NovelToon NovelToon
Summer Between Jonas & Arnas

Summer Between Jonas & Arnas

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Komedi / Tamat
Popularitas:30.5k
Nilai: 4.5
Nama Author: @l_uci_ous

"Gue tiba-tiba PMS setiap ngeliat lo. Hormon gue jadi gak terkendali," ucap Chilla.

Karena sebuah tragedi berdarah pada masa pengenalan lingkungan sekolah, Achilla jadi sangat membeci Arnas dan menyukai Jonas yang notabenenya saudara kembar. Hormonnya seketika kacau balau saat melihat Arnas, dan berbunga-bunga bila di dekat Jonas. Namun sebuah ide menghampiri Chilla, sebuah ide untuk memanfaatkan Arnas mendekati Jonas.

Maka dengan sebuah kesepakatan, Arnas dan Chilla berkomplot melakukan banyak usaha pendekatan. Perlahan mereka mulai akrab meski pertengkaran tetap tak terelakan. Hingga Arnas menjadi tempat favorit Chilla untuk singgah dalam segala kesulitannya.

Akankah pada akhirnya Chilla lebih memilih menetap di tempat favoritnya? Atau ia tetap konsisten menuju tempat tujuannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @l_uci_ous, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11 : Plester Elsa di Jari Anak Sulung

Chilla bergelung di atas tempat tidurnya, mencari posisi terbaik agar kembali terlelap. Ia masih ingin tidur, melanjutkan mimpi. Ini semua gara-gara denting notifikasi dari ponselnya hingga ia harus terjaga, padahal mimpinya sedang bagus. Tentang Jonas dan halu yang jadi nyata—dalam mimpinya.

Menyerah, akhirnya Chilla membuka mata, setelah sebelumnya bergerak rusuh karena kesal. Ia menatap langit-langit kamar yang mulai gelap, pertanda senja perlahan merayap. Bersama rasa kecewa, ia menghembuskan napas panjang.

Notifikasi apakah yang telah membuyarkan mimpi indahnya?

Gadis yang masih mengenakan seragam sekolah itu merayap, mencoba menggapai ponsel di sudut kasur. Setelah dapat, ia segera menekan tombol home dengan dongkol. Dan seperti dugaannya, pesan Kak Larghalah yang membangunkannya. Heran, ia dekat dengan laki-laki dalam mimpi saja, Kak masih Largha tetap bisa menghalangi dari dunia nyata.

Dek, mau makan apa nanti malem?

Sejenak Chilla berpikir. Sebetulnya ia ingin makan masakan rumah, tapi Bibi sudah pulang, Kak Largha juga tak bisa diandalkan untuk masak, sedang Papa tak ada di rumah. Andai ia punya ibu.

Apa ajalah, Kak, balas Chilla. Kemudian kembali mematikan ponselnya.

Chilla terdiam. Keheningan rumah membuatnya larut dalam kesepian. Di saat seperti inilah ia benar-benar merasa sendirian. Ia memang tak pernah kekurangan kasih sayang, sebab walau jarang pulang karena sibuk bekerja sebagai kontraktor, Papa menelpon setiap hari, mengajaknya mengobrol dan sering kali mereka saling curhat. Kak Largha juga meski over, ia sangat tahu bahwa dia begitu menyayanginya. Kendati begitu, tak bisa dipungkirinya, bila ia ingin punya ibu agar tak perlu merasa sendirian seperti sekarang. Ia sangat penasaran bagaimana rasanya.

Seringkali ia iri bila mendengar teman-temannya mengeluh karena diomeli ibu, atau pamer bekal makanan buatan ibu. Ia tak pernah merasakan itu. Bekalnya selalu hasil beli, dan satu-satunya orang yang suka mengomel hanya Kak Largha.

Ketika masih kecil, ia bahkan tak mengerti bila di sebuah keluarga biasanya ada sosok ibu yang hidup—bukan sekedar foto, sebab ia selalu merasa keluarganya lengkap. Sampai ia mulai sekolah dan sadar bahwa semua temannya punya ibu yang hidup, sementara ia tidak.

Chilla menyeka air matanya yang meleleh lewat sudut mata. Lamunannya sudah telalu jauh. Seharusnya ia tak boleh seperti ini, mengeluhkan sesuatu yang tak dimiliki itu tak akan menghasilkan apa-apa. Maka ia kembali menyalakan ponsel, di cari-carinya lagu yang pas untuk menghalau segala pikiran gloomy yang mengganggu.

