"I am cursed with an undying soul... forced to return, again and again. And in every life, in every death, it is always you my heart remembers."
"Aku dikutuk dengan jiwa yang tak bisa mati... dipaksa untuk kembali, lagi dan lagi. Dan di setiap kehidupan, di setiap kematian, hanya kamu yang selalu diingat hatiku."
"I cannot follow you beyond death, I cannot chase you through eternity... so I will stay here, loving you with an undying heart in every lifetime I'm given-until time finally takes me away from you."
"Aku tak bisa mengikutimu melewati kematian, tak bisa mengejarmu dalam keabadian... jadi aku akan tetap di sini, mencintaimu dengan hati yang tak pernah mati di setiap kehidupan yang diberikan padaku-sampai waktu akhirnya merenggutku darimu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yersya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2
“Nak. Ayah dan ibu akan pulang larut malam. Jangan nakal ya sayang!”
Pagi yang sama seperti biasanya. Dimulai dari aku bangun. Mengantar orang tuaku pergi di depan pintu. Mencuci muka. Gosok gigi. Lalu duduk di depan tv, menonton film kesukaanku sambil menunggu paman.
“Hehe… aku tidak sabar menonton kelanjutannya.”
Aku menyeringai tidak sabaran menunggu tv menyala, lalu menggantinya ke channel film kesukaanku. Rasa antusiasme ku semakin meningkat ketika opening film berjalan. Aku ikutan bernyanyi dan menari, meskipun aku sama tidak mengerti makna dari lagu tersebut. Tapi siapa yang peduli. Yang penting lagunya enak didengar.
Di waktu singkat itu, selama 1 menit 30 detik opening film, selama itulah aku bernyanyi dan menari dengan gembira. Dan kegembiraanku semakin memuncak ketika opening telah habis. Aku segera duduk dengan mata berbinar-binar. Film kesukaanku pun akhirnya dimulai…
“Eh?”
… Disertai dengan kenyataan yang lambat laun harus aku terima.
Tubuhku membeku. Wajahku pucat pasi. Keringat dingin mengalir di pelipis. Napasku tercekat. Bibirku bergetar. Tidak ada kata yang dapat terucap. Senyuman dan antusiasme yang teramat besar yang kumiliki tadi seolah-olah ditelan oleh makhluk yang tidak masuk akal. Meskipun begitu, film kesukaanku terus berputar. Ya. Berputar dengan alur, dialog, ritme, drama, dan comedy yang sama persis dengan sesuatu yang kuanggap sebagai mimpi sebelumnya.
“Haha… apa ini yang disebut dengan mimpi yang menjadi kenyataan? Ini pasti hanya kebetulan. Atau mungkin aku membangkitkan kekuatan super.”
Meskipun aku tertawa dengan candaan remeh. Tapi ketakutan di wajahku tidak dapat dibohongi. Aku masih dapat menerima kalau kejadian film ini sama persis dengan yang ada di mimpi itu. Tapi… tapi jika misalkan, hal itu juga terjadi, maka aku… aku akan…
Ketakutanku semakin membesar seiring berjalannya waktu. Aku terdiam menatap tv di depanku tanpa berkedip sekalipun. Bukan karena aku menikmati episode yang telah aku tonton di mimpi sebelumnya. Tapi karena aku sama sekali tidak punya keberanian untuk berpaling. Jika seandainya, kejadian yang di mimpi itu nyata, dan ketika aku berpaling tidak menemukan sosok paman di sana , aku pasti akan menjadi gila. Karena itulah, aku tetap diam mematung, sambil berharap dan berdoa kalau itu hanyalah sekadar mimpi belaka.
Detak jantungku menjadi sangat cepat. Pikiranku hanya dipenuhi oleh paman, hingga suara tv tidak lagi terdengar. Setiap detik terasa sangat berat. Aku terus meyakinkan diriku kalau semuanya akan baik-baik saja. Namun, seiring berjalannya waktu, ketakutan dan keputusasaanku semakin besar. Paman masih belum juga muncul. Sedangkan film kesukaanku ini akan segera berakhir.
Tidak apa-apa. Semuanya akan baik-baik saja. Ya. Semua akan baik-baik saja. Ya. Aku yakin itu. Ya semuanya baik. Semuanya akan berjalan normal. Ya. Itu pasti. Semuanya akan baik-baik saja.
Aku terus meyakinkan diriku. Hingga pada akhirnya, tidak satupun harapan itu yang terkabulkan hingga akhir acara selesai. Paman tidak datang, dan aku melakukkan hal yang sama seperti dimimpi itu. Mencari dan berlari disepanjang rumah. Menangis di depan pintu sambil menahan lapar dan haus.
Bingung. Putus asa. Sedih. Kecewa. Semua emosi itu bercampur menjadi satu. Hingga pada akhirnya, aku kembali jatuh pingsan di depan pintu yang sama seperti di mimpi itu.
Mimpi? Apa benar itu hanya mimpi? Semua rasa sakit ini. keputusasaan ini. rasa kecewa ini. kesedihan mendalam yang kurasakan ini. Apakah semua ini benar-benar mimpi?
Aku dapat merasakan kejanggalan yang terjadi saat itu dengan cepat. Tapi tetap saja, akal 5 tahun yang kumiliki saat itu masih tidak dapat menyimpulkan apa yang terjadi sebenarnya. Tidak, jika hal itu terjadi pada orang dewasa, mereka pasti akan merasa sangat panik. Berbeda denganku ketika terbangun kembali dikamarku, dalam keadaan dan waktu yang sama seperti sebelumnya, alih-alih panik dengan situasi abnormal ini, aku malah menangis dengan begitu kencang. Sangat kencang bahkan mungkin bisa terdengar keluar rumah. Aku meremas dadaku dengan erat. Air mataku mengalir deras. Tak ada kata yang dapat kuucap. Tak ada pikiran untuk mempertanyakan kejadian aneh ini. Yang ada hanya kesedihan dan keputusasaan atas rasa sakit yang aku alami.
Di tengah malam yang sunyi ini, suara tangisku seperti ada mic didekatku, terdengar dengan begitu kerasnya. Meskipun begitu, orang tuaku tidak datang ke kamarku. Aku berharap mereka akan memeluk dan menghiburku. Namun itu mustahil, karena mereka masih belum pulang. Mereka selalu begitu, sibuk dengan pekerjaan mereka sehingga tidak ada waktu untukku. Karena itulah paman yang selalu bermain denganku sangat berharga bagiku. Jika paman juga pergi, maka aku akan sendirian lagi. Membayangkan hal itu, aku hanya bisa menangis, menangis, dan terus menangis hingga kelelahan emosional akhirnya membuatku tertidur dalam posisi meringkuk, membawa kesedihan ke dalam mimpi buruk yang tak berujung.