Mengulik kisah seorang pria bernama Rafael yang menerima kesepakatan menjadi bapak rumah tangga dan membiarkan istrinya berkarier di luar rumah.
Seiring bertambah usia pernikahan, kesepakatan mereka perlahan mulai mengusik ego dan jadi dilema bagi Rafael sebagai laki-laki.
》Apakah Rafael bisa bertahan menjalani aktivitasnya sebagai bapak rumah tangga dan melihat kesuksesan karier istrinya?
》Ikuti kisahnya di Novel ini: "Lara Di Tapal Batas"
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 02.
...~•Happy Reading•~...
"Minggiiirrr..." Laras mendorong Rafael agar menjauh, sambil menarik tangan Juano.
"Saya sudah bilang, jangan sakiti Juan. Dia tidak bersalah." Rafael tetap menghalangi Juano dari jangkauan Laras.
"Salah atau tidak, bukan urusanmu. Minggir." Laras tetap berusaha merai tangan Juano. "Kak Laras, tangan Juan sakit..." Juano mengadu.
"Apa yang dia lakukan padamu?" Laras makin emosi melihat Juano bersembunyi di balik tubuh tegap dan atletis Rafael. Sehingga dia sulit mengambil adiknya.
"Anda terus bertanya. Apa tidak perlu jawaban?" Rafael berbalik menghadap Laras. "Saya tidak perlu jawabanmu." Bentak Laras. Emosinya naik level lihat pria yang tidak dikenal berani melawannya.
"Anda tidak perlu mendengar saya. Tapi dengar adikmu, walau dia masih kecil." Rafael tidak membiarkan Laras menekan adiknya.
"Anda siapa, sampai berani menaikan suara pada saya?" Laras balik menantang melihat tatapan tajam Rafael dan berbicara keras padanya.
"Saya bukan siapa-siapa. Maaf." Rafael menurunkan nada suara. Namun itu tidak berpengaruh pada Laras yang sudah terlanjur emosi.
Dia merasa wibawanya sebagai kakak dirongrong dan jatuh di hadapan seorang pria asing. "Pergi dari sini." Laras langsung mengusir, agar tidak terlihat kalah dan tatapan Rafael membuat dia tidak bisa mengatakan lain.
Rafael berbalik menghadap Juano. "Terima kasih, Juan. Saya pamit." Rafael mengusap kepala Juano. Hatinya tidak tenang meninggalkan Juano.
Namun tanpa diduga, Juano langsung memeluk pinggang Rafael yang akan keluar dari rumah. "Kak Rafa, jangan pergi." Juano memeluk erat pinggang Rafael.
"Juanooo..." Teriak Laras yang tidak menduga sikap adiknya kepada orang asing.
Juano tidak takut mendengar teriakan kakaknya. "Kak Rafa tetap di sini. Awas kalau pergi." Ancam Juano, lalu berlari masuk ke kamar.
Rafael jadi berdiri diam. Sambil memegang belakang kepala, dia coba bertahan. Walau Laras tidak suka bahkan benci melihatnya. Kepedulian dan rasa sayang Juano menahan langkahnya, agar tidak beranjak.
Untuk menghindari konfrontasi dengan Laras yang sedang mengawasinya, dia berjongkok untuk memakai sepatu.
Tidak lama kemudian Juano lari keluar dari kamar sambil memeluk celengan. "Ayo, Kak Rafa." Juano menarik tangan Rafael yang belum memakai sepatu dengan sempurna. "Sebentar, Juan."
"Juano, berhenti." Teriak Laras. Dia bingung melihat kelakuan adiknya. Rafael berdiri dan melihat Juano dengan wajah tidak mengerti.
"Kak Laras tidak mau mendengarku. Aku mau antar Kak Rafa." Jawab Juano dan kembali menarik tangan Rafael untuk keluar dari rumah.
Mama Juano yang baru masuk rumah, terkejut melihat pemandangan di ruang tamu. "Ada apa ini? Mengapa kalian ribut? Siapa ini?" Mama Juano tanya beruntun melihat Laras menarik tangan Juano dan berusaha mengambil celengan dari pelukannya.
"Mama, lihat Kak Laras. Dari tadi marahi dan pukul Juan." Juano mengadu dengan raut wajah mau menangis. "Kak Laras juga mengusir teman Juan."
"Ini temanmu? Kau berteman dengan orang dewasa?" Mama Juano makin terkejut.
"Selamat sore, Bu. Maaf sudah bikin ribut. Saya pamit." Rafael makin tidak enak menyaksikan situasi keluarga Juano. Apa lagi pandangan Mama Juano tidak beralih darinya. Sedangkan dia tidak bisa menceritakan mengapa berada di rumah itu.
"Laras, lepaskan adikmu. Nanti tangannya sakit." Mama Juano bingung lihat Juano tidak mau lepaskan celengan dan tangan Rafael.