Halu milik Feby Putri jadi pilihannya. Lebih baik ia halu tentang jomblo high quality depan rumah dari pada bersedih tentang sesuatu yang sejak lahir memang tak dimilikinya. Toh, ibunya juga pasti sudah bahagia di sana, dan akan sedih bila ia berduka.

"Senyumanmuuu yang indah bagaikan candu," Chilla ikut bernyanyi. "Ingin terus kulihat walau—"

Ting!

Denting notifikasi sekali lagi hadir, kali ini bukan mimpi yang disela, melaikan lagu. Kali ini bukan Kak Largha yang berulah, namun nomor baru. Dan kali ini bukan kesal yang dirasa, namun senang luar biasa.

Bersama lagu yang kembali bergema, Chilla membaca:

082166237820: Chilla. Ini Jonas. Tadi minta nomor kamu sama Arnas.

082166237820: Kamu di rumah? Aku mau nganterin buku.

Saking antusiasnya, Chilla bangun dari posisinya untuk membalas pesan itu. Tangannya gemetar.

Iya, aku di rumah, ketiknya.

Butuh tiga detik sebelum datang sebuah balasan kepastian, membuat Chilla mengap-mengap tak percaya.

082166237820: Oke. Aku ke sana, ya.

Segera Chilla melompat dari tempat tidur, kemudian hilang di balik pintu kamar mandi. Tak lama kemudian ia keluar lagi dengan wajah yang lebih segar dan segera mendekati cermin. Cekatan ia membalurkan pelembab di wajah, mengoleskan sedikit lipgloss pada bibir, serta menyisir rambutnya yang mirip surai singa.

Karena penasaran, Chilla yang masih berkutat dengan rambut panjangnya melesat keluar balkon, ingin memastikan apakah Jonas sudah berangkat atau belum. Ia sama sekali tak kecewa, yang ditunggunya tertangkap mata baru saja menutup pintu rumah yang ada di seberang jalan sana.

Gerakan menyisir Chilla makin terburu seiring jarak Jonas yang kian rapat. Napasnya memburu, adrenalinnya terpacu. Saking buru-burunya, ia berbalik masuk kamar lalu melempar sisirnya asal, sedetik berhenti untuk menatap bayangannya di cermin sebelum lanjut berlari menuju pintu utama di lantai satu.

Ia meninggalkan begitu saja ponselnya yang masih bernyanyi, kini dengan lagu berbeda.

Nyaris saja Chilla menabrak pintu. Untung ia pandai mengerem, jika tidak habis keningnya menghantap pintu putih yang amat kokoh itu. Kan tidak lucu menemui Jonas dengan kening biru.

Chilla terengah-engah, jantungnya riuh rendah, beberapa kali ia menghela napas panjang guna menormalkan ritme sistem pernapasannya. Seraya melakukan itu, ia merapikan rambutnya yang menempel di kening yang lembab oleh keringat.

Tok, tok, tok!

Ketukan pintu terdengar.

Satu, dua... Ia menghitung sebelum menarik pintu terbuka. Pura-puranya 'kan ia ada di ruangan lain, bukan belakang pintu, jadi butuh waktu. Tiga.

Ceklek....

Citra pertama yang menyambut netra Chilla adalah senyum memesona Jonas, senyum yang selalu jadi candu, bahannya untuk halu.

"Hai," sapa Chilla, menyengir. Ini kedua kalinya hari ini ia say 'hai' pada orang yang sama.

"Nih, buku-bukunya." Jonas mengangkat setumpuk buku dengan dua tangan.

Chilla menengadahkan tangan, siap menerima buku yang tak yakin akan betul-betul ia baca. Tapi toh, buku ini jadi alasannya bisa menemui Jonas. Jadi ia berterima kasih pada buku-buku ini.

"Hati-hati, berat." Jonas dengan lembut mengalihkan beban di tangannya pada Chilla. Dalam prosesnya, tangan Jonas terjepit di antara tumpukan buku dan telapak tangan Chilla. Dan hal itu membuat jantung Chilla yang baru rileks kembali lompat-lompatan di luar kendali.

Penuh antisipasi, Chilla memperhatikan tangan Jonas yang ditarik perlahan. Telapak tangan yang memerah, juga jari-jemari yang panjang.

"Udah," tegur Jonas, pada Chilla yang termenung.

