Alexandria Rigest tidak menyangka akan terjebak di antara baku tembak pendemo Sebagai jurnalis dia ingin mengupas tuntas sisi gelap prilaku oknum-oknum yang duduk di parlemen. Ketika terjadi demo serta baku tembak di salah satu gedung pemerintah, Alexa ikut terjaring. Dia sendiri diculik oleh beberapa orang yang berpakaian hitam- hitam dan disekap di ruangan bawah tanah. Alvaro Ady Mema, itu nama bos gangster yang menculiknya. Kehidupan Alexa di manipulasi dan Alexa menjadi budak nafsu Alvaro yang terkenal kejam tidak punya prikemanusiaan. Bisakah Alexa lepas dari cengkraman Alvaro? atau dia malah jatuh cinta kepada bos mafia itu?
****
Hallo readers yang selama ini sudah support aku, mampir ya...
jangan lupa kasi like, gift, vote dan favorit. Trimakasih....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KETIKA MEREKA MABOK
"Tuan Alvaro, kau begitu asyik melihat pelayanmu meliuk-liuk, sampai kau tidak menyadari ada musuh datang."
Alvaro kaget mendengar suara Alexa, dia menoleh ke arah suara itu. Wajah nya berubah merah.
"Kenapa kau kaget melihat musuhmu, aku tidak mengganggumu. Aku hanya ingin minum saja."
"Sini sayank, kita main panco, aku ingin menjajal kemampuanmu." kata Alvaro mendekati Alexa dan langsung memeluk gadis itu.
Tadinya Alexa mau menolak, tapi usulan Alvaro untuk main panco bisa sebagai solusi supaya dia tidak jadi dinner.
"Kau sengaja mencariku?" bisik Alvaro mesra sambil mengecup pipi Alexa.
"Aku sekedar lewat."
"Hanya kau wanita yang berani padaku, tidak ada wanita yang berani menolak perintahku." sambungnya lagi.
Alvaro duduk dan menarik Alexa serta memangkunya, dia sangat gemas terhadap gadis itu. Pelukannya kasar membuat Alexa sulit bergerak.
"Alvaro turunkan aku."
"Setelah aku puas memelukmu dan mencium seluruh tubuhmu, baru kau bebas.
Pemandangan itu membuat Maria
sangat kesal dan marah. Dia cepat naik dan menghampiri Alvaro.
"Tuan, saya belum sempat memuas kan anda, bagaimana kalau sekarang kita kekamar."
"Pergilah Maria, kau lihat aku bersama siapa."
"Maaf Tuan......"
Maria pergi dengan perasaan marah dan dendam. Dia kecewa, air matanya berhamburan keluar menghalangi penglihatannya. Dia sangat benci kepada Alexa, wanita baru yang sok jagoan.
"Maria kenapa menangis?" tanya Kitty yang hampir jatuh di tabrak Maria.
"Aku benci dengan wanita yang merebut Alvaro. Seakan aku ingin membunuhnya. Perempuan laknat."
"Sabar nona, saya anterin nona ke kamar."
Kitty mengajak Maria ke kamarnya, sebagai kepala pelayan dia sering menyaksikan keputusasaan pelayan yang dicampakan oleh Alvaro. Mereka mengatakan sudah Afkir.
"Regenerasi itu akan selalu ada, yang lama akan dibuang, dan yang baru akan disayang di kemudian hari."
"Aku ingin seperti nona Mia, cantik kaya, menjadi calon istri Tuan."
"Hidup itu tidak ada yang sempurna, nona Mai memang kaya dan cantik tapi dia dari kalangan dunia hitam. Seperti kita ini, kasar, tidak punya etika, liar, jarang punya pikiran positif."
"Sama saja dengan perempuan itu, dia juga tidak punya etika dan kasar."
"Dia berbeda, makanya Tuan langsung jatuh hati pada wanita itu. Dia cantik anggun dan mahal."
"Aku tidak peduli dia harus mati."
"Hati-hati bicara, dia orang yang pintar Tuan Alvaro sendiri sangat kagum atas kehebatannya. Lebih baik nona menerima apa yang sudah menjadi suratan nasib."
Maria menarik nafas panjang dan membuangnya kasar. Dia menyuruh Mai keluar dari kamarnya malas bicara dengan orang yang selalu mengalah dan menerima nasib. Terlalu Apatis. Dia akan menelepon calon istri Alvaro, mengatakan bahwa Alexa sudah mulai bertingkah.
Sudah pukul. 17.15, Alvaro dan Alexa masih menghabiskan minumnya. Mereka beradu panco, siapa yang kalah dia harus minum satu gelas black label. Tentu saja permainan tidak seimbang ini akan dimenangkan oleh Alvaro, semua juga tahu.
"Kalau main panco denganmu pasti aku kalah. Badanmu kekar, tanganmu berotot."
"Siapa tahu kau bisa menang. Kalau menang boleh mencium lawan dan kalau kalah minum satu gelas."
