Anya Clarissa, seorang Arsitek Lanskap yang terbiasa menata keteraturan dari kekacauan tanaman, menemukan hidupnya sendiri berantakan. Ibunya, Mama Clarissa, terjerat hutang miliaran setelah ditipu oleh rekan bisnis butiknya. Di tengah keputusasaan, sebuah tawaran datang dari Keluarga Arkatama, penguasa industri logistik laut yang legendaris.Devan Arkatama, CEO muda yang dingin, angkuh, dan efisien, sedang dalam posisi terhimpit. Sang ayah, Papa Arkatama, mengancam akan mencopot jabatannya dan mengalihkan warisan kepada sepupunya jika Devan tidak segera menikah dan memperbaiki citranya yang dikenal sebagai "Playboy Tak Berperasaan."Pertemuan pertama mereka di sebuah acara peresmian taman kota berakhir dengan bencana. Anya menganggap Devan adalah pria sombong yang tidak menghargai seni, sementara Devan menganggap Anya adalah wanita kelas menengah yang mencoba mencari perhatian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut Asmaul Husna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 2 : PRAHARA DI BALIK PINTU RUMAH
Anya Clarissa menghela napas panjang saat mematikan mesin mobil SUV tua kesayangannya. Mobil itu, meski sudah memudar catnya di beberapa bagian, adalah saksi bisu perjuangannya membangun Green Soul Studio. Aroma tanah dan sisa pupuk organik masih tertinggal di jok belakang, memberikan rasa nyaman yang aneh bagi Anya. Namun malam ini, kenyamanan itu terasa semu. Bayangan wajah angkuh Devan Arkatama di lokasi proyek tadi siang masih terus membayangi pikirannya seperti kabut hitam yang sulit diusir.
"Pria sombong itu benar-benar merusak hariku," gumam Anya sambil mengambil tas kanvasnya.
Ia melangkah menuju pintu rumah bergaya minimalis tropis di kawasan pinggiran Jakarta yang tenang. Rumah itu tidak besar, tapi asri—buah karya Anya sendiri yang menanam setiap jengkal halamannya dengan tanaman merambat dan melati yang kini mulai menebarkan aroma harum di udara malam. Biasanya, aroma ini adalah obat lelah bagi Anya. Namun, saat ia melangkah masuk, ia merasakan atmosfer yang berbeda. Sunyi yang mencekam.
Lampu ruang tamu temaram. Di sana, di atas sofa kain yang sudah mulai menipis busanya, duduk seorang wanita paruh baya dengan bahu yang merosot. Mama Clarissa. Di depannya, meja kopi yang biasanya bersih kini dipenuhi dengan map-map cokelat dan tumpukan kertas putih yang terlihat sangat resmi—dan sangat mengancam.
"Ma? Mama belum tidur?" Anya mendekat, rasa lelahnya seketika berganti dengan kecemasan yang dingin.
Mama Clarissa mendongak. Matanya merah dan sembap, seolah ia baru saja menghabiskan waktu berjam-jam untuk menangis dalam diam. "Anya... kamu sudah pulang, Sayang?" Suara Mama parau, bergetar karena beban yang tak sanggup lagi ia pikul sendiri.
Anya segera berlutut di depan Mamanya, menggenggam tangan wanita yang telah membesarkannya seorang diri itu. Tangan Mama terasa dingin seperti es. "Ada apa, Ma? Apa ini soal butik? Bukankah Mama bilang vendor kain dari Bandung sudah setuju untuk mencicil?"
Mama Clarissa menggeleng pelan, air mata kembali menetes membasahi pipinya yang mulai keriput.
"Bukan hanya vendor, Anya. Pak Hendra... mitra bisnis Mama... dia tidak hanya membawa lari uang modal. Dia menjaminkan sertifikat rumah ini dan seluruh aset butik untuk hutang pribadinya ke rentenir kelas kakap. Dan sekarang, mereka menagihnya pada Mama."
