Raras menjual diri diacara pelelangan dimana yang hadir adalah kalangan atas demi melunasi hutang keluarga. Hidupnya setelah bersama dengan Ivan tidak sama seperti yang dipikirkan
Jadwal Update = Tiap hari
ig = _lilisabeth
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elizabeth 79, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10
"Tuan, Rose sudah tiada. Apa yang harus aku lakukan?" Tanya Daniel setelah menelpon Ivan
"Bereskan jasadnya, aku mau kau menguburnya jauh dari tempat ini. Aku tidak mau ada kesial*n terjadi"
Dia menutup telpon itu. Begitu dia sadar bahwa Raras masih ada ditempat ini Ivan tersenyum kembali setelah melihat Raras sedang menggigil ketakutan.
"Apa yang mau kau lakukan? membunuhku?" Dia memundurkan langkahnya untuk menjauh dari Ivan.
"Kemarilah"
"Tidak mau! nanti kau membunuhku"
"Jika kau tidak menurut maka akan kubunuh" Dia langsung berjalan kearah Ivan berada.
"Setelah melihat hal yang terjadi tadi aku sangat takut padamu. Aku takut akan menjadi korban selanjutnya"
Dia tidak sanggup menahan air mata yang tergenang dikelopak mata. Tidak pernah dalam seumur hidup Raras menyaksikan hal seperti ini.
"Jangan nangis, aku benci melihat wanita cengeng"
"Maaf. Aku tidak tahu apa yang membuatku menangis. Apa kau juga akan membunuhku?"
Dengan polosnya kata itu keluar dari mulut Raras. Sangat takut hal yang terjadi pada Rose akan terjadi pada dirinya.
"Tentu, jadi bisakah kau mengelap air matamu itu? wajahmu sangat jelek saat menangis"
Dia mengelap air mata itu dengan baju. Wajah Raras yang sekarang benar dengan perkataan Ivan, sangat jelek.
Beda seperti biasa yang menunjukkan sedikit ekspresi ketika berada ditempat ini.
"Apa yang harus kulakukan sekarang? Apa perlu aku membawakanmu segelas kopi?" Tawar Raras bermaksud untuk menghindar dari Ivan.
"Tidak perlu" Dia berjalan kearah meja kerja untuk melanjutkan pekerjaannya.
Raras tetap mengikuti langkah Ivan berada.
"Kenapa kau mengikutiku?"
"Tuan apakah anda benar-benar tidak menginginkan sesuatu atau aku membuatmu segelas kopi bagaimana?"
"Aku tidak minum kopi.dan lagi... ada apa dengan sikapmu,apakah kau mau menggodaku" tanya Ivan membuat Raras malu sesaat
"Tidak tidak,tentu saja aku mau menyenangkan hatimu.bukankah sekarang kau sedang emosi,aku hanya membantumu sedikit saja"Mendengar perkataan Raras membuat Ivan semakin pasrah untuk berbicara.
"Baik,ambilkan aku segelas air putih" Kata Ivan sembali menyelesaikan pekerjaannya yang belum selesai dari tadi.
"Baiklah aku akan kembali dengan segera"
Raras berlari kearah pintu keluar menuju dapur.
Ivan melanjutkan pekerjaannya yang dari tadi belum selesai.
Tiba-tiba ada yang menelponnya dia adalah Ronald. Teman lama Ivan.
"Ivan, bagaimana kabarmu akhir-akhir ini?"
"Sepert biasa" Jawabnya singkat.
"Kau tidak pernah berubah ya. Dari dulu selalu menghiraukanku ketika berbicara"
Ivan merasa terganggu dari adanya telpon masuk dari Ronald. Karena pekerjaannya masih menumpuk dan memerlukan banyak waktu untuk melanjutkannya.
"Tujuanmu apa?"
"Haha, kau sedang sibuk ya? Aku pikir kau sedang bermain dengan wanita"
"Akhir-akhir ini aku mendapatkan wanita yang menarik" Ketika Ronald mengatakan wanita, tiba-tiba dia ingin membicarakan hal ini kepada temannya.
"Menarik? siapa orangnya, mungkin aku kenal"
"Dia hanya wanita kampungan."
"Kampungan? Sejak kapan seleramu beda?"
Tidak terpikirkan olehnya bahwa wanita itu seorang kampungan
"Tidak tahu hal apa yang membuatku menarik memandangnya. Menurutku dia sangat cocok dijadikan perisai" Kata Ivan
"Sampai segitunya? Mendingan kau cari orang yang lebih layak mendapatkannya. Ivan, ingat dengan masa lalumu. Apa kau masih ingin mencari orang yang membunuh orang tuamu"
"Sampai seumur hidupku tidak akan pernah mencari orang itu. Jika aku tahu aku akan membunuhnya hidup-hidup" Dia mengepalkan kedua tangannya