"Maaf, aku mundur."
"Maksudmu?"
"Kita akhiri hubungan ini. Terima kasih untuk semuanya, Pak Riko."
Rencana lamaran gagal seketika. Hubungan yang baru seumur jagung pun kandas dalam sekejap. Riko tak paham. Ia sampai beberapa kali menanyakan keputusan Lily.
Lantas, bagaimana kelanjutan cerita mereka? Akankah tali yang sudah putus bisa disambung kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cietyameyzha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hujan datang
~Dikala Allah memberimu cobaan, maka saat itulah Allah tengah mencintaimu.~
💥💥💥💥💥💥
💥💥💥💥
💥💥
Hujan benar-benar datang. Riko dan lelaki tersebut berlarian ke dekat pos --tempat penunggu makam -- duduk di depannya. Pikiran Riko masih terpenuhi banyak pertanyaan, tetapi mulutnya sulit tergerakkan. Ia membeku.
Seorang penjaga mempersilakan Riko dan lelaki itu duduk di dalam, tetapi keduanya menolak. Mereka seolah menikmati irama hujan yang jatuh dengan tenang dan merdu.
"Anda tidak mau bertanya apa pun?" Lelaki itu membuka perbincangan di antara keduanya. Mengusik keheningan yang terjadi. "Saya lupa memperkenalkan diri. Saya Irawan, sahabat Almarhum suami Lily. Orang yang menjadi saksi hidup luka yang Lily pendam selama menikah."
Mendengar itu Riko seketika tersadar, menoleh ke samping. "Maksud Anda?"
Irawan pun menoleh. Kedua bola matanya menatap dalam Riko. "Lily, tidak pernah bahagia menikah dengan Fikri. Ia menerima kesakitan yang luar biasa dari hari pertama menikah."
Hati Riko semakin dihantui rasa penasaran. Termasuk mengapa Lily memilih meninggalkannya dan menikah dengan lelaki bernama Fikri tersebut.
"Jelaskan lebih detail. Saya harus tau semuanya!" desak Riko.
"Lantas, keuntungan apa yang saya dapatkan?"
"Apa mau Anda?"
"Tidak banyak." Seringai licik tampak jelas di bibir Irawan. "Setelah saya menjelaskan semuanya. Lupakan Lily. Berpura-puralah kalau kalian tidak punya kisah apa pun di masa lalu."
Riko geram. Tangan kanannya mengepal di bawah menandakan emosi baru saja tiba. "Anda tidak berhak mengatur tentang itu!"
Irawan tersenyum licik. "Terserah, kalau itu memang keputusan Anda.
Suasana hening.
"Apa Anda menyukai Lily?" tanya Riko dengan tegas.
Irawan bergeming.
"Melihat dari cara Anda mengancam saya, sepetinya iya," lanjut Riko.
"Anda pintar menebak hati seseorang rupanya," puji Irawan.
Itu tak terdengar sebagai pujian bagi Riko, melainkan sebuah bendera perang.
"Setidaknya saya tidak pernah memaksa seseorang agar sesuai dengan keinginan saya!" Kini Riko tersenyum simpul. "Maaf, jika saya salah. Anda dan Fikri, mungkin punya sifat yang sama."
"Maksud Anda?"
"Sama-sama menyakiti, tetapi dengan cara yang berbeda!" Bibir Riko membentuk sebuah senyuman kecil. "Fikri mungkin menyakiti secara terlihat, tapi Anda berbeda. Dengan alasan melindungi, Anda justru lebih menyakiti Lily. Berkedok cinta, nyatanya hanya egois semata!"
Irawan tak berkutik. Ia menatap lekat kepada Riko. "Saya menjaganya selama ini! Apa salah kalau saya tidak ingin melepasnya pada orang lain? Anda pikir, ini tidak memakan waktu!"
"Tidak ada yang salah, tapi apa Lily juga punya rasa yang sama dengan Anda? Jika tidak! Saya rasa Anda orang paling egois!"
Riko menepuk bahu Irawan. "Cinta itu tidak bisa dipaksakan. Saya bahkan ditinggalkan sehari sebelum lamaran. Lantas, apa saya egois dengan terus menahan Lily? Tidak! Saya berusaha meyakinkan diri, kalau Lily mungkin punya pilihan terbaik, sekali pun diri saya sendiri terluka."
Curah hujan semakin tinggi. Sama halnya dengan luapan emosi yang sedang bergejolak dalam diri Riko. Ia berusaha menahan. Mengucapkan beberapa kali kalimat istigfar bertujuan untuk meredakan. Ia lelah. Mungkin tidur dan melupakan sejenak persoalan hari ini akan membantunya berpikir jernih.
Irawan pergi tanpa pamit lebih dahulu. Ia berlarian menembus hujan tanpa ragu, sedangkan Riko memilih menunggu sedikit lebih reda. Ia tak bisa menyetir dalam keadaan hati tak tenang.
🌈🌈🌈🌈🌈🌈
Di sebuah kamar kecil, Lily sedang menidurkan Keysa. Ia memberikan anak itu sebotol susu yang baru saja diseduhnya. Anak perempuan tersebut terbaring di kasur dengan mulut terus menyedot. Mata Lily yang indah adalah pusat terindah baginya.
"Ma-ma-ma-mama," oceh Keysa ketika botol susu terlepas.
Tangan kanan Lily mengelus rambut keriting Keysa. "Sayang, bobo, ya, Mami juga ngantuk."
Keysa tertawa. Ia senang Lily meresponnya cepat. Lily kembali mengarahkan botol susu pada mulut Keysa sembari menyanyikan lagu sebelum tidur.
Perlahan, tetapi pasti. Mata Keysa mulai memberat. Kantuk datang lebih cepat. Ia kalah, dan memejamkan mata ditemani Lily yang terus mendendangkan nyanyian indah. Suara hujan terdengar jelas di balik jendela. Tinggal berdua dengan Keysa adalah pilihannya. menikmati waktu bersama anak bayi yang tumbuh dengan baik adalah moment paling indah untuk Lily. Setidaknya ia bisa melepaskan sakit dalam diri dengan kehadiran Keysa.
Usai memastikan Keysa berkelana ke alam mimpi. Lily segera menyimpan botol susu tersebut di meja. Ia merebahkan diri di samping Keysa dengan pikiran mengudara jauh ke angkasa. Demi Keysa, ia rela masuk perusahaan Adnan. Bertemu kembali dengan Riko dan berpura-pura melupakan kejadian di masa lalu. Ini menyakitkan, tetapi keadaan tak bisa dirubah. Hidup di kota memang keras. Siapa yang kuat, dialah yang sanggup bertahan.
"Aku harap dia mengerti." Kedua mata Lily mulai menutup. Ia harus tidur untuk mendapatkan tenaga yang baik untuk bekerja besok. Biarlah tulisan yang tertoreh hari ini menjadi koleksi di catatan kehidupannya.
💞💞💞💞💞💞
nikah kq dibuat mainan
begitu sih etikanya
semangat dan sukses trs untuk karya" nya yg lain 💪💪💪💗