Aku tidak pernah merencanakan akan jatuh cinta pada siapa. Bukan kuasaku untuk menjatuhkan pilihan sang cinta pada pemiliknya yang entah siapa.
Semula, semua terasa mudah. Semula, aku merasa mampu bertahan dengan segala gejolak yang ada di dalam hati, yang menuntut untuk diperjuangkan. Semula, semua terasa cukup, mengetahui kau akan selalu ada disisiku.
Nyatanya, semua tidak semudah yang kubayangkan.
Ketika keadaan semakin menuntutku untuk memilih, manakah yang harus aku pilih? Karier atau cinta, yang keduanya bahkan baru sama-sama dimulai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Belinda Marchely, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permintaan Maaf
Marco's POV
Hari Minggu pagi ini, aku bersemangat sekali untuk berangkat ke gereja. Sebenarnya lebih semangat lagi karena aku berharap bisa bertemu dengan Anetta. Ya ampun, maafkan aku, TUHAN!
Aku melajukan mobil menuju gereja yang minggu lalu aku datangi, tempat di mana aku bertemu dengan Anetta. Kali ini aku tidak terlambat, jadi aku bisa melihat kapan gadis itu tiba di sini.
Aku duduk di barisan tengah, seperti minggu lalu. Kukira akan lebih mudah melihat keberadaan Anetta dari posisi ini, tapi sampai lonceng gereja berdentang, aku belum melihat sosoknya di depan sana. Malah posisi pianis diisi oleh seorang laki-laki remaja.
Aku membaca kembali warta ibadah yang sejak tadi kugenggam dan menemukan bahwa waktu ibadah terbagi menjadi dua. Pukul 07.30 dan pukul 09.00. Nah, kenapa aku baru sadar? Bisa jadi Anetta ibadah pada pukul 09.00, karena aku tidak melihatnya masuk dari pintu mana pun.
Baiklah, mungkin saat ini TUHAN sedang marah karena aku lebih bersemangat untuk bertemu Anetta dibandingkan Dia. Akhirnya aku berkonsentrasi untuk beribadah sebagai permintaan maafku kepadaNya.
Selesai ibadah, aku langsung menuju parkiran mobil. Bermaksud untuk pulang, tapi di depan pintu sayap kiri gereja aku berpapasan dengan sosok yang kucari-cari sejak pagi tadi.
"Pak Marco!" Itu suara Anetta. Dia terlihat sedikit kaget mengetahui aku ada di sini.
"Hai, Anetta!" sapaku.
Aku bersikap seramah mungkin seraya menebarkan senyum terbaikku. Aku masih ingat sikap tidak bersahabatnya tempo hari. Jangan sampai kali ini dia pergi begitu saja setelah melihatku.
"Bapak, kok, bisa ada di sini?" tanyanya.
Belum sempat aku menjawab, seorang laki-laki yang membawa bas di punggung menghampirinya dan mengajaknya untuk bersiap-siap di sudut pemain musik.
"Netta, ayo! Udah mau masuk, nih!"
"Sebentar," jawabnya pada lelaki itu, lalu dia menoleh padaku.
"Saya tunggu kamu sampai selesai. Temui saya di parkiran mobil."
Anetta tampak berpikir. Sesaat kemudian dia mengangguk. Katanya, "Baik, Pak. Saya masuk dulu."
Gadis itu sudah masuk ke dalam gereja dan aku melangkah menjauh dari pintu tersebut, karena semakin lama aku di sana tentu akan mengganggu orang yang hendak keluar masuk dari sana.
Kulangkahkan kaki menuju parkiran mobil. Aku memutuskan untuk menunggunya di dalam mobil saja. Untungnya aku mendapat tempat parkir yang tidak terkena matahari langsung, jadi tidak akan panas selagi aku menunggu Anetta sekitar dua jam kedepan.
~
"Amin! Amin! Amin!"
Begitu lagu penutup berakhir dan pintu-pintu dibuka, berarti ibadah telah selesai. Aku keluar dari mobil agar Anetta dapat melihatku.
Tidak sampai lima menit menunggu, gadis itu keluar juga. Dari kejauhan saja, aku bisa melihat wajahnya yang cantik ditambah senyuman ramah yang selalu ditebarkannya pada siapa saja yang ditemuinya.
Ada perasaan aneh yang tiba-tiba muncul, seperti sengatan di jantungku mengingat aku sudah menyakiti hatinya melalui perkataanku tempo hari. Padahal, itu hanya sebuah kesalahpahaman saja.
Dia semakin dekat berjalan ke arahku dan begitu sampai di hadapanku dia langsung mencecar dengan pertanyaanya yang belum sempat kujawab tadi.
"Bapak, kok, bisa ada di sini? Saya tidak pernah tahu kalau Bapak ibadah di sini juga." Dia masih memasang raut wajah bingung.
Kuceritakan secara singkat mengenai keabsenanku beribadah selama beberapa bulan terakhir ini, lalu bagaimana aku bisa sampai beribadah di sini dengan bantuan Google. Anetta manggut-manggut mendengar penjelasanku.
