"Menikahlah. Jadi orang tua utuh untuk Kenzie. Jangan biarkan dia merasa kehilangan sosok ayah dan ibu. Tolong, jangan biarkan dia sendirian."
Demi wasiat kedua kakaknya. Aruna dan Gavin terpaksa menikah saat itu juga. untuk menggantika peran kedua kakaknya pada keponakan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amillea24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2
Langit Jakarta sore itu mendung, seolah ikut berduka mengiringi kepulangan Adisti dan Rendy. Di rumah besar milik Rendy, Aruna duduk bersimpuh di depan keranda sang kakak.
Air matanya tak henti - hentinya berjatuhan membasahi kedua pipi mulusnya.
"Jangan tinggalin Aru, kak. Aku ngga punya siapa - siapa lagi disini, hiks hiks." Isak Aruna membuat yang mendengar ikut bersedih.
Sedangkan Gavin berdiri mematung di samping mayat sang kakak dengan tatapan kosong. Ia berusaha tegar di depan para pelayat.
Ketika melihat wajah polos sang keponakan di pangkuan salah satu pekerjaan rumah kakanya ini. Membuat hatinya teras nyeri. Bocah sekecil Kenzie sudah di tinggal pergi kedua orang tuanya untuk selamanya.
"Bang, Kakak. Aku janji akan selalu memberikan kehangatan dan kebahagiaan buat Kenzie dan Aruna." Gumam Gavin dalam hatinya, sambil menatap kedua keranda milik kakaknya.
*****
Aruna berdiri mematung di tepi liang lahat yang baru saja ditutup. Pakaian hitamnya kontras dengan kulitnya yang pucat. Ia tidak lagi memiliki air mata untuk diteteskan; matanya sudah terlalu perih dan bengkak.
Dirinya sempat jatuh pingsan sebelum kedua jenasah milik kedua kakaknya di bawa untuk di sholat kan di mesjid komplek. Dirinya benar rapuh saat ini, orang yang paling dekat dengan dirinya sudah pergi jauh meninggalkannya.
Di sampingnya, Gavin berdiri dengan kacamata hitam yang menyembunyikan matanya yang merah. Tangannya menggendong Kenzie yang tampak kebingungan melihat kerumunan orang berbaju hitam.
"Una ana( Bunda mana), Oom Apin ? Yayah juga ana ( ayah juga mana ) ?" suara cadel Kenzie memecah keheningan setelah doa selesai dipanjatkan.
Gavin berdeham, tenggorokannya terasa seperti disumbat batu. "Bunda sama Ayah... lagi istirahat di tempat yang indah, Sayang. Sekarang Kenzie sama Oom dan Ante, ya?"
"Tenapa ( kenapa ) harus cama Oom dan Ante ? Eji enda cama Una dan Yayah agi ( Kenzie tidak sama Bunda dan ayah lagi ) ? " Pertanyaan Kenzie membuat Gavin bungkam ia bingung harus menjawab apa atas pertanyaan bocah kecil itu.
Aruna menoleh, menatap Kenzie dengan hati yang hancur. Ia ingin mengambil Kenzie dari gendongan Gavin, tapi tubuhnya terasa terlalu lemas bahkan untuk sekadar mengangkat tangan. Ia juga sempat melirik Gavin—si laki-laki yang biasanya sibuk menebar pesona—kini terlihat begitu hancur atas kepergian Rendy. Ditambah sekarang atas pertanyaan Kenzie barusan.
"Ayo pulang, Aruna. Udah mau hujan," ajak Gavin pelan. Ia sengaja mengalihkan pembicaraan supaya keponakannya itu tidak bertanya tentang kedua orang tuanya lagi.
Aruna tidak menjawab. Ia hanya berjalan mendahului Gavin menuju parkiran. Pikirannya melayang ke rumah besar peninggalan kakaknya yang kini menjadi tanggung jawab mereka berdua.
*****
Aruna menatap bangun besar tempat berteduh Adisti, Rendy dan sang keponakan selama ini. Ia tak sanggup untuk tinggal di kediaman kakaknya ini. Pasti bayang kedua kakaknya masih tercetak jelas di ingatnya.
Melihat Aruna merasa tak sanggup untuk tinggal di kediaman sang kakak. Membuat Gavin mengajak Kenzie dan Aruna untuk tinggal di apartemen miliknya malam ini.
