Setelah bertahun-tahun menanti buah hati, badai besar menghancurkan rumah tangga Lani.
Ia diceraikan oleh suaminya, Alex, yang berselingkuh dengan sahabat karib Lani sendiri.
Di tengah usaha menyembuhkan luka hati dan bangkit dari keterpurukan, takdir mempertemukan Lani dengan Afrain—pria berjiwa bebas yang merupakan mantan suami dari kakak Alex.
Sama-sama membawa trauma masa lalu, pertemuan tak sengaja itu perlahan berubah menjadi ikatan emosional yang dalam.
Afrain menjadi tempat bersandar yang memahami kepedihan Lani, dan benih-benih cinta pun mulai tumbuh di antara mereka. Namun, hubungan baru ini berada di lingkaran keluarga yang rumit dan penuh kecanggungan.
Di hadapan restu yang dipertanyakan dan bayang-bayang masa lalu yang saling berkaitan, akankah Lani berhasil melepaskan diri dari jerat trauma dan menemukan kebahagiaan sejatinya bersama Afrain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Liburan telah berakhir dan sebelum pulang lani mengajak suaminya untuk membeli oleh-oleh untuk ibu dan kedua adik Alex.
Lani memilih dengan sangat hati-hati di sebuah toko suvenir khas Bali.
Ia membelikan kain pantai bermotif cantik untuk Ibu Narti, kemeja barong premium untuk Dimas, dan beberapa kudapan manis kesukaan Sisil.
Lani berharap, buah tangan ini bisa menjadi jembatan untuk mencairkan kebekuan di antara mereka dan menunjukkan bahwa ia sama sekali tidak menaruh dendam atas perkataan tajam keluarga Alex sebelum keberangkatan mereka.
Alex yang berdiri di sampingnya hanya menatap dengan perasaan campur aduk.
Ada rasa kagum yang membuncah melihat ketulusan Lani, namun di sudut batinnya yang lain, ada rasa cemas yang mulai menggerogoti.
Ia tahu betul bagaimana watak ibu dan saudara-saudaranya.
Sifat keras mereka tidak akan bisa luntur hanya dengan sekotak pia atau selembar kain.
Setelah membeli oleh-oleh mereka lekas menuju ke bandara.
Proses check-in hingga masuk ke ruang tunggu berlangsung cepat.
Atmosfer Bali yang hangat perlahan mulai tergantikan oleh AC bandara yang dingin, seolah mengisyaratkan bahwa realitas kehidupan nyata di Jakarta sudah menanti di depan mata.
Ketika waktu panggilan naik pesawat terdengar, keduanya berjalan berdampingan memasuki burung besi yang akan membawa mereka pulang.
Di dalam kabin yang mulai penuh oleh penumpang, Alex dan Lani duduk bersisian.
Di dalam pesawat Alex menggenggam tangan istrinya.
Perjalanan tiga jam mereka tempuh akhirnya telah sampai.
Pesawat mendarat dengan mulus di landasan pacu Bandara Soekarno-Hatta, membawa Alex dan Lani kembali ke realitas ibu kota yang sibuk dan bising.
Begitu keluar dari terminal kedatangan, hawa panas Jakarta langsung menyergap, seolah mencairkan sisa-sisa ketenangan yang mereka bawa dari Pulau Dewata.
Alex mengajak istrinya untuk pulang ke rumah menaruh koper koper.
Sepanjang perjalanan di atas taksi, tangan mereka masih saling bertautan, mencoba mempertahankan kehangatan komitmen yang telah mereka sepakati di Bali.
Lani bersandar di bahu Alex, memandangi jalanan macet dengan sisa-sisa senyuman yang penuh harapan.
Sesampainya di rumah kontrakan mereka, Alex menurunkan semua barang bawaan dari bagasi.
Ia menatap wajah Lani yang tampak sedikit kuyu akibat kelelahan selama perjalanan udara.
"Mandilah dulu setelah itu kita ke rumah ibu," ucap Alex lembut sambil mengusap puncak kepala istrinya.
Lani menganggukkan kepalanya. "Iya, Mas. Aku juga mau menyiapkan oleh-oleh yang kita beli tadi supaya rapi saat diberikan ke Ibu."
Lani melangkah masuk ke kamar mandi dengan hati yang relatif tenang.
