NovelToon NovelToon
Oops! Teman Kontrakanku Dosen Paling Hot Di Kampus

Oops! Teman Kontrakanku Dosen Paling Hot Di Kampus

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Beda Usia / Cinta Seiring Waktu / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Aliska Rosemary

Paris seharusnya menjadi mimpi indah bagi Kiandra Zanitha. Namun, karena kecerobohan agen properti dan aturan Clause de Solidarité yang menjerat, mimpi itu berubah menjadi jerat yang menyesakkan. Kiandra terpaksa berbagi apartemen sempit di Rue de Rivoli dengan seorang pria asing yang langsung mengacaukan kewarasannya sejak hari pertama.


Pertemuan pertama mereka adalah bencana yang memalukan: sebuah handuk yang melorot, tubuh atletis yang basah, dan tatapan hazel yang seolah mampu menelanjangi rahasia terdalam Kiandra. Namun, kejutan sebenarnya baru dimulai saat fajar tiba. Pria provokatif yang melihatnya tersipu malu di dapur itu ternyata adalah Enzo Romano—dosen senior di Le Cordon Bleu sekaligus pakar kuliner yang memegang kendali atas masa depan studinya.


Di kampus, Enzo adalah otoritas yang dingin dan disiplin. Di apartemen, dia adalah pria yang gemar menguji batas kesabaran—dan iman—Kiandra. Di antara uap mentega di dapur dan denting gelas wine, garis antara dosen dan teman s

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliska Rosemary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32: Pertemuan di Balik Kaca Buram

Langkah kaki Kiandra Zanitha terasa sangat berat, seolah-olah ada beban ribuan ton yang menggelayut di setiap sendi kakinya saat ia menyusuri koridor sunyi menuju dapur praktik.

Suara denting sepatu Chef-nya yang kaku memantul di dinding-dinding kaca, menciptakan gema yang justru memperparah rasa pening di kepalanya.

Di tangannya, selembar kertas kecil yang tadi dijatuhkan Enzo Romano terasa seperti bara api yang membakar telapak tangannya. Tulisan tangan yang tegas dan penuh otoritas itu seolah sedang menertawakan kehancuran reputasi yang kini sedang ia hadapi.

"Dapur praktik, sepuluh menit lagi."

Kiandra meremas kertas itu hingga kusut di dalam kepalan tangannya. Napasnya memburu pendek-pendek, mencoba menstabilkan detak jantungnya yang sudah seperti genderang perang sejak pesan Mei Ling masuk tadi pagi.

Seluruh kampus sedang membicarakannya. Seluruh angkatan sedang menatapnya seolah ia adalah hama yang baru saja mencemari kesucian institusi paling prestisius di dunia kuliner ini.

Ceklek.

Kiandra mendorong pintu ganda dapur praktik dengan perlahan. Suasana di dalam sana begitu sunyi, hanya diisi oleh dengung monoton dari mesin pendingin raksasa yang bekerja di sudut ruangan.

Udara di dalam dapur terasa sangat dingin, sarat akan aroma pembersih lantai yang tajam dan menusuk indra penciuman, memberikan kesan steril yang justru terasa mencekam.

Di tengah ruangan, tepat di depan meja instruktur yang terbuat dari stainless steel mengkilap, Enzo Romano sedang berdiri membelakangi pintu. Bahu lebarnya yang kokoh tampak sangat dominan di bawah siraman lampu neon yang terang.

Enzo sedang menatap deretan pisau fillet yang berjajar rapi di atas meja. Jemarinya yang panjang kini sedang mengusap permukaan baja salah satu pisau dengan gerakan yang sangat tenang, hampir seperti sebuah belaian.

Kiandra mematung di ambang pintu.

"Kamu datang tepat waktu, Piccola," suara bariton Enzo menggema, rendah dan dalam, tanpa menoleh sedikit pun.

Kiandra menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya yang nyaris habis. Ia melangkah maju, mendekati meja instruktur dengan langkah yang dipaksakan tegak.

"Apa maksud semua ini, Enzo?" desis Kiandra. Suaranya bergetar hebat, menahan amarah dan malu yang sudah mencapai ubun-ubun.

"Kamu tahu kan apa yang sedang terjadi di luar sana? Seluruh kampus sedang membicarakan kita! Rumor tentang semalam... tentang ciuman itu... semuanya sudah meledak!"

Enzo berbalik perlahan. Gerakannya begitu santai dan penuh wibawa, seolah ia adalah penguasa mutlak di ruangan ini.

Tatapan hazel-nya sedingin es kutub, tidak ada lagi sisa-sisa kehangatan atau kilatan jahil yang tadi pagi ia tunjukkan di dapur apartemen. Di sini, di balik meja instruktur ini, ia adalah Sang Otoritas yang tak tersentuh.

"Lalu? Apa yang kamu harapkan dariku? Permintaan maaf secara publik?" tanya Enzo datar. Ia meletakkan pisau fillet itu kembali ke tempatnya dengan bunyi denting logam yang nyaring di tengah keheningan.

"Aku menuntut penjelasan! Kenapa kamu tidak membantah rumor itu? Kenapa kamu malah membiarkan semuanya semakin liar?" Kiandra melangkah maju satu tapak lagi, menatap mata Enzo dengan tatapan menuntut.

"Nama baikku dipertaruhkan, Enzo! Aku ke sini untuk belajar, bukan untuk jadi bahan gosip murahan!"

