NovelToon NovelToon
Cewek Badung Vs Cowok Kaku

Cewek Badung Vs Cowok Kaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: exozi

CEWEK BADUNG VS COWOK KAKU

AYUNDA
Cantik, manis, dan bergaya kece abis... tapi kelakuannya liar!
Mulutnya tajam, berani, dan paling benci diatur-atur.
"Badung? Yeah, that's me."
Dia cewek yang hidup sesuka hati, nggak peduli omongan orang, dan siap melabrak siapa saja yang berani cari gara-gara.

GIOVANI
Ganteng, kaya, dan selalu tampil sempurna... tapi kaku setengah mati!
Hidupnya penuh aturan, rapi, dan terjadwal kayak robot.
"Terlalu diatur, terlalu sulit dimengerti."
Dia tipe cowok yang alergi sama kekacauan, apalagi sama cewek rusuh kayak Ayunda.

Dua kepribadian. Satu konflik yang tak terhindarkan.

Lo badung, gue kaku.
Kita emang mustahil.
Satu mau bebas, satu mau aturan.
Satu bawa kekacauan, satu bawa masalah.

Tapi entah kenapa... dua kutub yang saling tolak ini, selalu saja ketemu di titik yang sama.

Apakah si Badung bisa meluluhkan si Kaku?
Atau malah si Kaku yang bakal ikut rusuh karena si Badung?

A hate-love romance that you can't miss! ❤️🔥

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon exozi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perang Terbuka

Suasana hening di kantin itu masih terasa menyesakkan bahkan setelah punggung Ayunda menghilang di balik pintu keluar. Semua mata masih tertuju pada Giovanni yang berdiri kaku, wajahnya basah kuyup, air menetes dari ujung rambutnya turun membasahi seragam putih yang selalu ia jaga kerapiannya. Wajah pemuda itu merah padam, bukan karena malu, tapi karena amarah yang meluap-luap hingga ke ubun-ubun.

Giovanni perlahan mengusap wajahnya dengan punggung tangan, napasnya teratur namun terdengar berat, menahan kemarahan yang nyaris meledak. Dia menatap ke arah pintu yang baru saja dilewati Ayunda dengan tatapan yang begitu tajam, seolah dia bisa menembus tembok dan membakar gadis itu hidup-hidup hanya dengan pandangannya saja.

"Gila cewek itu! Berani banget dia ngelakuin hal gila kayak gitu ke lo, Gio!" seru Raka yang duduk di sebelahnya, tampak terkejut sekaligus marah melihat kejadian barusan. "Lo harus laporin dia ke Pak Kepala Sekolah. Ini udah keterlaluan namanya!"

Teman-teman yang lain pun ikut menimpali, setuju bahwa apa yang dilakukan Ayunda sudah melewati batas kewajaran. Namun, Giovanni hanya diam. Dia tidak menjawab, tidak juga bergerak dari tempatnya. Di dalam kepalanya, hanya ada satu nama yang berputar-putar, membuat darahnya mendidih hebat.

Ayunda...

Dasar cewek kurang ajar! Dia pikir dia siapa?! Berani-beraninya dia bikin gue malu di depan umum kayak gini!

Giovanni mengepal tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa benci yang selama ini hanya samar-samar, kini berubah menjadi api yang membara hebat. Dia bersumpah dalam hatinya, dia tidak akan membiarkan Ayunda hidup tenang lagi di sekolah ini. Dia akan membalas perbuatan itu. Dan dia akan memastikan gadis itu menyesal seumur hidupnya karena telah menantang Giovanni.

"Gak perlu," jawab Giovanni tiba-tiba dengan suara dingin dan rendah, memotong keributan teman-temannya. Dia menatap mereka satu per satu dengan tatapan yang serius dan mengintimidasi. "Ini urusan gue sama dia. Biar gue yang selesain sendiri."

"Tapi Gio..."

"Gue bilang gak perlu!" potong Giovanni tegas. "Kalau gue laporin dia ke guru, itu terlalu gampang buat dia. Itu bukan hukuman yang setimpal. Gue bakal ajarin dia pelajaran sendiri, dengan cara gue."

Ada kilatan tajam di mata cokelatnya yang membuat teman-temannya seketika terdiam dan tidak berani membantah lagi. Mereka kenal betul sifat Giovanni. Jika dia sudah bicara begitu, berarti masalah ini sudah menjadi sangat serius dan dia tidak akan main-main.

Giovanni lalu berjalan pergi meninggalkan kantin dengan langkah tegapnya, meninggalkan teman-temannya yang hanya bisa saling berpandangan. Dia menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya, namun di sepanjang jalan itu, pikirannya hanya dipenuhi oleh satu hal: rencananya untuk menjatuhkan Ayunda.

