⚠️⚠️
Bukan Cinta Yang Memiliki.
Tapi Obsesi Yang Menjerat.
⚠️⚠️
~•~
Aku bukan milikmu
tapi kamu tidak pernah melepaskanku.
- Disty -
Kamu milikku, dan tidak ada
yang berhak memilikimu selain aku.
- Javeno -
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S.Lintang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Zaffar menarik dagu Disty sedikit kasar agar mau menatapnya, lalu tangannya juga mengambil headset yang tersumpal di telinga Disty.
Ini yang sempat Zayna katakan, Zaffar itu nyeremin walaupun kelihatan nya ramah dan polos. Terbukti sekarang dengan sifat nya yang awalnya manis, sekarang malah terlihat menyeramkan.
Tidak ada senyum manis, hanya wajah dingin dan datar.
"Setiap hari gue selalu ngomong sendiri bahkan ngoceh nggak jelas sama lo, tapi lo sama sekali nggak pernah respon itu," desis Zaffar masih memegang dagu Disty, bahkan sekarang lebih kuat.
"Apa mulut lo beneran nggak berfungsi Disty?" tanya Zaffar semakin dingin dengan wajahnya yang mendekat perlahan.
"Pergi," kata Disty akhirnya bersuara dan mendorong dada Zaffar.
Zaffar terkekeh kecil mendengar suara yang akhirnya keluar. Tangannya dengan cepat mengunci pergerakan Disty, membuat gadis itu memberontak ingin lepas.
"Gue selalu penasaran sama lo bahkan tertarik. Tapi lo seenaknya acuhin gue?" tanya Zaffar. Dia tidak terima mendapat acuhan dari Disty selama ini.
Nada lembut sebelumnya kemana? Tidak ada, ini lah Zaffar yang asli. Muka ramah yang selalu tersenyum hanya Zaffar jadikan topeng saja.
Zaffar menatap bibir Pink Disty. Gerakan nya perlahan kembali mendekat hendak menyentuh. Sebelum...
Brakkk!!
Pintu terbuka lebar secara tiba-tiba karena seseorang menendang paksa dari luar. Membuat Zaffar segera melepaskan Disty dan sedikit mendorong gadis itu hingga kepalanya terbentur ke dinding.
Tapi Disty tidak meringis. Kepalanya terangkat menatap seorang pemuda yang baru saja masuk.
Pemuda tampan berwajah datar dengan rahang tegas serta tatapan tajamnya.
Melangkah menghampiri Disty dan Zaffar yang sekarang sudah menggeram pelan dalam diam.
"Dia selalu datang," geram Zaffar pelan. Namun Disty mendengarnya.
Javeno Mixvell.
"Zaffar Alariksyah."
Javeno menyebutkan nama lengkap Zaffar hingga pemuda itu berdiri dari duduknya dan menatap Disty yang langsung memalingkan wajahnya.
"Aku ke kantin duluan Dis, nanti ada orang yang bakal antar makan siang...."
"No need!" Javeno menyela dingin.
Zaffar mengepalkan tangan dalam diam. Setelahnya ia memilih melenggang pergi tanpa melihat Javeno. Orang yang selalu bisa membuatnya tidak berkutik.
Disty segera mengalungkan tangannya di leher Javeno yang baru saja duduk di bangku Zaffar. Ia menyembunyikan wajahnya dengan air mata yang keluar tanpa suara.
Javeno membalas pelukan itu dan mengusap kepala Disty yang sempat ia lihat terbentur dinding tadi.
Tapi kalau Disty boleh jujur, Javeno atau pun Zaffar sama-sama orang yang Disty hindari sebenarnya.
Disty berhasil lepas dari Zaffar sekarang, tapi siapa yang akan membantunya lepas dari Javeno yang sudah setahun ini berhasil mencengkram dan mengendalikan dirinya? Tidak ada.
Disty melepas pelukan dan menghapus air matanya sendiri.
"Kamu mengeluarkan suara tadi?" tanya Javeno dingin dengan alis terangkat sebelah.
Disty segera menggeleng membuat Javeno tersenyum miring.
"Berbohong?" tanya Javeno lebih dingin. "Aku udah sering ingetin kamu, jangan berinteraksi sama siapa pun. Entah itu cewek ataupun cowok, tapi kamu...."
"Aku terpaksa!" bantah Disty membela diri. Melihat mata Javeno.
"Dia hampir sentuh aku tadi, dia mau lecehin aku!" lanjut Disty memberitahu.
"Kalau aku tetap diam dan nggak keluarin suara buat suruh dia pergi, dia bakal... hmptt."
Kalimat Disty terpotong saat Javeno langsung menyambar bibirnya dan sedikit memberi lumatan sebentar sebelum melepasnya.
"Seperti ini?" tanya Javeno sambil mengusap bibir basah Disty.
Disty dengan cepat menghapus air matanya, lalu mengubah duduknya menghadap ke depan. Disty tidak bisa melawan pada Javeno yang mengendalikannya dengan penuh.
"Aku bisa berontak sama siapa pun, tapi enggak sama kamu," lirihnya pelan.
Javeno tersenyum dan mengusap kepala Disty dengan lembut. "Menurut lebih baik untuk kamu dari pada memberontak," katanya pula.
Disty diam.
"Makan?" tanya Javeno menyentuh wajah Disty agar menatap dirinya lagi.
Disty menggeleng pelan membuat tatapan mata Javeno menajam.
"Menolak?" tanya Javeno dengan alis terangkat sebelah.
Disty menghela napas dan menggenggam tangan Javeno. "Mana?" tanyanya pelan.
Tok tok_
"Makan siang nya, Kak," ujar siswa yang datang membawa nampan di tangannya.
Sebelum datang ke kelas ini, Javeno sempat menyuruh siswa lain untuk membeli makanan di kantin dan menyuruh untuk mengantar kesini.
Javeno mengangguk dan memberikan selembar uang ratusan pada siswa itu. "Keluar," titahnya.
Disty mengambil nampan yang berisi jus jeruk dan semangkuk mie ayam bakso. Mengaduk nya sebentar sebelum memasukkan ke mulut.
"Kamu nggak makan?" tanya Disty menatap Javeno yang menggeleng. Lalu Javeno mengeluarkan ponsel dan bermain game.
Menunggu Disty sampai gadis itu benar-benar selesai makan.
Tidak lama setelah Disty menyelesaikan makan nya, bel masuk berbunyi lagi.
Javeno menyimpan ponsel dan menatap Disty yang dengan pintar menghabiskan makan siang nya tanpa banyak bicara.
"Supir bakal jemput nanti sepulang sekolah, aku ada basket," ucap Javeno dan Disty hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengeluarkan suara.
Javeno berdiri dan akan keluar dengan nampan kotor bekas Disty makan, tapi sebelum itu_
"Tetap diam tanpa mengeluarkan suara lagi. Ngerti?" tekan Javeno menatap Disty yang kembali mengangguk.
"Aku bertanya Disty!" geram Javeno berdesis.
"Ngerti," sahut Disty dengan cepat agar tidak menimbulkan masalah.
Javeno mengangguk. "Good," katanya sebelum keluar dari kelas karena siswa/i kelas ini juga sudah mulai masuk.
Zaffar menjadi siswa terakhir yang masuk sebelum guru. Ia duduk di samping Disty yang acuh tanpa melihat dirinya.
"Hubungannya dengan Javeno apa sebenarnya," batin Zaffar sebelum fokus pada guru tanpa ocehan yang mengganggu Disty.