NovelToon NovelToon
Takluk Pada Sekretaris Alana

Takluk Pada Sekretaris Alana

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: putra ilham

Takluk pada Sekretaris Alana
Di lantai 42 Arkananta Tower, Devan Arkananta adalah hukum yang mutlak. Tampan, kaya, dan bertangan dingin, sang CEO dijuluki sebagai "Monster Arkananta" yang tidak pernah menoleransi kesalahan sekecil apa pun. Bagi seluruh karyawan, dia adalah predator puncak yang tidak tersentuh. Namun, di balik topeng es yang sempurna itu, Devan menyimpan rahasia kelam dan kerapuhan mental yang bisa menghancurkan kerajaannya dalam semalam.
Hanya ada satu orang yang mampu bertahan di sisinya: Alana, sang sekretaris eksekutif yang tangguh. Tiga tahun menjaga profesionalisme tanpa cela, dunia Alana berbalik seratus delapan puluh derajat ketika ia menjadi saksi mata saat Devan tumbang akibat serangan panik (panic attack) yang hebat di ruang kerjanya. Sejak malam mencekam itu, Alana bukan lagi sekadar pengatur jadwal, melainkan satu-satunya perisai rahasia bagi sang CEO.
Ketika batas profesional antara bos dan sekretaris mulai terkikis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putra ilham, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DI BAWAH LANGIT YANG SAMA

Pagi itu, cahaya matahari menyelinap lebih dulu lewat celah tirai jendela besar, jatuh tepat di atas wajah tidur Alana. Ia terbangun bukan karena alarm atau suara bising, melainkan karena rasa hangat yang melingkupi seluruh tubuhnya. Saat membuka mata, hal pertama yang dilihatnya adalah wajah Devan, tidur miring menghadapnya, wajah tenang dan damai yang tak pernah ia bayangkan bisa dilihatnya dulu.

Dulu, wajah itu selalu tertutup topeng dingin, kaku, dan penuh kewaspadaan. Tak ada garis santai, tak ada kerutan halus bekas senyum. Tapi sekarang, di ruangan kamar luas rumah baru mereka, wajah itu tampak polos dan tulus, persis seperti anak kecil yang akhirnya menemukan tempat pulang. Lengan kekar pria itu melingkar erat di pinggang Alana, seolah takut kalau dilepas sedikit saja, wanita itu akan lenyap.

Alana tersenyum tipis, jari jemari halusnya bergerak perlahan menyapu dahi Devan, menyingkirkan helai rambut hitam yang jatuh ke sana. Gerakan kecil itu ternyata cukup membuat kelopak mata Devan bergerak pelan, lalu perlahan terbuka.

Begitu sadar dan melihat sosok yang ada tepat di hadapan matanya, seulas senyum paling lembut langsung merekah di bibir Devan. Tanpa bicara, ia menarik pinggang Alana makin mendekat, mencium kening, hidung, lalu mendaratkan bibirnya lembut di bibir wanita itu.

"Pagi, separuh nyawaku," bisik Devan serak, suara bangun tidurnya terdengar begitu berat dan dalam, namun terasa begitu memanjakan telinga Alana. "Tadi aku bermimpi buruk lagi. Bermimpi aku kehilanganmu. Tapi pas bangun... ternyata kau benar-benar ada di sini."

Alana menangkup pipi kasar itu, menatap dalam manik hitam yang kini penuh dengan pantulan dirinya. "Mimpi itu salah, Devan. Saya di sini. Di rumah kita. Aman. Dan takkan ke mana-mana."

Devan mengangguk, membenamkan wajah di ceruk leher Alana, menghirup napas panjang aroma sabun dan wangi khas yang menjadi ketenangan mutlak baginya. "Iya. Rumah kita. Rasanya masih seperti mimpi. Dulu aku pulang ke tempat megah tapi kosong, sepi, dingin. Sekarang... baru paham arti pulang itu apa."

