"Ara... mas sudah bilang, mas tidak peduli kamu membalas cinta mas atau tidak, tapi mari kita melangkah berdua. Kita bergandengan tangan bersama dengan ikatan suci. Mas ingin mengikrarkan janji nikah hanya dengan kamu."
Kata-kata itulah yang akhirnya membuat Ara mengambil keputusan menerima Sony, meskipun tanpa cinta, ditengah-tengah rasa sakit akibat cintanya dikhianati.
Kata-kata CINTA itu sangat menyakitkan bagi Ara.
Cinta seperti apakah yang akan diterima oleh Ara? Seorang gadis cantik yang menjadi kesayangan keluarga, terutama papinya.
Ikutin terus yuk kisahnya dan tinggalin jejaknya dengan like, komen & vote
Sebelumnya baca juga Bukalah Hatimu Untukku ya.... Biar nyambung cerita dan tokoh-tokohnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Astirai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Ara sadar
Hari ini adalah hari ke limabelas Ara dalam kondisi koma. Dan siang itu Hanny mendatangi kamar Ara. Memang diantara ketiga sahabat Ara, Hannylah yang paling dekat, meskipun yang lain juga dekat.
“Siang tante….” Sapa Hanny pada Karina setelah masuk ke kamarnya.
“Eh Hanny…, siang. Tidak kuliah…..?”
Keduanya saling cipika cipiki
“Ini baru pulang tan, tadi hanya ada satu kelas. Gimana Ara tan….?” Tanya Hanny.
“Yaaa… masih sama Han, kalau semuanya sih sudah baik. Kata dokter, ada sesuatu yang membuat Ara nggak mau bangun, mungkin dia ingin melupakan sakit hatinya, melupakan cintanya. Alam bawah sadarnya menganggab dengan tidur, semuanya akan lupa…” Jawab Karina dengan wajah sedih.
“Sabar tante, pasti Ara akan baik kembali..”
“Iya sih, makanya kata dokter harus terus dirangsang dari luar, diajak ngobrol yang indah-indah dan dibangkitkan
semangatnya. Eh… iya tante hampir lupa, tolong Hanny tungguin Ara dulu ya, tante harus ketemu dokter dulu..” Kata Krina seperti mengingat sesuatu.
“Iya tante nggak papa Hanny tunggu di sini…”
Karinapun keluar kamar meninggalkan Hanny berdua dengan Ara.
“Ra… loe kenapa sih cemen begini? Gue benci sama loe…, loe kira dengan tidur begini loe nggak nyusahin
orang lain? Nggak bikin sedih orang lain? Ayo bangun…. Loe udah janji kan sama anak-anak panti mau ngajak jalan-jalan….” Kata Hanny sambil memandang lekat wajah sahabatnya. Hanny berusaha merangsang emosi Ara, dan ini sudah sering dia lakukan saat menjenguk Ara.
“Ra… kamu tahu nggak, si cantik Nila nanyain kamu terus. Kasihan dia Ra, Nila kangen kamu. Nila selalu ingat janji kamu beliin jepit rambut warna pink. Nila juga ingat janji kamu ngajak lihat gajah. Ayo Ra bangun… Kamu udah bilangkan, kita mau bawa makanan buat anak-anak panti. Jangan bikin mereka menunggu dan kecewa Ra…..”
Hanny terus mengusap-usap tangan Ara. Ada kesedihan di wajah Hanny melihat kondisi sahabatnya. Sampai
pada suatu saat, mata Hanny melotot melihat ada air mata yang meleleh dari sudut mata Ara. Dan dengan gugup Hanny memencet bel yang ada di samping ranjang Ara.
Tak lama kemudian muncul dua orang suster.
“Sus… Ara na.. nangis….” Kata Hanny dengan gugup. Salah satu suster mendekat untuk melihat yang
dikatakan Hanny.
“Baik, saya panggil dokter ya mbak….”
Dan tak lama kemudian, masuk seorang dokter yang lalu melakukan pemeriksaan. Saat proses pemeriksaan, Karina yang rupanya sudah selesai bicara dengan dokter lain, terkejut saat masuk ke kamar Ara.
“Ada apa Han….?” Tanya Karina.
“Ara sepertinya nangis tan setelah saya ajak ngobrol….”
Karina kaget mendengar jawaban Hanny.
“Bagaimana dok….?” Tanya Karina setelah dokter selesai memeriksa.
“Ada perkembangan bagus bu. Pasien sudah merespon….” Jawab dokter.
“Tadi saya ajak ngobrol soal anak-anak panti asuhan dok. Saya kesal karena Ara udah janji sama anak-anak panti
mau ngajak jalan-jalan…” Jawab Hanny polos.
“Bagus… rangsang terus emosinya ya. Ajak bicara soal anak-anak panti kalau memang itu bisa membangkitkan emosinya. Saya yakin tidak lama lagi pasti bangun. Untuk yang lainnya tidak perlu ada yang dikhawatirkan bu…”
Setelah mendengar penjelasan Hanny dan dokter, Karina menjadi lebih tenang. Setelah dokter dan suster
meninggalkan kamar, Karina lalu menelpon suaminya, mengabarkan kondisi Ara.