"Kalo kamu tidak sanggup untuk tinggal disini. Ayo ikut aku pindah ke apartemen milik ku." Ucap Gavin dengan lembut, sambil menatap wajah sendu Aruna.
" Lalu bagaimana dengan rumah ini ?"
"Biarkan Mbok Rin, Teh Imah dan Pak Sidiq yang menjaga dan merawat rumah ini."
" Nanti kalo kamu sudah siap untuk tinggal disini, baru lah kita pindah lagi kesini."
Aruna mengangguk pelan sebagai jawaban.
Gavin meminta bantuan Mbok Rin dan Teh Imah untuk mengemasi barang - barang milik Kenzie yang akan di bawa ke apartemennya.
Tak lama dua buah koper berukuran besar yang dimana semua kebutuhan milik Kenzie sudah Mbok Rin dan Teh Imah masukan ke dalam koper - koper tersebut.
"Den Gavin, semua kebutuhan Den Kenzie sudah Mbok masukin kedalam koper ini semua." Ucap Mbok Rin sambil memberikan kedua koper itu pada Gavin.
"Terimakasih banyak, Mbok."
"Mbok tolong jaga dan rawat rumah Bang Rendy ini ya." Lanjut Gavin dengan suara sedikit serak menahan tangis.
"Sama - sama Den. Pasti Mbok, Imah dan Pak Sidiq akan menjaga rumah ini dengan baik."
" Aden juga sering - sering jenguk rumah ini kalo tidak sibuk." Lanjut Mbok Rin.
"Insyaallah mbok. Kalo begitu saya dan Aruna pamit pergi dulu." Ucap Gavin sambil mengambil kedua koper milik Kenzie tersebut.
"Hati - hati ya, Den. Selalu beri kabar mbok juga."
"Pasti mbok. Saya pamit, Assalamualaikum.."
Baru saja Gavin melangkah keluar dari dalam rumah untuk menemui Aruna dan Kenzie yang menunggu dirinya di teras rumah. Teh Imah memanggil dirinya sambil membawa sebuah tote bag berukuran besar di tanganya.
"Tunggu, Den. Saya ingi memberikan ini." Ucap Teh Imah dengan nafas sedikit tersenggal - segal setelah sampai di dekat Gavin.
"Apaan itu, Teh ? " Tanya Gavin dengan alis mengerut.
"Ini susu serta cemilan bayi buat Den Kenzie." Jawab Teh Imah lalu menyodorkan tote bag besar itu pada Gavin.
"Sama ini catatan milik Den Kenzie yang di tulis langsung oleh almarhumah Non Adisti, Den." Teh Imah memberikan sebuah buku berwarna biru mudah dengan sampul bergambar wajah Kenzie bayi.
" Buku catatan apa ini, Teh ?"
"Catatan tentang kebutuhan Den Kenzie, Den. Non Adisti sudah menulis semuanya di situ. Mulai makanan apa saja yang Den Kenzie suka, sampai makanan yang tidak boleh Den Kenzie makan sudah di catata disana sama Non Adisti."
Gavin mengangguk mengerti lalu memasukkannya kedalam tote bag berisi susu serta cemilan milik Kenzie.
"Baik. Terimakasih Teh. Kalo begitu saya pamit. Jaga rumah ini baik - baik ya."
"Pasti Den akan saya jaga rumah mendiang Non Adisti dan Den Rendy dengan baik."
"Kalo begitu saya keluar dulu. Kasihan Aruna dan Kenzie sudah menunggu saya di depan."
Gavin langsung melangkah keluar dari kediaman sang kakak menuju dimana Aruna dan Kenzie menunggu dirinya.
Melihat Aruna sedang memangku Kenzi sambil menatap kosong ke arah tanaman milik mendiang kakak iparnya membuat Gavin merasa sedih di buatnya.
Ia tahu bagaimana Aruna begitu dekat dengan sang kakak. Pasti gadis manis itu merasa hancur di tinggal selamanya oleh keluarga yang selalu ada dan dekat dengan dirinya.
"Ayo kita pulang." Ajak Gavin. Membuyarkan lamunan Aruna seketika.
"Hmm, i-iya ayo." Ucap Aruna gugup. Ia berdiri dari duduknya sambil mengangkat Kenzie kedalam gendong nya.
Bersambung....
tapi bagus run keren Badas Banggt dari pada pusing Meding enjoy sama ponakan
lagi dong Thor