Bagi dunia luar, Reihan Arta Wiguna adalah sosok "Ice King" di lantai bursa—dingin, tak tersentuh, dan selalu kalkulatif. Namun, di balik kemewahan hidupnya, ia terikat oleh janji konyol kakeknya puluhan tahun silam. Ia dipaksa menikahi Laluna Wijaya, seorang gadis yang ia anggap hanya sebagai "beban" tambahan dalam hidupnya yang sudah sibuk.
Laluna sendiri tidak punya pilihan. Menikah dengan Reihan adalah satu-satunya cara untuk melindungi apa yang tersisa dari nama baik keluarganya. Mereka sepakat pada satu aturan main: Pernikahan ini harus menjadi rahasia. Tidak ada cinta, tidak ada kemesraan di depan publik, dan tidak ada campur tangan dalam urusan pribadi masing-masing.
Namun, tinggal di bawah satu atap perlahan meruntuhkan tembok yang dibangun Reihan. Laluna bukan sekadar gadis penurut yang ia bayangkan; ia adalah api yang hangat di tengah musim dingin Reihan. Saat satu per satu rahasia keluarga dan pengkhianatan bisnis mulai terkuak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifra Sulistya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2: ISTANA DINGIN DI ATAS AWAN
Pagi itu, Jakarta diselimuti kabut tipis yang enggan beranjak, seolah ikut mengaburkan batas antara kenyataan dan mimpi buruk bagi Laluna.
Sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam metalik sudah terparkir di depan gerbang rumah keluarga Wijaya tepat pukul tujuh pagi. Seorang pria berseragam rapi yang memperkenalkan diri sebagai Dimas, asisten pribadi Reihan, berdiri dengan sikap sempurna di samping pintu mobil yang terbuka.
Laluna menatap rumah masa kecilnya untuk terakhir kali. Rumah yang biasanya tercium aroma mentega dan gula karamel dari dapur tempat ayahnya dulu sering bereksperimen dengan resep-resep roti baru, kini terasa sunyi dan layu.
Ayahnya hanya bisa menatapnya dari balik jendela lantai dua dengan mata yang sembab, sementara ibunya masih terbaring lemah di kamar karena tekanan darah yang tak kunjung stabil.
"Nona Laluna, Tuan Reihan sudah menunggu di kantor, dan beliau meminta saya untuk memastikan Anda sudah tiba di apartemen sebelum pukul sembilan," ucap Dimas dengan nada yang sopan namun mengandung ketegasan yang tidak bisa dibantah.
Laluna mengangguk pelan. Ia hanya membawa dua koper sedang berisi pakaian secukupnya, beberapa buku favorit, dan sebuah kotak kayu kecil berisi peralatan baking kesayangannya yang tidak sempat ia jual.
Ia masuk ke dalam mobil, dan dalam sekejap, kenyamanan rumahnya berganti dengan aroma kulit interior mobil yang mahal dan dingin.
Perjalanan menuju pusat kota terasa sangat singkat. Mobil itu memasuki kawasan penthouse eksklusif di daerah Jakarta Selatan. Gedung itu menjulang tinggi, sebuah monumen kaca dan baja yang melambangkan kekuasaan.
Lift pribadi membawa Laluna langsung menuju lantai teratas. Ketika pintu lift berdenting terbuka, Laluna merasa seolah ia baru saja melangkah ke dimensi lain.
Apartemen Reihan adalah definisi dari kemewahan yang minimalis. Lantainya terbuat dari marmer putih tanpa sambungan, dinding-dindingnya didominasi kaca setinggi langit-langit yang menampilkan cakrawala kota, dan perabotan di sana hanya terdiri dari warna-warna monokrom: hitam, putih, dan abu-abu.
Tidak ada foto keluarga, tidak ada tanaman hijau, tidak ada satu pun barang yang menunjukkan bahwa ada manusia yang memiliki "kehangatan" tinggal di sana.
"Ini adalah tempat tinggal Anda mulai sekarang, Nyonya," ujar Dimas sambil meletakkan koper Laluna di lobi dalam.
"Tuan Reihan memiliki beberapa aturan tambahan untuk di rumah.
Pertama, area kerja beliau di sayap kiri adalah terlarang.
Kedua, Anda bebas menggunakan dapur, namun koki pribadi akan datang setiap jam lima sore untuk menyiapkan makan malam Tuan Reihan.
Ketiga, Tuan tidak suka ada barang-barang yang berserakan di ruang tengah."
Laluna mengedarkan pandangannya.
"Apakah ada kamar untukku?"
"
Tentu. Kamar utama ada di ujung lorong. Tuan Reihan meminta Anda menempati kamar yang sama dengan beliau untuk menghindari kecurigaan staf gedung atau tamu keluarga yang mungkin datang mendadak". Jawab Dimas tanpa ekspresi.
Jantung Laluna mencelos.
"Satu kamar? Tapi di kontrak tertulis-
"Tuan sudah menyiapkan walk-in closet yang terpisah dan tempat tidur berukuran emperor king.
Beliau menjamin privasi Anda tetap terjaga selama Anda mengikuti jadwal beliau," potong Dimas halus.
