Sedang tahap Revisi:
Liliana—atau Lili—tak bisa diam. Energi dan suaranya seolah tak pernah habis, berpindah dari satu cafe ke cafe lain, menyalurkan hobinya bernyanyi. Hidup baginya sederhana, selama masih bisa menyanyi dan tertawa, dunia baik-baik saja.
Sementara itu, Andra Wijaya lebih suka menyendiri. Cowok pendiam ini punya dunia kecilnya sendiri, mendesain pakaian, menjahit, dan memotret dirinya sebagai model. Semua dilakukan dari rumah, jauh dari hiruk-pikuk orang.
Dua dunia yang sangat berbeda. Namun, siapa sangka satu kejadian kecil membuat keduanya saling bertabrakan. Sejak itu, hidup mereka tak lagi sesunyi atau seceria sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lavinka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 10
"Abang, besok Sabtu jadi ke Jogja, nggak?"
Andra yang baru saja menaruh gelas kosong di nakas menoleh malas. Rambutnya acak-acakan, kaus oblongnya kusut. Hari itu dia nyaris tidak punya waktu bernapas di tokonya.
Pelanggan membludak, dua karyawan ijin mendadak, dan Andra—si bos besar—terpaksa turun tangan dari pagi sampai sore. Kini, tubuhnya sudah rebah setengah tenggelam di ranjang, mencoba menyatu dengan kasur.
"Iya, jadi. Kenapa? Kamu mau ikut?" tanyanya sambil memejamkan mata, berusaha rileks.
"Berapa hari?"
"Ya, sampai kerjaan abang kelar lah." Suaranya terdengar lelah.
Tapi begitu Andra hendak memejamkan mata lebih dalam, sebuah potongan bayangan melintas begitu saja di benaknya—bayangan seorang perempuan di atas panggung. Suara merdunya. Tatapannya. Senyumnya yang seolah ditujukan khusus hanya padanya.
Lili.
Refleks, matanya terbuka. Ia mendesah pelan, lalu bangun sambil menyandarkan punggung ke dinding.
Di sudut kamar, Indri, sang adik, sedang duduk bersila di atas bean bag sambil asyik membaca novel digital dari laptop sang abang—tanpa izin, tentu saja.
"De', abang mau nanya, deh."
"Hmm," sahut Indri sambil terus menggulir halaman bacaan, matanya tidak beranjak dari layar.
"Sejak kapan kamu kenal Lili?"
Klik.
Indri langsung menghentikan scroll-nya. Perlahan dia menoleh, alisnya terangkat, ekspresinya penuh tanda tanya.
"Kenapa emangnya, Bang? Emang Abang masih inget sama Mba Lili?" Nadanya menggoda.
Andra mengerutkan kening. "Kenapa sih masih manggil dia Mbak? Bukannya kalian seumuran?"
Indri malah ngakak. "Bang, jangan ketipu muka baby face-nya Mbak Lili, dong! Justru kita beda jauh. Kalau nggak salah umurnya 28 tahun."
"APA?!" Andra hampir terlonjak dari ranjang. Matanya melotot seolah mendengar bahwa Lili adalah alien, bukan manusia. "Kamu jangan bohongin Abang, De!"
"Lah, Abang lupa umurnya? Ish, lebay banget sih? Emangnya kenapa kalo dia 28? Abang pikir dia anak SMA?"
Andra masih tercengang. Selama ini dia pikir Lili paling-paling baru lulus kuliah. Cara bicara, cara tertawa, gaya berpakaiannya begitu ringan dan kekanak-kanakan. "Tapi, kenapa... dia keliatan—"
"Keliatan muda? Iya, itu udah rahasia umum, Bang. Makanya banyak cowok kejebak." Indri menyengir penuh arti. "Hayoo ngaku, Abang udah kejebak juga, ya?"
"Apa sih! Jangan suka bikin asumsi! Mana mungkin abang bisa suka sama cewek modelan dia!" Andra langsung membantah, refleks seperti disengat listrik.