“Ra… kamu dengar, kalau kamu sebenarnya sudah sehat? Kamu cuma malas aja, ayo bangun… besok kita beli jepit rambut sama makanan ya, terus kita ke panti. Mita sama Nuri juga udah kangen sama anak-anak, tapi kalau nggak ada kamu jadi nggak seru….”
Hanny terus aja bicara tanpa henti saking kepengennya Ara segera sadar, sedangkan Karina hanya memandangi
mereka.
“Han kamu makan dulu gih….” Kata Karina setelah dilihatnya Hanny tidak putus asa mengajak bicara anaknya.
“Nanti aja tante, tadi Hanny sudah makan bakso di kampus…” Jawab Hanny.
“Eh iya…, Ra kamu mash ngutang traktir bakso lho… Jangan pura-pura lupa, kamu juga udah janji kita bakal
masak bakso di panti buat rame-rame. Ayo dong Ra…..” Kata Hanny lagi.
Kembali mata Hany melotot, saat dirasakan jari-jari Ara yang ada di dalam genggamannya bergerak-gerak, dan tak
lama kelopak mata Ara juga bergerak.
“Tante….!” Seru Hanny, yang membuat Karina yang sedang duduk di sofa langsung berdiri dan mendekat.
“Ada apa Han….?”
Hanny hanya menujuk jari-jari Ara yang masih bergerak-gerak, dan tak lama matanya pelan-pelan terbuka.
“Ra……” Karina berseru dan air matanya meleleh saat dilihatnya Ara sudah benar-benar membuka matanya.
Hannypun ikut menangis, lalu tangannya kembalimemencet bel di dekat ranjang Ara.
Kali ini yang muncul adalah dokter Sony yang kebetulan sedang berada di ruang perawat saat bel dari kamar
Ara berbunyi, sehingga langsung segera melangkah diikuti seorang perawat.
“Dokter… Ara…..” Kata Karina.
Ara yang sudah membuka matanya, melayangkan pandangannya ke sekitarnya, dan saat pandangan matanya
bertemu dengan mata maminya, air matanya langsung meleleh.
Dokter Sonny langsung melakukan pemeriksaan, tidak ada respon apapun dari Ara.
“Sayang…. kamu sudah bangun….?” Tanya Karina dengan berurai air mata setelah dokter Sony agak menyingkir ke sebelah.
“Ma….. ma… mi…..” Terdengar suara serak Ara. Karina langsung memeluk anak gadisnya dan menangis
tersedu-sedu. Hanny yang melihat pemandangan itu, ikut menangis, sedangkan dokter Sony hanya diam termangu. Hatinya sangat gembira melihat Ara yang sudah tersadar.
Setelah menuntaskan kegembiraannya, Karina mendekati dokter Sony.
“Dok gimana kondisinya…?” Tanya Karina masih dengan berurai air mata.
“Secara umum baik bu, nanti kita akan lakukan pemeriksaan lebih detail. Saya diskusikan dengan dokter yang
lain.” Jawab dokter Sony.
Setelah dokter Sony dan suster meninggalkan kamar, dengan tidak sabar, Karina segera menelpon Seno dan El.
Satu jam kemudian, Seno dan El sudah sampai di rumah sakit dan tak lama kemudian muncul Dira yang diikuti
si kembar Cello dan Vano.
Semua wajah yang ada di kamar itu menunjukkan kegembiraan, bahkan Seno tidak lepas memeluk Ara
terus-terusan.
“Diiihhh… dunia milik berdua dech kalau begitu, yang lain ngontrak…” Tiba-tiba Cello nyeletuk, yang membuat
suasana makin riuh karenan tertawa. Sementara Ara dengan tatapan kosong melihat kearah adiknya yang suka jahil. Wajahnya terlihat murung, sehingga Cello menghentikan ledekannya.
Saat mereka sedang menikmati kegembiraannya, datang dokter Sony dan dua dokter lainnya diikuti perawat untuk
melakukan pemeriksaan. Semuanya keluar dari kamar kecuali Seno dan Karina.
Dokter-dokter melakukan pemeriksaan dengan teliti, Seno dan Karinapun memperhatikan dengan seksama.
Saat salah satu dokter melakukan pemeriksaan di kedua kaki Ara, tak lama dahinya berkerut seperti ada sesuatu. Kemudian dokter memerintahkan Ara untuk menggerakkan kakinya, tetapi tidak ada respon.
Setelah selesai melakukan pemeriksaan, para dokter meminta Seno dan Karina untuk berbicara di ruang dokter.
“Saya mendiagnosa terjadi kelumpuhan di kaki putri bapak, tetapi sepertinya bukan kelumpuhan permanen. Untuk
lebih memastikan, besok kita lakukan tes….” Kata dokter senior.
******
Hai..... sory ya kalau beberapa hari aku nggak up.
Kondisi lagi drop karena banyak kerjaan.
Trims kalau kalian tetap setia.
Dukung terus dengan vote, like & komen ya.....
Mudah-mudahan nanti malam bisa up lagi