Vanila didesak keluarganya untuk segera menikah. Arshaka Bimantara tiba-tiba saja menggantikan Seno, pacarnya yang tiba-tiba kabur saat Vanila meminta melamarnya. Ketampanan dan sikap manis Shaka membuat Vanila tak berpikir lama untuk mengiyakan ajakannya, dari pada harus menunggu Seno yang tak ada kabar.
"Vanila, apa begitu susahnya membuka hatimu sedikit saja untukku?" ~Shaka
"Jangankan membuka hati, membuka baju pun aku rela, Mas!" ~Vanila
Siapa laki-laki yang bernama Shaka itu sebenarnya?
Bab 1-63 (End)
***
Empat tahun menjaga jodoh orang, membuat Junior Reynand Winata atau biasa disapa Jr merasa dirinya terpuruk saat mengetahui kekasih yang ia pacari selama ini hamil dengan teman dekatnya sendiri. Seolah ditusuk dari belakang, Jr menyesal selama ini telah menjaga kehormatan gadis yang ia pacari itu.
Mencoba mencari pelampiasan, tapi yang ada hidupnya semakin jungkir balik saat bertemu Bia, gadis yang dijual oleh kakaknya sendiri untuk menemani Jr malam itu sebagai penebus utang padanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Okta Diana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bohong
Nih cowok sebenarnya kesambet apa, sih? Bisa-bisanya dua hari ketemu langsung bilang cinta. Masih banyak wanita di luar sana yang lebih dari aku, kenapa dia malah milih aku?
"Kenapa diam saja?" tanyanya. Ini suasana emang hening banget. "Mau dengerin musik?" Tawarannya sebenarnya bisa mencegah rasa kantuk.
"Boleh," jawabku singkat.
"Kamu suka musik, apa?"
"Dangdut."
"Hah?" Mas Shaka memundurkan kepalanya seolah tak percaya.
"Aku gak suka musik yang melow-melow ntar malah galau," jawabku dengan memalingkan muka. Jangan-jangan dia ngira aku kampungan lagi?
"Apa kamu galau karena masih mengingat mantan pacarmu yang kabur itu?" Mas Shaka memiringkan kepalanya seperti begitu penasaran dengerin alasanku.
Mungkin aku kerjain, seru kali, ya?
Aku mengangguk lemas. "Aku tuh sedih, Mas! Kok tega banget dia sama aku, bisa-bisanya menggantung hubungan ini. Padahal aku berharap banyak ke dia. Punya impian besar pula dalam membina rumah tangga."
Ah, aku pura-pura menyedot ingus hingga berbunyi dan mencebikkan bibir. "Apa kamu begitu mencintainya?" tanyanya lagi.
Aku mengangguk. "Aku belum bisa lupain dia, Mas!" ucapku dengan termehek-mehek.
Padahal bohong, sebenarnya selama pacaran sama Seno empat kali aku putusin tuh cowok semprul, tapi tetep aja Seno ngajak balikan. Udah gak modal, gak ada perhatian, main ke rumah aja gak berani pakai alasan Papa orangnya tensi. Sumpah ya, kalau bukan karena ledekan temen-temenku jomlo aku gak bakal nerima dia lagi.
"Apa yang sudah dia lakukan ke kamu?"
"Lakukan apa?" Aku bingung dengan pertanyaan itu. Jangan-jangan Mas Shaka berpikir aku udah lakuin yang aneh-aneh dengan Seno. "Aku gak ngapa-ngapain selama pacaran sama dia, Mas! Aku benar-benar masih perawan. Kalau kamu gak percaya, cek aja!" Aku memasang wajah geram.
Mas Shaka terlonjak dengan raut wajah tegang yang begitu lucu menurutku. "Bu-kan begitu maksudku, Vanila. Aku percaya kamu wanita baik-baik."
"Terus maksudmu, apa?"
"Mak-sudku ... apa yang sudah dia lakukan sampai membuatmu terlalu besar mencintainya?"
"Dia selalu manjain aku, pokoknya aku cinta banget sama dia, Mas! Aku itu tipe cewek yang setia, gak mudah ngasih hatiku buat sembarang cowok," ucapku dengan intonasi nada tinggi.
Padahal bohong lagi. Kalau ada cowok ganteng lewat siapa yang nolak.
"Termasuk aku?" tanyanya dengan wajah memelas.
Aku memalingkan wajah ke luar jendela gak sanggup nahan tawa, ya kali aku gak terpesona sama dia.
"Vanila!" panggilnya. Aku berdehem. "Apa begitu susah membuka hatimu sedikit saja untukku?"
Lah, kok malah jadi sedih gini. Jangankan membuka hati, membuka baju aja aku rela. Ya ampun, keceplosan, bentar lagi pasti bakal ada netizen yang ghibahin aku.
"Aku butuh waktu, Mas!" jawabku bohong. Wajahnya terlihat penuh kekecewaan. Bawaannya pengen ngikik aja. Ya Allah berdosa banget saiya.
"Tapi, kamu gak terpaksa 'kan menikah denganku, Vanila?" Dia sesekali melirikku sambil fokus ke jalanan.
"Ya ... gimana ya, Mas! Aku tuh gak cinta juga sama Mas Agus. Dari pada dipaksa nikah sama Mas Agus mending ya sama kamu!"
"Kalau kamu disuruh memilih menikah dengan mantan pacarmu atau aku, kamu lebih memilih siapa?"
Ya milih kamu lah, Mas! Ya kali aku milih cowok kayak Seno. Batinku guys.
"Em ... berhubung dia ninggalin aku. Jadi, aku milih kamu, Mas." Udah cukup ngerjainnya. Kasihan juga lama-lama. Wajahnya sampai pucat gitu. Aku mencondongkan badanku menatapnya. "Kamu sakit, Mas? Wajahmu pucat gitu, tiba-tiba?"
"Gak apa-apa, kok! Aku cuma sedikit pusing." Jangan-jangan gara-gara ucapanku tadi?
"Biar aku aja yang nyetir! Kamu tiduran aja!" usulku. Ya walaupun gak pernah pegang mobil sebagus ini seenggaknya aku bisa nyetir mobil sendiri.
"Kamu gak apa-apa?" tanyanya. Aku mengangguk. "Perutku tiba-tiba mual banget." Dia menghentikan mobilnya dipinggir jalan dan mencengkeram perutnya.
"Mungkin gara-gara semalam kamu gak pakai baju, Mas! Jadinya masuk angin. Nanti deh, sampai rumah aku kerokin!"
"Hah?"