Nadine adalah seorang wartawan yang gigih dan nekat meskipun dia memiliki fisik yang lemah. Kenekatan itu membawanya untuk meliput sebuah kasus besar dan berbahaya yang naasnya keberadaan gadis itu dicium oleh para penjahat yang dia liput. Dalam keadaan terdesak, Nadine memutar otaknya agar tidak ketahuan, yaitu dengan cara mencium sosok lelaki yang tiba-tiba muncul di depannya yang tidak lain dan tidak bukan adalah Raja Iblis yang tengah menjalankan misi di dunia manusia.
Nadine pikir pertemuannya akan berakhir setelah Elliot, si Raja Iblis pergi, namun takdir berkata lain Raja Iblis yang anti manusia itu terus mendekati Nadine. Pertemuan mereka seperti benang merah yang terhubung di antara benang-benang kusut, berkesinambungan dengan cara yang tidak biasa.
Apa yang dimiliki Nadine hingga sang Raja Iblis terus mendekatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shamrock, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB XI GO HOME
Apakah aku akan mati?
Itu adalah pertanyaan yang terus Nadine pikirkan ketika tubuhnya terus tertarik jatuh ke dalam air. Pikiran itu semakin liar ketika samar-samar matanya menangkap sosok ular yang jika dia tak salah ingat pernah muncul dalam sebuah mitologi dengan nama yang belum juga dia temukan dalam kotak memori.
Ular yang Nadine lihat berbeda dengan ular yang biasa dia temui di permukaan. Ular itu mungkin besarnya 1000x lipat dari biasanya, jenis paling besar diantara yang lainnya. Selain itu, ular tersebut memiliki kepala seperti naga dengan taring yang runcing mencuat lewat bibirnya. Satu hal lain yang membuatnya berbeda, yaitu sayap naga yang dimiliki ular tersebut. Sebagai makhluk yang tinggal di laut, memiliki sayap adalah sebuah keanehan. Tubuhnya memanjang seperti ular, tampak sangat mudah menguasai lautan yang melumpuhkan lawan.
Selagi udara menipis dalam penyimpanan paru-paru, tidak dapat pun meraup oksigen di kedalaman laut. Kini untuk kali pertama Nadine berpikir pesimis tentang nyawanya, di otaknya sudah tergambar simulasi dimana ular besar itu akan menjadikannya santapan dan membuat setiap orang tak menemukan di mana mayatnya. Mungkin ini adalah kisah akhir dari si kucing yang selalu selamat dalam segala kejadian buruk.
"Tuhan, jika aku mati hari ini, tolong lahirkan aku kembali menjadi putri duyung agar aku tidak akan tenggelam lagi dan satu lagi. Tuhan tolong tenggelamkan Finn dalam sumur septic tank dan dipenuhi belatung," batinnya terus meracaukan doa-doa aneh yang mungkin enggan untuk dikabulkan oleh Tuhan melihat dari isinya yang begitu buruk.
Sementara Nadine terus merapalkan doa makhluk ular besar persis seperti naga semakin mendekat memaksa kelopak Nadine untuk tertutup, dirinya tak mampu melihat wajah makhluk menakutkan itu apalagi jika si ular itu memakannya. Namun, alih-alih merasakan tubuhnya digigit atau dijilat oleh ular besar itu, Nadine merasa ada yang mengangkatnya dari bawah. Gadis itu ingin memastikan siapa, tapi kelopaknya begitu sulit untuk terangkat akibat otaknya yang kehabisan oksigen yang membuatnya melemas dan akhirnya kehilangan kesadaran. Rongga dadanya sudah dipenuhi air dan dia tidak bakat dalam olahraga apapun termasuk berenang.
Ular besar itu melilit tubuh Nadine terus membawanya menjauh dari dasar laut, menepikan tubuh perempuan itu ke sebuah pulau yang jauh dari lokasi dia menemukannya. Kemudian kepalanya terus mendorong tubuh gadis yang telah hilang kesadaran ke arah batu.
Sejatinya ular monster itu mengira Nadine adalah orang lain. Orang yang mungkin saja dia kenali.
“Siapa dia?” tanya si ular dengan nada berat menyeramkan yang terus mengamati Nadine, seolah Nadine adalah makhluk aneh yang pertama kali dia lihat seumur hidupnya.
“Dia bukan master, tapi kenapa auranya seperti master? Apa dia ada hubungannya dengan master?” Ular itu terus bertanya meski dia tahu bahwa tak akan ada yang menjawab pertanyaannya.
Serpent masih mengamati setiap lekuk wajah yang Nadine miliki, mencoba menemukan kejanggalan yang mungkin saja jawabannya akan muncul hanya dengan melakukan pengamatan.
