Menceritakan tentang Raniya, seorang janda yang dinikahi polisi muda beranak tiga dengan komitmen hanya menjadikan Raniya sebagai ibu sambung. Dia perempuan tegas, namun berhati baik. Sikapnya yang keras dan tidak menampakkan kasih sayang di hati anak-anak suaminya, membuat perpecahan dalam pernikahan mereka.
Hingga suatu waktu mengantarkan mereka membuka rahasia di balik kematian Renima, ibu kandung ketiga anak tersebut. Tidak hanya Renima, tetapi juga kematian Nathan, almarhum suami Raniya yang pertama.
Di sisi lain, cinta bahkan telah jauh lebih lama tumbuh di dalam hati mereka, sehingga mengalahkan dendam dan benci yang terjadi karena kesalahpahaman di masa lampau.
Akankah Raniya mampu bertahan menjadi istri Taufiq, meski hanya sebagai ibu sambung untuk ketiga anak-anaknya?
Selamat menyaksikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon radetsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
FITTING BAJU PENGANTIN
Hampir dua puluh tahunan berlalu sejak saat itu. Raniya Hafsyah Elnara, gadis itu pun telah beranjak dewasa.
Tubuh Raniya begitu indah berbalut gaun putih yang mewah. Hari itu dia melakukan fitting baju pengantin di sebuah butik terkenal. Senyumnya tampak merekah seperti bunga mawar yang tengah kembang. Cantik.
Pujian itu masih cocok dan pantas untuk parasnya yang semakin ayu di usia dewasanya.
“Raniya…” Dua bola mata lelaki muda menatapnya dengan takjub. Tak berkedip sama sekali. Lelaki itu bergeming, ternganga melihat keindahan Raniya sebagai ciptaan Tuhan di hadapannya saat itu.
“Nathan… Nathan…” Berkali-kali Raniya melambai-lambaikan tangannya ke hadapan wajah lelaki yang dipanggilnya Nathan. Entah untuk panggilan ke berapa kali, barulah Nathan menyadarinya.
“Eh…? Ran… Ka-kamu… Kamu cantik sekali mengenakan gaun ini…” Puji Nathan terdengar gugup. Dia seakan terhipnotis oleh kemolekan yang dimiliki paras dan tubuh Raniya.
“Terima kasih, Nathan…” Ucap Raniya tersenyum malu.
Nathan Tiger, lelaki muda yang akan menikahi Raniya untuk beberapa hari lagi. Dia berprofesi sebagai dokter muda spesialis kandungan di rumah sakit besar kota itu.
Ada apa dengan Raniya? Kenapa dia malah akan menikah dengan seorang dokter? Apa dia telah melupakan janjinya untuk menikah dengan seorang polisi?
Raniya, gadis keras kepala tapi begitu tegas dalam kehidupannya. Dia hanya menginginkan kebahagiaan untuk orang-orang, terutama orang terdekatnya.
Selepas SMA, Raniya melanjutkan sekolahnya ke Fakultas Kedokteran. Di sanalah dirinya bertemu dengan Nathan untuk pertama kali. Pemuda yang begitu tergila-gila kepada dirinya.
*****
Flashback On.
Suatu hari, Raniya yang terkenal cantik di Fakultasnya membuat Nathan begitu penasaran. Cerita mulut ke mulut membuatnya ingin untuk bertemu dengan Raniya secara langsung, si gadis cantik tapi keras. Gadis yang begitu sulit untuk didekati oleh lelaki mana pun. Hanya satu lelaki dalam
hidupnya saat itu, yaitu Ayahnya.
“Hai… Kamu Raniya, kan?” Tanya Nathan berusaha menyamai langkah kaki Raniya yang berjalan cepat di lorong-lorong kampus. Dia mengulurkan tangannya pula, berharap mendapat balasan dari gadis itu.
“Ya, benar… Aku Raniya.” Jawab Raniya cuek. Jangankan hanya untuk membalas uluran tangan Nathan saja, Raniya bahkan tidak menoleh dan tidak pula mau menghentikan langkah kakinya.
Kali itu Nathan menyerah, tapi bukan berarti berpikir untuk berhenti di sana saja. Nathan menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal
sambil tersenyum melihat punggung Raniya hingga menghilang dari pandangan matanya.
“Nah… Ini nih… Begini baru aku suka… Tidak gampangan, dan membuatku benar-benar penasaran terhadap dirinya.” Gumam Nathan merasa takjub dan terkagum-kagum.
Seiring berjalan waktu, Nathan mampu menaklukan hati Raniya. Dia selalu mengikuti langkah Raniya demi bisa berjalan di samping gadis itu, syukur-syukur jadi pendampingnya sekalian. Nathan juga tidak pernah ketinggalan dalam acara amal yang diadakan kampusnya ke desa-desa, karena dia tahu Raniya juga selalu berpartisipasi dalam acara itu.
Hati Raniya memang luluh pada akhirnya, dia melihat kegigihan dan ketulusan pada usaha Nathan dalam mendekati dirinya.
Suatu hari Raniya merasa jengkel. Dia mulai jengah oleh kelakuan Nathan yang tidak pernah menyerah untuk mendekatinya. “Kamu maunya apa? Kenapa tidak mengenal lelah, hah?” Tanya Raniya ketus.
