Sheira tak pernah menyangka jika cintanya dengan sang kekasih 'Andra' harus berakhir. Dia pun harus merelakan Andra untuk sahabatnya.
Demi menjaga hubungannya denga Reina, Sheira memutuskan untuk mengalah dan menyembunyikan hubungannya dengan Andra. Dia memilih untuk pergi dan menjauh dari mereka. Bagi Sheira persahabatan adalah segalanya.
Tetapi pada akhirnya kebohongannya pun diketahui oleh Reina. Terbongkarnya kebenaran itu membuat hubungan persahabatan mereka diujung tanduk.
Akankah persahabatan mereka terus berlanjut?
Atau justru persahabatan mereka akan hancur?
Dapatkah Sheira menemukan cintanya?
Penasaran dengan kisah persahabatan mereka, mari baca cerita selangkapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizqi Wida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11 Bersiap Pergi
Saat Reina sedang membereskan rumah yang sangat berantakan karena beberapa hari ini tak terurus. Pasalnya setelah muncul masalah itu Reina tak pernah lagi mengurusi rumahnya. Reina hanya menghabiskan waktunya untuk berdiam diri dikamarnya. Terdengar bunyi ponsel yang menghentikan aktivitasnya. Dia segera merogoh ponsel yang berada didalam kantongnya. Terlihat sebuah pesan singkat dari Sheira.
“Assalamualaikum Rein. Aku tau kalau aku menelfonmu pasti kamu tidak akan mau mengangkatnya. Jadi aku memutuskan untuk mengirimkan pesan ini padamu. Rein aku ingin bertemu denganmu. Aku ingin meluruskan salah paham yang terjadi diantara kita. Aku tidak ingin masalah ini menjadi semakin berlarut-larut. Aku harap kamu mau menemuiku Rein. Aku sangat berharap persahabatan kita takkan berhenti disini. Aku akan menunggumu di cafe tempat biasa kita berkumpul dulu.” Kata Sheira dalam pesan singkatnya.
Reina yang membacanya sontak merasa ragu. Sebenarnya dia juga ingin menemui Sheira tetapi hati Reina masih belum siap untuk bertemu Sheira.
“Waalaikum salam Shei. Maaf Shei aku rasa untuk saat ini sebaiknya kita jangan bertemu dulu. Aku tidak ingin kemarahanku justru akan merusak segalanya. Aku ingin menenangkan dan menjernihkan fikiranku dulu. Mencoba untuk memahami semua keadaan. Jika waktunya tepat nanti aku pasti akan menemuimu.” Jawab Reina membalas pesan singkat Sheira.
“Maafkan aku Shei. Aku masih butuh sedikit waktu untuk bisa bertemu denganmu.” Kata Reina dalam hati.
Tak lama setelah membaca pesan balasan dari Reina. Mama masuk kedalam kamar Sheira. Mama memberi tahukan bahwa semua surat yang diperlukan untuk kepindahan mereka telah siap.
“Shei... ini semua berkasnya sudah siap.” Kata mama mengulurkan sebuah map.
“O iya Ma. Kalau begitu Sheira akan segera mengurus tiketnya.” Jawab Sheira tersenyum sembari menerima map tersebut.
“Ya sudah kalau begitu kita mulai berkemas. Jadi saat tiketnya sudah dapat kita bisa langsung berangkat.” Lanjut mama memberi saran.
“Iya Ma. Ini Sheira juga sedang memilih-milih barang yang akan Sheira bawa. Oh iya Ma, lalu bagaimana dengan rumah ini? Apakan akan kita jual atau kita kontrakkan saja?” tanya Sheira.
“Semalam mama sudah menelfon bibimu yang tinggal di rusun. Mama minta mereka untuk merawat dan menempati rumah ini. Mama tidak ingin menjual rumah ini Shei. Bagaimana pun juga rumah ini memiliki banyak kenangan. Lagi pula jika sewaktu-waktu kita kembali ke Jakarta kan kita bisa menempati rumah ini lagi.” Jawab mama merasa sangat berat meninggalkan rumah mereka.
“Sheira ngerti kok Ma. Apapun keputusan mama Sheira dukung. Kalaupun nanti mama tidak betah di Pekanbaru dan ingin kembali ke Jakarta Sheira tidak akan menahannya. Sheira hanya ingin mama bahagia.” Sahut Sheira sembari memeluk mamanya.
“Ya sudah kalau begitu kita harus segera berkemas.” Lanjt mama kemudian.
“Siap Ma.” Jawab Sheira memberikan hormat pada mamanya. Kemudian mama meninggalkan Sheira dalam kamarnya.
“Maafin aku Rein. Aku sudah tidak punya banyak waktu lagi. Aku harus pergi tanpa menyelesaikan masalah kita. Bukanya aku tidak ingin menyelesaikan masalah ini. Tetapi aku tidak cukup berani untuk muncul dihadapanmu lagi. Apalagi saat ini kamu bahkan tidak ingin melihat wajahku lagi.” Kata Sheira dalam hati yang kembali mengingat pesan singkat dari Reina.
Sheira tidak mungkin kembali menunda kepergian mereka, karena mamanya pun sudah siap untuk berangkat. Sheira tidak ingin mengecewakan mamanya dan dia juga tidak ingin mamanya tahu tentang masalahnya dengan Reina saat ini. Sheira tahu mama pasti akan sangat gelisah jika tahun tentang masalah itu. Oleh karena itu, Sheira berusaha untuk menutupi semuanya dari mama.