 

Sementara itu, di ujung lorong yang lain, Ayunda berjalan dengan langkah cepat, napasnya terengah-engah seolah habis berlari jauh. Dia terus berjalan hingga sampai di belakang gedung sekolah, tempat yang sepi dan jarang dikunjungi orang. Begitu merasa aman dan tidak ada orang yang melihatnya, kaki Ayunda mendadak lemas. Dia menjatuhkan tubuhnya duduk di tangga beton yang dingin, memegang dadanya yang terasa berdebar kencang.

"Gila... gila gila gila..." gumamnya berulang kali sambil mengacak-acak rambutnya sendiri dengan frustasi.

Tangan Ayunda masih gemetar hebat. Jantungnya berdetak begitu cepat seolah mau copot dari tempatnya. Meski tadi dia terlihat sangat berani, galak, dan tidak takut saat menyiram Giovanni, namun sejujurnya di dalam hati Ayunda, dia sangat ketakutan. Dia sadar, apa yang dia lakukan tadi adalah hal yang sangat gila dan berbahaya. Dia menantang Giovanni, siswa paling berpengaruh, paling dihormati, dan paling ditakuti oleh semua orang.

Ayunda tahu, mulai hari ini hidupnya di sekolah tidak akan tenang lagi. Giovanni pasti tidak akan membiarkannya begitu saja. Dia tahu pemuda itu pendendam dan sangat tidak suka dipermalukan. Tapi apa yang harus dia lakukan? Dia tidak bisa diam saja saat Giovanni menyebutnya menyedihkan di depan orang banyak. Kalau dia diam saja, berarti dia mengakui bahwa Giovanni benar. Dan Ayunda tidak pernah mau mengakui kekalahan, terutama di hadapan orang yang paling dia benci di dunia ini.

"Kenapa dia harus ngomong gitu sih... kenapa dia harus bilang gue menyedihkan?" bisik Ayunda pelan, matanya mulai berkaca-kaca. Dia menunduk, menatap telapak tangannya yang masih gemetar. "Dia gak tau apa-apa... dia gak tau rasanya jadi gue... dia gak berhak menilai gue..."

Air mata yang selama ini dia tahan akhirnya jatuh juga, menetes membasahi pipinya yang keras itu. Ayunda mengusap kasar air matanya dengan lengan baju, wajahnya kembali terlihat garang dan tegas seolah sedang berperang dengan dirinya sendiri.

"Gue gak lemah! Gue gak menyedihkan! Dan gue gak bakal takut sama dia!" serunya lantang, berusaha menyemangati dirinya sendiri. "Biarpun dia mau ngapain aja, gue lawan! Gue bakal tunjukin ke dia kalau gue bukan cewek yang bisa diinjak-injak seenaknya!"

Hari itu, dua hati yang sama-sama keras itu telah resmi menyatakan perang. Tidak ada lagi batasan, tidak ada lagi sopan santun. Di satu sisi ada Giovanni yang penuh amarah dan keinginan untuk mengajarkan pelajaran. Di sisi lain ada Ayunda yang penuh rasa sakit hati dan keinginan untuk membuktikan dirinya.

 

Dan benar saja, mulai keesokan harinya, suasana di sekolah benar-benar berubah menjadi medan perang bagi mereka berdua. Giovanni menepati janjinya. Dia tidak melapor ke guru, tapi dia mulai menyerang Ayunda dengan caranya sendiri. Serangan yang halus namun sangat menyakitkan dan menjengkelkan.

Setiap kali Ayunda menjawab pertanyaan di kelas dan salah, Giovanni akan langsung menertawakannya dengan nada mengejek, membuat semua orang ikut menoleh dan melihat Ayunda dengan pandangan meremehkan.

"Dasar otak udang. Jangan sok tau kalau gak tau apa-apa," bisik Giovanni dengan suara yang cukup keras agar terdengar oleh Ayunda saat mereka berpapasan di lorong.

Atau saat Ayunda terlambat datang ke sekolah, Giovanni entah bagaimana caranya selalu ada di dekat gerbang dan dengan santai akan menegurnya.

"Telat lagi ya? Memang dasar gak ada aturan. Hidup lo emang gak pernah berubah ya, makin lama makin kayak sampah," ujarnya dingin, matanya menatap tajam ke arah Ayunda.

Ayunda yang mendengar itu tentu saja langsung naik darah. Dia tidak mau kalah. Dia membalas setiap ejekan Giovanni dengan kata-kata yang jauh lebih tajam dan kasar.

"Siapa lo ngatur hidup gue?! Urus aja diri lo sendiri yang sok suci itu! Muka lo ganteng tapi kelakuan lo kayak lintah darat, nyebelin banget!" bentak Ayunda marah.