"Oh, iya." Chilla mengerjap. Disadarinya beban di tangannya tak seberat yang di sangka, tapi tetap lumayan berbobot.

"Kalo gitu aku lang—"

"Tunggu sebentar," Chilla menukas. Ia melangkah masuk ke rumah tanpa menunggu persetujuan Jonas. Ditinggalkannya buku pinjaman di atas meja ruang tamu, lalu terus berjalan mendekati lemari. Mencari-cari.

Dan... dapat! Chilla segera kembali ke hadapan sang tamu dengan plester luka dalam genggaman.

Awalnya Chilla sedikit ragu, namun berhasil memberanikan diri meraih tangan Jonas. "Sorry," ujarnya pada laki-laki itu yang sedikit terkejut tapi membiarkannya saja.

Jujur, tangan dalam genggaman Chilla ini hangat, lembut. Nyaman. Ingin rasanya menggenggam tangan ini lama-lama. Andai ia bisa.

Sisi telunjuk dan jari tengah Jonas nampak mengkhawatirkan, lebih parah dari yang dilihatnya tadi siang. Bahkan ada sedikit bagian yang terkoyak. Itu pasti perih sekali, apalagi jika dipakai menulis.

Dengan kaku dan sedikit gemetar, Chilla melilitkan plester luka bergambar Elsa dan Olaf pada masing-masing jari telunjuk dan tengah Jonas.

"Ini pasti sakit," ujar Chilla di antara pekerjaannya.

"Sedikit."

"Gimana caranya kamu belajar?"

"Gak kerasa kok, kalo lagi belajar."

"Bisa gitu?" Chilla heran. Ia tak paham bagaimana bisa pelajaran menjadi anastesi yang baik hingga tak merasa sakit. Karena padanya, hal itu tidak akan berlaku. Yang ada kepalanya malah ikut-ikutan sakit.

Jonas menggaruk tengkuknya, barangkali bingung mau menanggapi apa.

Dengan ketidak-relaan Chilla melepaskan tangan Jonas, membiarkannya kembali ke tempat seharusnya. Walau begitu, matanya masih lekat memandang tangan itu.

"Maaf ya, plesternya gambar Elsa sama Olaf. Kak Largha yang beli."

Jonas memandang tangannya. Tersenyum melihat plester bergambar itu.

"Gak pa-pa, lucu kok. Yang di rumah malah kuda Pony."

Chilla tertawa. Ternyata ada yang lebih kekanakan dari plester pilihan kakaknya.

"Kuda pony? Pasti ibu kamu yang beli, ya?" Diam-diam disela tawanya yang riang, Chilla meringis miris dalam hati ketika menyebut kata 'ibu'.

Jonas menyengir. "Arnas yang beli."

"Serius?" tanya Chilla, syok. Sulit baginya membayangkan sosok seperti Arnas menyukai kuda Pony yang warnanya girlie sekali. Tapi ya, lumayan buat bahan olokan.

Jonas terkekeh melihat reaksi Chilla. Berama-sama mereka menertawakan selera Arnas itu.

Tin! Tin!

Serentak keduanya menoleh. Tawa Jonas seketika reda, menyisakan senyum yang tak terlalu kentara. Sementara itu tawa bahagia Chilla telah berubah menjadi raut horor. Sebab Chilla tahu benar siapa yang menyerukan bunyi klakson itu.

Kak Largha!

Ketar-ketir Chilla melihat kakaknya turun dari motor dan menghampirinya serta Jonas. Ada beberapa kantong plastik yang menggelembung menggantung di tangan laki-laki itu.

Kenapa sih kakaknya tiba-tiba pulang begini? Mengganggu sekali. Merusak momen. Padahal kan seharusnya Kak Largha masih harus bimbel di tempat lain di luar bimbel sekolah.

"Kak," sapa Jonas, yang hanya dibalas anggukan tak niat oleh Kak Largha.

"Ngapain?"

Belum sempat Chilla menjawab, Jonas lebih dulu berkata, "Nganterin buku, Kak." Nadanya santai, ekspresinya rileks. Chilla salut, laki-laki lainnya biasanya selalu memasang wajah kebelet boker bila melihat air muka Kak Largha sekarang. Maklum, Kak Largha kelihatan seram sekali bila marah, belum lagi ditunjang badan tinggi-besar dan suara berkarakter—mirip suara Chanyeol EXO. Pokoknya, kakaknya itu tampak mengerikan.

