🐣WARNING🐣
AREA DEWASA
JOMBLO DILARANG BACA!!!
Dapat menyebabkan baper berkepanjangan yang bisa membuat batin tersiksa.
Ini bukanlah cerita tentang Pernikahan CEO-CEO seperti di cerita lainnya, bukan pula cerita
perjodohan yang menyakitkan di awal pernikahan dan berakhir dengan manis.
Tapi ini adalah sebuah cerita
tentang hati yang salah memilih cinta, tentang
sebuah perjuangan, penantian, dan kesetiaan.
"Gue akan nantangin takdir! Kita liat siapa diantara kita yang akan menang." Kaisar
Hepi reading gengs... 🤗🤗🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kaisar Naik Darah
Untungnya Haris membawa Nanda, jadi dia bisa diminta bantuannya untuk membelikan baju ganti beserta benda pengganti si merah.
"Ukuran kamu berapa?" Tanya Nanda.
"36D." Jawab Lovie.
"Wuiiihh, bocah isinya gede juga ya?" Haris memperagakan seolah sedang memegang benda berbentuk bulat di kedua tangannya. "Heh, Kai segede gini!"
Kaisar hanya memutar bola matanya sambil mencibir tak suka ke arah Haris.
"Kalo CDnya?"
"L."
"Aaawww!" Haris kembali menggoda Kaisar.
"Diem ngapa sih lu pe'a!" Kaisar mengarahkan tinjunya ke arah lengan Haris.
Sambil menunggu Haris dan Nanda kembali dari pusat perbelanjaan, Kaisar menemani Lovie di dalam mobil.
"Lop, elu harus nyembunyiin urusan kita ini ke si Kikir! Oke?" Kaisar menatap wajah cantik Lovie.
Lovie hanya mengangguk, entahlah apa bisa dia menyembunyikan rahasia kepada sahabatnya itu?
****
Kaisar kembali berfantasi liar saat melihat mulut kecil Lovie memasukkan hot dog dengan extra mayones dan saus sambal dengan lahap, membuat mayones dan sausnya sedikit keluar dari sela-sela roti.
"Lop! Makan hotdognya biasanya aja sih. Ga usah kayak orang kelaperan gitu!" Kaisar menyeka saus di sudut bibirnya.
"Emang harusnya gimana?" Tanya wanita berkaus putih yang tadi dibelikan Nanda.
Lovie kembali menggigit roti berbentuk panjang itu dengan lahap membuat Kaisar bergidik dibuatnya.
"Si bangke!" Kaisar mengusap belakang kepalanya yang tadi dipukul Haris.
"Gue tau apa yang ada di otak mesum lu! Bener-bener kotor otak lu!" Ucap Haris sambil duduk bersebelahan dengan Kaisar.
"Emang kakak mikir apa?" Tanya Lovie sambil menyeruput segelas soda miliknya.
"Mikir si Kevin yang kamu gigit." Haris kembali menahan tawanya. Sedangkan Lovie masih tidak mengerti arah pembicaraan kedua orang pria dewasa di hadapannya.
Siapa Kevin? Apa Kevin adalah orang yang Kaisar benci hingga dia berpikiran Lovie menggigit dirinya. Seperti itulah yang ada dipikiran Lovie saat itu. Tapi Lovie tidak peduli, dia terus menikmati sisa hotdognya.
Entah sejak kapan Lovie menatap sisa rintik hujan yang masih menempel di kaca jendela restoran, memperhatikan pasangan yang berlalu lalang melewati restoran cepat saji yang mereka kunjungi. Pikirannya kembali berkecamuk, bayangkan tentang orang tuanya kembali hadir, bayangan rumah besar yang dulu ia tempati dan bayangan betapa manisnya Rafi yang dulu kembali mengisi otaknya.
Lovie kembali seperti menyalahkan takdir, jika orang tuanya tak meninggal mungkin kejadian seperti ini tidak akan pernah terjadi padanya. Atau mungkin ini memang harus terjadi mungkin Lovie tidak akan sesedih ini.
"Elu kenapa mewek Lop?" Tanya Kaisar saat kembali setelah menerima telepon beberapa saat lalu.
"Nasib aku buruk banget ya Kak?" Lovie terisak. "Kayaknya Bang Takdir ga suka banget liat aku seneng. Dia syirik banget sama aku."
"Berarti takdir itu bukan Abang, tapi Mbak takdir. Kalo Abang Takdir dia pasti langsung naksir sama kamu dan akan selalu bikin kamu happy, tapi biasanya kan yang suka julid itu cewek. Karena dia sirik sama kecantikan kamu." Goda Kaisar sambil mengusap kepala gadis bermata bulat di hadapannya.
Wajah penuh air mata itu tersenyum. "Ih Kakak. Ada-ada aja."
"Lu duluan yang mulai. Pake panggil Abang takdir segala." Jawab Kaisar yang terus memperhatikan setiap inci wajah Si mantan anak Sultan. Ini pertama kalinya dia begitu bahagia saat melihat senyum dari orang yang menangis.