“SERPENT!” Sang ular reflek menjauh dari tubuh Nadine, sesaat dia menyadari bahwa yang berteriak adalah tuannya dia segera memberi hormat kepada Elliot yang muncul dengan tubuh basah kuyub dan wajah yang tampak kehilangan rona seolah nyawanya baru saja ditarik keluar. Serpent tentu bertanya-tanya masalah macam apa yang membuat masternya terlihat sekacau ini?
“Salam Master.” Elliot tak menggubris sapaan Serpent, napasnya memburu ketika si hitam yang kini memerah menangkap tubuh Nadine yang terbaring di atas batu.
“Nadine,” panggilnya tanpa ada jawaban dari Nadine yang membuat matanya semakin merah pekat.
“Kau yang membawanya?” tanya Elliot sambil memeluk Nadine mencoba menyadarkan gadis itu sementara Serpent mengangguk.
“Dia terjatuh dan—” Elliot tak peduli pada ucapan Serpent, dia akan mengurusnya nanti setelah memastikan Nadine baik-baik saja. Untuk itu dia perlu memanggil saudaranya untuk mengurus Nadine.
“Cassandra! Cassandra!” Elliot terus memanggil saudara perempuannya yang dia sendiri tak tahu ada di mana.
“CASSANDRA!” teriaknya kali ini ditemani letupan petir di atas cakrawala yang seakan menerjemahkan kepanikan dan kemarahan dari sang raja iblis.
Serpent sering melihat masternya marah, tapi tidak pernah semarah ini dalam sejarah. Tentu, sebagai makhluk yang mengabdi selama lebih dari ribuan tahun, Serpent mengenal dan mengetahui watak dari sang master. Tidak ada hal yang bisa mengelabui insting dan perilaku master kecuali hal yang tersebut adalah kehendaknya. Apalagi untuk orang lain yang bukan dari kaumnya.
“Aku di sini saudaraku.” Cassandra muncul sesegera mungkin dengan mata yang bergerak liar mengamati setiap sudut untuk menemukan hal penting apa yang membuat saudaranya memanggil dengan nada penuh amarah. Dan, alasan itu kini bisa dia ketahui setelah menemukan tubuh Nadine yang terkulai lemas dalam pelukan Elliot.
“What happen with your little kitty?” tanya Cassandra dengan nada rendah yang serius.
“Sembuhkan dia!” Elliot membelai wajah Nadine dalam pelukannya.
“I am not healer, brother.” Cassandra menggelengkan kepalanya.
“Kalo begitu bawa dia ke rumah sakit!” The old Cassandra akan marah jika diperintah sembari dibentak seperti yang dilakukan Elliot, tapi suasana saat ini membuat si iblis Fate menahan marahnya. Elliot sedang panik sekarang dan marah bukanlah solusi. Menentang si Raja Iblis hanya akan menimbulkan kekacauan.
“Baiklah.” Cassandra mengambil alih Nadine yang dalam supersekon menghilang dari pandangan Elliot dan Serpent.
“Dia akan baik-baik saja, Tuan,” ujar Serpent mencoba menenangkan masternya yang dilanda kegelisahan.
“Ya harus, tentu dia akan baik-baik saja. Sekarang katakan bagaimana dia bisa menjadi seperti itu?” tanya Elliot dengan mata yang memerah pekat.
“Dia terjatuh dari kapal, mungkin didorong oleh orang.” Mendengar penjelasan tersebut Elliot mencoba mengontrol napasnya yang naik turun karena gejolak emosi dalam dirinya.
“Kau melihat siapa yang mendorongnya?” Elliot mencecar Serpent layaknya polisi yang sedang mengintrogasi tersangka.
“Tidak, saya melihatnya sudah jatuh di air.” Serpent menggeleng dan menunduk penuh penyesalan. Andaikata dia pun tahu, tidak mungkin dia akan berbohong.
“Lalu bagaimana kau bisa mengatakan bahwa dia didorong orang?” tanya Elliot lagi.
“Karena saya mendengar keributan di kapal yang membawa perempuan ini.” Seketika Elliot terdiam, dia juga mendengarnya, tapi terlalu sibuk mencari Serpent dan baru sadar atasannya itu menghilang saat tak menemukan Nadine di belakangnya.
“Kau menolongnya? Aku yakin kau adalah makhluk yang tak ingin campur tangan dalam kehidupan mortal. Lama berada di dunia mortal membuatmu berubah, tak heran kau kabur begitu lama.” Elliot tiba-tiba mempertanyakan kebaikan Serpent pada Nadine dan menurut Serpent itu hal yang wajar ketika makhluknya mulai bertingkah berbeda maka pemiliknya akan curiga.
“Saya tidak berniat menolongnya," Kilah sang monster laut itu.