"Mama, nanti Juan jelaskan. Juan mau antar Kak Rafa dulu." Tanpa menunggu persetujuan Mamanya, dia menarik tangan Rafael yang kebingungan.
Rafael menunduk ke arah Mama Juano. "Maaf, Bu. Saya permisi." Rafael hanya bisa meminta maaf. Dengan perasaan serba salah dia mengikuti Juano keluar dari rumah.
Setelah berada di halaman, Juano masih menarik tangan Rafael. "Kak, kita duduk di taman saja." Juano belum mau Rafael pergi, sebab dia tahu Rafael tidak punya tempat berlindung dan tidak punya uang.
"Juan, tidak usah seperti ini. Seharusnya tadi saya tidak masuk ke rumah..." Rafael berkata sambil berjalan ke taman.
"Iya, Kak. Juan gak tahu Kak Laras akan pulang cepat." Ucap Juano dengan nafas tersengal, karena berlari.
"Sekarang, kembalikan ini ke tempatnya." Rafael menunjuk celengan. "Supaya Mama dan kakakmu tidak makin marah dan berpikir negatif pada saya."
"Tapi Kak Rafa gak punya uang."
"Tidak apa. Nanti saya berusaha sendiri. Bantuanmu tadi sudah sangat berarti. Kembalikan lagi."
"Tapi Kak Rafa janji tetap duduk di sini, ya." Juano memberikan jari kelingking, minta Rafael berjanji.
"Iya. Saya tunggu di sini. Semoga kau keluar lagi, sudah ada kabar dari polisi."
"Oh, iya, benar. Kak Rafa tunggu, Juan ambil HP." Juan berdiri dan mengambil celengan yang dia letakan di atas bangku.
Saat mau menyebrang ke rumah, hatinya senang melihat mobil Papanya membelok. Dia jadi berdiri di pinggir jalan, menunggu.
"Juan, kenapa di situ?" Papanya jadi parkir mobil di pinggir jalan lalu turun.
"Kau mau ke mana dengan celengan itu?" Papanya heran melihat celengan dalam pelukan Juano.
"Papa, mari ikut. Juan mau minta tolong..." Juano menarik tangan Papanya menuju taman.
"Ada apa?" Papa Juano heran melihat seorang pria yang duduk di bangku taman berdiri.
"Pa, ini Kak Rafa..." Juano memperkenalkan Rafael dan menceritakan yang dialami Rafael.
"Mama sudah tahu ini?"
"Belum, Pa. Mama dan Kak Laras marah Juan, jadi belum cerita..." Juano menjelaskan reaksi Mama dan kakaknya.
"Ini benar, Pa. Kak Rafa dirampok. Biarkan Kak Rafa di sini dulu untuk tunggu kabar dari polisi." Juano minta Rafael mengeluarkan surat dari kantor polisi. "Tadi Juan dan Kak Rafa lapor polisi..." Juano bercerita untuk minta dukungan Papanya.
Papa Juano jadi memperhatikan Rafael dari kepala hingga kaki. Hatinya terusik melihat kondisi Rafael dan keberanian Juano membelanya. "Mari masuk lagi ke dalam. Kita bicara di dalam. Tidak enak sama tetangga." Papa Juano memutuskan, melihat putranya tidak mau meninggalkan Rafael.
"Ayo, Kak Rafa. Juan mau ambil HP juga."
"Maaf, Pak. Saya tidak bermaksud..."
"Nanti kita bicara di dalam." Papa Juano menggerakan tangan, menghentikan.
~••
Di sisi lain ; Laras dan Mamanya berlari keluar mengikuti Juano dan Rafael. "Ma, mengapa tadi gak larang dia? Juan bisa diculik orang itu."
"Laras, mereka ke taman. Lihat itu." Mamanya menunjuk dari cela pagar ke arah taman. "Kalau dia mau culik, kita bisa teriak minta tolong dari sini."
"Astaga. Apa orang itu jual barang haram buat Juan?" Laras terkejut dengan pikirannya saat melihat Juano letakan celengan di bangku, samping Rafael. "Pindah, Ma." Laras mau membuka pintu pagar untuk menemui Juano.
"Laras, tunggu. Lihat orang itu tidak lakukan sesuatu dengan celengan. Malah Juan ambil lagi dan mau ke sini." Mamanya mencegah.
"Itu mobil Papamu." Mama Juano bernafas lega melihat suaminya sudah pulang. "Masuk mandi. Siapkan alasan kau sudah kasari adikmu."
"Papa pasti belain dia." Laras jadi kesal dan marah melihat interaksi Rafael dengan adiknya.
"Sudah, masuk." Mamanya mendorong bahu, agar lekas masuk ke dalam rumah. "Apa kau tidak bisa mengambil sedikit kelembutan hati adikmu? Kau perempuan, tapi melebihi... Sudahlah. Cepat masuk."
...~•••~...
...~•○♡○•~...