NovelToon NovelToon
TUMBAL PESUGIHAN LANANG SEWU

TUMBAL PESUGIHAN LANANG SEWU

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Iblis / Tumbal / Misteri
Popularitas:855
Nilai: 5
Nama Author: Towang Risawang

Dihimpit hutang dan keputusasaan, Agus, seorang pria penuh ambisi yang gagal, meyakinkan istrinya, Endang, untuk melakukan pesugihan Lanang Sewu, meskipun ritualnya menuntut pengorbanan keintiman yang sakral. Untuk mempertahankan kehormatan istrinya, Agus merencanakan penipuan tingkat tinggi: menyewa Sari, seorang wanita yang memiliki kemiripan fisik dengan Endang, dan menyamarkannya secara spiritual menggunakan sihir. Penipuan ini berhasil. Mereka hidup dalam kemewahan sementara waktu, menikmati hadiah dari Raden Titi Kusumo, entitas pesugihan yang karismatik tapi terluka secara emosional. Namun, kecerdasan spiritual Titi Kusumo perlahan mencium kepalsuan itu. Ketika penyamaran terbongkar, semua kekayaan lenyap, dan Titi Kusumo memulai pembalasan keji, menargetkan tidak hanya nyawa Agus dan Endang, tetapi juga orang-orang tak bersalah di sekitar mereka, memaksa pasangan itu menghadapi kebenaran pahit bahwa penebusan sejati tidak dapat dibeli.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Skenario Terakhir

Agus berbalik, melihat Endang memegang ponsel retak itu. Kemarahan di wajahnya perlahan memudar, digantikan oleh ekspresi tekad yang mengerikan. Ia tahu Endang ketakutan, dan rasa takut itulah yang ia butuhkan untuk mematahkan resistensi Endang.

“Kau dengar aku, Endang?” tanyanya, suaranya kini tenang, namun jauh lebih berbahaya daripada saat ia berteriak. “Aku tidak akan hidup seperti pecundang. Tidak lagi.”

Endang memejamkan mata sejenak, menelan ludah yang terasa pahit. "Jalan iblis itu, Gus, ujungnya bukan kekayaan. Ujungnya hanya kehancuran."

"Kekayaan adalah kekuasaan," potong Agus. "Dan kekuasaan bisa membeli kembali kehormatan kita. Kau pikir orang-orang sukses di luar sana semua jujur? Mereka hanya lebih pintar dalam menyembunyikan iblis mereka. Aku hanya akan lebih jujur dengan niatku sendiri."

Ia berjalan menuju Endang, mengambil ponsel itu dari tangan istrinya. Jempolnya menyentuh ikon kontak. Jantung Endang berdebar kencang. Ia tahu Agus tidak sedang mencari lowongan pekerjaan di situs daring.

"Siapa yang akan kau hubungi?" bisik Endang, suaranya bergetar.

Agus tersenyum sinis, senyum yang tidak pernah Endang lihat sebelumnya—senyum yang penuh pengkhianatan. "Kuskandar. Ingat? Mantan rekan bisnis yang dulu sering kita cemooh karena main dukun. Ternyata, dia yang sukses sekarang. Dia tahu jalan pintas."

Endang menggelengkan kepala dengan panik. "Jangan, Gus! Kuskandar itu, dia terlibat hal-hal yang kotor. Aku pernah dengar dia bilang dia menjual sahamnya untuk 'modal spiritual'. Itu tidak benar, Gus, itu bukan uang sungguhan."

"Uang sungguhan adalah uang yang bisa dibelanjakan," balas Agus, mencari nama Kuskandar di kontak. "Dan uang Kuskandar banyak. Aku hanya butuh petunjuk. Aku tidak akan menjual jiwaku, Endang. Aku hanya akan menyewanya sebentar."

Tangan Agus bergetar saat ia menekan tombol panggil. Ponsel yang retak itu terdengar mengeluarkan bunyi dering yang sakit dan serak. Endang menutup telinganya, seolah-olah bunyi itu adalah pintu gerbang yang terbuka untuk sesuatu yang mengerikan.

Panggilan itu tidak terangkat. Agus mencoba lagi, berkeringat dingin. Keengganan Kuskandar membuat amarah Agus kembali membara. Setelah tiga kali dering yang gagal, Agus melempar ponsel itu ke sofa.

"Brengsek! Kenapa dia tidak mengangkat?" desisnya.

Endang mendekat, mencoba menenangkan. "Mungkin ini pertanda, Gus. Tuhan masih memberimu kesempatan untuk mundur."

Agus mendengus. "Tuhan hanya memberi kesempatan pada mereka yang sudah kaya, Endang. Sisanya harus berjuang dengan cara kotor."

Tepat saat Agus mengucapkan kalimat itu, ponsel di sofa bergetar. Sebuah notifikasi pesan masuk. Mereka berdua mencondongkan tubuh, Endang dengan rasa takut yang mendera, Agus dengan harapan yang membara.

Pesan itu datang dari Kuskandar. Agus segera membuka pesan itu. Pesan itu sangat singkat, tidak ada sapaan, tidak ada penjelasan, hanya teks yang singkatdan lugas.

Agus membaca pesan itu dengan suara pelan, matanya menyipit, mencoba mencerna istilah asing yang mengancam itu.

"Dia hanya mengirimkan... nama," kata Agus. "Dan lokasi."

