan segera mencari tempat duduk yang nyaman untuknya bersantai.
Ace memesan minuman Caramel Coffee Frappuccino dan stik kentang untuk mengganjal perutnya, tak lama pesanan datang. Ace segera menyantapnya tanpa menunggu lama, ketika sedang asyik menikmati makanannya sambil bermain ponsel. Tiba-tiba seorang gadis cantik baru saja masuk ke dalam Cafe dan tak sengaja menatap ke arah Ace.
“Astaga, itu bukannya Ace ya? Wah.. Kebetulan banget ada dia di sini, samperin kali ya. Siapa tahu kan dia mulai terpesona dengan kecantikanku ini” Gumam seorang gadis sambil menyibakkan rambutnya dan berjalan manja mendekati meja Ace yang berada di pojokkan.
“Loh, Ace? Kok kamu bisa ada di sini?” Tanya gadis tersebut dengan segala aktingnya seolah-olah dia sangat terkejut dengan keberadaannya.
Ace langsung menoleh ke arah gadis yang kini berdiri tepat di hadapannya. Ace sedikit mendongak ke atas menatap wajah gadis itu sambil berkata, “Alena? Ngapain lu ada di sini?”
“Niatnya sih mau mampir sebentar beli minum terus balik pulang, tapi enggak tahunya aku malah ketemu kamu. Jadi ya udah aku gabung aja sama kamu boleh, kan?” Ucap Alena dengan tersenyum sangat manis.
“Terserah!” Jawab Ace cuek dan kembali memakan stik kentang yang tinggal sedikit.
Tanpa basa-basi lagi Alena langsung duduk di depan Ace dengan menaruh belanjaannya di kursi sampingnya, Alena langsung memesan minuman Choco Oreo Milkshake With Boba dan roti bakar toping coklat keju 2.
“Lu pesan roti bakar 2, enggak salah? Apa cewek secantik lu porsi makannya sebanyak itu?” Tanya Ace dengan wajah bingungnya ketika mendengar pesanan Alena.
“Aishhh.. ya enggaklah, ya kali aku makan sebanyak itu. Aku pe-...”
“Bisa enggak sih enggak usah ngomong aku, aku, aku, dan aku! Bosen dengernya!”
Ace menyerobot ucapan Alena ketika mendengar kata 'aku' membuatnya terus teringat dengan Fayra, gadis manja yang menjadi istrinya. Entah kenapa Ace sangat membenci kata aku dan kamu, karena kedua kata itu selalu Fayra gunakan ketika berbicara dengannya.
“Oke-oke, gua minta maaf. Ya udah gua lanjutin ya. Tadi itu gua pesan 2 roti bakar supaya lu bisa nemenin gua makan, gua enggak enak kali kalau makan sendirian. Lagian juga stik lu udah habis, kan?” Ucap Alena.
“Gua enggak laper jadi enggak usah sok tahu, kalau lu mau makan ya udah makan aja sendiri. Gua udah kenyang!” Sahut Ace dengan dingin.
“Yaelah masa lu tega sama gua Ace, ayolah please.. Temenin gua makan ya. Kapan lagi coba lu bisa makan bareng sama gua kaya gini..” Bujuk Alena dengan nada memohon sambil melipat kedua tangannya memasang wajah yang sangat melas.
Ace melihat Alena memohon seperti itu mau tidak mau menyetujuinya, Alena pun kembali tersenyum sangat lebar membuat Ace sedikit terkejut dengan apa yang dia lihat saat ini.
“Nji*irr.. nih cewek kalau lagi senyum gini cantik banget. Gila sih, asli ini mah! Pantesan banyak siswa lain yang selalu mengagumi kecantikannya” Gumam Ace di dalam hatinya sambil menatap Alena yang masih tersenyum ke arahnya.
Selama Ace dan Alena satu kelas dia tidak pernah mengakui kecantikan Alena, cuman kali ini Ace benar-benar mengakuinya meskipun di dalam hati kecilnya. Tapi semua itu tidak berlangsung lama, Ace segera mengalihkan tatapannya agar tidak membuat Alena menjadi curiga.
“Yes, akhirnya gua bisa menatap wajah Ace sedekat ini. Tenang Alena, tenang. Sebentar lagi Ace akan berada di genggaman tangan lu, jadi tunggu saja waktunya. Perlahan tapi pasti, dan buat Fayra? Dia pasti akan sangat sakit hati ketika orang yang selama ini dikejar-kejar malah mengejar gua haha..” Celoteh Alena di dalam hatinya.
Tak lama kemudian pesanan Alena pun datang, Alena segera memberikan 1 piring yang berisikan roti bakar untuk Ace. Mau tidak mau Ace memakannya tanpa berkata apa pun kepada Alena.
Sedangkan Alena dia makan sambil terus memandangi wajah Ace yang sangat tampan, Ace merasa di perhatikan oleh Alena membuatnya sedikit tidak nyaman tetapi dia berusaha tetap tenang. Hingga pada akhirnya tanpa di sengaja Ace terlindas ide yang mampu membuat Fayra akan menjauhinya dan segera meninggalkannya.
“Sepertinya gua tahu, bagaimana caranya agar membuat wanita manja itu menyerah dengan semuanya. Gua yakin cara ini akan berhasil, lebih tepatnya dengan begini gua bisa hidup bebas tanpa selalu dihantui olehnya!” Ucap Ace di dalam hatinya sambil menatap wajah Alena yang sedang menikmati roti bakarnya dengan sudut bibir tersenyum miring.
Ace kembali meneruskan makannya, setelah selesai mereka mengobrol sampai tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 5 sore. Ace segera berpamitan pada Alena untuk pulang lebih dulu tanpa mengantarnya dikarenakan Alena membawa mobilnya sendiri. Jadi Ace tidak perlu repot-repot untuk memberikan tumpangan secara gratis padanya.
Ace pergi dengan cepat dalam keadaan sudut bibir terus tersenyum dan juga kedua matanya menatap tajam ke arah jalanan penuh arti. Dia terus memikirkan idenya, hanya saja Ace belum menemukan bagaimana cara mengeksekusinya dengan baik agar terkesan benar-benar nyata di depan Fayra.
Disisi lain Alena terlihat begitu bahagia bisa sedekat ini bersama Ace, orang yang selama ini dia cintai. Dari kelas 1 SMA Alena memang sudah mengagumi sosok Ace, cuman seiring berjalannya waktu membuat rasa cinta itu berubah menjadi sebuah ambisi di dalam hatinya sehingga dia sudah mulai di butakan oleh cintanya.
Dan utk loe Ace, Berbahagialah kamu dalam penjara dgn penuh penyesalan mu..Gak sangka aku Siswa teladan dan Most Wanted waktu SMA bisa hidupnya hancur kek gini karena akibat KEBODOHAN nya sendiri..Miris banget..