"Udah, kan?"

Jonas mengangguk. "Udah."

"Ya udah, pulang," Kak Largha mengusir Jonas, dan langsung menambahkan pada Chilla, "Masuk." Nadanya tegas, tidak bisa dibantah. Matanya yang besar itu melotot.

Chilla mendesis, hendak protes, tapi urung karena Jonas memberinya isyarat agar masuk saja, maka ia menurutinya.

Ketika ia menoleh, dilihatnya Jonas baru saja mau pamit, tapi Kak Largha dengan biadapnya membanting pintu tertutup.

Jahat sekali, kan?

Segera Chilla mendekat ke jendela, menyibakkan gorden. Ia sungguh-sungguh merasa malu dan tak enak pada Jonas yang sudah melangkah menjauh karena sikap tak bersahabat—bahkan jahat—kakaknya.

Hidung Chilla kembang-kempis, kepalanya nyut-nyutan, tatapannya tajam ketika berputar menghadapi Kak Largha. Ia marah besar.

"Kak!" bentak Chilla. "Apa-apaan, sih?! Dia-itu-cuma-mau-nganterin-buku-yang-aku-pinjem-ngapain-coba-Kakak-bersikap-kayak-gitu-sama-dia?!" cerocosnya, tanpa jeda.

Kemarahan Chilla sama sekali tak memberi pengaruh apapun pada Kak Largha. Malah dengan santainya dia berujar, "Ngapain coba nganterin sekarang? Pas kamu sendirian? Pasti mau modus."

"Kakak yang ngapain pulang sekarang?!" jerit Chilla.

"Nganterin kamu makanan." Kak Largha mengangkat kresek di tangannya.

"Biasanya juga malem!" nada Chilla masih tinggi. Ia masih kesal. Ia juga takut Jonas tak mau berkawan dengannya lagi karena sikap Kak Largha hari ini.

Kak Largha mendekat, meraba kening Chilla. Mata berapi-apinya telah berubah teduh, wajahnya yang tampan kelihatan khawatir. "Kakak kira kamu sakit, soalnya gak biasanya gak minta macem-macem kalo ditanyain mau makan apa, jadi Kakak buru-buru pulang."

Chilla menepis tangan dikeningnya. Kemudian ia berbalik, membelakangi kakaknya itu. Air matanya mulai luruh, jatuh satu persatu seperti rintik hujan, membasahi pipinya, meredam emosinya.

Begini ini, Chilla bingung harus bagaimana. Mau marah tapi juga terharu pada saat yang bersamaan.

Ia benci sekali pada kakaknya.

ΔΔΔ

Jonas meletakkan pensilnya. Meregangkan otot tangannya yang mengeluh. Seraya melakukan itu ia memandang dua jarinya yang dibalut plester karakter Frozen. Entah kenapa, hatinya tergelitik, menghadirkan senyum renik.

Lucu. Plester di jarinya, pun gadis yang memasangkannya.

Perhatian Jonas teralihkan mendengar getar ponselnya dari arah laci. Getaran itu masih terus berlanjut, bahkan ketika ia sudah meraih ponselnya. Tertera sebuah nama di layar.

Kak Zeeta.

Meneleponnya.

Tak menunggu lebih lama, Jonas segera mengangkatnya. Walau sedikit tak percaya, ia tersenyum lebar, senang sekali.

Halo?" sapa Jonas.

"Sorry ya, Jo, baru baca chat lo."

Jonas ingat. Tadi ia mengirimkan foto soal yang tak dipahaminya pada Kak Zeeta. Sudah beberapa jam yang lalu.

"Iya gak pa-pa, Kak. Santai aja."

"Oke. Lo udah buka buku, kan?"

Jonas membalik lembar demi lembar buku di hadapannya, mencari soal yang sempat ia tanyakan. Tak butuh waktu lama, ia segera menemukannya. Soal yang sempat kosong dan membuat Jonas sakit kepala itu—hingga ia memutuskan mengantar buku pada Chilla agar punya alasan untuk keluar, sudah diselesaikannya. Entah bagaimana, sepulangnya dari rumah Chilla tiba-tiba ia seperti mendapat ilham, dan seketika paham.

"Udah," Jonas memeberi tahu Kak Zeeta.

"Oke. Dengerin gue. Ini jawabannya sebenernya gampang, cuma soalnya tricky banget. Jadi sering bikin gagal paham..."