“Tapi kau menolongnya," desak Elliot dan Serpent membenarkan akan hal itu. “Kenapa? Apa yang membuatmu menolongnya?”
“Master. Master yang membuat saya menolongnya.” Hal ini menimbulkan pertanyaan bagi Elliot, apa Serpent mengetahui tentang hubungannya dengan Nadine, tapi rasanya itu tak mungkin mengingat bahwa Serpent ada di dalam laut yang tak mungkin tahu tentang hingar-bingar kota.
“Bicara dengan Bahasa yang ku mengerti," Tukas Elliot dengan frustrasi.
“Saya menyangka bahwa yang terjatuh adalah master jadi saya menolong perempuan itu.” Serpent mendesiskan lidahnya bak ular cobra.
Dahi Elliot berkerut tajam. “Aku? Apa maksud dari kau menyangka yang terjatuh adalah aku?”
Ini memang sulit untuk dipercaya, tapi Serpent memang merasakan hal itu. “Saya merasakan energi yang sama dengan Master, seolah dia adalah bagian dari diri Master.” Elliot terdiam, ini bukan kali pertama dia mendengar itu semua, Shadow atau bahkan dia sendiri juga merasakan hal aneh ketika berada di dekat Nadine.
“Apa dia salah satu makhluk anda, Master?” tanya Serpent ragu.
Elliot menggeleng yakin. “Bukan, tapi aku sedang mencari tahu siapa dia.”
Serpent setuju dengan apa yang dikatakan oleh tuannya, bagaimanapun juga identitas sebenarnya Nadine perlu diketahui agar tak terjadi kesalahpahaman atau mungkin Nadine adalah sesuatu kunci dari segala kekacauan yang terjadi.
“Lebih dari itu semua, kau mengatakan bahwa kau menolong Nadine karena kau mengira itu aku. Kau peduli padaku bahkan saat kau melarikan diri dariku?” tanya Elliot yang sepertinya mulai meredakan emosinya.
“Saya hamba yang peduli pada tuannya. Saya tidak pernah melarikan diri, saya hanya pergi dari tempat yang sedang kacau sejak master kehilangan Shamrock. Saya pikir saya bisa mengumpulkan informasi untuk dilaporkan pada Master dari dunia mortal, tapi saya siap kembali jika Master menginginkannya.” Serpent menundukkan kepala naganya, merendahkan sayap yang ada di belakang badannya. Menunjukkan betapa kesetiannya tidaklah perlu di uji. Ucapannya sepenuhnya berdasarkan fakta dan pertimbangan yang dia miliki. "Kehilangan Shamrock sama halnya kehilangan jati diri, Master. Saya siap membantu."
Bibir Elliot terangkat, setidaknya dia tak benar-benar dikhianati oleh Serpent. Akantetapi meninggalkan tempatnya tinggal juga bukan hal yang benar. "Meninggalkan kerajaan sama dengan meninggalkanku."
Kepala Serpent terangkat mendengar nada dingin dari Elliot. "Hamba mohon ampun, Master. Anda dapat menghukum saya jika memang pantas mendapatkannya. Namun, Master bukankah keberadaan makhluk itu sungguh tidak mengganggumu?"
Elliot kembali terdiam, Serpent yang bijaksana dan mengerti dirinya selalu mengungkapkan hal yang benar. Terlepas dari wujudnya yang mengerikan, Serpent adalah salah satu dari sekian banyak makhluknya yang dapat dia percayai. Oleh karena itu, sepeninggalan Serpent, Elliot merasa dikhianati.
"Hamba yakin, Nadine memiliki arti dan fungsi lain untuk anda, Master. Auranya bukan yang bisa anda abaikan, dia memiliki energi seperti Anda. Saya harap anda mengambil tindakan untuk mengetahui siapa makhluk mortal itu sebenarnya. Apakah dia bantuan atau ancaman, Master." Serpent adalah pemikir kritis dan dalam hal ini dia cukup ahli dalam memandang dua hal secara berbeda.
Sejak dahulu, Serpent adalah penasihat hukum paling mumpuni, karena kemampuannya memberikan pandangan akan sesuatu secara gamblang. Wajar saja dalam hitungan detik Serpent dapat memberikan analisis yang akurat, yang sejatinya ingin Elliot dengar dihari dia pertama kali bertemu dengan Nadine.
Untuk itu, Elliot juga membuat list skala prioritas untuk apa yang harus dia kerjakan. Ketimbang menilai Serpent yang selama ini mulia padanya, ada hal lain yang harus di urus. “Baiklah, untuk saat ini kembali ke kerajaan. Urusan tentang Shamrock dan Nadine aku akan mengurusnya.”
“Baik Master."
......................