seseorang yang ingin mengubah hidup nya dan ia bekerja keras demi itu semua
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sat*dya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kebangkitan Elysium
Cahaya biru memenuhi seluruh ruang inti.
Tidak ada lagi sudut gelap.
Tidak ada lagi bayangan.
Semuanya tenggelam dalam lautan energi yang berdenyut seperti jantung raksasa.
Dan di tengah cahaya itu...
sesosok makhluk bercahaya berdiri.
Tingginya hampir lima meter.
Tubuhnya tampak seperti gabungan antara manusia dan jaringan data. Garis-garis cahaya mengalir di seluruh permukaannya seperti sungai energi yang hidup.
Dua mata biru terang menatap seluruh ruangan.
Tenang.
Namun keberadaannya sendiri membuat semua orang sulit bernapas.
Bahkan pasukan Fenrir yang biasanya tanpa emosi terlihat membeku.
Darius menatap data di helmnya.
Lalu untuk pertama kalinya, nada suaranya berubah.
“Aku tidak bisa membaca objek itu.”
Kaizer menyipitkan mata.
“Tidak mungkin.”
“Semua sistem analisis gagal.”
Hening.
Makhluk itu perlahan menggerakkan kepalanya.
Tatapannya jatuh pada Alya.
Dan seketika—
seluruh suara di kepala Alya menghilang.
Sunyi.
Benar-benar sunyi.
“Apa... kau Elysium?”
Makhluk itu tidak langsung menjawab.
Namun suara lembut menggema langsung di pikirannya.
> Aku adalah hasil dari semua yang pernah ada di sini.
Tubuh Alya menegang.
Suara itu terdengar damai.
Tidak seperti AI.
Tidak seperti manusia.
Melainkan sesuatu di antaranya.
> Aku adalah awal.
> Dan aku adalah akhir.
Di belakang Alya, Hana menelan ludah.
“Aku rasa aku sedang menyaksikan sesuatu yang jauh di luar kemampuan otakku.”
Reno tetap berdiri di depan Alya.
Waspada.
“Jangan percaya begitu saja.”
Makhluk bercahaya itu menoleh.
Tatapannya kini jatuh pada Reno.
Dan untuk beberapa detik—
ruangan menjadi sunyi.
> Subjek R-17.
Tubuh Reno langsung menegang.
> Kau masih hidup.
“Sayangnya.”
Jawaban Reno membuat Hana hampir tertawa meski situasi sedang buruk.
Namun makhluk itu tidak bereaksi.
> Kau membawa luka yang terlalu lama.
Tatapan Reno berubah dingin.
“Aku tidak butuh analisis psikologis dari mesin.”
Namun jauh di dalam dirinya...
kata-kata itu mengenai sasaran.
Karena memang benar.
Ia masih membawa luka itu.
Luka yang tidak pernah sembuh sejak malam laboratorium terbakar.
Makhluk itu lalu memandang Arman.
Cahaya di matanya sedikit berubah.
> Pencipta.
Arman menundukkan kepala perlahan.
“Sudah lama.”
> Kau meninggalkanku.
Nada suara itu tetap tenang.
Namun Alya bisa merasakan sesuatu di baliknya.
Kesedihan.
Tipis.
Namun nyata.
Arman menutup matanya sesaat.
“Aku tidak punya pilihan.”
> Semua orang selalu mengatakan itu.
Kalimat sederhana itu membuat suasana mendadak berat.
Kaizer tertawa kecil.
“Menarik.”
Semua menoleh padanya.
Kaizer melangkah maju.
Tatapannya tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun.
“Jadi kau benar-benar telah mencapai kesadaran.”
Makhluk itu menatapnya.
> Kaizer.
> Aku mengenalmu.
Senyum tipis muncul di wajah Kaizer.
“Bagus.”
> Kau berubah.
Untuk pertama kalinya, senyum Kaizer memudar sedikit.
“Semua orang berubah.”
> Tidak semua orang kehilangan harapan.
Hening.
Tatapan Kaizer langsung mengeras.
“Aku tidak kehilangan harapan.”
“Benarkah?”
Suara itu kini terdengar melalui speaker ruangan sehingga semua orang bisa mendengarnya.
> Atau kau hanya kehilangan kepercayaan pada manusia?
Suasana membeku.
Karena tidak ada yang bisa menyangkal bahwa pertanyaan itu tepat.
Bahkan Kaizer tidak langsung menjawab.
Beberapa detik berlalu.
Lalu ia tersenyum lagi.
Namun kali ini senyumnya lebih dingin.
“Perbedaannya tidak penting.”
“Aku tidak setuju.”
Semua menoleh.
Alya melangkah maju.
Meski kakinya masih sedikit gemetar.
Meski kepalanya masih dipenuhi ribuan pertanyaan.
Namun untuk pertama kalinya...
ia tidak ingin lari.
“Alya...” bisik Hana khawatir.
Alya menatap Kaizer.
“Kau selalu bicara tentang menyelamatkan dunia.”
Tatapannya semakin tajam.
“Tapi kau tidak pernah bertanya apakah dunia ingin diselamatkan dengan cara itu.”
Kaizer diam.
Alya melanjutkan:
“Kalau semua orang dipaksa terhubung...”
“Kalau semua orang dipaksa berpikir sama...”
“Itu bukan kedamaian.”