Jonas tak memperhatikan bukunya sama sekali. Sebab ia memang sudah memecahkan soal itu. Ia hanya bertopang pipi, fokus saja pada suara Kak Zeeta. Tenggelam pada suara yang terdengar serak diseberang sana, bukan karena radang, tapi karena memang begitu. Ia senang mendengarnya.

Ya, ia menyukai Zeeta Amaranthi. Sejak lama sekali. Satu SMP. Tapi ia tak berani mendekati. Selain karena Kak Zeeta itu cantik, pintar, populer, banyak yang suka, juga karena ada satu hal lain. Satu hal yang meski ia punya kepercayaan diri mendekati Kak Zeeta, satu hal ini tetap akan menahannya. Jadi ya, ia tak keberatan untuk memendam sampai... waktu yang tepat barangkali.

"Jo? Jo?"

Jonas terjaga dari lamunanya. Tergesa ia menyahut, "Iya, iya."

"Pasti ngerti, kan?" tanya Kak Zeeta yakin. "Jonas," tambahnya bangga.

Jonas tersenyum. Ia sering dipuji, tapi ini sangat berarti.

"Iya, Kak, ngerti."

"Ya udah, kalo gitu. Gue mau pergi, temen gue udah dateng. Bye."

"Bye."

Sebelum sambungan terputus, samar Jonas mendengar suara motor. Apa teman Kak Zeeta laki-laki?

Entahlah. Jonas tak mau berprasangka, nantinya malah ia yang terluka.

Setelah mematikan ponsel, Jonas kembali menyimpan benda itu ke dalam laci. Kemudian ia meraih gelas di sudut meja. Ia haus. Sayang ketika ia melongok ke dalamnya, ternyata gelas itu kosong.

Maka beranjaklah Jonas dari kursi, melangkah keluar kamar bersama gelas di tangan. Santai ia menuruni setiap undakan anak tangga.

Dalam perjalanannya, Jonas melirik ruang keluarga, menjumpai Ibu dan Arnas berdua. Menonton drama keluarga Indonesia yang tak berkesudahan konfliknya. Ayah belum pulang, makanya Arnas punya akses nonton TV. Bila beliau ada di rumah, Arnas tak mungkin berleha-leha depan TV. Arnas pasti berpura-pura belajar di kamar, padahal main game, bahkan kadang lebih parahnya lompat jendela cuma untuk nongkrong atau sekedar main basket di taman.

Langkah Jonas terhenti ketika ia mendengar namanya sayup-sayup disebut. Ia melipir ke sisi gelap tangga, mendengarkan di antara bisingnya perdebatan protagonis dan antagonis di TV.

"Bu, Jonas kenapa ya, makin hari makin mirip Kak Syahnas. Apa jangan-jangan dia kemasukan? Perlu diruqiyah kayaknya, Bu."

"Ngaco kamu," sahut Ibu. "Bukannya Jonas yang harus di ruqiyah, tapi kamu."

Jonas tertawa tanpa suara mendengar komentar ibunya atas kegilaan Arnas.

"Idih, Ibu apaan. Aku normal gini mau di ruqiyah. Orang yang kayak Kak Syahnas sama Jonas tuh yang gak normal, mesti di ruqiyah. Kali-kali ketempelan setan yang gila belajar," Arnas berceloteh. "Lagian ya, kenapa sejak Kak Syahnas pergi Jonas kayak berusaha ngambil alih tugas Kak Syahnas memenuhi ambisi Ayah? Lebih gila lagi, dia yang dulu sering dimarahin Ayah karena pengen jadi penyanyi tiba-tiba banting stir mau jadi dokter."

Jonas tetap diam di posisinya. Mendengarkan baik-baik. Ia tahu Arnas kesal padanya. Bukan karena bermaksud buruk, tapi malah sebaliknya.

"Kenapa kamu kayak keberatan gitu Jonas berusaha memenuhi keinginan Ayah? Dulu kamu gak kayak gitu ke Kakak."

"Karena Kak Syahnas sama Jonas itu beda. Walaupun dia anak baik dan pengertian, Jonas dulu punya impiannya sendiri, sedangkan Kakak memang selalu gitu—anak sempurna kesayangan Ayah. Kakak memang bersedia ngelakuin apapun yang Ayah mau."

Sejenak tak ada lagi suara. Jonas yang bergeming sejak tadi sudah mau malangkahkan kakinya lagi, namun urung ketika Arnas kembali bersuara.