"Setidaknya gue berguna. Berbeda sama lo yang cuma jadi beban di bumi ini," balas Giovanni tak kalah tajam.

Pertengkaran mereka terjadi di mana-mana. Di kelas, di kantin, di perpustakaan, bahkan saat upacara bendera sekalipun. Di mana ada Giovanni, pasti ada Ayunda yang siap melabraknya, atau sebaliknya. Suasana sekolah menjadi panas karena mereka berdua. Semua siswa dan guru mulai pusing menghadapi sikap mereka yang selalu beradu mulut dan tidak mau mengalah.

Namun, anehnya... semakin sering mereka bertengkar, semakin sering mereka saling melempar kata-kata tajam, ada sesuatu yang mulai berubah di antara mereka.

Giovanni yang awalnya hanya melihat Ayunda sebagai pengacau yang menjengkelkan, mulai tanpa sadar memperhatikan gadis itu lebih dalam. Dia melihat betapa kerasnya perjuangan Ayunda mempertahankan egonya. Dia melihat betapa cerdasnya gadis itu saat membantah kata-katanya. Dia melihat bahwa di balik sikapnya yang kasar dan garang, ada ketajaman mata yang menyiratkan kesedihan yang mendalam.

Seringkali, saat Ayunda sedang tertawa lebar bersama teman-temannya, atau saat dia sedang marah-marah mengomeli orang lain, Giovanni akan diam-diam menatapnya dari kejauhan. Dan di saat-saat itu, hatinya yang dingin dan kaku itu mendadak bergetar aneh. Dia merasa jantungnya berdetak lebih cepat, dan dia tidak mengerti kenapa.

Sementara itu, bagi Ayunda, Giovanni yang selalu dia benci itu perlahan mulai terlihat berbeda di matanya. Dia sadar, meskipun mulutnya jahat dan sikapnya sombong, Giovanni tidak pernah benar-benar menyakitinya secara fisik. Dia hanya menyerang dengan kata-kata, tapi tidak pernah berbuat kasar. Dia juga melihat betapa pintarnya Giovanni, betapa sabarnya dia saat mengajar teman-temannya yang tidak mengerti pelajaran, dan betapa sopannya dia kepada semua orang kecuali padanya.

Ayunda sering kali menangkap Giovanni sedang menatapnya lekat-lekat saat dia sedang tidak sadar. Tatapan itu bukan lagi tatapan benci semata, tapi ada sesuatu yang lain di sana. Sesuatu yang membuat Ayunda merasa panas di wajahnya dan salah tingkah. Dia bingung dengan perasaannya sendiri. Kenapa setiap kali Giovanni memanggil namanya, jantungnya berdebar kencang? Kenapa setiap kali Giovanni mendekat, dia merasa ingin lari tapi di saat yang sama ingin tetap di sana?

Hari demi hari berlalu, permusuhan mereka semakin sengit, tapi di balik permusuhan itu, benih-benih rasa lain mulai tumbuh perlahan-lahan tanpa mereka sadari.

Suatu sore, saat sekolah sudah sepi, kebetulan mereka bertemu lagi di parkiran sekolah. Hanya ada mereka berdua. Tidak ada orang lain yang melihat.

Ayunda baru saja keluar dari ruang guru setelah dipanggil karena masalah kenakalan barunya, wajahnya terlihat murung dan lelah. Dia berjalan dengan kepala tertunduk, tidak menyadari bahwa Giovanni sedang berdiri di dekat motornya, menunggunya.

Saat dia hendak lewat begitu saja, tiba-tiba suara Giovanni terdengar di telinganya.

"Kamu gak capek, Ayunda?"

Ayunda berhenti melangkah. Dia menoleh, menatap Giovanni yang berdiri tenang di sana. Wajah pemuda itu tidak terlihat marah atau mengejek seperti biasanya, melainkan terlihat serius dan dalam.

"Capek apa?" tanya Ayunda ketus, berusaha memasang wajah garangnya.

"Capek pura-pura kuat. Capek pura-pura jahat. Capek bikin semua orang benci sama kamu," jawab Giovanni perlahan, matanya menatap lurus ke dalam mata Ayunda. "Gue tau Ayunda. Di balik sikap kamu yang berisik dan kasar itu, kamu sebenarnya cuma cewek yang kesepian dan takut, kan?"

Kalimat itu menghantam hati Ayunda sekeras batu besar. Dia terpaku di tempatnya, menatap Giovanni dengan mata terbelalak. Rasanya dadanya sesak sekali. Bagaimana bisa Giovanni, orang yang paling dia benci, orang yang selalu menghinanya, bisa melihatnya sejauh itu? Bagaimana dia bisa tahu apa yang tersembunyi jauh di dalam hatinya?