Sarapan pagi itu pun menjadi momen yang tak pernah ada di hidup Devan sebelumnya. Tidak ada pelayan yang melayani, tidak ada jadwal rapat yang menunggu, tidak ada telepon yang berdering mendesak. Hanya mereka berdua di meja makan panjang, dengan Alana yang sibuk menuang susu dan memotong buah, sementara Devan hanya diam menatapnya tanpa kedip, sesekali membantu mengambilkan piring atau sekadar menggenggam tangan wanita itu di atas meja.

"Kenapa menatap terus? Kopinya dingin lho," celetuk Alana, tersipu malu namun hatinya mekar penuh.

"Biarkan dingin. Yang paling manis dan paling hangat ada di depan mataku ini," jawab Devan santai, tanpa ragu dan tanpa malu sedikit pun mengucapkan rayuan yang dulu tak pernah terbayang keluar dari mulutnya. "Alana, mulai hari ini kita ubah kebiasaan lama. Tak ada lagi lembur sampai pagi, tak ada lagi makan terburu-buru di meja kerja. Kita punya hidup, kita punya waktu, dan kita punya satu sama lain."

Alana tersenyum lebar, mengangguk mantap. "Siap, Tuan Arkananta. Saya siap mengatur jadwal baru kita. Jadwal yang isinya: bekerja sama, istirahat sama, dan bahagia sama."

Sesampainya di kantor, suasana di lantai 42 sudah berubah 180 derajat. Begitu pintu lift terbuka, semua karyawan yang lewat langsung menunduk hormat, namun bukan hormat yang kaku dan takut seperti dulu. Kali ini tatapan mereka penuh rasa senang dan kagum. Mereka tahu betul perjalanan sulit yang dilalui pemimpin mereka berdua, dan mereka pun ikut lega melihat suasana damai yang kini menyelimuti gedung ini.

Devan berjalan di depan, namun tangan kirinya selalu menjuntai di samping, mencari jemari Alana yang berjalan di samping kanannya. Begitu tersentuh, genggaman itu langsung erat dan tak mau lepas, terjalin nyaman sepanjang lorong menuju ruangan utama.

Saat melewati meja resepsionis lama Alana, Devan berhenti sejenak. Ia menatap meja kecil itu, lalu menoleh ke istrinya dengan senyum jahil namun penuh arti.

"Dulu di sini tempatmu duduk, ya? Tempat di mana aku sering pura-pura lewat cuma buat lihat wajahmu. Tempat di mana aku mulai sadar kalau hatiku sudah dicuri pelan-pelan tanpa aku sadari."

Alana tertawa renyah, menepuk lengan Devan pelan. "Iya. Dulu saya sering gemetar kalau Bapak lewat. Saya kira Bapak benci melihat saya."

"Benci? Justru aku bingung sendiri. Kenapa ada orang yang bisa sebegitu tenang, sebegitu sabar, dan sebegitu tulusnya? Sampai aku sadar... aku sudah jatuh terperosok jauh ke dalam hatimu, Alana. Dan aku tak mau keluar lagi."

Masuk ke ruangan utama, pemandangan yang menyambut mereka makin membuat hati Alana menghangat. Di meja besar yang dulu hanya ada satu kursi tunggal nan megah, kini sudah terpasang satu kursi lagi, persis sama bentuk dan ukurannya, berdiri sejajar dan sama tingginya. Tak ada lagi pembatas, tak ada lagi jarak bos dan bawahan. Di atas meja itu pun kini sudah tertulis jelas di papan nama: Devan Arkananta & Alana Arkananta - Pemimpin Utama.

Devan duduk, lalu langsung menarik tangan Alana agar duduk tepat di pangkuannya. Di ruangan tertutup itu, tak ada lagi aturan formalitas yang mengikat. Ia memeluk pinggang ramping itu erat, menempelkan pipinya ke sisi wajah Alana.

"Dulu aku berpikir, singgasana ini tempat paling tinggi dan paling dingin di dunia. Sendirian. Kering. Dan penuh beban. Tapi sekarang..." Devan memutar badan Alana agar saling bertatapan, matanya menyorotkan ketulusan yang meluap, "...sekarang aku tahu, singgasana yang paling nyaman dan paling hangat itu bukan kursi kulit besar ini. Tapi di sini. Di pangkuanku, di pelukanku, dan di hatimu. Di sinilah aku benar-benar menjadi Raja. Raja yang takluk mutlak pada Ratu-nya."