"Aku cuma gak mau Jonas jadi gak bahagia karena ambisi Ayah. Lagian, kenapa sih, dia merasa berkewajiban buat ngelakuin itu? Gak mungkin kan, Kak Syahnas yang minta karena dia udah gak bisa?"

Tak pernah, pikir Jonas. Sekali pun Kak Syahnas tak pernah meminta sesuatu padanya kecuali untuk kebahagiannya sendiri. Kak Syahnas bahkan selalu mendukungnya menjadi penyanyi, dan bangga menjadi penggemar pertamanya.

Dulu, bila Kak Syahnas sedang letih belajar, dia sering kali membangunkan Jonas pada tengah malam, menyuruhnya menyanyikan sesuatu.

Kak Syahnas memang lebih dekat dengannya dibanding Arnas. Sebab Arnas sering merasa rikuh dan berjarak dengan Kakak yang pendiam. Tapi sebenarnya Kak Syahnas ingin dekat dengan Arnas, karena menurutnya Arnas itu lucu dan berani.

"Gimana kalo jadi dokter bukan impian Kakak?"

"Terus apa impian Kakak?"

"Entahlah. Karena dari kecil Ayah selalu bilang ke Kakak supaya dia bisa jadi dokter. Jadi seolah dia gak punya pilihan lain. Apalagi, Kakak anak sulung."

"Memangnya kenapa kalo anak sulung?"

"Karena Ibu anak sulung, Ibu tahu benar apa yang ada dipikiran anak sulung."

"Apa?"

Ibu menjawab, "Anak sulung selalu ngerasa bahwa mereka harus jadi..."

Harus jadi kebanggaan. Harus jadi contoh terbaik. Harus jadi yang paling kuat. Harus jadi yang paling bisa diandalkan.

Itu yang dikatakan Kak Syahnas ketika Jonas bertanya mengapa dia belajar dan berusaha begitu keras.

"Bu?" panggil Arnas. "Jonas gak ngerasa jadi anak sulung karena Kak Syahnas udah gak ada, kan?"

ΔΔΔ

.

.

.

.

.

.

.

maafkan scene membosabkan di bab ini. Tapi aku ngerasa perlu menjelaskan detail keluarga mereka.

btw, Chilla sedih ya. di saat seperti ini aku merasa jahat.

ok, segitu dulu buat bab ini

see you next chapter 👋

❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤

1
Ochi_Ara Alleta
huhuuuuu sampai loncat chapter gara2 penasaran endingnya....kirain bakal sad ending😭gak nyangka finally.....akhir yg bahagia....😩
S2 yuk kak....
Ochi_Ara Alleta
cerita bagus berkualitas kayak gini sepi like dan pembaca🤧Eman banget...
Ochi_Ara Alleta
telat banget tau gak....Nemu cerita kayak gini.huuhuu🤧
Ochi_Ara Alleta
Nemu cerita seru🥰
kenapa baru sekarang nemunya....
Zakiatu Anastasya
q jga pernah thor,sakit mah g terlalu tp malu y itu lah thor,,,,🤭🤭🤭😅
Ny Anwar
ngeri2 sedap... 😱😱
Santai Dyah
like
Santai Dyah
hadir
Santai Dyah
ceritanya bagus boom like untuk karya terbaikmu thor salam dari Kabut cinta
Buahnaga.putih
arnas gmn thor ?
newtoon🐇
keren
Conny Radiansyah
makasih Thor... happy ending untuk Jonas dan Chilla, btw Arnas apa ceritanya Thor...
Conny Radiansyah
kalo sampe sini ceritanya belum bisa dibilang tamat Thor...
Conny Radiansyah
lanjut
yul,🙋🍌💥💥💥
makasih.... semua karyamu bagus.


sungguh
Pitara Lusiana: Terima kasih
total 1 replies
yul,🙋🍌💥💥💥
arnas mana?
Pitara Lusiana: Arnas ada di rumah. Udah move on
total 1 replies
yul,🙋🍌💥💥💥
1 cangkir kopi buat arnas....
zkdlinmy
uuu akhirnya dilanjut jga.. thanks thorr
Pitara Lusiana: Sama-sama
total 1 replies
Ruliyah Yu Yah
makasih kak,tak tunggu kelanjutanya ghatan
Ruliyah Yu Yah
arnas,vita,sekarang mah nungguin ghatan....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!