Ibu adalah orang yang paling bisa mengerti dan mengenal tentang kita. Tak ada cinta yang sekuat Cinta ibu. Kasih sayangnya begitu tulus sampai tak ada yang bisa menandinginya.
Novita adalah wanita paruh baya yang berstatus single parent, dia menghidupi kedua anak-anaknya seorang diri. Masalah dalam hidupnya datang silih berganti tak ada hentinya. Namun dia selalu berusaha sabar dan tegar untuk menghadapi semua masalah yang menimpanya. Baginya pengalaman adalah sebuah pelajaran berharga untuk dirinya.
Tapi hati ibu mana yang tak hancur ketika kedua anaknya berani untuk membenci ibunya sendiri. Akankah mereka sadar betapa besarnya kasih sayang yang tulus dari sang ibu? Bisakah Novita bertahan dan menyadarkan kedua anak-anaknya dengan cinta dan kasih sayang tanpa batas, walaupun di balas dengan kebencian?
Yuk berkelana dalam kisah hidup Novita bersama-sama😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yessie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
hamil
Tanpa terasa, aku kini sudah bekerja selama dua tahun sebagai Cleaning service. Begitu pula dengan suamiku. Dia juga bekerja di satu perusahaan yang sama dengan ku, hanya saja dia menjabat sebagai kepada devisi di perusahaan itu.
Awalnya, suamiku meminta ku untuk keluar dan mengundurkan diri setelah dia di terima bekerja di perusaan itu. Tapi, berat hatiku untuk mengundurkan diri dari sana. Sebab, aku merasa sudah sangat nyaman dengan posisi dan juga keadaan yang ada ditempat kerja ku sekarang. Bukan itu saja, rekan-rekan kerja ku pun sangat baik kepada ku. Aku berusaha merayu dan membujuk suamiku, agar aku masih tetap di ijinkan bekerja disana.
Aku merasa senang karena suamiku ternyata mengizinkan aku untuk tetap bekerja. Asal aku tidak boleh melupakan kewajiban ku untuk mengurus anak dan juga suamiku.
Pagi itu, saat aku akan pergi bekerja, kepalaku mendadak terasa berat dan sangat pusing sekali. Akhirnya aku memutuskan untuk meminta ijin hari itu juga. Aku merasa sangat tidak enak badan.
Suamiku bertanya kepadaku mengenai keadaan ku pagi itu saat dia akan pergi bekerja.
“bu, kok masih di rumah?” Tanya suamiku.
“aku ijin tidak berangkat kerja dulu mas.”
“loh kenapa?”
“nggak tau kepala ku mendadak berat sekali. Dan aku merasa pusing mas.”
“sepertinya, kamu ke capekaan, ya sudah, istirahatlah saja di rumah. Tidur dan jangan lupa minum obat.”
“iya mas.”
“biar aku yang mengantar raditya ke sekolah.”
Aku mengangguk-anggukkan kepalaku.
“sepertinya, di kulkas masih ada obat untuk sakit kepala. Aku akan ambilkan untukmu.”
“nggak usah mas. biar nanti aku ambil sendiri. Lebih baik kalian berangkat sekarang saja. Lagi pula ini juga sudah siang, takutnya nanti kamu terlambat berangkat ke kantor mas.”
“owh, baiklah, kalau begitu, aku akan pergi sekarang ya bu.”
“iya mas, hati-hati di jalan ya mas.”
“iya.”
Setelah mengucapkan salam, suamiku lalu pergi. Melihat keadaan rumah yang sudah sepi, aku pun kemudian mebaringkan tubuh di tempat tidur. Aku mencoba memejamkan mata, dengan maksud agar kepala ku segera membaik.
Akan tetapi kepala ku bukan merasa membaik justru semakin terasa berat sekali.
“aduh, kenapa kepala ku justru semakin bertambah pusing. Bahkan aku sama sekali tidak bisa tidur. Apa aku memang benar-benar kelelahan? Sebaiknya aku periksakan saja ke rumah sakit sendiri.” gumam ku sambil memegangi kepala.
Aku lalu pergi menuju ke rumah sakit sendiri dengan menggunakan taksi tanpa memberikan kabar kepada suamiku. Aku takut jika nanti dia khawatir dengan ke adaan ku.
Sesampainya di rumah sakit aku lalu mendaftarkan diri. Tak lama setelah itu, namaku di panggil. Aku lalu masuk, dokter kemudian memeriksa badan ku setelah aku mengatakan keluhan yang sedang aku rasakan.
Selesai memeriksa diriku, dokter justru tersenyum kepada ku.
“aku sakit apa ya dok?” Tanya ku.
“selamat.”
“selamat?" Sahutku.
“selamat? Apa aku hamil?” batinku.
“iya, selamat, karena ibu sekarang sedang mengandung. Ibu sama sekali tidak sakit. Pusing yang sekarang ibu rasakan karena pengaruh hormon yang tidak stabil saat sedang mengandung di awal kehamilan seperti ini.”
“apa? Aku hamil dok?”
“iya ibu novita.”
“owh, Alhamdulillah.”
“umur kandungan ibu saat ini sudah masuk minggu ke enam, jadi saya minta ibu tolong di jaga kondisi tubuhnya ya. Dan makan, makanan yang bergizi. Jangan lupa untuk Istrirahat yang cukup.”