Guyuran air dingin setidaknya berhasil meluruhkan rasa penat di tubuhnya.
Di dalam benaknya, ia terus merapalkan doa agar niat baiknya hari ini bisa berbuah manis dan melunakkan hati keluarga suaminya.
Selesai mandi Alex mengeluarkan motornya dan mereka menuju ke rumah ibu.
Lani duduk di boncengan, memeluk pinggang Alex erat-erat sembari memangku tas besar berisi buah tangan khas Bali yang sudah ia pilih dengan penuh ketulusan.
Baru saja Alex menyandarkan motornya di halaman rumah yang familier itu, atmosfer di sekitar mereka mendadak berubah mencekam.
Belum sempat Alex mematikan mesin motor sepenuhnya, pintu depan rumah terbuka kasar.
Ibu Narti keluar dengan tatapan sinisnya. Wanita paruh baya itu berdiri di ambang pintu dengan kedua tangan bersedekap di dada, memandangi kedatangan anak dan menantunya tanpa ada binar kebahagiaan sedikit pun.
"Aku kira siapa, ternyata wanita mandul," sindir Ibu Narti ketus, suaranya melengking memecah keheningan sore.
Mendengar kalimat pembuka yang begitu kejam, Sisil dan Dimas tertawa terbahak-bahak dari dalam ruang tamu.
Mereka ikut keluar dan berdiri di belakang Ibu Narti, menikmati raut wajah Lani yang seketika berubah pias.
"Bu! Kami kesini untuk memberikan ini," ucap Alex tegas, berusaha menahan diri dan menutupi rasa malunya di depan sang istri.
Ia segera melangkah maju, mencoba mengalihkan situasi.
Alex mengambil tas belanjaan dari tangan Lani yang mulai gemetar.
"Lani memilihkan oleh-oleh untuk ibu, mbak Sisil dan Dimas. Ini kain dan makanan khas dari Bali, Bu."
Ibu Narti tidak mengulurkan tangan untuk menerima tas tersebut.
Beliau justru melirik barang bawaan itu dengan tatapan jijik.
"Cuihh! Paling juga barang murahan," cetus Ibu Narti sambil melengos kasar.
"Buat apa pamer oleh-oleh kalau rahim tetap kosong? Kamu itu cuma bisa menghabiskan uang anakku untuk kesenanganmu sendiri!"
Dimas menimpali dengan kekehan mengejek, "Iya, Mas. Gaya-gayaan bawa oleh-oleh, padahal pulang-pulang tetap nggak bawa kabar hamil. Mubazir uangnya!"
Perkataan demi perkataan yang terlontar laksana belati berkarat yang dihunjamkan berkali-kali ke ulu hati Lani.
Penghinaan yang begitu telanjang di hadapan suaminya sendiri membuat seluruh tubuh Lani bergetar hebat.
Lani mencengkeram erat tangannya dan menahan air matanya agar tidak tumpah di halaman rumah yang penuh dengan kebencian itu.
Ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, berjuang mati-matian mempertahankan sisa harga diri yang sedang diinjak-injak.
"Jangan hina Lani, Bu!" potong Alex, suaranya naik satu oktav.
Rahangnya mengeras menahan gejolak amarah dan rasa bersalah yang menggemuruh di dalam dada.
Ia tidak bisa lagi tinggal diam melihat istrinya diperlakukan seperti itu tepat setelah mereka berjanji untuk memulai segalanya dari awal.
Namun, pembelaan lemah dari Alex justru membuat api kemarahan Ibu Narti semakin berkobar.
Beliau melangkah maju, menunjuk wajah Alex dengan telunjuk yang bergetar karena emosi.
"Alex, sekarang kamu harus memilih: ceraikan wanita ini atau kamu menikah dengan wanita lain!" tegas Ibu Narti, memberikan ultimatum mutlak yang tak bisa diganggu gugat.
"Ibu tidak mau tahu lagi. Keluarga kita butuh penerus, dan dia tidak akan pernah bisa memberikan itu!"
Sisil dan Dimas kembali tersenyum puas di belakang sang ibu, merasa di atas angin melihat Alex yang kini terpojok.
"Bu! Tolong jangan seperti ini," rintih Alex, suaranya mendadak melemah, digelayuti beban berat yang kembali meruntuhkan keteguhannya.
Sudut batinnya berteriak frustrasi, terombang-ambing di antara bakti pada ibunya dan janji setianya pada Lani.