“Aku hanya melakukan ikhtiarku. Menyelingi do’aku dengan usaha keras. Merayunya saja pada saban malam tidak cukup untuk mendapatkan hatimu, Ran. Dia juga menginginkan aku berusaha…” Sahut Nathan tegas. Kata-kata Nathan membuat Raniya tersentak. Dia terdiam mendengar keberanian dan keyakinan yang tersorot di wajah Nathan saat itu.
“Nathaaaan…” Seorang perempuan menyerunya dari kejauhan. Orang itu berlari kearah mereka dengan wajah panik dan gelisah.
“Kenapa, Mel?” Tanya Nathan kepada perempuan itu.
“Nath…” Napas perempuan itu tersengal-sengal. Dia sedikit membungkukkan badannya, satu tangannya bergelayut di lengan Nathan. Tangan lainnya
menepuk-nepuk dadanya yang mungkin terasa sesak karena berlari.
“Tenang, Mel… Ada apa?” Tanya Nathan lagi ikut panik. Tidak hanya Nathan, Raniya yang juga ada disana pun ikut panik karenanya.
“Ada ibu-ibu yang mau melahirkan, Nath… Dan belum ada bidan atau dokter yang menanganinya. Kasihan dia, Nath… Ibu-ibu itu kelihatan kesakitan sekali.” Ucapnya masih terdengar sesak.
“Yaa Allah… Dimana ibu-ibu itu sekarang, Mel?” Tanya Nathan terlihat lebih panik.
“Di puskesmas desa…” Sahut perempuan yang dipanggil Mel sedari tadi oleh Nathan. Tanpa mengingat Raniya, Nathan segera berlari menyusul Mel kearah puskesmas.
Raniya menyusul kepergian Nathan. Dia duduk di kursi tunggu depan ruangan bersalin, tempat yang dia yakini ada Nathan di dalamnya.
“Ternyata tidak hanya polisi saja, tetapi dokter juga bisa sangat berjasa. Dengan melihat reaksi Nathan tadi, aku sadar bahwa cintanya
sungguh-sungguh terhadapku. Dia tidak egois dengan perasaannya. Dia tidak berlebihan dan masih dapat berpikir jernih di saat genting seperti tadi.
Tidak peduli dia seorang dokter ataupun polisi, yang penting dia mampu menjadi imam yang baik untukku kelak. Terutama, dia bertanggung jawab dan melindungi ku seperti Ayah.” Gumam Raniya. Dia begitu terharu mengingat usaha Nathan dalam menangani persalinan pada ibu-ibu hamil di puskesmas itu.
Taufiq Haythom… Sudah seharusnya aku mengubur perasaanku ini terhadapmu. Selain kamu entah dimana sekarang, kamu pasti juga sudah berbahagia dengan perempuan berinisial ‘R’ itu, kan? Alias Renima~ Batin
Raniya. Dia melepas napas berat, menopang tubuhnya dengan kedua telapak tangannya di kursi tunggu puskesmas.
Dia tertunduk lesu memikirkan sesuatu. Berkali-kali dia menggigit bibir bawahnya dan memainkan kedua kakinya yang saling berpangku, ber selonjoran disana. Dan sesekali Raniya menghempaskan punggungnya, bersandar di sandaran kursi yang dia duduki.
“Hai, Ran… Kamu di sini?” Nathan keluar dari ruang bersalin dan menemui Raniya tengah duduk di kursi tunggu depan ruangan itu.
Raniya bangkit dari duduknya. Dia terlihat gugup menatap wajah Nathan.
“Kenapa, Ran? Kamu baik-baik saja, kan?” Tanya Nathan terlihat khawatir.
“Oh… Eh? Bagaimana?” Tanya Raniya berusaha menetralkan perasaan gugupnya.
“Alhamdulillah, Ran… Ini pertama bagi aku membantu proses lahiran sendiri tanpa ada yang memandu. Ibu dan bayinya selamat. Mereka sehat, Ran…” Sahut Nathan terlihat begitu bahagia.
Raniya tersenyum melihat kebahagiaan yang tersorot di wajah Nathan. Yang pastinya, dia ikut bahagia untuk itu.
“Nathan…” Panggil Raniya ragu.
“Ya? Ada apa, Ran?” Tanya Nathan sedikit heran. Tidak biasa baginya melihat reaksi yang terlihat di wajah pujaan hatinya itu.
“A-aku… Aku…”
“Kenapa, Ran…?” Tanya Nathan bingung. Ingin sekali tangan Nathan menggapai jemari Raniya. Itu yang terlihat dari sudut matanya ketika melihat kedua tangan Raniya yang saling meremas di depan dada Raniya sendiri. Hanya saja dia takut gadis itu semakin menjauh darinya.
“A-aku… Aku bangga sama kamu…” Ungkap Raniya sambil tersenyum. Tanpa bicara lagi, Raniya pergi begitu saja meninggalkan Nathan yang ternganga setelah mendapat pujian dari dirinya.
.
.
.
.
.
terimakasih ya kak 😍😍😍😍😍