Indri menggoda lagi sambil melipat tangannya di dada. "Iya, iya... sekarang bilangnya nggak. Nanti juga palingan kepincut sampe lupa jalan pulang."
Andra mendecak dan mengetuk ranjang pakai jarinya. "Amit-amit jabang bayi. Jangan sampe itu kejadian! Nauzubillah."
Indri mengangguk-angguk dramatis. "Oke, deh. Kita lihat siapa yang menang, ego, atau hati Abang." Ia berdiri sambil menenteng laptop. "Bang, serius, deh. Kalau nanti abang nyesel, jangan nyalahin Indri ya!"
"Udah, keluar sana. Malem-malem gini masih aja ngeracunin abang pake drama." Andra mendorong adiknya ke luar kamar sambil geleng-geleng kepala.
"Iya, iya... Abang emang belum sadar aja. Tapi, ntar juga sadar!" seru Indri sambil nyengir puas sebelum pintu ditutup.
Jebret!
Kamar kembali sunyi. Andra menarik napas panjang, menatap langit-langit kamar. Namun, bukan langit-langit yang dia lihat. Yang muncul di matanya, Lili. Di panggung sedang tersenyum, menyanyi, kemudian menatapnya.
Andra memejamkan mata kuat-kuat. "Sialan, kenapa harus lo sih yang muter-muter di kepala gue?"
Dia bangkit, masuk ke kamar mandi dan membasuh wajahnya dengan air dingin. Berkali-kali. Sampai lehernya basah. Sampai napasnya kembali stabil.
Begitu keluar, ia duduk di ranjang, menghempaskan diri. Dipegangnya ponsel, dan dia tahu satu-satunya pelarian malam ini, Game.
Satu, dua klik, dan dunia pun berubah. Untuk sementara, suara Lili di kepalanya kalah oleh suara tembakan dan ledakan di layar ponsel.
Untuk sementara.
Keesokan paginya. Andra terbangun dengan mata sepet dan pundak pegal setelah begadang main game sampai pukul satu dini hari. Sambil menguap, dia meraih ponsel di meja nakas, 05:29 wib.
“Belum jam enam,” gumamnya. Meski masih berat, Andra bangkit, menuju kamar mandi untuk mandi dan sholat. Setelah itu, ia mengenakan setelan training abu tua favoritnya dan menyambar handuk kecil, siap untuk jogging pagi.
Andra memang rutin lari pagi di sekitar komplek saat sedang tidak buru-buru. Baginya, udara pagi itu seperti recharge alami untuk pikirannya.
Setelah hampir 40 menit berlari dan berkeringat, Andra kembali ke rumah. Dia berniat duduk sebentar di kursi teras untuk menenangkan napas, tapi langkahnya terhenti saat melihat seorang pria muda—berjaket coklat, rambut disisir rapi— turun dari motornya dan berhenti persis di depan rumah.
Andra menyipitkan mata, berdiri sambil menyeka peluh. "Maaf, cari siapa?"
"Assalamualaikum, Mas. Kenalkan, saya Toni.”
Andra menyalami pria itu dengan ekspresi datar dan senyum tipis. “Wa’alaikumsalam. Ada perlu apa?" Tangannya dimasukkan ke kantong celana training. Gesturnya kalem, tapi tatapannya waspada.
"Saya… mau jemput Indri, Mas.” Toni tampak gugup, suaranya sedikit tertahan. Aura dingin Andra memang kerap membuat orang salah tingkah.
Andra menaikkan alis. “Kamu yang dulu ngelamar Indri, bukan?”
Toni refleks menegang. Matanya menatap Andra dengan sedikit kaget. “Mas tahu?"
“Nggak. Saya cuma nebak. Dulu Indri pernah bilang soal itu, jadi saya tebak-tebak aja.” Jawaban Andra tenang, tetapi matanya tajam, seperti sedang menilai seseorang.
Toni akhirnya menceritakan dengan jujur bagaimana awal mula dia kenal dan menyukai Indri, hingga keberanian melamar di tempat kerja. Dia ingin terbuka, terutama di hadapan kakak perempuan yang ia cintai.