“baik dokter. Ini adalah kehamilan ke dua saya dok.”
“owh, begitu. Jadi ibu novita sudah mempunyai pengalaman hamil sampai anak lahir ya.”
“iya dok.”
Beberapa jam kemudian, selesai di periksa oleh dokter, aku pun pulang sambil membawa selembar kertas yang isinya tak lain adalah hasil dari kehamilan kedua ku ini.
“aku sangat bersyukur, ternyata Tuhan masih mempercayai ku. Sehingga Tuhan memberikan aku calon buah hati lagi. Aku yakin, jika nanti aku memberikan kabar baik ini kepada mas kalendra, dia pasti sangat bahagia sekali. Gak nyangka Raditya akan mempunyai adik.” Batin ku sambil mengusap-usap perut ku sendiri.
Sore itu, suami dan juga anakku sudah pulang ke rumah. Aku menyambut kedatang mereka dengan senyuman dan hati yang sangat bergembira.
Aku sengaja tidak langsung memberitahukan kepada mas kalendra soal khamilan kedua ku ini. Aku berniat memberitahukannya nanti saat kita selesai makan malam bersama.
Makan malam tiba, mas kalendra dan juga Raditya sudah duduk di kursinya masing-masing.
“bu, aku lihat dari tadi ibu kelihatan bahagia sekali? Ada apa?” Tanya kalendra.
Aku pun hanya tersenyum-senyum sendiri tanpa menjawab pertanyaan dari suamiku.
“badan ibu sudah sehat kan? Sudah enakan kan bu?” tanya suamiku lagi.
Aku lalu mengangguk-anggukkan kepala ku.
“syukur deh kalau badan ibu sudah enakkan.” Ucap suamiku.
Selesai makan malam, aku memberikan selembar kertas putih hasil pemeriksaan tadi di rumah sakit.
“nih yah.” Kata ku sambil menyodorkan ke suamiku.
“apa ini bu?” ucap suamiku dengan wajah bingung.
“lihat aja sendiri yah.”
Mas kalendra lalu membuka dan mulai membaca selembar kertas itu dengan teliti. Selesai membaca, dia lalu tertunduk dan terdiam. Aku pun heran dengan sikapnya. Aku kemudian menepuk pundaknya dengan perlahan-lahan.
“mas, kamu kenapa? Kamu nggak suka ya aku hamil lagi?” Tanya ku terheran.
Namun, mendadak suamiku berdiri dan memelukku. Setelah itu dia menggendong Raditya sambil berkata,
“raditya, kamu akan menjadi seorang kakak nak. Sebentar lagi, kamu akan memiliki adik.”
“adik yah?”
“iya nak, di perut ibu ternyta sudah ada adik kamu nak.”
“beneran bu?”
Aku tersenyum dengan wajah bahagia, karena melihat anak dan juga suamiku bahagai.
“ye.. ye… ye… aku mau punya adik, akhir nya aku punya adik.”
“ibu, ibu tau, aku senang sekali kalau ibu hamil lagi.” Ujar Kalendra.
“ayah, ini kan ibu hamil untuk yang ke dua kalinya. Perasaan waktu aku hamil pertama kali, ayah nggak seheboh gini deh.”
“ha… ha… ha… emm, aku hanya bahagia, karena Tuhan telah mempercayai kita lagi sebagai orang tua.”
Suamiku terlihat kegirangan sekali waktu itu.
“ibu, mulai sekarang, kamu harus jaga diri kamu baik-baik. Kamu juga nggak boleh ke lelahan.”
“iya sayang.”
“berhubung sekarang ibu sedang berbadan dua, gimana kalau ibu menggundurkan diri saja?”
“tapi yah, kontrak kerja ku di sana hanya tinggal beberapa bulan lagi. Mungkin tinggal tiga bulan lagi kontra kerjanya selesai. sayang kan yah, kalau mau keluar."
“emm, gitu? Terus ibu mau gimana?”
“ya, kalau bisa sih, lebih baik, pengunduran dirinya setelah kontrak kerja selesai yah.”
“tapi ibu kan sedang hamil sekarang.”
“ya nggak apa-apa yah. Nanti biar ibu bilang kepada atasan agar meringankan kerjaan ibu di kantor yah.”
“emm, gitu. Ya baiklah. Terserah ibu. Yang penting, ibu jaga diri dan juga calon buah hati kita.”
“iya ayah.”
“semoga, kelak anak-anak kita bisa menjaga kamu di saat aku sudah tiada ya bu.” Celetus mas kalendra.
“husst! Ayah ini bicara apa sih! Ibu nggak suka tau dengerinnya.”
Mas kalendra lalu tersenyum berat.
Dari situlah, aku mulai merasa ada kejanggalan yang aku rasakan kepada suamiku. Entah, apa itu yang di nama kan firasat. Akan tetapi, karena aku sedang bahagia sekali, aku betul-betul tidak terlalu memikirkan apa yang suamiku katakan tadi.
“kenapa mas kalendra berkata seperti itu? Ah sudahlah, mungkin dia hanya bergurau. Mana mungkin dia sanggup meninggalkan aku dan juga anak-anaknya.” Batinku.
bersambung.....