Dikhianati oleh keluarga sendiri, tidak akan membuat Hasper Laurensya Veranichii gentar. Kunjungannya secara tidak sengaja ke sebuah mansion tua di tengah hutan, bertemu dengan Kaisar berwajah dingin, Neca Aguilera Levine sampai masuk ke dunia fantasi underground ... keajaiban tidak pernah berakhir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon иⱥиⱥツ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 10 - Memori
(Hasper dan Xel)
"Hah! Saya kenyang," kekeh Hasper.
"Kita belum pergi ke toko pakaian sama sekali, milady, kapan kamu ingin pergi ke sana?" tanya Xel.
"Sekarang saja, ayo kita izin pada Caver terlebih dulu. Kita kan akan kembali ke sini lagi untuk pergi ke rumah pribadinya," ujar Hasper.
"Baiklah, aku akan menunggu di pintu depan. Kamu izin terlebih dahulu pada Caver. Minta maaf lah karena sudah membuat jantungnya kembang kempis," Xel mengacak rambut Hasper sambil tersenyum tipis.
Hasper mengangguk lalu pergi ke meja kurir bayar.
"Bagaimana keadaan jantungmu, bruder?" tanya Hasper terkekeh.
"Buruk sekali. Gadis itu benar-benar manis, Yang Mulia," ujar Caver frustasi. Pria itu menggelengkan kepalanya.
"Umurnya terpatok cukup jauh denganmu, saya berharap kamu bisa menjalaninya dengan bijak," Hasper mengedipkan matanya membuat Caver tersipu malu.
"Saya tahu! Anda kira saya pria macam apa, Yang Mulia?"
"Baiklah," Hasper mengangguk mengerti. "Kami pamit undur diri terlebih dahulu, Caver. Kami akan kembali lagi ke sini sekitar beberapa hora lagi."
"Semoga kencan Anda berdua menyenangkan!" teriak Caver, sukses membuat pasangan itu mendelik kesal ke arahnya.
Xel dan Hasper menatap satu sama lain. Mereka tahu apa yang harus diucapkan untuk membalas perkataan Caver. "Saya/aku tidak akan merestuimu dengan Jevi/gadis itu!" Sukses sekali membuat Caver mendelik marah ke arah mereka.
"Tidak! Saya akan mengatakan padanya!" teriak Caver.
Orang-orang menatap mereka. Aneh.
"Bisa apa seorang tamu kalau tidak berani mengetuk pintu? Berdiam di luar berharap dia membukakan pintu? Sampai besok pun itu tak akan terjadi!" balas Hasper, terkekeh.
Caver benar-benar kehabisan kata-kata sekarang. Pria itu hanya bisa menatap pasangan itu nanar. Benar kata mereka. Dia terlalu takut untuk mengatakan hal itu. Padahal Jevi merupakan pelanggan tetap di sana. Paling tidak satu minggu dia ada di sana empat sampai lima kali. Tetap saja dia merasa canggung.
Hasper tersenyum manis, Caver bisa membaca senyumannya: Hati-hati gadis itu akan berlabuh di dermaga orang lain.
Caver menegak ludahnya kasar.
Xel menggandeng tangan Hasper menarik gadis itu pergi.
Di meja tengah ada seorang yang tersenyun licik, tidak suka. Dia telah merebut priaku, dia harus membayarnya! Lihat saja kau Permaisur- tidak! Lihat saja kau Hasper Cryztelly Zenya, aku akan merebut priaku kembali. Aku akan merebutnya dari hidupmu dari duniamu!
Hasper merasa ada yang tidak beres. Dia melihat ke belakang, melihat wanita itu, yang sedang menatap tidak suka padanya. Seketika bulu kuduknya meremang. Pemilik manik ruby itu mengeratkan genggaman tangannya pada Xel saat melihat wanita itu tersenyum sinis padanya. Wajah itu menghilang saat Xel menariknya berbelok keluar gang.
"Peganganmu terlalu erat, sayang," bisik Xel.