“Loh, Abang udah pulang?” Suara ceria Indri memecah suasana. Ia keluar rumah dengan rambut dikuncir dua dan tas selempang kecil di bahu. “Eh, Mas Toni juga di sini?” Matanya membulat bingung.
Andra hanya mengangkat bahu dan langsung masuk rumah tanpa menjawab. Toni menatap Indri, lalu tersenyum kecil. “Abang kamu cuma nanya sedikit tentang aku. Kayaknya, dia lebih suka diam daripada ngomel.”
Indri mendesah. “Pasti karena dia belum bisa percaya sepenuhnya. Tapi, nanti juga luluh.”
Toni menyodorkan helm. Indri memakainya tanpa banyak cakap. Mereka berangkat, dan dari balik tirai jendela, Andra diam-diam menatap kepergian motor itu. "Semoga cowok itu bisa jaga adik gue baik-baik."
Andra menghela napas panjang, lalu berjalan ke dapur. Dari kejauhan, aroma bawang putih dan minyak panas sudah memenuhi udara. Ibu Ratu sedang memasak sambil bersenandung kecil.
Tanpa aba-aba, dia langsung memeluk ibunya dari belakang.
"Astagfirullah!” Ibu Ratu hampir menjatuhkan spatula. Namun, begitu sadar siapa yang memeluknya, ia hanya tersenyum dan mengusap tangan Andra. “Ada apa, hmm? Kamu udah lapar, Bang"
Andra memeluk lebih erat. Wangi bumbu bercampur wangi tubuh ibunya yang selalu familiar membuat dadanya terasa tenang. “Abang siap, Bu. Kalau emang Indri mau menikah duluan. Abang nggak apa-apa."
Ibu Ratu menghentikan aktivitasnya. Api kompor dimatikan. Tatapannya serius, tetapi hangat. "Ibu nggak pernah memaksa Abang. Mau nikah duluan, mau belakangan, semua ibu serahkan ke kalian. Kalau memang Indri dan Toni siap, ya, ibu hanya bisa merestui. Yang penting, kalian sama-sama bahagia.”
Andra tersenyum, lalu menggenggam tangan ibunya. "Tangan Ibu kasar, tapi penuh cinta. Abang nggak minta banyak, Bu. Cuma, semoga nanti bisa nemu istri yang sayangnya ke Abang kayak Ibu sayang ke kami.”
Ibu Ratu menatap mata anak sulungnya itu, dan perlahan tersenyum sambil menepuk pipinya lembut. “Ibu pernah berharap, ada satu orang yang bisa jadi pendamping kamu, Bang. Tapi, semua kembali ke kamu. Ibu cuma bisa doain. Pilihlah yang bikin hati kamu tenang.”
Andra hanya mengangguk, tapi ketika dia memejamkan mata sebentar, bayangan Lili muncul. Lagi. Suaranya. Tatapannya. Gerakannya di panggung tadi malam, bahkan senyumnya saat menggoda dengan ekspresi polos nan ceria. "Sialan! Kenapa harus dia lagi yang muncul di kepala?”
Ibu Ratu menatap Andra dengan curiga. “Kenapa, Bang? Kayak kepikiran sesuatu."
Andra buru-buru menggeleng. "Nggak, Bu. Cuma lapar aja. Sarapan udah siap?”
“Ya udah, bantuin ibu angkatin piring. Tapi, jangan sambil melamun, ya!”
“Siap, Bu Komandan.”
Andra melangkah ke lemari piring. Namun, dalam hati—di balik tawa dan candanya— ia tahu, dia sedang kalah. Perlahan-lahan, hatinya mulai digoyahkan oleh seorang gadis bernama Lili.
mampir juga di novelku yah🥰🙏
Dtunggu yg kak up nya. Semangat juga bt nls nya
syiap lah. ditunggu next chap nya yah.
semangat dan sehat selalu Thor
di tunggu up selanjutnya 🥰
semangat Thor..jangan lupa mampir juga😁