Jantung Anya seolah berhenti berdetak. "Berapa, Ma?"
"Dua belas miliar, Anya. Jika dalam dua minggu kita tidak melunasinya, rumah ini akan disita. Kita akan kehilangan segalanya. Mama tidak peduli soal butik, tapi rumah ini... ini satu-satunya peninggalan Papa untukmu."
Dua belas miliar. Angka itu berdengung di telinga Anya seperti ribuan lebah. Bagi seorang arsitek lanskap muda seperti dirinya, uang sebanyak itu adalah kemustahilan. Proyek The Emerald Garden memang besar, tapi komisinya baru akan cair bertahap dan jumlahnya tidak akan menutupi bahkan seperempat dari hutang itu.
"Kita akan cari jalan keluar, Ma. Anya akan bicara dengan bank, atau Anya akan ambil proyek tambahan malam ini juga," ucap Anya berusaha tegar, meski kakinya sendiri terasa lemas.
"Tidak ada bank yang mau meminjamkan uang sebesar itu pada kita dalam waktu singkat, Anya. Mama sudah mencoba semuanya," isak Mama Clarissa semakin menjadi. "Tapi... tadi sore, Mama Arkatama datang ke sini."
Anya mengerutkan kening. "Mama Arkatama? Ibu dari pria sombong yang punya proyek itu?"
Mama Clarissa mengangguk. "Kami bersahabat sejak SMA, Anya. Kamu tahu itu. Dia tahu kondisi kita. Dia menawarkan bantuan. Dia bilang, keluarga Arkatama bisa melunasi semua hutang kita dalam satu malam. Tanpa bunga, tanpa syarat finansial apa pun."
Anya merasakan firasat buruk. Di dunia ini, tidak ada yang benar-benar gratis, apalagi dari keluarga sekaya Arkatama. "Apa syaratnya, Ma? Pasti ada 'tapi'-nya, kan?"
Mama Clarissa menatap mata Anya dengan tatapan memohon yang paling dalam, tipe tatapan yang membuat seorang anak tidak tega untuk berkata 'tidak'.
"Mereka ingin kamu menikah dengan Devan, Anya. Papa Arkatama sedang terdesak karena citra Devan di media yang buruk—berita tentang dia yang sering berganti pasangan dan bersikap kasar pada karyawan mulai mengancam harga saham perusahaan. Papa Arkatama ingin Devan segera menikah dengan wanita dari latar belakang baik, mandiri, dan berpendidikan untuk memperbaiki citra keluarga. Dan mereka memilihmu."
Dunia Anya terasa berputar. Menikah? Dengan Devan Arkatama? Pria yang tadi siang hampir saja ia maki habis-habisan? Pria yang menganggap tanaman adalah sampah dan uang adalah segalanya?
"Ma, ini gila! Anya baru saja bertemu dengannya tadi siang dan kami... kami saling membenci! Dia pria paling angkuh yang pernah Anya temui. Anya tidak bisa menjual diri Anya hanya demi uang!"
"Ini bukan menjual diri, Anya! Ini menyelamatkan nyawa kita!" Mama Clarissa memegang bahu Anya dengan kuat. "Mama tahu ini berat. Mama tahu kamu punya mimpi. Tapi lihat Mama, Nak... jika kita diusir dari sini, Mama tidak punya siapa-siapa lagi. Papa Arkatama berjanji akan menganggapmu seperti anak sendiri. Devan... dia mungkin sulit, tapi dia pria yang bertanggung jawab."
"Bertanggung jawab?" Anya tertawa getir di sela isaknya. "Dia bahkan tidak punya hati, Ma! Dia ingin menghancurkan taman yang Anya bangun! Bagaimana mungkin Anya hidup selamanya dengan pria seperti itu?"