Seketika, suasana menjadi canggung. Aku kehabisan kata. Kurasa Anetta pun begitu. Permasalahannya, kan, aku yang seharusnya memiliki bahan pembicaraan lebih banyak agar hubunganku dengan gadis ini membaik.
Aku memutar otak untuk menemukan bahan obrolan baru.
"Kamu dengan siapa?" tanyaku akhirnya.
"Netta!" Tiba-tiba, terdengar suara yang memanggil Anetta dari ujung parkiran.
Aku dan Anetta sama-sama menoleh ke arah sumber suara. Seorang laki-laki yang kira-kira sebaya dengan Anetta sedang berjalan menuju tempat kami berada.
"Kenapa, Sam?" tanya Anetta ketika laki-laki itu sudah sampai di tempat kami berdiri.
"Lo balik, enggak?"
"Duluan aja, Sam. Aku lagi nunggu ...."
"Oke."
Laki-laki yang bernama Sam itu kemudian kembali ke ujung parkiran. Aku sedikit lega mengetahui Anetta tidak pulang dengan teman laki-lakinya itu.
Aku berdeham, mencoba merebut perhatian Anetta kembali. "Eh, kamu dengan siapa tadi?"
"Dengan orangtua saya, Pak, tapi kebetulan sekarang ini mereka sedang menemui pengurus gereja."
"Boleh kalau saya antar kamu pulang?" tanyaku lagi. Aku sedikit ragu, mengingat komunikasi terakhir kami yang dingin. Kali ini aku jadi antisipatif, takut kalau dia akan menolak tawaranku.
"Asal tidak minta bayaran saja, sih, Pak." Dia tertawa.
Aku pun tidak dapat menahan diri untuk tidak ikut tertawa. Bagaimana bisa aku menahan diri, sementara suasana bersahabat seperti ini yang aku harapkan akan terjadi sejak tempo hari.
"Padahal saya baru mau minta bayaran ..." Aku sengaja menggantung ucapanku.
Anetta memicing, menatapku curiga. Bibirnya mengerucut dan keningnya berkerut. Aku semakin ingin tertawa melihatnya seperti itu.
Aku mencondongkan badan ke arahnya. "Bayarannya ... menemani saya makan siang," bisikku.
Anetta refleks memukul lenganku. Lalu, ketika dia sepertinya sadar akan tindakannya barusan, dia berdeham. "Not so bad (1). Jalan sekarang?"
"Let's go in!" (2)
Aku masuk terlebih dahulu ke dalam mobil, Anetta pun demikian. Selanjutnya, kulajukan mobil menuju sebuah kafe yang menurut Anetta tidak jauh dari rumahnya.
Belum tepat waktunya untuk makan siang memang, tapi kalau kami memesan menu brunch pasti akan cukup kenyang juga sampai sore nanti.
Kafe ini terkenal dengan sandwich-nya dan saat aku melihat buku menu, aku menemukan penganan favoritku, croissant yang dijadikan sandwich dengan berbagai macam isian. Langsung saja kupesan menu tersebut untuk diriku. Tak lupa juga secangkir kopi hitam panas sebagai pelengkap yang pas.
Sementara itu, Anetta memesan nasi goreng omelet dengan sari lemon sebagai minuman pendampingnya.
Sambil menikmati makanan yang sudah kami pesan, aku membuka bicara pada Anetta.
"Anetta ..." panggilku.
"Ya, Pak?" Dia menyahut, sambil mengunyah lambat-lambat.
"Mengenai ucapan saya tempo hari ... apa kamu sudah memaafkan saya?"
Dia menarik napas sebelum menjawab. "Saya sudah melupakannya, Pak. Tidak perlu dibahas lagi."
Kupandangi dia cukup lama, berusaha mencari tahu emosinya. Tidak terbaca.
"Tapi saya perlu tahu apakah kamu masih marah pada saya? Saya tidak mau hubungan kita di kantor jadi terpengaruh."
"Oh, kalau soal itu Bapak tenang saja. Saya bisa bersikap profesional, kok," katanya. Kini dia menyunggingkan senyum manis.
Aku pun tersenyum lega mendengar pernyataan gadis itu. Setelahnya, aku dan Anetta melanjutkan acara makan kami dalam diam.
Begitu selesai makan, aku langsung mengantarkannya pulang. Di dalam perjalanan, aku dan Anetta hanya diam. Bermain dengan pikiran masing-masing.
Karena jarak kafe yang tidak terlalu jauh, sebentar saja kami sudah sampai di rumah Anetta. Sebelum dia turun, aku memanggilnya.
"Anetta ...."
"Ya, Pak?" Sepertinya responsnya selalu begitu setiap aku memanggilnya.
"Terima kasih untuk waktunya," kataku.
"Sama-sama, terima kasih juga sudah mengantar saya pulang."
••••••••••
(1) Tidak terlalu buruk.
(2) Ayo masuk!
love u
selalu ku tunggu ceritamu
melelehh hati abangg.
kamu thor sweet bangettt
selalu semangat yaa
pasti jadi romantis duet kalian.. 😍😍