Enzo tidak langsung menjawab. Ia justru melangkah mendekat, mempersempit jarak di antara mereka hingga sepatu pantofel kulitnya yang mengkilap nyaris bersentuhan dengan sepatu Chef Kiandra yang kaku.

Suasana di dapur itu mendadak terasa hampa udara. Kiandra bisa merasakan panas yang memancar dari tubuh Enzo, sebuah kontras yang menyiksa dengan dinginnya suhu ruangan. Ia bisa melihat setiap detail rahang tegas Enzo yang dicukur rapi, dan bagaimana mata hazel pria itu sedang mengunci pandangannya tanpa ampun.

"Rumor itu adalah konsekuensi, Kiandra," ucap Enzo rendah. Suaranya terdengar seperti bisikan yang menghimpit paru-paru.

"Konsekuensi dari kecerobohanmu sendiri. Sejak awal, jika kamu berani tegas menolak Blake Harrington. Ini tidak akan terjadi."

"Aku hanya mencoba bersikap sopan! Aku tidak mau menyakiti perasaannya!" bela Kiandra, meski suaranya mulai melemah di bawah tekanan tatapan Enzo.

"Sopanmu itu adalah racun di Paris, Piccola," Enzo mencondongkan tubuhnya, membuat wajah mereka hanya berjarak sejengkal.

"Di dunia ini, keraguan adalah kelemahan. Dan sekarang, kamu sedang membayar harga dari kelemahanmu itu. Blake tidak akan berhenti sampai dia mendapatkan apa yang dia mau, dan satu-satunya cara untuk menghentikannya adalah dengan menunjukkan bahwa kamu sudah memiliki 'pemilik' lain."

"Pemilik? Kamu pikir aku ini barang?!" Kiandra mendesis tajam, matanya mulai berkaca-kaca karena emosi yang meluap.

"Sikapmu yang tetap diam seperti ini bisa menghancurkan mimpiku!"

Enzo menyeringai tipis, sebuah senyum miring yang terlihat sangat dingin dan provokatif. Ia mengangkat tangan kanannya, ibu jarinya mengusap bibir bawah Kiandra dengan gerakan yang sangat lambat, seolah sedang mengingatkan gadis itu pada sisa rasa semalam.

"Mimpimu tidak akan hancur hanya karena sebuah ciuman, kecuali jika mentalmu memang selemah itu," bisik Enzo.

"Le Cordon Bleu adalah tempat bagi mereka yang memiliki kulit setebal baja. Jika kamu tidak sanggup menghadapi penghakiman sosial dari mahasiswi-mahasiswi iri di luar sana, mungkin kamu memang tidak pantas berada di dapurku."

Kiandra tertegun. Kata-kata Enzo terasa seperti tamparan keras yang menyadarkannya pada realitas yang kejam. Pria di depannya ini tidak akan memberikan simpati; ia justru sedang menantang kesiapan mentalnya.

"Kamu... kamu benar-benar monster," gumam Kiandra parau.

"Aku adalah realitasmu sekarang, Kiandra," balas Enzo. Ia semakin merapatkan tubuhnya, mengurung Kiandra di antara meja stainless steel dan tubuh tingginya yang dominan.

"Pilihannya ada padamu. Kamu mau terus menangis dan bersembunyi, atau kamu mau berdiri tegak dan membuktikan bahwa bakatmu jauh lebih besar daripada gosip sampah itu?"

Kiandra menelan ludah dengan susah payah. Jantungnya berdegup brutal, menghantam tulang rusuknya dengan kekuatan yang menakutkan. Ia merasa terperangkap dalam sangkar yang terbuat dari otoritas dan gairah yang tidak seharusnya ada.

Tiba-tiba...

BRAK! BRAK! BRAK!

Pintu kaca buram dapur praktik tiba-tiba berguncang hebat oleh ketukan kasar dari luar. Suara hantaman itu terdengar begitu nyaring, memecah ketegangan intim yang baru saja terbangun di antara mereka.

"Chef Romano! Anda di dalam?"

Suara tawa Jaxson Cole yang menggelegar dan penuh semangat menggema dari koridor, menembus pintu kaca yang bergetar.

"Ayo keluar, Chef! Kami tahu Anda sedang bersembunyi di dalam! Jangan bilang Anda lagi latihan memotong bawang sendirian biar nggak ketahuan nangis!" seru Jaxson lagi, diikuti oleh suara tawa beberapa mahasiswa lain yang terdengar mendekat.

Kiandra tersentak panik. Seluruh saraf di tubuhnya berteriak bahaya. Ia menyadari posisinya sekarang sangat intim dan mencurigakan—terperangkap di balik meja instruktur dengan Enzo yang berdiri begitu dekat dengannya. Jika pintu itu terbuka sekarang, tamat sudah riwayatnya.

"Enzo, mereka di luar!" bisik Kiandra dengan wajah yang seketika sepucat kertas. Ia menahan napas, tangannya secara refleks mencengkeram lengan seragam Enzo dengan sangat kuat.

Enzo tidak bergerak. Ia justru tetap menatap Kiandra dengan tatapan hazel-nya yang tenang, seolah-olah guncangan di pintu itu hanyalah gangguan kecil yang tidak berarti. Ia menyeringai miring, menikmati kepanikan yang terpancar jelas di mata mahasiswinya.

"Tahan napasmu, Piccola," bisik Enzo tepat di telinga Kiandra, sementara suara langkah kaki Jaxson dan yang lain terdengar semakin dekat ke arah gagang pintu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!