"Tolong, Anya... hanya ini jalan satu-satunya. Mama tidak minta kamu mencintainya sekarang. Lakukan ini demi rumah kita. Demi Mama."
Anya melepaskan genggaman tangan Mamanya dan berdiri. Ia berjalan menuju jendela, menatap kegelapan malam di luar. Pikirannya berperang hebat. Di satu sisi, ada harga dirinya, kebebasannya, dan idealismenya tentang cinta. Di sisi lain, ada wajah ibunya yang hancur, kenangan tentang ayahnya di rumah ini, dan kenyataan pahit bahwa tanpa uang Arkatama, mereka akan menjadi gelandangan.
Logika dan perasaan Anya bertabrakan. Ia membayangkan wajah Devan yang tersenyum miring mengejeknya tadi siang. Apakah Devan sudah tahu tentang rencana ini? Apakah kedatangannya ke proyek tadi siang adalah bentuk inspeksi terhadap "calon barang belanjaan" ayahnya?
Kemarahan Anya meluap, namun rasa bersalahnya pada sang ibu jauh lebih besar.
"Kenapa harus Anya, Ma? Mengapa Devan setuju?"
"Dia tidak punya pilihan, Anya. Papa Arkatama mengancam akan mencopot jabatannya sebagai CEO jika dia tidak segera menikah dalam waktu satu bulan. Dia butuh kamu sama seperti kita butuh mereka. Ini adalah kesepakatan bisnis bagi mereka, Anya."
Kesepakatan bisnis. Kata-kata itu menampar Anya. Pernikahan yang seharusnya suci, kini turun derajat menjadi sekadar transaksi untuk menutupi hutang dan memperbaiki citra perusahaan.
Anya membalikkan badan, menatap ibunya yang masih menangis tersedu-sedu di sofa. Keheningan malam itu terasa begitu berat, seolah dinding-dinding rumah pun ikut menanti jawaban darinya. Anya tahu, saat ia membuka mulutnya nanti, hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Ia akan memasuki kandang singa, dan singa itu bernama Devan Arkatama.
"Baik, Ma," suara Anya terdengar sangat dingin, bahkan di telinganya sendiri. "Anya akan melakukannya. Anya akan menikah dengan pria itu. Tapi beritahu keluarga Arkatama... Anya tidak akan pernah menjadi istri penurut yang mereka bayangkan."
Malam itu, Anya Clarissa tidak bisa tidur. Ia menghabiskan sisa malamnya dengan menatap langit-langit kamar, membayangkan bagaimana ia harus menghadapi hari esok. Hari di mana ia akan bertemu kembali dengan Devan, bukan sebagai musuh di lapangan konstruksi, melainkan sebagai tunangan yang terpaksa.
...****************...
Di tempat lain, di sebuah penthouse mewah yang menghadap ke gemerlap lampu Jakarta, Devan Arkatama sedang menuangkan wiski ke dalam gelas kristalnya. Ia menatap pantulan dirinya di kaca jendela yang besar. Di meja kerjanya, ada sebuah map berisi profil lengkap Anya Clarissa.
"Jadi, arsitek kecil itu yang akan menjadi istriku?" gumam Devan. Ia mengingat sorot mata Anya yang berapi-api tadi siang. "Menarik. Mari kita lihat seberapa lama kamu bisa bertahan di duniaku, Anya."
Devan meneguk wiskinya hingga tandas. Baginya, pernikahan ini hanyalah gangguan kecil yang harus ia selesaikan agar ayahnya berhenti mengoceh. Ia tidak berencana memberikan hatinya, dan ia yakin, wanita seperti Anya pasti punya harga yang bisa dibeli.
Pertempuran sesungguhnya antara dua manusia yang keras kepala ini baru saja dimulai. Sebuah pernikahan yang dibangun di atas reruntuhan hutang dan ambisi kekuasaan, menunggu waktu untuk meledak atau... mungkin, perlahan-lahan meluluhkan kebekuan di hati mereka.