"Apa isinya?" desak Endang, mendekat dan mencoba mengintip layar yang pecah itu.

Agus membalik ponsel itu ke arahnya. Endang membaca dua baris kalimat yang terasa seperti dua bilah keris yang ditusukkan langsung ke jantungnya.

Lanang Sewu.

Gunung Gumrebek.

Endang terkesiap, tubuhnya mundur satu langkah. Nama itu, entah kenapa, terasa sangat seram dan gelap, mengandung jumlahkekayaan yang memabukkan dan kutukan yang tak terhindarkan. Gunung Gumrebek adalah nama yang ia kenal, sebuah lokasi yang diselimuti oleh legenda pesugihan paling kejam di Jawa.

"Apa itu, Gus? Apa itu Lanang Sewu?" tanya Endang, suaranya bergetar.

Agus menatap pesan itu, senyumnya semakin lebar. "Itu, Sayang, adalah jawaban kita. Kuskandar tidak mau berbicara, dia memberi kita peta menuju kekayaan yang tak terbatas."

"Itu peta menuju neraka," balas Endang. "Kita tidak akan mencari tahu tentang itu. Kita akan melupakan pesan ini, kita akan mencari pekerjaan halal, kita akan pindah ke kota lain, kita bisa—"

"Tidak ada waktu lagi," potong Agus. "Surat penyitaan itu akan jatuh tempo dalam seminggu. Kita tidak punya waktu untuk memulai dari nol. Pesan ini adalah skenario terakhir kita."

Agus meraih tangan Endang, tetapi Endang menepisnya, air mata mulai menggenang. Konflik internal Endang kini mencapai puncaknya: cinta pada suami dan kebutuhan finansial, melawan prinsip moral dan spiritual yang ia pegang teguh.

"Kau harus memilih, Gus. Antara aku, atau iblis yang kau cari itu," ucap Endang dengan suara tercekat, menuntut keputusan yang ia tahu Agus tidak akan berikan.

"Aku memilih kita," ujar Agus, kembali menggunakan manipulasi emosional. Ia memegang bahu Endang, memaksa istrinya menatap matanya. "Dan untuk 'kita' itu tetap bertahan, aku harus memilih jalan yang paling efektif. Aku tidak akan melakukan apa-apa kecuali mencari tahu. Kita lihat detailnya, kalau memang mengerikan, kita mundur. Tapi kita harus tahu, Endang. Kita harus tahu seberapa besar harga dari kebebasan kita."

Kata-kata itu, dibalut janji palsu tentang 'hanya mencari tahu', berhasil meredakan sedikit histeria Endang. Ia tahu ia sedang dimanipulasi, tetapi keputusasaan mereka kini setara dengan kelicikan Agus.

Endang hanya mampu mengangguk lemah, air matanya menetes di pipi. "Tapi janji padaku, kita hanya mencari tahu. Tidak ada ritual, tidak ada perjanjian. Kita hanya mencari tahu apa itu Lanang Sewu."

Agus memeluk Endang erat, menyembunyikan senyum puasnya di balik rambut istrinya. "Aku janji. Hanya mencari tahu."

Namun, di dalam hati Agus, tekadnya sudah bulat. Ia sudah memutuskan untuk menjual segalanya, termasuk sisa moralnya. Ia hanya perlu Endang berada di sisinya sebagai penyangga emosional.

Ia melepaskan pelukan itu, matanya berkilat-kilat. Ia kembali menatap ponsel retak itu, membaca ulang pesan Kuskandar: Lanang Sewu. Gunung Gumrebek.

"Malam ini juga," gumam Agus. "Kita cari tahu apa yang dijual iblis itu." Ia mengambil kunci mobil butut mereka yang tergantung di dinding, siap untuk melompat ke dalam.

Endang menatap punggung suaminya yang menjauh. Ia tahu bahwa keputusannya untuk tidak menghentikan Agus sepenuhnya adalah pengkhianatan terhadap dirinya sendiri. Ia memungut kembali ponsel itu, melihat pesan yang kini terasa seperti kutukan itu. Jari-jarinya gemetar. Ia mencoba mencari informasi lain tentang Lanang Sewu.

Di layar yang pecah itu, ia berhasil membuka peramban. Ia mengetikkan nama itu dengan ketakutan. Hasil pencarian pertama muncul dari sebuah forum mistis yang tersembunyi. Endang membaca dua kata yang dicetak tebal di judul artikel.

"Tumbal Pengantin."

Endang membeku di tempatnya. Keputusasaan Agus kini menjadi keputusannya. Ia menutup ponsel itu, tetapi gambar di benaknya sudah tercetak.

Ia tidak bisa menghentikan perjalanan ini. Ia hanya bisa berdoa agar ia bisa menghentikannya.

Agus sudah berada di ambang pintu, menunggu.

"Ayo, Endang," panggilnya, suaranya dipenuhi oleh kegembiraan yang tidak pantas. "Kita akan ke Gunung Gumrebek. Kita akan lihat sendiri harga dari kekayaan abadi itu."

1
Mega Arum
msh lanjut, wlpn agak aneh sih crtanya...
Mega Arum
pesugihan yg krg bs di pahami beda dg novel2 tntg pesugihan lain
Mega Arum
kasihan Endang.. dilema
Mega Arum
pemakaian bahasa yg perlu berimaginasi thor... baguus
Mega Arum
semoga kedepanya menarik....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!