Alana melingkarkan tangannya di leher Devan, menatap mata hitam yang kini menjadi satu-satunya tempat pulang baginya. "Dan saya, dulu cuma sekretaris yang takut salah langkah. Sekarang... saya merasa punya dunia utuh di tangan saya. Semua ini rasanya seperti mimpi yang jadi nyata."

Siang itu, mereka memanggil seluruh manajer dan kepala divisi untuk rapat besar pertama pasca pembenahan. Di ruang rapat utama yang dulu penuh intrik dan ketegangan, kini udaranya terasa terbuka dan jernih. Devan duduk di tengah, Alana di sampingnya, keduanya sama berwibawa, sama tenang, dan sama kuat.

Devan berbicara tegas, merinci perubahan kebijakan, pembersihan sistem, dan tujuan ke depan. Namun yang paling membuat hati semua orang tergetar adalah kalimat penutupnya.

"Ingat satu hal. Arkananta Group ini bukan lagi milik keluarga semata, bukan milikku semata. Ini milik kita semua, dan masa depannya akan dibangun dengan kejujuran dan kasih sayang. Dan di sini, Ibu Alana bukan sekadar pendamping saya. Beliau adalah separuh kekuasaan saya, separuh keputusan saya, dan separuh nyawa saya. Apa yang beliau katakan sama dengan apa yang saya katakan. Apa yang beliau inginkan sama dengan apa yang saya inginkan. Karena di sini, saya bukan lagi penguasa tunggal. Saya adalah pemimpin yang belajar tunduk dan takluk pada cinta sejati."

Satu ruangan hening sejenak, lalu meledak dalam tepuk tangan meriah yang panjang dan tulus. Tak ada yang protes, tak ada yang iri. Semua orang tahu, Alana pantas, dan kebersamaan mereka adalah kekuatan terbesar perusahaan ini.

Sore harinya, saat pekerjaan selesai, Devan kembali mengajak Alana ke atap gedung. Tempat ini, saksi awal kesadaran mereka, saksi janji, saksi pertunangan, dan kini saksi kebebasan mereka.

Angin sore berhembus lembut, menerbangkan ujung rambut Alana. Matahari mulai turun, melukis langit dengan warna jingga keemasan yang mempesona, sama persis seperti hari pertunangan mereka dulu.

Devan berdiri di belakang, memeluk pinggang Alana erat, menyandarkan dagunya di bahu wanita itu.

"Lihat langit itu, Sayang. Dulu saat kita di sini, langitnya sama indahnya, tapi hati saya penuh duri dan takut. Sekarang... langitnya sama, tapi hati saya penuh bunga dan damai. Semua karena kamu."

Alana membalas genggaman di pinggangnya, menatap jauh ke cakrawala. "Dan langit ini saksi, Devan. Bahwa kita sudah melewati badai paling dahsyat, dan tetap berdiri tegak beriringan."

Devan memutar tubuh Alana menghadapnya, menangkup kedua pipi itu penuh rasa hormat dan cinta.

"Badai selesai, Alana. Dan mulai sekarang, di langit yang sama ini, kita akan bangun segalanya. Kita bangun perusahaan yang bersih, kita bangun keluarga yang utuh, kita bangun sisa hidup kita yang panjang dan indah. Dan untuk itu, aku takkan pernah lelah mengulangnya: Takhta, kekuasaan, dan segalanya yang aku punya... semuanya takluk, hanya untukmu selamanya."

Di bawah langit senja yang megah itu, bibir mereka bertemu dalam ciuman yang lembut, panjang, dan penuh janji masa depan. Tak ada lagi rahasia, tak ada lagi bahaya, tak ada lagi jarak. Hanya dua jiwa yang menyatu, siap melangkah beriringan melewati sisa waktu yang panjang.

1
Hikayah Rahman
mampir thor
Anonim
Sejauh ini bagus sekali, semangat update yaa 💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!