"Lo... ngomong apa sih?! Gue gak ngerti!" seru Ayunda berusaha membantah, suaranya terdengar gemetar. Dia berusaha pergi, namun tangan Giovanni dengan cepat menahan lengannya. Cengkeramannya lembut, tidak menyakitkan, tapi sangat kuat.

"Jangan bohong sama diri sendiri, Ayunda. Dan jangan bohong sama gue," bisik Giovanni, wajahnya mendekat ke arah Ayunda, jarak wajah mereka hanya beberapa sentimeter saja. Tatapan matanya begitu dalam dan menembus hingga ke jiwa. "Gue mungkin benci kelakuan lo. Gue mungkin benci cara lo hidup. Tapi gue gak bodoh. Gue bisa liat kalau lo sebenernya bukan orang jahat. Lo cuma terluka."

Ayunda menahan napasnya. Wajahnya memerah padam, campuran antara marah, malu, dan rasa haru yang aneh. Jantungnya berdegup sangat kencang hingga dia takut Giovanni bisa mendengarnya.

"Lepasin gue..." bisik Ayunda lemah, air matanya sudah menggenang. "Lepasin... atau gue bakal pukul lo beneran..."

Giovanni tidak melepaskannya. Dia malah semakin mendekat, hingga napas mereka saling bertautan.

"Pukul aja kalau itu bikin lo tenang. Teriak aja kalau itu bikin lo lega. Tapi dengerin gue, Ayunda..." Giovanni menatapnya lekat-lekat, suaranya terdengar lembut namun penuh penekanan. "Jangan terus-terusan pake topeng itu. Kalau lo capek, lo boleh istirahat. Kalau lo sedih, lo boleh nangis. Gak usah takut. Gak usah pura-pura."

Kalimat itu benar-benar menghancurkan pertahanan diri Ayunda yang selama ini dia bangun begitu kokoh. Di hadapan orang yang paling dia benci itu, di tempat yang sepi itu, Ayunda akhirnya menangis. Dia menangis tersedu-sedu, memukul dada bidang Giovanni berulang kali dengan tangannya yang kecil dan lemah.

"Kenapa sih lo... kenapa sih lo jahat banget sama gue... kenapa lo harus ngomong gitu... kenapa lo harus tau semuanya..." isaknya, semua rasa sakit hatinya, semua kesepiannya, semua ketakutannya tumpah ruah saat itu juga.

Giovanni hanya diam menerima pukulan-pukulan itu. Dia tidak kesakitan sedikitpun, karena pukulan itu hanyalah luapan emosi gadis itu. Perlahan, Giovanni mengangkat tangannya, lalu memeluk tubuh Ayunda yang gemetar hebat itu. Dia memeluknya dengan sangat lembut dan hati-hati, seolah Ayunda adalah benda paling rapuh di dunia ini.

"Dah... nangis aja... keluain semuanya," bisik Giovanni di telinganya lembut. "Gue di sini. Gak ada orang lain. Nangis aja sepuasnya."

Ayunda terkejut merasakan pelukan itu. Pelukan yang hangat, pelukan yang aman, pelukan yang membuatnya merasa dilindungi. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Ayunda merasa benar-benar dimengerti dan diterima, dan anehnya... orang yang memberikannya rasa itu adalah Giovanni. Orang yang selama ini dianggapnya sebagai musuh bebuyutan.

Di bawah langit sore yang mulai menggelap itu, dua orang yang saling membenci itu berdiam dalam satu pelukan yang hangat. Tidak ada kata-kata, tidak ada ejekan, tidak ada pertengkaran. Hanya ada dua hati yang sedang saling bertemu, dan perlahan menyadari bahwa rasa benci itu ternyata hanyalah kedok dari rasa lain yang jauh lebih besar dan lebih dalam.

Rasa yang mereka sendiri pun belum berani untuk mengakuinya.

1
Wisnu Mahendra
ooiii...ni cerita ngalor ngidul ya? mereka kan dinikahkan karena dijodohkan? gimana sih? kok jadi sepupuan...dan baru kenalan dengan ortu masing2...pantesan yg like dan komen jutaan...ceritanya asal2an
Wisnu Mahendra
nggak ngerti ceritanya, diawal bilang sudah nikah sudah tidur bareng, trus bilang pacaran, skrg baru kenalan sama ortunya yunda...ini gimana ceritanya?
Wisnu Mahendra
kok pacaran? bukannya udah nikah?
Alex
meleleh abanng🥳
Alex
love sekebon gio🥰🥰
shabiru Al
ok mampir nih... moga aja seru gak ngebosenin
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!