Lani sendiri hanya bisa menunduk dalam-dalam. Cengkeraman tangannya semakin erat hingga kukunya memutih.
Setiap kata dari ibu mertuanya terasa seperti palu godam yang menghancurkan sisa-sisa harapan yang baru saja ia bangun di Bali.
Melihat situasi yang semakin tidak kondusif dan air mata Lani yang sudah di ambang batas, Alex menarik napas pendek.
Ia tahu, berdebat saat ini hanya akan membuat Lani semakin terluka.
Kemudian Alex mengajak istrinya untuk pulang ke rumah.
Tanpa memedulikan tas oleh-oleh yang akhirnya tergeletak begitu saja di teras, Alex menuntun lengan Lani yang lemas, membimbingnya kembali ke atas motor, dan segera melajukan kendaraannya meninggalkan rumah penuh racun itu.
Sesampainya di rumah, Alex langsung menuntun Lani duduk di sofa ruang tamu.
Melihat tubuh istrinya yang masih bergetar hebat, rasa bersalah yang teramat sangat menyergap dada Alex.
Ia berlutut di depan Lani, menggenggam kedua tangan wanita itu yang terasa sedingin es.
Alex menenangkan istrinya yang menangis dan meminta maaf.
"Lan, maafkan aku. Maafkan sikap Ibu dan adik-adikku tadi."
Ia menatap sepasang mata Lani yang mulai digenangi air mata.
"Jangan dengarkan ibu ya. Kita sudah sepakat di Bali untuk fokus pada pernikahan kita sendiri. Tolong jangan masukkan kata-kata mereka ke dalam hati."
Lani tidak menjawab dan hanya menatap Alex dengan pandangan yang sarat akan kepedihan.
Di dalam hatinya, ia ingin sekali percaya pada suaminya, tetapi bentakan dan ultimatum Ibu Narti tadi terlampau keras hingga terus berdengung di telinganya.
Disaat sedang mengobrol, ponsel di dalam saku celana Alex tiba-tiba berdering pendek, menandakan sebuah pesan masuk.
Alex meraba sakunya, mengeluarkan ponsel, dan membuka kunci layar.
Begitu membaca deretan kalimat yang tertera di sana, ekspresi wajah Alex seketika berubah tegang.
Alex membuka pesan dan melihat Mira yang jatuh di kamar mandi.
Di dalam pesan singkat itu, Mira mengirimkan foto pergelangan kakinya yang tampak memar kemerahan, lengkap dengan kalimat rintihan manja yang meminta pertolongan Alex karena ia mengaku tidak bisa berdiri sama sekali dan tidak tahu harus meminta bantuan kepada siapa lagi selain dirinya.
Aroma kepanikan dan ego lelaki yang merasa dibutuhkan seketika merubuhkan komitmen yang baru beberapa menit lalu Alex ucapkan di depan istrinya.
Pikirannya mendadak bercabang, mengkhawatirkan keadaan sahabat Lani yang diam-diam telah menaruh kecupan di pipinya itu.
Alex buru-buru memasukkan ponselnya kembali dengan gerak-gerik yang tampak gugup di depan Lani.
"S-sayang, aku ke kantor dulu. Ada sesuatu yang harus kukerjakan. Pak Firman mengatakan ini urgent," ucap Alex berbohong dengan suara yang sedikit terbata-bata.
Ia bahkan tidak berani menatap langsung ke dalam manik mata Lani saat melontarkan alasan palsu itu.
Lani menatap suaminya sejenak. Ada rasa janggal yang menyengat sanubarinya—mengapa kantor tiba-tiba memanggil di hari libur panjang pasca-kepulangan mereka? Namun, Lani yang terlalu lelah secara mental memilih untuk tidak memperpanjang kecurigaannya.
Lani menghapus air matanya dan menganggukkan kepalanya dengan lemah, mencoba mengulas senyum sisa-sisa ketegaran yang tersisa.
"Hati-hati ya, Mas," jawab Lani pelan.
Alex mengangguk cepat, menyambar jaket dan kunci motornya di atas meja, lalu melangkah tergesa-gesa keluar rumah tanpa menyadari bahwa kebohongannya hari ini adalah langkah awal yang akan membawa rumah tangganya menuju jurang kehancuran yang sesungguhnya.