"Keduanya tidak enak, rugi di aku." kata Alexa terpaksa mau. Dia akan ikuti yang penting dia tidak di ajak dinner.
Mereka duduk berhadapan lutut saling beradu. Sebelum mulai, Alvaro mencium punggung tangan Alexa.
"Ayo sayank, kita mulai." kata Alvaro memasang kuda-kuda.
Alexa tersenyum, dia tahu Alvaro akan mengalah, tapi Alvaro tidak tahu kena tipu juga. Babak pertama Alvaro menang, dengan iklas Alexa menyerahkan bibirnya untuk dilumat oleh Alvaro. Dia sudah tahu Alvaro tidak puas dengan menyentuh sekali saja, dia terus minta.
Alexa terpaksa mengambil gelas, mulai nenyesap minuman itu, rasanya yang kuat, dengan aroma vanila yang manis mengalir ketenggorokannya.
Mereka bergantian kalah dan menang, Alexa terpaksa ke wastafel untuk mencolok mulutnya, memuntahkan minumannya. Kepala nya mulai pening karena sudah banyak minum. Alvaro sudah mabok.
"Pengawal angkat Tuan ke kamarku." perintah Alexa. Maria datang mau mengajak Alvaro ke kamarnya.
"Pengawal ikuti perintahku, ajak Tuan ke kamarku. Aku biasa mengurus Tuan. Mana mau Tuan dengan orang yang tidak memuaskan."
"Ajaklah, aku tidak peduli."
"Tapi nona Maria, saya tidak berani mengantar Tuan ketempat nona, karena Tuan sudah suka dengan nona Alexa."
"Apa katamu, aku suruh pengawal lain menembakmu."
"Pengawal, ajak Tuan ketempat wanita ini. Nanti kalau Tuan bertanya aku bilang dia yang ngotot mengambil Tuan."
"Perempuan tidak tahu diri, kau disini hanya pelayan, belum tahu apa-apa, jadi ikuti perintahku jika ingin selamat."
"Up to you." kata Alexa malas berdebat dia sudah setengah mabuk. Pengawal dan Mika mengantar dia ke ksmar.
"Apakah nona ingin makan." tanya Mika setelah sampai di kamar.
"Aku hanya butuh dua gelas susu hangat." katanya menuju wastafel.
Alexa membasuh wajahnya dan berkumur. Dia biasa minum kalau lagi ada keperluan tugas. Tapi karena sudah di ajarkan supaya tidak mabok Alexa tidak brgitu takut.
"Nona minum susunya, setelah itu nona tidurlah." kata Mika prihatin.
Tidak tahu kenapa perasaan Mika selalu melow kalau dekat dengan Alexa. Atau mungkin karena dia pernah merasa ketakutan pertama kali berada disini, sepergi Alexa saat ini.
"Trimakasih Mika, kau boleh keluar. Aku kadang merasa tidak nyaman kalau berada di kamar, apa boleh aku minta kunci pintu?"
"Maaf nona, itu tidak boleh. Tuan sendiri tidak pernah mengunci pintu karena ada pengawal 24 jam berjaga. Hanya satu kali dia mengunci pintu saat Tuan tidur dengan nona."
"Ohh..tidak apa-apa, aku merasa kurang nyaman saja."
Setelah kepergian Mika, Alexa merebahkan diri, setelah minum susu. Dia berusaha tidur supaya besok bisa bangun pagi.
Belum sempat dia menutup matanya ada orang yang membuka pintu. Alexa kaget karena Alvaro sudah berdiri di ambang pintu.
"Sayank, aku mau tidur denganmu." kata Alvaro di pegang oleh dua pengawal.
"Masuklah.. ." jawab Alexa bangun dari tempat tidur.
Dia menyingkir ketika Maria ada di belakang Alvaro. Buat apa dia kesini? Pikir Alexa tidak mengerti. Alvaro merebahkan badannya dan tertidur.
"Menyingkir kau, aku sama Tuan akan tidur disini."
"Seharusnya kau jangan membawanya kesini. Aku jijik jika kalian mesum di sini. Kau seperti perempuan murahan yang mencari segala cara."
"Jangan banyak bacot, pergi kau." hardik Maria kesel.
Tentu saja Alexa bingung dia harus kemana. Yang dia tahu hanya Mika. Alexa akhirnya keluar dari kamar berbicara dengan pengawalnya.
"Hay pengawal, bisakah aku tidur di ruang kerja Tuan, aku di usir oleh Mika."
"Kami tidak berani meluluskan permohonan nona, kami takut salah." kedus pengawal itu menolak dengan alasan takut.
"Dimana saja boleh yang penting aku bisa tidur." kata Alexa memelas.
"Nona terserah anda saja saya takut salah. Silahkan anda berjalan kemana saja."
Alexa akhirnya menuju ruang kerja Alvaro yang gelap. Sepertinya CCTV di luar berfungsi, sedangkan di dalam tidak ada tanda-tanda CCTV hidup.
****