Setelah Dimas pergi, kesunyian yang mencekam kembali menyergap. Laluna melangkah menuju kamar utama. Ruangan itu sangat luas, bahkan mungkin lebih luas dari seluruh lantai bawah rumahnya. Sebuah tempat tidur besar dengan sprei sutra berwarna abu-abu gelap mendominasi ruangan.
Aroma Reihan maskulin, dingin, dan sedikit beraroma kayu tercium kuat di sini.
Laluna membuka kopernya dan mulai membongkar isinya. Ia merasa sangat asing di tengah kemewahan ini.
Saat ia mengeluarkan kotak peralatan baking-nya, ia sempat ragu. Di tempat semodern ini, apakah ia masih diizinkan menyentuh tepung dan oven? Ia berjalan menuju dapur, yang ternyata adalah dapur impian setiap profesional. Peralatannya lengkap dengan merek-merek ternama yang harganya setara dengan satu unit mobil kelas menengah.
Namun, dapur itu tampak mati. Permukaan countertop marmernya begitu bersih hingga ia bisa melihat pantulan wajahnya yang tampak lelah.
Laluna mencoba membuka salah satu kabinet. Kosong. Hanya ada beberapa botol air mineral mahal dan deretan gelas kristal.
"Bahkan kulkasnya pun sedingin pemiliknya," gumam Laluna pahit.
Hari berlalu dengan lambat. Laluna menghabiskan waktu dengan mengatur pakaiannya di lemari besar yang setengahnya sudah diisi oleh deretan jas gelap milik Reihan. Melihat pakaian mereka bersisian memberikan perasaan aneh di ulu hatinya, seperti sebuah ironi yang dipaksakan.
Pukul tujuh malam, pintu utama terbuka dengan suara sensor yang halus. Laluna yang sedang duduk di sofa ruang tengah sambil membaca buku refleks berdiri. Reihan masuk dengan langkah lelah namun tetap angkuh.
Ia melepaskan jasnya, menyisakan kemeja putih yang lengannya sudah digulung hingga siku, memperlihatkan otot lengan yang kokoh dan jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangannya.
Pria itu berhenti melangkah saat melihat Laluna. Seolah ia baru ingat bahwa sekarang ia tidak lagi tinggal sendirian.
"Kau sudah sampai," ucap Reihan datar.
Ia melemparkan tas kerjanya ke atas meja, melanggar aturannya sendiri tentang kerapian.
"Ya. Dimas yang menjemputku," jawab Laluna singkat.
"Kau mau makan malam? Koki pribadimu sudah menyiapkan sesuatu di ruang makan."
Reihan melirik ke arah ruang makan, lalu kembali menatap Laluna. Matanya menyipit, menelusuri penampilan Laluna yang hanya mengenakan kaos santai dan celana kain.
"Besok, asistenku akan membawakan beberapa potong pakaian baru. Sebagai Nyonya Arta Wiguna, kau tidak bisa terlihat seperti mahasiswa yang sedang magang, meskipun kita berada di dalam rumah."
Laluna merasakan wajahnya memanas.
"Ini rumah, Reihan. Aku ingin merasa nyaman."
"Kenyamanan adalah kemewahan yang tidak bisa kau pamerkan jika tiba-tiba ibuku atau klienku datang berkunjung tanpa pemberitahuan," sahut Reihan sambil berjalan menuju kamarnya, melewati Laluna seolah gadis itu hanyalah bagian dari dekorasi ruangan.
Laluna mengepalkan tangannya.
"Apakah kau selalu sekasar ini pada semua orang, atau aku mendapatkan perlakuan spesial?"
Reihan menghentikan langkahnya tepat di pintu kamar. Ia berbalik perlahan, memberikan tatapan yang membuat bulu kuduk Laluna merinding. Ia melangkah mendekat, memperpendek jarak di antara mereka hingga Laluna terpaksa mendongak.
"Aku tidak kasar, Laluna. Aku hanya efisien," bisik Reihan.
Suaranya yang rendah terasa bergetar di udara.
"Kau di sini untuk sebuah peran. Mainkan peranmu dengan baik, maka dua tahun ini akan berlalu tanpa drama. Tapi jika kau mulai mempertanyakan caraku hidup... maka kau akan mendapati bahwa apartemen ini bisa terasa jauh lebih sempit dari yang kau bayangkan."
Reihan kemudian masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya dengan bunyi klik yang tegas, meninggalkan Laluna yang berdiri mematung di ruang tengah yang luas.
Malam itu, Laluna terpaksa tidur di sisi tempat tidur yang sangat luas, sementara Reihan tetap berada di ruang kerjanya hingga larut malam. Ketika pria itu akhirnya masuk ke kamar, Laluna berpura-pura tidur.
Ia bisa merasakan sisi tempat tidur di sebelahnya sedikit amblas saat Reihan merebahkan tubuh.
Di tengah kegelapan, Laluna mendengar helaan napas berat dari pria di sampingnya. Untuk sesaat, keangkuhan Reihan seolah luruh ditelan malam, menyisakan seorang pria yang tampak memikul beban dunia di pundaknya.
Namun, perasaan iba itu segera sirna saat Laluna mengingat kembali kontrak yang mengikat mereka.
Mereka adalah dua orang asing yang berbagi bantal, namun terpisahkan oleh tembok es yang tak tertembus.
Dan bagi Laluna, ini baru hari pertama. Masih ada ratusan malam lagi yang harus ia lalui di dalam istana dingin ini.