"Kayaknya aku harus kerja jadi pembantu di rumah orang kaya." Si Makhluk Alay itu tersenyum saat mengucapkan niatnya itu.
"Ngapain lu jadi pembokat? Kayak bisa beres-beres rumah aja."
"Aku kan cantik Kak, jadi siapa tahu yang punya rumah itu adalah CEO yang kayak di drakor-drakor atau di novel-novel, terus dia jatuh cinta sama kecantikan aku, dan akhirnya kita menikah and happily ever after." Ucapnya polos sambil terus tersenyum.
Bener-bener satu spesies sama si kikir ni bocah.
"Ya lu ngelamar kerja di rumah cowok yang duduk di depan lu aja Vie!" Suara itu berasal dari Haris yang baru kembali setelah mengantar Nanda berbelanja.
"Kak Kaisar kan udah punya Kak Adele. Lagian aku ga naksir sama dia."
"Sebelum janur kuning melengkung, ya berarti si Kampret mesum itu masih milik bersama." Ucap Haris.
"Jadi kamu juga berpikiran begitu selama ini?" Tersirat nada emosi saat Nanda mengucapkan kata-kata itu.
"Nggak dong Yang, Bang Jek kan udah menemukan tempat hunian yang pas buat dia." Haris nyengir.
"Awas kamu kalo macem-macem sama aku. Aku jadiin sop tuh si Jek!" Ancam Nanda.
"Jangan dong Yang, harta berharga ku satu-satunya ini." Haris pucat.
Kaisar selalu menikmati saat-saat Haris selalu bertekuk lutut di hadapan kekasihnya. Dia terbahak-bahak melihat Haris yang kini pucat. "Si Jek disop, kagak direndang aja Nan?"
"Jek itu siapa? Ayam?" Pertanyaan polos dari Lovie membuat mereka salah tingkah. Mereka lupa gadis dihadapkannya masih memiliki otak yang sesuci Otor.
"Iya. Tapi ayamnya gak bisa kongkorongok." Jawab Nanda masih dengan nada kesal.
"Tapi Nanda suka banget sama Bang Jek." Haris menggoda kekasihnya yang masih cemberut.
"Aku pengen liat." Lovie malah antusias.
"JANGAN!!!!" Ucap ketiganya kompak, membuat mereka jadi pusat perhatian pengunjung restoran.
****
"Pret, anterin gue ke apartemen Nanda aja ya!" Ucap Haris yang kini duduk di kursi penumpang.
"Si Bangke! Lu kira gue supir lu apa?"
"Salah siapa elu nyuruh gue jangan bawa mobil tadi?" Alasan Haris berhasil membungkam mulut pria tampan di balik kemudi.
Kaisar kembali mencuri pandang kepada wanita yang kini sedang mengalihkan wajahnya ke arah jalan raya, yang saat itu telah diterangi lampu jalan. Ingin sekali Kaisar bertanya apa yang sedang gadis beliau itu pikirkan?
Apakah dia masih memikirkan untuk bekerja menjadi pembantu di rumah keluarga kaya seperti yang tadi dia ucapkan?
Ataukah ada hal lain yang sedang dipikirkan olehnya, sehingga perempuan yang tak kalah cerewet dengan Qiran itu hanya termenung menatap kendaraan yang berlalu lalang. Beberapa kali ia terlihat membuang nafas dengan kasar, seperti sedang berusaha membuang beban hidupnya.
"Vie, elu kok bisa ga naksir sama si Kaisar? Dia juga kan ganteng? Ganteng banget malah apalagi kalo lagi diem. Beuh udah kayak pangeran di negeri dongeng." Tanya Haris yang sepertinya memperhatikan tingkah mereka berdua.
"Kak Kaisar emang cakep, tapi jorok. Kak Adele aja kagak tau, kalo tau udah ditinggal dia." Lovie mencibir ke arah sangat supir. Dia seolah tahu semua aib pria yang kini tengah memelototinya.
"Jorok gimana?" Protes Kaisar.
"Aku sering banget ngeliat kakak ngupil atau garuk-garuk pantat dia di depan aku sama Qiran. Hi, apa siapa juga cewek yang naksir sama cowok macem gitu?" Jawaban yang teramat sangat polos.
"Pea ni bocah. Heh semua makhluk yang ada di bumi juga pasti ngelakuin hal itu. Gue tanya apa ada manusia yang gak pernah ngupil? Bahkan para personel EXO juga ngelakuin hal yang sama kayak gue!" Kaisar naik darah.
"Kakak! Jangan mencemari otak Kakak dengan membayangkan para personel EXO ngupil sama garuk-garuk pantat! Itu ga mungkin!" Ucap Lovie sedikit berteriak. Dia benar-benar tidak terima Kaisar menyamakan dirinya dengan para personel EXO yang dia puja-puja.
Sedangkan Haris dan Nanda tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban polos Lovie.
Apa Kalian pernah liat para member EXO ngupil?
Tidaaaaaaakkkk!!!
haiiiiii Kaisar🩷