Hasper langsung menghamburkan dirinya ke dalam pelukan Xel. Lepas dari pandangan mengerikan itu. Dia ingat di cerita Zenya, ada orang yang mendeklarasikan perang, seorang wanita yang menganggap Xel merupakan miliknya. Pemilik manik ruby itu tahu Zenya berusaha memberitahu bahwa Xel tidak boleh berperang. Tapi pria itu acuh tak acuh dengan ucapannya membuatnya harus melindungi pemilik manik amethyst itu dengan nyawanya sendiri. Wanita yang dilihatnya tadi adalah kelompok Jaaduee Andhera, kelompok sama yang menghancurkan hidup Ayahanda dan Ibunda Xel. Hasper mendadak takut. Gadis itu takut akan melakukan hal bodoh, entah mengapa ada perasaan sakit familiar yang menyerangnya. Tertusuk di bagian bawah perutnya. Seketika kepalanya pusing.
Xel mengangkat tubuh Hasper. Pria itu merasakan gemetar tubuh pemilik manik ruby itu.
"Kenapa?" tanya Xel dengan intonasi dinginnya.
"Jaaduee Andhera, mereka ada di sini. Saya takut... Saya..." Sebuah kecupan ringan mendarat di kening Hasper, membuat gadis itu terdiam.
"Kamu ingat semua kan? Sekarang? Kamu adalah dia. Dan akan selalu begitu, Hasper Lauren," Sebuah kecupan ringan mendarat di bibir Hasper. Gadis itu membelakkan matanya.
Ciuman pertamaku?! Hasper tidak sempat berpikir jernih.
"Jaaduee Andhera, aku pastikan mereka tidak akan menyentuhmu lagi. Aku janji aku akan lebih berhati-hati, aku akan lebih memperhatikanmu," Mata Xel terlihat sangat serius.
Seorang di balik bayangan melihat Hasper dan Xel berciuman. Mata itu mendelik marah ke arah mereka berdua. Perasaan kesal dan benci tidak bisa terbendung dari dadanya. Lihat kau Cryzta! Lihat apa yang akan kulakukan! Lihat bagaimana aku akan merebut Neftaza darimu! Lihat bagaimana aku membuatmu sengsara!
Hasper melihat wanita yang tadi tersenyum sinis padanya lagi. Ketakutan menguasai dirinya. Dia ingat siapa yang menghunuskan pedang ke tubuhnya. Tubuhnya semakin gemetar.
"Dia ada di sini bukan?" bisik Xel. "Biarkan saja. Aku akan melindungimu. Dia tidak akan bisa menyakitimu. Tidak untuk kedua kalinya."
Xel menurunkan Hasper, menggenggam erat tangannya. Menariknya ke tempat yang banyak orang.
"Tunggu di sini sebentar," Xel melepaskan genggaman tangannya.
Hasper mencengkram erat tangan Xel saat pria itu ingin pergi. Matanya berkedut: Jangan.
"Hanya sebentar, aku akan kembali dalam satu menit. Kamu tidak akan kenapa-kenapa," Xel mengecup kening Hasper.
Xel menepati janjinya. Semenit kemudian dia datang dengan sebotol sirup apel di genggamannya.
"Untukmu," ujar Xel memberikannya.
Hasper menerimanya. Menegaknya cepat, menghilangkan semua kenangan yang tiba-tiba terlintas di memorinya. Pemilik manik ruby itu menghela nafas panjang dengan botol sirup apel yang isinya tinggal setengah.
Xel lagi-lagi mengecup keningnya. "Tidak apa-apa. Dia tidak akan bisa menyakitimu lagi, untuk kedua kalinya. Tidak akan pernah terulang lagi."
"Saya ingin menceritakan itu. Pengkhianatan itu saya tidak akan melanjutkan dari Debris, saya akan langsung menceritakan pengkhianatan yang terjadi di dalam istana Ayahandamu, Neftaza."
"Aku bersedia mendengarkan, tapi ayo cari tempat yang lebih tenang untukmu bercerita!"
Sukses iya buat karyanya.
Jangan lupa mampir di karya pertamaku. Yang menceritakan seorang lelaki letoy yang selalu ditolak sama cewek dalam judul THE FAILED PLAYBOY.
terimakasih 🙏
udah aku like , like back ya kak..