Selama ini setelah kepergian papa yang lebih memilih wanita lain. Membuat Sheira lebih protektif pada mama dan adiknya. Dia selalu berusaha untuk menjaga kedua orang yang sangat dicintainya itu. Bagi Sheira mama dan adiknya adalah separuh dari nyawanya. Dia tidak pernah ingin membuat mereka bersedih. Dia juga tidak pernah mau membuat mamanya merasa kecewa.
Enam tahun kepergiannya meninggalkan Jakarta dan keluarganya. Membuatnya merasa sangat bersalah pada mamanya. Dia merasa telah menjadi anak yang tidak berbakti pada mamanya. Hanya karena ingin menjauh dari masalahnya dia rela meninggalkan mama dan adiknya.
Sebenarnya Sheira sudah sejak lama meminta mama dan adiknya ikut serta dengannya. Namun mama selalu menolak dengan alasan Mecca belum menyelesaikan kuliahnya. Namun saat ini Mecca telah menyandang gelar sarjana. Sehingga mama tidak lagi memiliki alasan untuk menolak permintaan putri sulungnya itu. Mama sangat paham jika apa pun yang dilakukan Sheira semata-mata karena kasih sayang Sheira kepadanya dan Mecca.
Sejenak Sheira kembali mengingat masa lalunya yang kelam saat papa meninggalkan dirinya beserta mama dan adiknya. Hingga suara Mecca mambuatnya tersadar dari lamunannya. Entah sejak kapan Mecca berada didepan Sheira.
“Kak, Kak Shei? Halo??” kata Mecca sembari melambaikan tangannya di depan mata Sheira.
“Ada apa sih dek?” tanya Sheira setelah beberapa kali mengedipkan matanya.
“Kakak tuh yang kenapa? Bengong terus, awas nanti kesambet loh.” Sahut Mecca menggoda kakaknya.
“Enak aja kamu ngatain kakak kesambet. Dasar kamu ini.” Jawab Sheira membalas ejekan adiknya dengan menepuk pelan lengannya. Memang mereka sering berdebat saat bersama. Bahkan hanya karena alasan sepele. Tetapi mereka akan saling merindukan saat berjauhan. Seperti itulah kasih sayang antara kakak beradik ini.
“Lagian kakak kerjaannya bengong lagi bengong lagi. Dari pada bengang- bengong terus mending bantuin Mecca berkemas. Masih banyak barang Mecca yang harus dikemas Kak.” Ucap Mecca membujuk kakaknya dengan suara yang manja.
“Gak usah sok manis deh.” Celetuk Sheira memukul lembut pundak adiknya.
“Kakak kenapa malah mukul-mukul Mecca sih. Sakit tahu!” kahut Mecca sembari mengerucutkan bibirnya karena kesal.
“Mana ada sakit orang kakak mukulnya aja pelan. Dasar lebay kamu dek.” Kata Sheira tak percaya dengan perkataan Mecca.
“Bukannya lebay Kak tapi memang……” perkataan Mecca terhenti karena disela oleh Sheira.
“Sudah jangan banyak bicara lagi berisik tahu. Ayo mana yang harus kakak bantu.” Kata Sheira sembari berjalan menuju kamar Mecca. Mecca yang merasa senang karena kakaknya mau membantu berkemas langsung lari menyusul.
Sesampainya di dalam kamar Mecca. Sheira dibuat terkejut dengan kondisi kamar Mecca yang sudah mirip seperti kapal pecah. Banyak barang yang berserakan kemana-mana. Sangat tak beraturan.
“Astagfirullah Mecca! Ada apa dengan kamarmu?” seru Sheira sembari menggelengkan kepalanya.
“Mecca sedang memilih barang apa saja yang akan Mecca bawa Kak. Mecca tidak ingin meninggalkan barang kesayangan Mecca begitu saja.” Jawab Mecca sembari cengingisan.
“Sedari tadi kamu belum mengemas apapun?” tanya Sheira lagi.
“Sudah Kak, Mecca sudah mengemas beberapa barang Mecca. Itu sudah Mecca masukkan ke dalam box.” Jawab Mecca sembari menunjuk kesalah satu sudut kamar.
“Kamu mau membawa semua barangmu? Kenapa banyak sekali barang yang kamu kemas?” kata Sheira tak percaya saat melihat empat tumpuk box disana.
“Itu belum semuanya Kak. Masih banyak barang kesayangan Mecca.” Lanjut Mecca membuat Sheira melongo.
“Mecca bawa barang yang penting saja dek.” Ucap Sheira menasehati adiknya agar tidak membawa semua barang itu.
“Itu semua penting Kak.” Sahut Mecca.
“Kalau kamu membawa barang sebanyak itu bagasi kita tidak akan cukup dek. Ayolah bawa seperlunya saja. Nanti yang lainnya kita beli disana.” Lanjut Sheira membujuk adiknya.
“Hemmm.. ya sudah lah kalau begitu.” Jawab Mecca cemberut.
“Hey jangan cemberut dong. Kakak janji nanti sesampainya disana kakak akan membelikan semua barang kebutuhanmu.” Bujuk Sheira lagi saat melihat wajah sedih adiknya.
“Sungguh? Apapun itu?” tanya Mecca memastikan.
“Iya apaun yang kamu minta.” Jawab Sheira cepat.
“Baiklah kalau begitu.” Kata Mecca kembali tersenyum senang. Sheira hanya menggelengkan kepala melihat sikap kekanakan adiknya itu. Padahal sekarang dia sudah menjadi sarjana, tetapi sikap manja dan kekanakannya masih belum juga hilang.
.
.
.
Aku Up lagi ya. Jangan lupa juga Like, Vote dan Komennya.
ikutin jg bukalah hatimu untukku
mudah mudahan feelingQ sala ya thor