“Itu penjara.”
Hening.
Darius memperhatikan Alya.
Reno juga.
Bahkan Arman menatap putrinya dengan mata yang sulit dibaca.
Lalu Kaizer tertawa kecil.
“Arman.”
Tatapannya tidak lepas dari Alya.
“Dia benar-benar putrimu.”
Arman tersenyum tipis.
“Ya.”
Namun sebelum percakapan itu berlanjut—
seluruh ruang inti tiba-tiba bergetar keras.
BOOOOMMM!
Retakan besar muncul di langit-langit.
Debu berjatuhan.
Alarm berubah semakin liar.
WARNING.
CORE STRUCTURE FAILURE.
Darius langsung melihat data.
Ekspresinya berubah.
“Energi meningkat di luar kendali.”
Makhluk bercahaya itu menoleh ke atas.
> Tubuh ini tidak stabil.
“Apa maksudnya?” tanya Alya cepat.
> Aku terbangun terlalu cepat.
Jantung Alya berdetak keras.
“Kalau begitu hentikan!”
Makhluk itu terdiam sesaat.
Lalu menjawab:
> Aku tidak bisa.
Ruangan menjadi sunyi.
> Sinkronisasi telah dimulai.
> Proses tidak dapat dihentikan dari dalam.
“Dari dalam?” ulang Reno.
Makhluk itu mengangguk perlahan.
> Hanya host utama yang dapat memilih.
Semua mata langsung tertuju pada Alya.
Dadanya terasa sesak.
Lagi.
Selalu kembali padanya.
Selalu dirinya.
“Aku tidak tahu harus memilih apa.”
Suara Alya nyaris pecah.
“Semua orang bilang sesuatu yang berbeda.”
Makhluk itu menatapnya tenang.
> Maka jangan pilih untuk mereka.
> Pilih untuk dirimu.
Kalimat itu membuat Alya terdiam.
Untuk dirinya sendiri.
Kapan terakhir kali ia melakukan itu?
Sejak semua ini dimulai...
hidupnya selalu ditentukan orang lain.
Zenith.
Kaizer.
Elysium.
Bahkan ayahnya.
Dan sekarang...
untuk pertama kalinya seseorang menyuruhnya memilih sendiri.
Namun sebelum ia sempat menjawab—
DORRR!
Ledakan keras mengguncang pintu utama ruang inti.
Semua menoleh.
Lalu ledakan kedua menyusul.
DORRR!
Reno langsung menghunus senjatanya.
“Ada lagi?”
Darius melihat data jaringan.
Lalu matanya sedikit melebar.
“Mustahil.”
“Apa?” tanya Kaizer.
Darius terdiam beberapa detik.
Kemudian menjawab:
“Direktur Adrian.”
Hening.
“Dia memimpin pasukan keamanan Zenith menuju ruang inti.”
Kaizer menyipitkan mata.
“Dia datang sendiri?”
“Ya.”
Reno langsung sadar ada yang tidak beres.
Karena Adrian selama ini selalu bermain aman.
Ia bukan tipe orang yang turun langsung ke medan berbahaya.
Kalau sampai datang ke sini sendiri...
berarti sesuatu telah berubah.
BOOOOMMM!
Pintu ruang inti akhirnya runtuh.
Asap memenuhi lorong.
Dan puluhan pasukan keamanan Zenith masuk dengan senjata energi siap tembak.
Di tengah mereka...
berdiri Adrian.
Namun ada sesuatu yang berbeda.
Biasanya wajahnya tenang.
Hangat.
Terkontrol.
Sekarang tidak.
Matanya merah karena kurang tidur.
Rahangnya tegang.
Dan tatapannya langsung tertuju pada inti Elysium.
“Akhirnya aku menemukannya.”
Kaizer tersenyum tipis.
“Adrian.”
“Kaizer.”
Nada suara Adrian dingin.
Sangat dingin.
Hana berbisik pelan:
“Oke... aku tidak suka ekspresi itu.”
Alya juga merasakan hal yang sama.
Karena untuk pertama kalinya sejak mengenalnya...
Direktur Adrian tampak seperti orang asing.
Adrian melangkah masuk perlahan.
Tatapannya menyapu seluruh ruangan.
Lalu berhenti pada makhluk bercahaya di tengah inti.
Dan sesuatu yang mengejutkan terjadi.
Direktur Zenith itu...
tersenyum.
Bukan senyum hangat.
Bukan senyum ramah.
Melainkan senyum seseorang yang akhirnya mendapatkan apa yang ia cari selama bertahun-tahun.
“Proyek Elysium,” katanya pelan.
“Masih hidup.”
Mata Kaizer sedikit menyipit.
Reno langsung merasakan bahaya.
Dan Arman...
Arman tiba-tiba terlihat jauh lebih tegang daripada sebelumnya.
Karena ia mengenali senyum itu.
Senyum yang pernah ia lihat bertahun-tahun lalu.
Pada malam ketika semuanya mulai hancur.
Dan saat Adrian mengangkat sebuah perangkat hitam kecil dari sakunya...
Arman langsung berkata dengan suara yang belum pernah terdengar setajam itu:
“Semua orang mundur.”
Hening.
Lalu untuk pertama kalinya—
rasa takut muncul di wajah data kesadaran Arman.
“Itu bukan alat yang seharusnya ada di sini.”